Daftar isi (13 bab, 1172 pasal)
SALINAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 28 TAHUN 2024
TENTANG
PERATURAN
TENTANG KESEHATAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 24 ayat
Mengingat
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 68871;
Menetapkan
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERATURAN
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2023
TENTANG KESEHATAN.
BAB IKETENTUAN UMUM
Pasal 1 #Laporkan Penjelasan
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Kesehatan adalah keadaan sehat seseorang, baik secara fisik, jiwa, maupun sosial dan bukan sekadar terbebas dari penyakit untuk memungkinkannya hidup produktif.
2. Upaya Kesehatan adalah segala bentuk kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat Kesehatan masyarakat dalam bentuk promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
3. Pelayanan Kesehatan adalah segala bentuk kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan yang diberikan secara langsung kepada perseorangan atau masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat Kesehatan masyarakat dalam bentuk promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif.
4. Sumber Daya Kesehatan adalah segala sesuatu yang diperlukan untuk menyelenggarakan Upaya Kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
5. Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah seseorang yang bekerja secara aktif di bidang Kesehatan, baik yang memiliki pendidikan formal Kesehatan maupun tidak, yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan Upaya Kesehatan.
hlm. 3 OCR6. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah tempat dan/atau alat yang digunakan untuk menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan kepada perseorangan ataupun masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif,
7. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan dan mengoordinasikan Pelayanan Kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif dengan mengutamakan promotif dan preventif di wilayah kerjanya.
8. Rumah Sakit adalah Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan perseorangan secara paripurna melalui Pelayanan Kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif ,
9. Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama yang selanjutnya disingkat RSPPU adalah Rumah Sakit pendidikan yang menjadi penyelenggara utama pendidikan tinggi tenaga medis dan tenaga kesehatan spesialis dan subspesialis.
10. Perbekalan Kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan Upaya Kesehatan.
11. Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat bahan alam, termasuk bahan obat bahan alam, kosmetik, suplemen Kesehatan, dan obat kuasi.
13. Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga yang selanjutnya disingkat PKRT adalah alat, bahan,
14. Obat adalah bahan, paduan bahan, termasuk produk biologi, yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan Kesehatan, dan kontrasepsi untuk manusia.
hlm. 4 OCR15. Bahan obat adalah bahan yang berkhasiat atau tidak berkhasiat yang digunakan dalam pengolahan obat dengan standar dan mutu sebagai bahan farmasi.
16. obat Bahan Alam adalah bahan, ramuan bahan, atau produk yang berasal dari sumber daya alam berupa tumbuhan, hewan, jasad renik, mineral, atau bahan lain dari sumber daya alam, atau campuran dari bahan tersebut yang telah digunakan secara turun
18. suplemen Kesehatan adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk melengkapi kebutuhan zat
19. Kosmetik adalah bahan atau sediaan
20. Farmakovigilans adalah seluruh kegiatan pendeteksian, penilaian, pemahaman, komunikasi,
2L. Vigilans adalah seluruh kegiatan tentang pendeteksian, penilaian, pemahaman, komunikasi, pengendalian, dan pencegahan efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan Alat Kesehatan dan PKRT.
22- Teknologi Kesehatan adalah segala bentuk alat, produk, dan/atau metode yang ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosis, pencegahan, dan penanganan permasalahan Kesehatan manusia.
hlm. 5 OCR23. Sistem Informasi Kesehatan adalah sistem yang mengintegrasikan berbagai tahapan pemrosesan, pelaporan, dan penggunaan informasi yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan Kesehatan serta mengarahkan tindakan atau keputusan yang berguna dalam mendukung pembangunan Kesehatan.
24. Sistem Informasi Kesehatan Nasional adalah Sistem
25. Data Kesehatan adalah angka dan fakta kejadian berupa keterangan dan tanda-tanda yang secara relatif belum bermakna bagi pembangunan Kesehatan.
26. Informasi Kesehatan adalah Data Kesehatan yang telah diolah atau diproses menjadi bentuk yang mengandung nilai dan makna yang berguna untuk meningkatkan pengetahuan dalam mendukung pembangunan Kesehatan.
27. Telekesehatan adalah pemberian dan fasilitasi layanan Kesehatan, termasuk Kesehatan masyarakat, layanan Informasi Kesehatan, dan layanan mandiri, melalui telekomunikasi dan teknologi komunikasi digital.
28. Telemedisin adalah pemberian dan fasilitasi layanan klinis melalui telekomunikasi dan teknologi komunikasi digital.
29. Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis dan/atau psikologis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kedisabilitasan.
30. Registrasi adalah pencatatan resmi tenaga medis dan tenaga kesehatan yang telah memiliki sertifikat kompetensi dan/ atau sertifikat profesi.
31. Surat Tanda Registrasi yang selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis yang diberikan kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan yang telah diregistrasi.
32. Surat
33. Sertifikat Kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kompetensi tenaga medis dan tenaga kesehatan yang telah lulus uji kompetensi untuk dapat menjalankan praktik di seluruh Indonesia.
hlm. 6 OCR34. Sertifikat Profesi adalah surat tanda pengakuan untuk melakukan praktik profesi yang diperoleh lulusan pendidikan profesi.
35. Wabah Penyakit Menular yang selanjutnya disebut Wabah adalah meningkatnya kejadian luar biasa penyakit menular yang ditandai dengan jumlah kasus dan/atau kematian meningkat dan menyebar secara cepat dalam skala luas.
36. Kewaspadaan Wabah adalah serangkaian kegiatan sebagai sikap tanggap menghadapi kemungkinan terjadinya Wabah.
37. Kejadian Luar Biasa yang selanjutnya disingkat KLB adalah meningkatnya kejadian, kesakitan, kematian, dan/atau kedisabilitasan akibat penyakit dan masalah Kesehatan yang bermakna secara epidemiologis di suatu daerah pada kurun waktu tertentu.
38. Pintu Masuk Negara yang selanjutnya disebut Pintu Masuk adalah tempat masuk dan keluarnya alat angkut, orang, dan/atau barang dari dan ke luar negeri, baik berbentuk pelabuhan, bandar udara, maupun pos lintas batas negara.
39. Daerah Terjangkit adalah daerah yang secara epidemiologis terdapat penyebaran penyakit dan/atau faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah.
40. Dokumen Karantina Kesehatan adalah surat keterangan Kesehatan yang dimiliki setiap alat angkut, orang, dan barang yang memenuhi persyaratan, baik nasional maupun internasional.
41. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik lndonesia Tahun 1945.
42. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.
43. Konsil adalah lembaga yang melaksanakan tugas secara independen dalam rangka meningkatkan mutu praktik dan kompetensi teknis keprofesian tenaga medis dan tenaga kesehatan serta memberikan pelindungan dan kepastian hukum kepada masyarakat.
44. Kolegium adalah kumpulan ahli dari setiap disiplin ilmu Kesehatan yang mengErmpu cabang disiplin ilmu tersebut yang menjalankan tugas dan fungsi secara independen dan merupakan alat kelengkapan Konsil.
hlm. 7 OCR45. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
46. Pemerintah Desa adalah kepala desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.
47. Tenaga Medis adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang Kesehatan serta memiliki sikap profesional,
48. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang Kesehatan serta memiliki sikap profesional, pengetahuan, dan keterampilan melalui pendidikan tinggi yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan Upaya Kesehatan.
49. Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri adalah Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara Indonesia lulusan pendidikan bidang Kesehatan di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
50. Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Dalam Negeri adalah Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara asing lulusan pendidikan bidang Kesehatan di dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
51. Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri adalah Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara asing lulusan pendidikan bidang Kesehatan di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
52. Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan adalah setiap orang yang bukan Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan yang
53. Petugas Karantina Kesehatan adalah Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan yang memiliki kompetensi dan kewenangan dalam urLtsan karantina Kesehatan untuk melakukan pengawasan dan tindakan penanggulangan penyakit dan/atau faktor risiko penyebab penyakit atas alat angkut, orang, barang, dan/atau lingkungan.
hlm. 8 OCR54. Setiap Orang adalah orang perseorangan, termasuk korporasi.
55. Pasien adalah setiap orang yang memperoleh Pelayanan Kesehatan dari Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan.
56. Orang yang Berisiko adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, ekonomi, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.
57. Orang dengan Gangguan Jiwa yang selanjutnya disingkat ODGJ adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala, dan/atau perubahan perilaku bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi sebagai manusia dan terdiagnosis sebagai gangguan jiwa sesuai kriteria diagnosis yang ditetapkan.
BAB IIUPAYA KESEHATAN
Bagian KesatuUmum
Pasal 2 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi
(2) Upaya Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk mewujudkan derajat Kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat dalam bentuk Upaya Kesehatan perseorangan dan Upaya Kesehatan masyarakat.
Pasal 3 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) merupakan Upaya Kesehatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif yang berdampak hanya kepada individu.
Pasal 4 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan Upaya Kesehatan meliputi:
a. Kesehatan ibu, bayi dan anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia;
b.
c. Kesehatan reproduksi;
d. keluarga berencana;
e. gizi;
f. Kesehatan gigi dan mulut;
g. Kesehatan penglihatan dan pendengaran;
h. Kesehatan jiwa;
i. penanggulangan penyakit menular dan penanggulangan penyakit tidak menular;
j. Kesehatan keluarga;
k. Kesehatan sekolah;
1. Kesehatan kerja;
m. Kesehatan olahraga;
n. Kesehatan lingkungan;
o. Kesehatan matra;
p. Kesehatan bencana;
q. pelayanan darah;
r. transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh, terapi berbasis sel dan/atau sel punca, serta bedah plastik rekonstruksi dan estetika;
s. pengamanan dan penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT;
t. pengamanan makanan dan minuman;
u. pengamanan zat adiktif;
v. pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum;
w. Pelayanan Kesehatan tradisional; dan
x. Upaya Kesehatan lainnya.
(2) Upaya Kesehatan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf x ditetapkan oleh Menteri sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan pembangunan bidang Kesehatan.
Pasal 5 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dilakukan secara terintegrasi sesuai siklus hidup yang meliputi ibu, bayi dan anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia.
hlm. 10 OCRBagian KeduaKesehatan Ibu, Bayi dan Anak, Remaja, Dewasa, dan Lanjut Usia
Paragraf 1Umum
Pasal 6 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan ibu, bayi dan anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia diselenggarakan sesuai dengan standar, aman, bermutu, dan terjangkau.
(3) Upaya Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan tempat penyelenggaraan Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat, satuan pendidikan, tempat kerja, komunitas, dan/atau institusi lain dimana sasaran berada.
Pasal 7 #Laporkan Penjelasan
Setiap ibu, bayi dan anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia berhak memperoleh akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan yang sesuai dengan standar, aman, bermutu, dan terjangkau.
Pasal 8 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Upaya Kesehatan ibu, bayi dan anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia harus dilakukan pencatatan dan pelaporan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Paragraf 2Kesehatan Ibu
Pasal 9 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan ibu ditujukan untuk melahirkan anak yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta menurunkan angka kematian ibu.
hlm. 11 OCR(2) Selain tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Upaya Kesehatan ibu juga ditujukan untuk mencapai kehidupan ibu yang sehat dan mencegah kedisabilitasan pada anak.
Pasal 10 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan ibu dilakukan pada masa sebelum hamil, masa kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan.
Pasal 1 1 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan ibu pada masa sebelum hamil sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi;
b. pelayanan konseling;
c. pelayanan skrining Kesehatan;
d. pemberian imunisasi;
e. pemberian suplementasi gizi;
f. pelayanan medis;
g. keluarga berencana; dan/atau
h. Pelayanan Kesehatan lainnya.
(3) Pelayanan antenatal sesuai standar dan secara terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
a. pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi;
b. pelayanan konseling;
c. pelayanan skrining faktor risiko dan komplikasi kehamilan;
d. pendampingan ibu hamil dengan risiko tinggi;
e. pemberian suplementasi gizi;
f. pelayanan medis; rujukan pada kasus komplikasi kehamilan; dan
h. Pelayanan Kesehatan lainnya.
a. pencegahan infeksi;
b. pemantauan dan deteksi dini faktor risiko dan komplikasi;
c. pertolongan persalinan sesuai standar;
d. pelaksanaan inisiasi menyusu dini; dan
hlm. 12 OCRe. tata laksana dan rujukan kasus komplikasi ibu dan bayi baru lahir ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan tepat waktu sesuai dengan mekanisme sistem rujukan.
(5) Upaya Kesehatan ibu pada pascapersalinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) diberikan untuk ibu dan bayi baru lahir.
(6) Upaya Kesehatan ibu pada pascapersalinan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) paling sedikit berupa:
a. pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi;
b. pelayanan konseling;
c. pelayanan skrining komplikasi;
d. tata laksana dan
e. pelayanan kontrasepsi.
Pasal 12 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dilakukan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya.
(2) Upaya Kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibantu oleh Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya.
Pasal 13 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan ibu, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab:
a. menyediakan Pelayanan Kesehatan ibu yang sesuai dengan standar, aman, bermutu, dan terjangkau;
b. menginisiasi, memfasilitasi, dan menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam Upaya Kesehatan ibu;
c. menyediakan rujukan nasional dan regional; dan
d. menyediakan tempat tunggu kelahiran dengan memperhatikan akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
hlm. 13 OCRPasal 14 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan ibu, keluarga berperan:
a. mendukung ibu dalam merencanakan kehamilan;
b. memperhatikan Kesehatan ibu;
c. memastikan ibu mendapatkan Pelayanan Kesehatan; dan
d. mendukung ibu selama masa sebelum hamil, masa kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan.
(2) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan ibu, masyarakat berperan:
a. memantau Kesehatan ibu;
b. memberikan dukungan bagi ibu dalam mengakses Fasilitas Pelayanan Kesehatan; dan
c. menyelenggarakan Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat.
Pasal 15 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Upaya Kesehatan ibu pada masa sebelum hamil, masa kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dan Pasal 11 diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 3Kesehatan Bayi dan Anak
Pasal 16 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan
Pasal 17 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan bayi dan anak dilakukan sejak masih dalam kandungan, dilahirkan, setelah dilahirkan, sampai sebelum berusia 18 (delapan belas) tahun.
a. bayi baru lahir;
b. bayi, balita, dan prasekolah; dan
c. anak usia sekolah.
hlm. 14 OCRPasal 18 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan bayi dan anak meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif yang dilaksanakan berdasarkan kelompok sasaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17.
Pasal 19 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya promotif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 meliputi promosi Kesehatan termasuk Kesehatan reproduksi, gizi, pola asuh, stimulasi perkembangan, dan penyediaan lingkungan yang sehat dan aman.
a. pelayanan esensial bayi
b. imunisasi;
c. skrining Kesehatan;
d. pemantauan pertumbuhan dan perkembangan; dan
e. surveilans kelainan bawaan/kongenital.
(3) Skrining Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Skrining Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) termasuk skrining bayi baru lahir dan skrining Kesehatan lainnya.
(5) Upaya kuratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 meliputi tata laksana dan rujukan sesuai kondisi Kesehatan untuk mengurangi faktor risiko, mengobati penyakit, mencegah atau mengurangi penyulit, dan meningkatkan kualitas hidup.
(6) Upaya rehabilitatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 meliputi rehabilitasi dan perawatan jangka panjang pada penyakit kronis, langka, atau disabilitas.
(7) Upaya paliatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 meliputi Pelayanan Kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup pada penyakit yang mengancam kehidupan dan akhir kehidupan.
(8) Upaya Kesehatan bayi dan anak dilakukan dengan memperhatikan keadilan, kesetaraan gender, penjaminan privasi dan kerahasiaan, dan biaya yang terjangkau.
hlm. 15 OCRPasal 20 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap bayi dan anak berhak terlindungi dan terhindar dari segala bentuk diskriminasi dan tindak kekerasan yang dapat mengganggu Kesehatan bayi dan anak.
(2) Upaya pelindungan bayi dan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat.
(3) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib menyediakan Pelayanan Kesehatan, pelindungan, dan pendampingan hukum akibat perlakuan diskriminasi dan tindak kekerasan.
Pasal 2 1 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah
a. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan bayi dan anak yang sesuai standar, aman, bermutu, dan terjangkau;
b. melakukan koordinasi secara berkala dan berkelanjutan dalam pelindungan bayi dan anak;
c. menyediakan serta melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap tempat dan sarana untuk pengasuhan dan bermain anak agar sesuai dengan standar Kesehatan dan keamanan; dan
d. menggerakkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan
Pasal 22 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan bayi dan anak, keluarga berperan:
a. memantau Kesehatan bayi dan anak secara mandiri;
b. memperhatikan pemenuhan asupan gizi cukup dan seimbang;
c. memastikan bayi dan anak mendapatkan Pelayanan Kesehatan; dan
d. mendukung pola asuh dan lingkungan yang sehat dan aman.
(2) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan bayi dan anak, masyarakat berperan:
a. memantau Kesehatan
b. mendukung kemudahan akses dalam menjangkau pelayanan dan mendapatkan Informasi Kesehatan;
c. menciptakan suasana yang kondusif dalam upaya pemenuhan hak bayi dan anak mendapatkan Pelayanan Kesehatan; dan
d. menyelenggarakan Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat.
hlm. 16 OCR(3) Dalam hal masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat
a. kerja sama pemenuhan Upaya Kesehatan bayi dan anak dengan Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah; dan
b. menjamin Pelayanan Kesehatan bayi dan anak sesuai dengan standar, aman, bermutu, dan terjangkau.
Pasal 23 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, danl atau paliatif pada Upaya Kesehatan
Pasal 24 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap bayi berhak memperoleh air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan sampai usia 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis.
(3) Selain atas dasar indikasi medis, pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan untuk kondisi ibu tidak ada atau ibu terpisah dari bayi.
(4) Indikasi medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Tenaga Medis sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan, dan standar prosedur operasional.
Pasal 25 #Laporkan Penjelasan
Pemberian air susu ibu eksklusif ditujukan untuk:
a. memenuhi kebutuhan bayi dengan zat gizi terbaik untuk tumbuh kembang yang optimal;
b. meningkatkan daya tahan tubuh bayi sehingga dapat mencegah penyakit dan kematian; dan
c. mencegah penyakit tidak menular di usia dewasa.
hlm. 17 OCRPasal 26 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap ibu melahirkan berhak difasilitasi dan mendapatkan dukungan untuk melakukan inisiasi
(2) Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Tenaga Medis, dan Tenaga Kesehatan wajib menempatkan ibu dan bayi dalam 1 (satu) ruangan atau rawat gabung kecuali atas indikasi medis yang ditetapkan oleh Tenaga Medis.
(3) Penempatan dalam 1 (satu) ruangan atau rawat gabung dimaksudkan untuk memudahkan ibu setiap saat memberikan air susu ibu eksklusif kepada bayi.
Pasal 27 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal ibu kandung tidak dapat memberikan air susu ibu eksklusif bagi bayinya karena terdapat indikasi medis, ibu tidak ada, atau ibu terpisah dari bayinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, bayi dapat diberikan air susu ibu dari donor.
a. permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan;
b. identitas, agama, dan alamat donor air susu ibu diketahui dengan jelas oleh ibu atau keluarga dari bayi penerima air susu ibu;
c. persetujuan donor air susu ibu setelah mengetahui identitas bayi yang diberi air susu ibu;
d. donor air susu ibu dalam kondisi Kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis; dan
e. air susu ibu dari donor tidak diperjualbelikan.
(3) Pemberian air susu ibu dari donor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib dilaksanakan berdasarkan norma agama dan mempertimbangkan aspek sosial budaya, mutu, dan keamanan air susu ibu.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian air susu ibu dari donor diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 28 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Tenaga Medis, dan Tenaga Kesehatan wajib memberikan informasi dan edukasi air susu ibu eksklusif kepada ibu dan/atau anggota keluarga dari bayi sejak pemeriksaan kehamilan sampai dengan periode pemberian air susu ibu eksklusif selesai.
hlm. 18 OCR(3) Pemberian informasi dan edukasi air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dilakukan melalui penyuluhan, konseling, dan pendampingan.
Pasal 29 #Laporkan Penjelasan
Dalam hal pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan air susu ibu dari donor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 tidak dimungkinkan, bayi dapat diberikan susu formula bayi.
Pasal 30 #Laporkan Penjelasan
Dalam memberikan susu formula bayi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan wajib memberikan peragaan dan penjelasan atas penggunaan dan penyajian susu formula bayi kepada ibu dan/atau keluarga yang memerlukan susu formula bayi.
Pasal 31 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat, Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan kader Kesehatan dilarang memberikan susu formula
(2) Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat, Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan kader Kesehatan dilarang menerima
(3) Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat, Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan kader Kesehatan dilarang menyediakan Pelayanan Kesehatan atas biaya dari produsen dan/atau distributor susu formula bayi dan/atau produk pengganti air susu ibu lainnya.
hlm. 19 OCRPasal 32 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal terjadi bencana atau keadaan kedaruratan, air susu ibu eksklusif serta lanjutan air susu ibu sampai minimal usia 2 (dua) tahun tetap diberikan.
Pasal 33 #Laporkan Penjelasan
Produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk pengganti air susu ibu lainnya dilarang melakukan kegiatan yang dapat menghambat pemberian air susu ibu eksklusif berupa:
a. pemberian contoh produk susu formula bayi dan latau produk pengganti air susu ibu lainnya secara cuma-cuma, penawaran kerja
b. penawaran atau penjualan langsung susu formula bayi dan/atau produk pengganti air susu ibu lainnya ke rumah;
c. pemberian potongan harga atau tambahan atau sesuatu dalam bentuk apa pun atas pembelian susu formula bayi dan/atau produk pengganti air susu ibu lainnya sebagai daya tarik dari penjual;
d. penggunaan Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, kader Kesehatan, tokoh masyarakat, dan pemengaruh media sosial untuk memberikan informasi mengenai susu formula bayi dan/atau produk pengganti air susu ibu lainnya kepada masyarakat;
e. pengiklanan susu formula
f. promosi secara tidak langsung atau promosi silang produk pangan dengan susu formula
Pasal 34 #Laporkan Penjelasan
(1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 huruf e dikecualikan jika dilakukan pada media cetak khusus tentang Kesehatan.
a. mendapat persetujuan Menteri; dan
b. memuat keterangan bahwa susu formula bayi bukan sebagai pengganti air susu ibu.
Pasal 35 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan, satuan pendidikan, organisasi profesi di bidang Kesehatan, serta Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan termasuk keluarganya dilarang menerima hadiah dan/atau bantuan dari produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk pengganti air susu ibu lainnya yang dapat menghambat keberhasilan pemberian air susu ibu.
(3) Pemberian bantuan untuk tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. secara terbuka;
b. tidak bersifat mengikat;
c. hanya melalui Fasilitas Pelayanan Kesehatan, satuan pendidikan, dan/atau organisasi profesi di bidang Kesehatan; dan
d. tidak menampilkan logo dan nama produk susu formula bayi
Pasal 36 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang menerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2) wajib memberikan pernyataan tertulis kepada atasannya bahwa bantuan tersebut tidak mengikat dan tidak menghambat keberhasilan pemberian air susu ibu.
hlm. 21 OCR(3) Satuan pendidikan yang menerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat
(4) Organisasi profesi di bidang Kesehatan yang menerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2) wajib memberikan pernyataan tertulis kepada Menteri bahwa bantuan tersebut tidak mengikat dan tidak menghambat keberhasilan pemberian air susu ibu.
Pasal 37 #Laporkan Penjelasan
Dalam hal Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah menerima bantuan dari produsen atau distributor susu formula
Pasal 38 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk pengganti air susu ibu lainnya dilarang memberikan hadiah
(2) Setiap produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk pengganti air susu ibu lainnya yang melakukan pemberian bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan laporan kepada Menteri atau pejabat yang ditunjuk.
hlm. 22 OCR(3) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. nama penerima dan pemberi bantuan;
b. tujuan diberikan bantuan;
c. jumlah dan jenis bantuan; dan
d. jangka waktu pemberian bantuan.
Pasal 39 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan, satuan pendidikan, dan/atau organisasi profesi di bidang Kesehatan yang menerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (3) huruf c wajib memberikan laporan kepada Menteri, menteri/pimpinan lembaga terkait, gubernur, bupati/wali kota, atau pejabat yang ditunjuk.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
a. nama pemberi dan penerima bantuan;
b. tujuan diberikan bantuan;
c. jumlah dan jenis bantuan; dan
d. jangka waktu pemberian bantuan.
Pasal 40 #Laporkan Penjelasan
Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dan Pasal 39 disampaikan paling singkat 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan bantuan.
Pasal 4 1 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan susu formula bayi dan produk pengganti air susu ibu lainnya diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 42 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2), Pasal 28 ayat (1), Pasal 30, Pasal 31, Pasal 35 ayat (1), dan Pasal 36 ayat (1) dikenai sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis; dan/atau
c. pencabutan izin.
hlm. 23 OCRa. teguran lisan; dan/atau
b. teguran tertulis.
(3) Setiap satuan pendidikan dan organisasi profesi di bidang Kesehatan yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (3) dan ayat (4) dan Pasal 39 ayat (1) dikenai sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa:
a. teguran lisan; dan/atau
b. teguran tertulis.
(4) Setiap produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk pengganti air susu ibu lainnya yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 38 ayat (1) dan ayat
a. teguran lisan; dan/atau
b. teguran tertulis.
(5) Setiap Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat dan kader Kesehatan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dikenai sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa:
a. teguran lisan; dan/atau
b. teguran tertulis.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 43 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengurus atau pengelola tempat kerja dan penyelenggara tempat fasilitas umum harus mendorong dan memfasilitasi pemberian air susu ibu eksklusif melalui kebijakan yang mendukung program air susu ibu eksklusif.
(2) Ketentuan mengenai dukungan program pemberian air susu ibu eksklusif di tempat kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau melalui perjanjian kerja bersama.
(3) Pengurus atau pengelola tempat kerja dan penyelenggara tempat fasilitas umum wajib membuat peraturan internal/perusahaan yang mendukung keberhasilan pemberian air susu ibu eksklusif.
hlm. 24 OCR(5) Selain penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyediaan fasilitas khusus
Pasal 44 #Laporkan Penjelasan
Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus mendukung keberhasilan pemberian air susu ibu eksklusif.
Pasal 45 #Laporkan Penjelasan
Setiap pengurus atau pengelola tempat kerja dan/atau penyelenggara tempat fasilitas umum yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1), ayat (3), ayat(41, dan ayat (5), dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan
Pasal 46 #Laporkan Penjelasan
(1) Masyarakat harus mendukung keberhasilan pemberian air susu ibu eksklusif baik secara perseorangan, kelompok, maupun organisasi.
(2) Dukungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui:
a. pemberian sumbangan pemikiran terkait dengan penentuan kebijakan dan/atau pelaksanaan pemberian air susu ibu eksklusif;
b. penyebarluasan informasi kepada masyarakat luas terkait dengan pemberian air susu ibu eksklusif;
c. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program pemberian air susu ibu eksklusif; dan latau
d. penyediaan waktu dan tempat bagi ibu dalam pemberian air susu ibu eksklusif.
(3) Dukungan pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk dukungan dari keluarga terutama ayah.
hlm. 25 OCR(4) Dukungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 47 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri, menteri/pimpinan lembaga terkait, gubernur, dan bupati/wali kota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pemberian air susu ibu eksklusif sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing.
a. meningkatkan peran Sumber Daya Manusia Kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan satuan pendidikan dalam mendukung keberhasilan pemberian air susu ibu eksklusif;
b. meningkatkan peran dan dukungan keluarga dan masyarakat untuk keberhasilan pemberian air susu ibu eksklusif; dan
c. meningkatkan peran dan dukungan pengurus atau pengelola tempat kerja dan penyelenggara tempat fasilitas umum untuk keberhasilan pemberian air susu ibu eksklusif.
(3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui:
a. advokasi dan sosialisasi peningkatan pemberian air susu ibu eksklusif;
b. pelatihan dan peningkatan kualitas Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan tenaga terlatih; dan/atau
c. pemantauan dan evaluasi.
Pasal 48 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengawasan terhadap produsen atau distributor susu formula bayi dan /atau produk pengganti air susu ibu lainnya yang melakukan kegiatan pengiklanan yang dimuat dalam media massa, baik cetak maupun elektronik, dan media luar rulang dilaksanakan oleh lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan, Menteri, gubernur, dan bupati/wali kota sesuai dengan kewenangannya.
hlm. 26 OCRParagraf 4Kesehatan Remaja
Pasal 49 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan remaja ditujukan untuk mempersiapkan remaja menjadi orang dewasa yang sehat, cerdas, berkualitas, dan produktif.
Pasal 50 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan remaja dilakukan melalui upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, danl atau paliatif.
a. gizi seimbang;
b. gaya hidup sehat;
c.
d. Kesehatan reproduksi; dan
e. akses layanan Kesehatan.
(3) Upaya preventif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. imunisasi;
b. skrining Kesehatan untuk deteksi dini
c. pemberian suplementasi gizi; dan
d. pencegahan lainnya.
(4) Upaya kuratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tata laksana dan rujukan sesuai kondisi Kesehatan untuk mengurangi faktor risiko, mengobati penyakit, mencegah atau mengurangi penyulit, dan meningkatkan kualitas hidup.
(6) Upaya paliatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Pelayanan Kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup pada penyakit yang mengancam kehidupan dan akhir kehidupan.
(7) Upaya Kesehatan remaja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selain ditujukan kepada remaja juga ditujukan kepada orang tua atau pengasuh.
Pasal 51 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap remaja berhak untuk berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan remaja.
Pasal 52 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Upaya Kesehatan remaja dilakukan tanpa diskriminasi, memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender, menjamin privasi dan kerahasiaan, mempromosikan kemandirian remaja, serta menjamin akses dan biaya yang terjangkau.
Pasal 53 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab:
a. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan remaja yang sesuai dengan standar, aman, bermutu, dan terjangkau; dan
b. menggerakkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan remaja.
Pasal 54 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan remaja, keluarga berperan memberikan dukungan dalam pengasuhan, pemeliharaan, pendidikan, dan pelindungan kepada remaja.
a. remaja dapat tumbuh sehat dan bebas dari kekerasan dan diskriminasi sesuai degan kemampuan, minat, dan bakatnya;
hlm. 28 OCRb. mencegah perkawinan anak; dan
c. memfasilitasi remaja mendapatkan Pelayanan Kesehatan sesuai dengan standar.
(3) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan remaja, masyarakat berperan:
a. melakukan pemantauan penyelenggaraan Kesehatan remaja oleh pemerintah;
b. mendukung akses remaja ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan;
c. mendukung dan memberdayakan kelompok remaja;
d. menyelenggarakan Upaya Kesehatan remaja berbasis masyarakat; dan
e. mendukung perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengawasan Kesehatan remaja.
(4) Masyarakat berupa kelompok remaja dapat berperan:
a. memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada teman sebaya;
b. aktif dalam kegiatan masyarakat; dan
c. mengembangkan aktifitas positif sesuai hobi yang bebas dari kekerasan dan diskriminasi.
(5) Masyarakat berupa badan usaha dapat berperan:
a. keterlibatan dalam pelaksanaan, pemantauan, dan pengawasan Upaya Kesehatan remaja yang bebas dari kekerasan dan diskriminasi;
b. memberikan bantuan Sumber Daya Kesehatan;
c. memberikan dukungan kegiatan penelitian dan pengembangan Kesehatan remaja;
d. memberikan bimbingan dan penyuluhan serta penyebarluasan informasi; dan
e. membentuk wadah peningkatan peran serta remaja di sekolah, kelompok remaja, dan masyarakat.
Pasal 55 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif pada Upaya Kesehatan remaja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 5Kesehatan Dewasa
Pasal 56 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan dewasa ditujukan untuk menjaga agar seseorang tetap hidup sehat dan produktif.
hlm. 29 OCRPasal 57 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan dewasa dilakukan pada kelompok usia 18 (delapan belas) tahun sampai dengan usia 59 (lima puluh sembilan) tahun.
Pasal 58 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan dewasa dilakukan melalui upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif ,
a. gizi seimbang;
b. gaya hidup sehat;
c. Kesehatan jiwa;
d. Kesehatan reproduksi;
e. kehidupan sosial yang sehat;
f. aktivitas fisik;
g. konseling; dan
h. akses Pelayanan Kesehatan.
(3) Upaya preventif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. imunisasi;
b. skrining Kesehatan untuk deteksi dini penyakit;
c. pelayanan kontrasepsi; dan
d. pencegahan lainnya.
(5) Upaya rehabilitatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi rehabilitasi dan perawatan jangka panjang pada penyakit kronis, langka, atau disabilitas.
(6) Upaya paliatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Pelayanan Kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup pada penyakit yang mengancam kehidupan dan akhir kehidupan.
(7) Upaya Kesehatan dewasa dilakukan dengan memperhatikan keadilan, kesetaraan gender, penjaminan privasi dan kerahasiaan, dan biaya yang terjangkau.
Pasal 59 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat bertanggung jawab penyelenggaraan Upaya Kesehatan dewasa meliputi:
a.
a.
b. penyelenggaraan Upaya Kesehatan dewasa yang sesuai dengan standar, aman, bermutu, dan terjangkau;
c. pembinaan dan evaluasi manajemen program yang meliputi aspek perencanaan, implementasi,
d. pembinaan sistem rujukan, sistem informasi, dan sistem surveilans dalam lingkup nasional dan lintas provinsi; dan
e. penyediaan serta koordinasi dan advokasi dukungan Sumber Daya Kesehatan di lingkup nasional dan lintas provinsi.
a. penyelenggaraan Upaya Kesehatan dewasa yang sesuai dengan standar, aman, bermutu, dan terjangkau;
b. penyelenggaraan dan fasilitasi pelayanan, program, bimbingan, dan koordinasi dalam lingkup provinsi dan lintas kabupaten/kota dalam provinsi;
c. pembinaan dan evaluasi manajemen program meliputi aspek
d. pengelolaan, koordinasi dan pembinaan sistem rujukan, sistem informasi, dan sistem surveilans dalam lingkup provinsi dan lintas kabupaten/kota;
e. pemetaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan; dan
f. penyediaan serta koordinasi dan advokasi dukungan Sumber Daya Kesehatan di lingkup provinsi dan lintas kabupaten/kota.
(3) Pemerintah Daerah kabupaten/kota bertanggung jawab atas penyelenggaraan Upaya Kesehatan dewasa meliputi:
a. penyelenggaraan Upaya Kesehatan dewasa yang sesuai dengan standar, aman, bermutu, dan terjangkau;
b. penyelenggaraan dan fasilitasi Pelayanan Kesehatan primer dan lanjutan;
c. penyelenggaraan manajemen program meliputi aspek perencanaan, implementasi, pemantauan, dan evaluasi dalam lingkup kabupaten/kota;
d. penyelenggaraan sistem rujukan, sistem informasi, dan sistem surveilans dalam lingkup
e. pemetaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjut; dan
f. penyediaan serta koordinasi dan advokasi dukungan Sumber Daya Kesehatan di lingkup kabupaten/kota.
hlm. 31 OCRPasal 60 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan dewasa, masyarakat berperan mendukung perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi Upaya Kesehatan dewasa.
Pasal 61 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif pada Upaya Kesehatan dewasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 6Kesehatan Lanjut Usia
Pasal 62 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan lanjut usia ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat, berkualitas, dan produktif sesuai dengan martabat kemanusiaan.
Pasal 63 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan lanjut usia dilakukan sejak seseorang berusia 60 (enam puluh) tahun atau usia lain yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 64 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan lanjut usia dilakukan melalui upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, danl atau paliatif.
Pasal 65 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan lanjut usia yang bersifat promotif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64, berupa fasilitasi lanjut usia paling sedikit meliputi:
a. menjaga kebersihan diri;
b. mengonsumsi gizi seimbang;
c. melakukan aktivitas fisik secara rutin;
d. memiliki kehidupan sosial;
e. memiliki kesempatan berkarya; dan
f. memiliki lingkungan yang ramah lanjut usia.
(3) Dalam hal lanjut usia sebagaimana dimaksud pada
(5) Fasilitasi lanjut usia untuk dapat memiliki kehidupan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan melalui kegiatan secara berkala di Puskesmas,
(6) Fasilitasi lanjut usia untuk dapat memiliki kesempatan berkarya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilakukan melalui kebijakan afirmasi pemberian kesempatan kerja kepada lanjut usia sesuai kemampuannya dan fasilitas lingkungan kerja ramah lanjut usia.
a. jalur khusus pejalan kaki dan sarana bagi lanjut usia berkebutuhan khusus;
b. taman dan sarana olahraga;
c. transportasi umum ramah lanjut usia;
d. rumah atau perumahan ramah lanjut usia; dan/atau
e. fasilitas publik lainnya yang ramah lanjut usia.
Pasal 66 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan lanjut usia yang bersifat preventif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 berupa:
a. pencegahan penyakit; dan
b. deteksi dini termasuk skrining.
a. skrining tingkat kemandirian untuk mengetahui kebutuhan pendampingan atau bantuan bagi lanjut usia dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari akibat ketidakmampuan fisik, mental, dan/atau intelektual; dan/atau
hlm. 33 OCRb. skrining Kesehatan termasuk status gizi, penyakit menular, penyakit tidak menular, dan Kesehatan
Pasal 67 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan lanjut usia yang bersifat kuratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 diberikan sesuai kondisi medis dan hasil skrining tingkat kemandirian dan skrining Kesehatan.
(3) Dalam hal hasil skrining tingkat kemandirian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menunjukkan status ketergantungan ringan, lanjut usia diberikan tata laksana sesuai kondisi ketergantungan yang dimiliki agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari.
(4) Dalam hal hasil skrining tingkat kemandirian menunjukkan status ketergantungan sedang, berat, dan total, lanjut usia diberikan tata laksana sesuai kondisi ketergantungan yang dimiliki dan perlu dibantu oleh pendamping agar terpenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Pasal 68 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan lanjut usia yang bersifat rehabilitatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 diberikan dalam bentuk pelayanan rehabilitasi sebagai lanjutan dari pelayanan kuratif untuk pemulihan Kesehatan lanjut usia.
Pasal 69 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan lanjut usia yang bersifat paliatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 meliputi Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada lanjut usia dengan penyakit terminal untuk mengurangi keluhan yang diderita agar dapat menjalani akhir kehidupan yang bermartabat.
Pasal 70 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan lanjut usia diselenggarakan melalui penyediaan akses atas Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan lanjut usia serta partisipasi masyarakat.
hlm. 34 OCRPasal 71 #Laporkan Penjelasan
Pelayanan Kesehatan lanjut usia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 diselenggarakan melalui:
a. pelayanan lanjut usia di Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
b. perawatan jangka panjang di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama, Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut, rumah perawatan, fasilitas pelayanan di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan di keluarga; dan
c. Pelayanan Kesehatan berbasis masyarakat meliputi promosi dan skrining Kesehatan secara proaktif dengan melibatkan keluarga dan mengutamakan partisipasi masyarakat.
Pasal 72 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan lanjut usia di Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 huruf a diberikan melalui:
a. penyediaan sarana yang
b. pemberian prioritas antrean kepada lanjut usia; dan
c. pemberian pelayanan secara terpadu dalam satu tempat.
(3) Pelayanan lanjut usia di Fasilitas Pelayanan Kesehatan diberikan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan terlatih sesuai dengan kompetensi dan kewenangan.
Pasal 73 #Laporkan Penjelasan
(1) Perawatan jangka panjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 huruf b merupakan pelayanan pada lanjut usia yang memerlukan pendampingan dan bantuan dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari akibat ketidakmampuan fisik, mental, dan/atau intelektual.
a. perawatan umum dan perawatan khusus sesuai masalah yang dialami oleh lanjut usia;
b. pemenuhan gizi;
c. pertolongan pertama dalam kondisi Gawat Darurat;
d. penanganan gangguan perilaku dengan demensia; dan
e. pengelolaan stres dan gangguan lainnya.
hlm. 35 OCRPasal 74 #Laporkan Penjelasan
(1) Perawatan jangka panjang di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama sebagaimana dimaksud dalam
(3) Perawatan jangka panjang di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan terlatih sesuai dengan kompetensi dan kewenangan.
(4) Perawatan jangka panjang di rumah perawatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7l huruf b dilakukan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan terlatih sesuai dengan kompetensi dan kewenangan mencakup layanan keperawatan, rehabilitasi, paliatif,
Pasal 75 #Laporkan Penjelasan
(1) Perawatan jangka panjang di fasilitas pelayanan di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam
(2) Perawatan jangka panjang di panti sosial dan lembaga sosial lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi:
a. aspek asuhan klinis berupa perencanaan asuhan, pelayanan medis, tata laksana nyeri, pencegahan jatuh dan mobilisasi, dan penyediaan makanan;
b. aspek asuhan sosial berupa upaya peningkatan harga diri, asuhan Kesehatan mental dan psikososial, lingkungan tempat tinggal termasuk sarana dan prasarana ramah lanjut usia; dan
c. aspek pengelolaan dan organisasi yang baik berupa peningkatan kapasitas petugas, pengelolaan sumber daya, dan kesiapsiagaan dalam kondisi darurat.
hlm. 36 OCR(3) Perawatan jangka panjang di panti sosial dan lembaga sosial lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan/atau Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan terlatih sesuai dengan kompetensi dan kewenangan.
(4) Panti sosial dan lembaga sosial lainnya dalam menyelenggarakan perawatan jangka panjang sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Penyelenggaraan perawatan jangka panjang di panti sosial dan lembaga sosial lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan izin dari Pemerintah Daerah setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 76 #Laporkan Penjelasan
Perawatan jangka panjang di keluarga sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Pasal 77 #Laporkan Penjelasan
Pendanaan perawatan jangka panjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 dapat ditanggung Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 78 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan lanjut usia di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan mengacu pada standar pelayanan yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 79 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan Upaya Kesehatan lanjut usia meliputi:
a. penyelenggaraan Upaya Kesehatan lanjut usia yang sesuai dengan standar, aman, bermutu, dan terjangkau; dan
b. penyediaan Sumber Daya Kesehatan secara merata dan terjangkau.
hlm. 37 OCRPasal 80 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan lanjut usia, keluarga berperan untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga Kesehatan, kebugaran, aktivitas fisik dan stimulasi kognitif, pemenuhan gizi seimbang, dan melakukan pemantauan Kesehatan secara berkala, mendukung kehidupan sosial agar tetap berkarya, serta pendampingan lanjut usia yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
Pasal 81 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, danl atau paliatif pada Upaya Kesehatan lanjut usia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 dan Pelayanan Kesehatan lanjut usia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KetigaKesehatan Penyandang Disabilitas
Pasal 82 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan penyandang disabilitas merupakan segala bentuk kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan untuk mencegah kedisabilitasan dan memelihara serta meningkatkan derajat Kesehatan penyandang disabilitas.
Pasal 83 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan penyandang disabilitas ditujukan untuk menjaga agar penyandang disabilitas tetap hidup sehat, produktif, dan bermartabat.
hlm. 38 OCRPasal 84 #Laporkan Penjelasan
Setiap penyandang disabilitas berhak:
a. memperoleh akses atas Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan yang sesuai standar, aman, bermutu, dan terjangkau;
b. memperoleh informasi dan komunikasi yang mudah diakses dan dipahami sesuai ragam disabilitas;
c. memperoleh kesamaan dan kesempatan secara mandiri menentukan Pelayanan Kesehatan yang diperlukan bagi dirinya;
d. memperoleh alat bantu Kesehatan berdasarkan kebutuhannya;
e. memperoleh- pelindungan dari kecelakaan akibat kerja, tindak kekerasan, dan perdagangan orang;
f. memperoleh Obat yang bermutu dengan efek samping yang rendah;
g. memperoleh pelindungan dari upaya percobaan medis;
h. memperoleh pelindungan dalam penelitian dan pengembangan .
i. memperoleh identitas kedisabilitasan, narahubung, dan akses terhadap bantuan.
Pasal 85 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan penyandang disabilitas dilakukan
(3) Upaya Kesehatan penyandang disabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat
a. calon ibu dan ibu hamil;
b. anak;
c. usia dewasa; dan
d. lanjut usia.
Pasal 86 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan penyandang disabilitas calon ibu dan ibu hamil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (3) huruf a paling sedikit meliputi:
a. edukasi Kesehatan untuk menjaga Kesehatan dan menghindari faktor risiko yang dapat menyebabkan anak yang dikandung menyandang disabilitas;
b. pemeriksaan Kesehatan calon pengantin dan perencanaan kehamilan bagi pasangan usia subur untuk memastikan Kesehatan fisik dan mental sebelum hamil;
hlm. 39 OCRc. pelayanan antenatal untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan janin;
d. deteksi dini faktor risiko dan/atau skrining genetik/ kromosom dan/atau skrining infeksi yang dapat menyebabkan kelahiran anak dengan disabilitas;
e. pemberian asupan gizi sebelum dan selama kehamilan;
f. tata laksana penyakit pada ibu hamil berisiko;
g. mendapatkan vaksin sesuai rekomendasi untuk mencegah penyakit yang dapat menyebabkan kelainan janin;
h. Pelayanan Kesehatan reproduksi termasuk pelayanan kontrasepsi; dan
i. tata laksana dan rujukan dan/atau rehabilitasi serta perawatan jangka panjang bagi calon ibu dan ibu penyandang disabilitas.
(2) Upaya Kesehatan penyandang disabilitas anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (3) huruf b dilakukan terhadap anak yang dideteksi akan mengalami disabilitas atau dilahirkan sebagai penyandang disabilitas paling sedikit meliputi:
a. edukasi keluarga/pendamping tentang faktor risiko, kondisi Kesehatan, cara merawat anak penyandang disabilitas, serta informasi tentang sumber daya dan dukungan yang tersedia;
b. stimulasi, deteksi, dan intervensi dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan secara berkala;
c. deteksi dini atau skrining kelainan bawaan, penyakit genetik, dan kondisi lain yang dapat menyebabkan kedisabilitasan;
d. terapi dan/atau perawatan intensif serta rehabilitasi;
e. Pelayanan Kesehatan reproduksi termasuk edukasi pengenalan dan cara menjaga kebersihan organ reproduksi, cara melindungi diri dengan menolak sentuhan terhadap bagian tubuh yang dilarang disentuh orang lain, serta mampu menolak hubungan seksual;
f. konseling dan dukungan untuk orang tua/pendamping dalam melakukan perawatan dan melatih kemandirian anak; dan
g. tata laksana dan rujukan dan/atau rehabilitasi serta perawatan jangka panjang bagi anak penyandang disabilitas.
hlm. 40 OCR(3) Upaya Kesehatan penyandang disabilitas usia dewasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (3) huruf c paling sedikit meliputi:
a. edukasi tentang faktor risiko, pemeliharaan Kesehatan, akses informasi dan Pelayanan Kesehatan;
b. akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan yang mendukung kebutuhan penyandang disabilitas;
c. program terapi dan rehabilitasi;
d. Pelayanan Kesehatan reproduksi termasuk edukasi perilaku seksual yang sehat, aman dan bertanggung jawab, mampu menolak hubungan seksual yang tidak dikehendaki, perencanaan kehamilan, dan keluarga berencana;
e. konseling dan dukungan psikososial bagi penyandang disabilitas dan keluarga/ pendamping;
f. peningkatan keterampilan agar mandiri, mencapai potensi optimal, dan produktif; dan
g. partisipasi dalam kegiatan pendidikan, sosial, dan ekonomi untuk meningkatkan kualitas hidup.
(4) Upaya Kesehatan penyandang disabilitas lanjut usia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (3) huruf d paling sedikit meliputi:
a. edukasi tentang faktor risiko, pemeliharaan Kesehatan, akses informasi dan Pelayanan Kesehatan;
b. akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan yang mendukung kebutuhan penyandang disabilitas;
c. program terapi dan rehabilitasi;
d. perawatan jangka panjang seperti perawatan rumah atau Pelayanan Kesehatan di fasilitas khusus; dan
e. konseling dan dukungan psikososial bagi penyandang disabilitas dan keluarga/pendamping.
Pasal 87 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan penyandang disabilitas diselenggarakan melalui penyediaan akses atas Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan yang inklusif serta sesuai standar menurut ragam disabilitas.
(2) Fasilitas Pelayanan Kesehatan bagi penyandang disabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi standar berupa:
a. standar bangunan dan sarana prasarana;
b. standar sumber daya manusia; dan
c. standar penyediaan alat bantu.
hlm. 41 OCRPasal 88 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan bagi penyandang disabilitas terdiri atas Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama dan jaringannya serta Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut.
(2) Selain pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pelayanan Kesehatan penyandang disabilitas dapat diberikan di fasilitas di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Fasilitas di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. pusat rehabilitasi sosial;
b. lembaga kesejahteraan sosial;
c. unit layanan disabilitas pada satuan pendidikan; dan
d. Upaya Kesehatan berbasis masyarakat.
Pasal 89 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan penyandang disabilitas dilaksanakan melalui:
a. Pelayanan Kesehatan ramah disabilitas yang inklusif dan dapat diakses secara mandiri tanpa bantuan orang lain di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut;
b. perawatan jangka panjang di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut, panti sosial, lembaga sosial lainnya, dan/atau keluarga; dan
c. Pelayanan Kesehatan penyandang disabilitas berbasis masyarakat.
(2) Pelayanan Kesehatan ramah disabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang mudah diakses oleh penyandang disabilitas;
b. tersedia alur dan prioritas khusus bagi penyandang disabilitas;
c. Pelayanan Kesehatan diberikan secara terpadu;
d. petugas memiliki sensitivitas terhadap kebutuhan khusus penyandang disabilitas;
hlm. 42 OCRe. petugas memiliki keterampilan komunikasi efektif dengan penyandang disabilitas;
f. penyediaan Sediaan Farmasi dan alat bantu Kesehatan berdasarkan kebutuhan;
g. penyediaan layanan khusus yang mengakomodasi kebutuhan spesifik penyandang disabilitas;
h. penyediaan materi edukasi Kesehatan yang mudah dimengerti penyandang disabilitas dan/atau media alternatif kepada penyandang disabilitas; dan
i. penyediaan dukungan konseling dan psikososial bagi penyandang disabilitas dan keluarga terkait kondisi disabilitas.
(3) Pelayanan Kesehatan penyandang disabilitas di Fasilitas Pelayanan Kesehatan diberikan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sesuai kompetensi dan kewenangan, serta didukung oleh Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan.
a. perawatan medis;
b. rehabilitasi untuk meningkatkan mobilitas, fungsi fisik, dan kemampuan komunikasi;
c. dukungan psikososial melalui konseling bagi penyandang disabilitas dan keluarga;
d. perawatan khusus untuk mengakomodasi kebutuhan spesifik penyandang disabilitas;
e. penyediaan pendidikan dan pelatihan khusus untuk meningkatkan keterampilan dan kemandirian penyandang disabilitas;
f. pemberian bantuan dalam melaksanakan aktivitas harian;
g. koordinasi antar layanan Kesehatan; dan
h. dukungan penyesuaian fasilitas tempat tinggal dan aksesibilitas yang mendukung kemandirian penyandang disabilitas.
(5) Perawatan jangka panjang di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan diberikan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan yang terlatih.
(6) Perawatan jangka panjang bagi penyandang disabilitas di keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan oleh anggota keluarga dan/atau pendamping.
hlm. 43 OCRPasal 90 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan penyandang disabilitas di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan mengacu pada standar pelayanan yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 9 1 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan masyarakat yang menyelenggarakan Upaya Kesehatan penyandang disabilitas harus melakukan pencatatan dan pelaporan yang mencakup registri penyakit berdasarkan ragam disabilitas melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 92 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah
a. penjaminan
b. perumusan kebijakan yang berfokus pada Kesehatan penyandang disabilitas;
c. penelitian dan pengembangan di bidang Kesehatan penyandang disabilitas;
d. pengawasan dan evaluasi guna memastikan kualitas dan efektivitas program dan Pelayanan Kesehatan;
e. pelatihan dan peningkatan kapasitas Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan untuk meningkatkan kompetensi dalam merawat dan mendukung penyandang disabilitas; dan
f. pelaksanaan koordinasi dan kolaborasi dengan lembaga internasional untuk mengadopsi praktik terbaik dan standar internasional dalam Pelayanan Kesehatan penyandang disabilitas.
hlm. 44 OCR(3) Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan Upaya Kesehatan penyandang disabilitas yang meliputi:
a. penjaminan bagi penyandang disabilitas untuk mempunyai hak yang sama sebagai warga negara;
b. pengimplementasian kebijakan nasional Kesehatan penyandang disabilitas yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat;
c. penyediaan Pelayanan Kesehatan primer dan Pelayanan Kesehatan lanjutan untuk mendukung kebutuhan Kesehatan penyandang disabilitas;
d. penyediaan aksesibilitas fasilitas dan layanan penyandang disabilitas;
e. pengumpulan data dan informasi terkait penyandang disabilitas untuk memahami kebutuhan dan tantangan penyandang disabilitas ;
f. pembinaan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu Kesehatan penyandang disabilitas dan mengurangi stigma;
g. penyelenggaraan pendidikan inklusif dan program rehabilitasi; dan
h. pelaksanaan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan lembaga terkait lainnya.
Pasal 93 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas pendanaan untuk Upaya Kesehatan bagi penyandang disabilitas yang dilakukan melalui bantuan sosial dan asuransi Kesehatan.
Pasal 94 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan penyandang disabilitas, keluarga berperan:
a. memberikan pendampingan bagi anggota keluarga yang merupakan penyandang disabilitas;
b. melakukan partisipasi aktif yang bebas kekerasan dan diskriminasi dalam menjaga Kesehatan, kebugaran, dan meningkatkan kemandirian;
c. melakukan stimulasi kognitif dan pemenuhan gizi seimbang;
d. melakukan pemeriksaan Kesehatan secara berkala; dan
e. melaksanakan perawatan jangka panjang bagi yang membutuhkan.
hlm. 45 OCRa. mendukung terselenggaranya promosi Kesehatan;
b.
c. memberikan dukungan bagi penyandang disabilitas yang bebas kekerasan dan diskriminasi dalam mengakses Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat;
d. menyediakan lingkungan yang ramah disabilitas; dan
e. memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkarya.
Pasal 95 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan upaya promotif, preventif, kuratif,
Bagian KeempatKesehatan Reproduksi
Pasal 96 #Laporkan Penjelasan
Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi, bukan semata-mata bebas dari penyakit atau kedisabilitasan.
Pasal 97 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan reproduksi ditujukan untuk menjaga dan meningkatkan sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan.
a. menjamin pemenuhan hak Kesehatan reproduksi dan seksual pada laki-laki dan perempuan; dan
b. menjamin Kesehatan reproduksi pada laki-laki dan perempuan untuk membentuk generasi yang sehat dan berkualitas.
Pasal 98 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan reproduksi dilaksanakan dengan menghormati nilai luhur
Pasal 99 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan reproduksi meliputi:
a. masa sebelum hamil, masa kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan;
b. pengaturan kehamilan, pelayanan kontrasepsi, dan Kesehatan seksual; dan
c. Kesehatan sistem reproduksi.
(2) Upaya Kesehatan reproduksi dilaksanakan melalui upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif secara menyeluruh dan terpadu.
Pasal lOO #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan reproduksi dilakukan melalui:
a. Upaya Kesehatan sistem reproduksi sesuai siklus hidup;
b. pelayanan pengaturan kehamilan;
c. Pelayanan Kesehatan reproduksi dengan bantuan; dan
d. Upaya Kesehatan seksual.
Pasal 101 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan sistem reproduksi sesuai siklus hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 huruf a meliputi:
a. Kesehatan sistem reproduksi bayi, balita, dan anak prasekolah;
b. Kesehatan sistem reproduksi usia sekolah dan remaja;
c. Kesehatan sistem reproduksi dewasa;
d. Kesehatan sistem reproduksi calon pengantin; dan
e. Kesehatan sistem reproduksi lanjut usia.
(3) Upaya Kesehatan sistem reproduksi sesuai siklus hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan hal spesifik dan tahapan perkembangan pada masing-masing sistem reproduksi perempuan dan laki-laki.
Pasal 102 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan sistem reproduksi bayi, balita, dan anak prasekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. menghapus praktik sunat perempuan;
hlm. 47 OCRb. mengedukasi balita dan anak prasekolah agar mengetahui organ reproduksinya;
c. mengedukasi mengenai perbedaan organ reproduksi laki-laki dan perempuan;
d. mengedukasi untuk menolak sentuhan terhadap organ reproduksi dan bagian tubuh yang dilarang untuk disentuh;
e. mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat pada organ reproduksi; dan
f. memberikan pelayanan klinis medis pada kondisi tertentu.
Pasal 103 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan sistem reproduksi usia sekolah dan remaja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (1) huruf b paling sedikit berupa pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi, serta Pelayanan Kesehatan reproduksi.
(2) Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mengenai:
a. sistem, fungsi, dan proses reproduksi;
b. menjaga Kesehatan reproduksi;
c. perilaku seksual berisiko dan akibatnya;
d. keluarga berencana;
e. melindungi diri dan mampu menolak hubungan seksual; dan
f. pemilihan media hiburan sesuai usia anak.
(3) Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan melalui bahan ajar atau kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kegiatan lain di luar sekolah.
a. deteksi dini penyakit atau skrining;
b. pengobatan;
c. rehabilitasi;
d. konseling; dan
e. penyediaan alat kontrasepsi.
(5) Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 104 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan sistem reproduksi dewasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (1) huruf c paling sedikit berupa pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi, serta Pelayanan Kesehatan reproduksi.
a. sistem, fungsi, dan proses reproduksi;
b. perilaku seksual yang sehat, aman, dan bertanggung jawab;
c. perilaku seksual berisiko dan akibatnya;
d. masalah Kesehatan atau penyakit terkait Kesehatan reproduksi;
e. keluarga berencana;
f. perencanaan kehamilan, kehamilan, persalinan, dan nifas;
g. akses terhadap Pelayanan Kesehatan reproduksi; dan
h. melindungi diri dan mampu menolak hubungan seksual yang tidak dikehendaki.
(3) Pelayanan Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit berupa:
a. deteksi dini penyakit atau skrining;
b. pengobatan;
c. rehabilitasi;
d. konseling; dan
e. penyediaan alat kontrasepsi bagi pasangan usia subur dan kelompok yang berisiko.
Pasal 105 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan sistem reproduksi calon pengantin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (1) huruf d paling sedikit berupa pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi, pelayanan imunisasi, konseling, deteksi dini atau skrining Kesehatan calon pengantin, dan perbaikan status Kesehatan calon pengantin.
a. kondisi Kesehatan yang harus diwaspadai oleh calon pengantin;
b. pengenalan faktor risiko yang mempengaruhi kehamilan, bayi yang dilahirkan, dan keselamatan ibu;
hlm. 49 OCRc. menunda kehamilan bagi calon pengantin yang mempunyai faktor risiko dan/atau masalah Kesehatan;
d. kehidupan dan gangguan seksual suami atau istri;
e. menjaga Kesehatan jiwa untuk hubungan harmonis pasangan suami istri; dan
f. kesetaraan peran suami atau istri.
(3) Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan pada nasihat perkawinan yang disampaikan pada saat bimbingan perkawinan.
(4) Setiap calon pengantin harus melaksanakan pemeriksaan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Pasal 106 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan sistem reproduksi lanjut usia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (1) huruf e dilaksanakan sesuai dengan Upaya Kesehatan sistem reproduksi dewasa.
(2) Selain dilaksanakan sesuai dengan Upaya Kesehatan sistem reproduksi dewasa, Upaya Kesehatan sistem reproduksi lanjut usia juga meliputi pelaksanaan edukasi tentang menghadapi dan menjalani perilaku seksual yang sehat pada masa menopause atau andropause.
Pasal 107 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan sistem reproduksi diselenggarakan melalui penyediaan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan reproduksi sesuai standar, aman, bermutu, terjangkau, tidak diskriminatif, menjaga privasi, dan kesetaraan gender.
Pasal 108 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan reproduksi dilakukan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan sesuai dengan kompetensi dan kewenangan.
hlm. 50 OCR(3) Selain Upaya Kesehatan reproduksi dilakukan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan juga dapat dilakukan pada:
a. pos pelayanan terpadu;
b. satuan pendidikan;
c. tempat kerja;
d. lembaga keagamaan, rumah ibadah, atau kantor urusan agama;
e. rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan;
f. pusat rehabilitasi sosial; dan
g. lembaga kesejahteraan sosial.
Pasal 109 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan pengaturan kehamilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 huruf b bertujuan membantu pasangan usia subur dalam mengambil keputusan tentang usia ideal untuk hamil, jumlah ideal anak, dan jarak ideal kelahiran anak, serta kondisi Kesehatannya.
(3) Pelayanan kontrasepsi sebagaimana dimaksud pada ayat
a. pasangan usia subur; dan
b. kelompok usia subur yang berisiko.
a. memperoleh informasi tentang pelayanan kontrasepsi;
b. memperoleh akses ke pelayanan kontrasepsi; dan
c. memilih metode kontrasepsi untuk dirinya tanpa paksaan.
(5) Metode kontrasepsi sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 1 10 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan kontrasepsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109 ayat (2) dilakukan dengan cara yang aman, bermutu, dan bertanggung jawab.
hlm. 51 OCRa. kegiatan prapelayanan kontrasepsi;
b. tindakan pemberian pelayanan kontrasepsi, termasuk pelayanan kontrasepsi darurat; dan
c. kegiatanpascapelayanankontrasepsi.
(3) Pelayanan kontrasepsi darurat sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Pemberian pelayanan kontrasepsi harus dilakukan sesuai standar oleh Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya.
(5) Pelayanan kontrasepsi dapat dilakukan pada:
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama;
b. Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut;
c. pos pelayanan terpadu;
d. fasilitas pelayanan kefarmasian;
e. saat kunjungan rumah; dan
f. unit pelayanan kontrasepsi yang dibuat oleh pemerintah.
Pasal 1 1 1 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan reproduksi dengan bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 huruf c dilakukan pada pasangan suami istri yang sah, dengan hasil pemeriksaan medis mengalami ketidaksuburan atau infertilitas untuk memperoleh keturunan.
(3) Reproduksi dengan bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tidak bertentangan dengan norma agama.
(4) Reproduksi dengan bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan oleh Tenaga Medis yang mempunyai keahlian dan kewenangan.
(5) Reproduksi dengan bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang untuk tujuan memilih jenis kelamin anak yang akan dilahirkan, kecuali untuk menghindari penyakit genetik yang berhubungan dengan jenis kelamin.
hlm. 52 OCRPasal 1 12 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal proses kehamilan pada reproduksi dengan bantuan menyisakan kelebihan embrio hasil pembuahan di luar tubuh manusia, embrio yang tidak ditanamkan pada rahim harus disimpan sampai lahirnya bayi hasil reproduksi dengan bantuan.
(2) Penyimpanan kelebihan embrio dapat diperpanjang atas keinginan pasangan suami istri untuk kepentingan kehamilan berikutnya.
(3) Kelebihan embrio dilarang ditanam pada:
a. rahim ibu jika ayah embrio meninggal atau bercerai; atau
b. rahim perempuan lain.
(4) Dalam hal pasangan suami istri pemiliknya tidak memperpanjang masa simpan kelebihan embrio, Fasilitas Pelayanan Kesehatan penyelenggara reproduksi dengan bantuan harus memusnahkan kelebihan embrio.
(5) Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan/atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dikenai sanksi administratif oleh Menteri, gubernur, atau bupati/wali kota sesuai dengan kewenangannya
a. teguran tertulis;
b. denda administratif; dan/atau
c. pencabutan
(6) Tata cara pengenaan sanksi administratif berupa pencabutan perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1 13 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan reproduksi dengan bantuan dilaksanakan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tertentu yang ditetapkan oleh Menteri.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan standar Fasilitas Pelayanan Kesehatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 1 14 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 huruf d ditujukan agar Setiap Orang dapat menjalani kehidupan seksual yang sehat meliputi:
a. terbebas dari disfungsi dan gangguan orientasi seksual; dan
b. terbebas dari kekerasan fisik dan mental, termasuk kekerasan seksual.
a. upaya promotif, meliputi edukasi atau konseling tentang perilaku seksual yang sehat dan aman, serta akibat perilaku berisiko, dan pencegahan kekerasan seksual;
b. upaya preventif, meliputi deteksi dini gangguan seksual dan kekerasan seksual;
c. upaya kuratif, meliputi tata laksana masalah Kesehatan seksual dan tata laksana terhadap korban kekerasan seksual; dan
d. upaya rehabilitatif, meliputi tata laksana untuk memulihkan dari gangguan terhadap kondisi fisik dan jiwa, agar dapat melaksanakan perannya kembali secara wajar, baik sebagai individu, anggota keluarga, maupun masyarakat, yang ditujukan terhadap korban kekerasan seksual maupun pelaku kekerasan seksual.
Pasal 1 15 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang berhak menerima pelayanan dan pemulihan Kesehatan akibat tindak pidana kekerasan seksual.
Pasal 116 #Laporkan Penjelasan
Setiap Orang dilarang melakukan aborsi, kecuali atas indikasi kedaruratan medis atau terhadap korban tindak pidana perkosaan atau tindak pidana kekerasan seksual lain yang menyebabkan kehamilan sesuai dengan ketentuan dalam kitab undang-undang hukum pidana.
hlm. 54 OCRPasal 1 17 #Laporkan Penjelasan
Indikasi kedaruratan medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 meliputi:
a. kehamilan yang mengancam nyawa dan Kesehatan ibu; dan/atau
b. kondisi Kesehatan janin dengan cacat bawaan yang tidak dapat diperbaiki sehingga tidak memungkinkan hidup di luar kandungan.
Pasal 1 18 #Laporkan Penjelasan
Kehamilan akibat tindak pidana perkosaan atau tindak pidana kekerasan seksual lain yang menyebabkan kehamilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 dibuktikan dengan:
a. surat keterangan dokter atas usia kehamilan sesuai dengan kejadian tindak pidana perkosaan atau tindak pidana kekerasan seksual lain yang menyebabkan kehamilan; dan
b. keterangan penyidik mengenai adanya dugaan perkosaan dan/atau kekerasan seksual lain yang menyebabkan kehamilan.
Pasal 1 19 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan aborsi yang diperbolehkan hanya dapat dilakukan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut yang memenuhi Sumber Daya Kesehatan sesuai standar yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 120 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan aborsi diberikan oleh tim pertimbangan dan dokter yang memiliki kompetensi dan kewenangan.
(2) Tim pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan pertimbangan dan keputusan dalam melakukan pelayanan aborsi karena adanya kehamilan yang memiliki indikasi kedaruratan medis dan/atau kehamilan akibat tindak pidana perkosaan atau tindak pidana kekerasan seksual lain.
(3) Dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas melakukan pelayanan aborsi karena adanya kehamilan yang memiliki indikasi kedaruratan medis dan/atau kehamilan akibat tindak pidana perkosaan atau tindak pidana kekerasan seksual lain.
hlm. 55 OCRPasal 121 #Laporkan Penjelasan
(1) Tim pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal L2O ayat (2) dibentuk oleh pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut untuk pelayanan aborsi.
(3) Dokter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (3) dalam melakukan pelayanan aborsi dibantu oleh Tenaga Kesehatan yang memiliki kompetensi dan kewenangan.
(4) Dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bukan merupakan anggota tim pertimbangan.
(5) Dalam hal di daerah tertentu tim pertimbangan tidak mencukupi, dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat menjadi anggota tim pertimbangan.
Pasal 122 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan aborsi hanya dapat dilakukan atas persetujuan perempuan hamil yang bersangkutan dan dengan persetujuan suami, kecuali korban tindak pidana perkosaan.
(2) Pengecualian persetujuan suami sebagaimana dimaksud pada ayat (1)juga berlaku terhadap korban tindak pidana kekerasan seksual lain yang menyebabkan kehamilan.
(3) Dalam hal pelaksanaan pelayanan aborsi dilakukan pada orang yang dianggap tidak cakap dalam mengambil keputusan, persetujuan dapat dilakukan oleh keluarga lainnya.
Pasal 123 #Laporkan Penjelasan
Dalam pelayanan aborsi harus diberikan pendampingan dan konseling sebelum dan setelah aborsi, yang dilakukan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, danf atau tenaga lainnya.
Pasal 124 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal korban tindak pidana perkosaan dan/atau tindak pidana kekerasan seksual lain yang menyebabkan kehamilan memutuskan untuk membatalkan keinginan melakukan aborsi setelah mendapatkan pendampingan dan konseling, korban diberikan pendampingan oleh konselor selama masa kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan.
hlm. 56 OCR(3) Dalam hal ibu danf atau keluarga tidak dapat melakukan pengasuhan, anak dapat diasuh oleh lembaga asuhan anak atau menjadi anak yang dipelihara oleh negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 125 #Laporkan Penjelasan
Setiap penyelenggaraan Upaya Kesehatan reproduksi harus dilakukan pencatatan dan pelaporan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 126 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan reproduksi Pemerintah Pusat bertanggung jawab:
a.
b. menyediakan Sumber Daya Kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau, termasuk pada situasi bencana atau krisis Kesehatan;
c. melakukan penyiapan dan penunjukan Fasilitas Pelayanan Kesehatan penyedia Pelayanan Kesehatan reproduksi tertentu;
d. pembinaan sistem
e. melakukan pemetaan, penyediaan, dan peningkatan kapasitas Tenaga Kesehatan reproduksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
f. menyelenggarakan pemantauan dan penilaian kualitas Pelayanan Kesehatan reproduksi;
g. melakukan koordinasi dan advokasi dukungan Sumber Daya Kesehatan lingkup nasional dan lintas provinsi; dan
h. melakukan pembinaan dan evaluasi manajemen program Kesehatan reproduksi lingkup nasional dan lintas provinsi.
hlm. 57 OCRPasal 127 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan reproduksi Pemerintah Daerah provinsi bertanggung jawab:
a. menyelenggarakan dan memfasilitasi Pelayanan Kesehatan reproduksi;
b. menyediakan Sumber Daya Kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau serta Obat dan Alat Kesehatan reproduksi termasuk pada situasi bencana atau krisis Kesehatan;
c. melakukan pemetaan, penyediaan, dan peningkatan kapasitas Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
d. melakukan koordinasi dan advokasi dukungan Sumber Daya Kesehatan dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan reproduksi lingkup provinsi dan lintas
e. memastikan tersedianya Pelayanan Kesehatan reproduksi yang sesuai standar, aman, bermutu, dan terjangkau serta inklusif dengan memperhatikan aspek yang khas pada perempuan dan laki-laki; dan
f. melakukan pembinaan dan evaluasi manajemen program Kesehatan reproduksi lingkup provinsi dan lintas kabupaten/kota.
Pasal 128 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan reproduksi Pemerintah Daerah kabupaten/ kota bertanggung jawab:
a. menyelenggarakan dan memfasilitasi pelaksanaan Pelayanan Kesehatan reproduksi pada lingkup kabupaten/kota dengan melibatkan Fasilitas Pelayanan Kesehatan swasta;
b. menyediakan Sumber Daya Kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau, serta Obat dan Alat Kesehatan reproduksi pada lingkup kabupatenf kota, termasuk pada situasi bencana atau krisis Kesehatan;
c. melakukan pemetaan, pemerataan, dan peningkatan kapasitas Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan pada lingkup kabupaten/kota; dan
d. menyelenggarakan pemantauan dan penilaian kualitas Pelayanan Kesehatan reproduksi pada lingkup kabupaten/kota, termasuk kualitas pelayanan kontrasepsi.
hlm. 58 OCRPasal 129 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan reproduksi, keluarga berperan:
a. melakukan partisipasi aktif untuk meningkatkan pengetahuan dan melakukan upaya pencegahan dan pelindungan Kesehatan reproduksi;
b. mendukung pola asuh dan lingkungan yang aman untuk menghindari terjadinya kekerasan seksual;
c. memantau secara mandiri kondisi Kesehatan sistem reproduksi;
d. memastikan semua anggota keluarga mendapatkan Pelayanan Kesehatan reproduksi, termasuk calon pengantin; dan
e. memastikan setiap pasangan usia subur berpartisipasi dan mendukung pilihan metode kontrasepsi pasangannya.
a. mendukung kemudahan akses dalam mendapatkan informasi dan Pelayanan Kesehatan reproduksi melalui Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat;
b. melakukan partisipasi aktif untuk meningkatkan pemahaman dan peran serta masyarakat dalam Kesehatan reproduksi sejak usia dini, termasuk pencegahan kekerasan seksual;
c. memeriksakan Kesehatan reproduksi calon pengantin sebelum melaksanakan pernikahan;
d. memberikan dukungan bagi korban tindak pidana perkosaan atau kekerasan seksual lainnya, baik yang melakukan aborsi maupun melanjutkan kehamilan agar terbebas dari stigma dan diskriminasi; dan
e. melindungi dan mencegah perempuan dari tindakan aborsi yang tidak aman, tidak bermutu, tidak bertanggung jawab, dan bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Dalam hal masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa badan usaha, berperan:
a. melakukan kerja sama pemenuhan Upaya Kesehatan reproduksi dengan pemerintah; dan
b. menyediakan Pelayanan Kesehatan reproduksi yang sesuai dengan standar, aman, bermutu, dan terjangkau.
hlm. 59 OCRPasal 130 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai Upaya Kesehatan sistem reproduksi sesuai siklus hidup, pelayanan pengaturan kehamilan, Pelayanan Kesehatan reproduksi dengan bantuan, dan Upaya Kesehatan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Bagian KelimaGizi
Pasal 131 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya pemenuhan
(3) Standar angka kecukupan gizi dan status gizi ditetapkan oleh Menteri.
a. ibu hamil dan menyusui;
b. bayi dan balita; dan
c. remaja perempuan.
Pasal 132 #Laporkan Penjelasan
Peningkatan mutu gizi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 1 ayat (1) dilakukan melalui:
a. perbaikan pola konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman;
b. peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi; dan
c. peningkatan sistem kewaspadaan dan peringatan dini terhadap kerawanan pangan dan gizi.
Pasal 133 #Laporkan Penjelasan
(1) Pola konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 132 huruf a disusun sesuai sasaran seluruh siklus kehidupan, kebutuhan khusus, dan kondisi darurat.
hlm. 60 OCR(2) Sasaran kebutuhan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa penderita penyakit dan kelompok sasaran dengan kebutuhan
(3) Makanan yang beragam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan makanan dengan komposisi yang terdiri dari kelompok makanan pokok, kelompok lauk pauk, kelompok
(4) Makanan yang bergizi seimbang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan makanan yang mengandung jenis dan jumlah zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
(5) Makanan yang aman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan makanan yang jika dikonsumsi tidak mengganggu, merugikan, dan membahayakan Kesehatan manusia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Pola konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicapai melalui:
a. penyediaan akses pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman;
b. pemenuhan gizi;
c. promosi perilaku konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman; dan
d. pengayaan zat gizi pangan tertentu.
(7) Pengayaan zat gizi pangan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf d dilakukan melalui fortifikasi pangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(8) Jenis dan jumlah zat
(9) Pembinaan dan pengawasan terhadap pemenuhan persyaratan keamanan pangan, mutu pangan, dan gizi pangan untuk pangan yang wajib difortifikasi dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 61 OCR(10) Dalam hal pangan olahan wajib
Pasal 134 #Laporkan Penjelasan
(1) Peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 132 huruf b dilakukan melalui peningkatan fasilitas, sarana dan prasarana, serta penerapan standar asuhan pelayanan gizi yang didukung oleh tenaga gizi dan Tenaga Kesehatan lain.
(3) Pelayanan gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama dan jejaringnya, Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut, institusi atau fasilitas lainnya, lokasi situasi darurat, dan masyarakat.
(4) Pelayanan gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan/atau Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan sesuai dengan kompetensi dan kewenangan.
(5) Pelayanan
Pasal 135 #Laporkan Penjelasan
(1) Peningkatan sistem kewaspadaan dan peringatan dini terhadap kerawanan panga.n dan gizi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 132 huruf c dilakukan secara terpadu dengan melibatkan seluruh sektor sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Sistem peringatan dini kerawanan pangan dan gizi merupakan bagian dari sistem informasi pangan dan gizi yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(3) Sistem informasi pangan dan gizi sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Informasi tentang ketersediaan dan keterjangkauan pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikembangkan dan dikelola oleh lembaga pemerintah yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pangan.
(5) Informasi tentang pemanfaatan pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi konsumsi dan status gizi disediakan oleh Menteri.
Pasal 136 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya perbaikan gizi ditujukan untuk mengatasi masalah gizi melalui perbaikan status gizi perseorangan dan masyarakat.
Pasal 137 #Laporkan Penjelasan
(1) Surveilans gizi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 136 ayat
(3) Hasil surveilans gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dan
Pasal 138 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendidikan gizi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 136 ayat
(2) Pendidikan
(3) Pendidikan gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan,
Pasal 139 #Laporkan Penjelasan
(1) Tata laksana gizi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 136 ayat (2) men:pakan rangkaian tindakan yang bertujuan untuk perbaikan atau pemulihan pada gagal tumbuh, berat badan kurang, gizi kurang, gizi buruk,
Pasal 140 #Laporkan Penjelasan
(1) Suplementasi gizi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 136 ayat (2) merupakan penambahan produk untuk melengkapi makanan, yang mengandung satu atau lebih zat gizi, yang dikonsumsi secara oral dengan dosis tertentu dalam bentuk pil, tablet, kapsul, bubuk, atau cairan, dan makanan tambahan.
(3) Suplementasi gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a. kapsul vitamin A;
b. tablet tambah darah;
c. makanan tambahan bagi ibu hamil bermasalah gizi;
d. makanan tambahan bagi bayi dan balita bermasalah gizi;
e. makanan tambahan anak sekolah; dan
f. vitamin dan/atau mineral lainnya.
(5) Standar produk untuk suplementasi gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
Pasal 141 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan masyarakat yang menyelenggarakan upaya pemenuhan dan perbaikan gizi harus melakukan pencatatan dan pelaporan dalam Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
hlm. 64 OCRPasal 142 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap ketersediaan bahan makanan secara merata, terjangkau, dan memenuhi standar mutu gizi.
Pasal 143 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam upaya pemenuhan dan perbaikan
a. menjamin pemenuhan gizi seluruh anggota keluarga;
b. menerapkan pemberian makanan bayi dan anak yang benar;
c. menerapkan perilaku gizi seimbang dalam keluarga;
d. melakukan pemantauan Kesehatan dan gizi ibu selama kehamilan dan pascapersalinan; dan
e. melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.
a. menggerakkan Setiap Orang untuk menerapkan perilaku gizi seimbang;
b. membantu melakukan penanganan terhadap terjadinya masalah gizi;
c. mendukung kemudahan akses dalam menjangkau pelayanan gizi;
d. menyelenggarakan pelayanan gizi berbasis masyarakat;
e. mengelola sumber daya alam sebagai makanan tambahan; dan
f. melakukan upaya perbaikan gtzi melalui pemberdayaan masyarakat disesuaikan dengan kondisi setempat, baik pedesaan maupun perkotaan.
(3) Dalam hal masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat
a. melakukan kerja sama pemenuhan dan perbaikan gizi dengan pemerintah; dan
b. menjamin pemenuhan dan perbaikan
Pasal 144 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya peningkatan mutu gizi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 132 huruf a dan huruf b dan upaya perbaikan gizi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 136 diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 65 OCRBagian KeenamKesehatan Jiwa
Pasal 145 #Laporkan Penjelasan
(1) Kesehatan jiwa merupakan kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.
a. menjamin setiap orang dapat mencapai kualitas hidup yang baik, menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat mengganggu Kesehatan jiwa; dan
b. menjamin setiap orang dapat mengembangkan berbagai potensi kecerdasan dan potensi psikologis lainnya.
Pasal 146 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan jiwa diberikan secara proaktif, terintegrasi, komprehensif, dan berkesinambungan sepanjang siklus kehidupan manusia bagi Orang yang Berisiko, ODGJ, dan masyarakat.
Pasal 147 #Laporkan Penjelasan
Orang yang Berisiko berhak:
a. mendapatkan Pelayanan Kesehatan jiwa di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang mudah dijangkau dan sesuai dengan standar Pelayanan Kesehatan jiwa;
b. memperoleh informasi yang jujur dan lengkap tentang Data Kesehatan jiwanya termasuk tindakan yang telah maupun yang akan diterimanya dari Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dengan kompetensi di bidang Kesehatan jiwa;
c. memperoleh lingkungan yang kondusif bagi perkembangan jiwa; dan
d. memperoleh akses sarana dan prasarana yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwa.
hlm. 66 OCRPasal 148 #Laporkan Penjelasan
ODGJ berhak:
a. mendapatkan Pelayanan Kesehatan jiwa di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang mudah dijangkau dan sesuai dengan standar Pelayanan Kesehatan jiwa;
b. mendapatkan jaminan atas ketersediaan Obat termasuk Obat psikofarmaka sesuai dengan indikasi medis;
c. memberikan persetujuan atas tindakan medis yang dilakukan terhadapnya, kecuali yang mengalami gangguan jiwa berat yang dianggap tidak cakap dalam membuat keputusan dan tidak memiliki pendamping serta dalam keadaan kedaruratan;
d. memperoleh informasi yang jujur dan lengkap tentang Data Kesehatan jiwanya, termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dengan kompetensi di bidang Kesehatan jiwa;
e. mendapatkan pelindungan dari setiap bentuk penelantaran, kekerasan, eksploitasi, diskriminasi, stigma dari masyarakat, dan mendapatkan aktivitas yang bermakna;
f. mendapatkan kebutuhan sosial sesuai dengan tingkat gangguan jiwa; dan
g. mengelola sendiri harta benda miliknya dan/atau yang diserahkan kepadanya dan hanya dapat dibatalkan atas penetapan pengadilan.
Pasal 149 #Laporkan Penjelasan
Orang yang Berisiko dan ODGJ mempunyai hak yang sarna sebagai warga negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 150 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan jiwa diselenggarakan melalui upaya yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan/atau rehabilitatif.
Pasal 151 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan jiwa yang bersifat promotif sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. mempertahankan dan meningkatkan derajat Kesehatan jiwa masyarakat secara optimal;
hlm. 67 OCRb. menghilangkan stigma, diskriminasi, dan pelanggaran hak asasi ODGJ sebagai bagian dari masyarakat;
c. meningkatkan pemahaman, penerimaan, dan peran serta masyarakat terhadap Kesehatan jiwa; dan
d. meningkatkan pola komunikasi, kemampuan adaptasi, dan ketahanan jiwa.
a. pola asuh positif;
b. komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai Kesehatan jiwa, termasuk pengembangan keterampilan hidup dan pertolongan pertama pada luka psikologis;
c. menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mendukung perkembangan jiwa yang sehat; dan
d. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Upaya Kesehatan jiwa.
(3) Upaya Kesehatan jiwa yang bersifat promotif dilaksanakan di lingkungan:
a. keluarga;
b. masyarakat;
c. tempat kerja;
d. Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
e. Iembaga/institusi;dan
f. media komunikasi.
Pasal 152 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan jiwa yang bersifat preventif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 150 bertujuan untuk pencegahan gangguan jiwa dan pencegahan bunuh diri.
Pasal 153 #Laporkan Penjelasan
(1) Pencegahan gangguan jiwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 paling sedikit terdiri atas:
a. pencegahan terjadinya masalah kejiwaan;
b. pencegahan timbulnya dan/atau kambuhnya gangguan jiwa;
c. pengurangan faktor risiko akibat gangguan jiwa pada masyarakat secara umum atau perorangan; dan/atau
d. pencegahan timbulnya dampak masalah psikososial.
(2) Pencegahan gangguan jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a. pelaksanaan deteksi dini;
b. konseling; dan
c. dukungan psikologis awal.
hlm. 68 OCR(3) Pelaksanaan deteksi dini sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Dukungan psikologis awal sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Deteksi dini dan konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dilaksanakan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan, dan tenaga profesional lain.
(7) Deteksi dini dan konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dilaksanakan di masyarakat, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, satuan pendidikan, tempat kerja, lembaga sosial, lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan, dan lembaga/ institusi lain sesuai dengan kebutuhan.
(8) Dukungan psikologis awal sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diberikan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan, dan tenaga profesional lain.
Pasal 154 #Laporkan Penjelasan
(1) Pencegahan bunuh diri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 paling sedikit terdiri atas:
a. pencegahan faktor risiko bunuh diri;
b. pencegahan timbulnya pemikiran tentang menyakiti diri sendiri; dan
c. pencegahan percobaan bunuh diri.
(2) Pencegahan faktor risiko bunuh diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat berupa pengaturan pemberitaan yang benar dan bertanggung jawab tentang bunuh diri di media massa dan media sosial.
(3) Pencegahan timbulnya pemikiran tentang menyakiti diri sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan melalui pengembangan keterampilan hidup sosial emosional.
hlm. 69 OCR(4) Pencegahan percobaan bunuh diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas:
a. membatasi akses terhadap alat, bahan, dan fasilitas yang dapat digunakan untuk melakukan bunuh diri;
b. menyediakan akses pelayanan konseling melalui layanan saluran siaga;
c. memberikan dukungan melalui kelompok penyintas; dan
d. penanganan gangguan fisik dan jiwa akibat percobaan bunuh diri.
(5) Akses pelayanan konseling melalui layanan saluran siaga sebagaimana dimaksud pada ayat (41 huruf b diselenggarakan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan baik milik pemerintah maupun masyarakat.
Pasal 155 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka upaya pencegahan bunuh diri diselenggarakan registri bunuh diri.
(3) Registri bunuh diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat data yang mencakup variabel jenis kelamin, usia, lokasi, metode, dan faktor risiko, latar belakang, alasan, dan/atau penyebab bunuh diri.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai registri bunuh diri diatur dengan Peraturan Menteri setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Pasal 156 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan jiwa yang bersifat preventif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 150 dilaksanakan di lingkungan:
a. keluarga;
b.
c. masyarakat.
hlm. 70 OCRPasal 157 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan jiwa yang bersifat kuratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 150 ditujukan untuk penyembuhan atau pemulihan, pengurangan penderitaan, pengendalian disabilitas, dan/atau pengendalian gejala penyakit.
(3) Upaya Kesehatan jiwa yang bersifat kuratif dilaksanakan melalui proses diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat.
(4) Penatalaksanaan yang tepat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi tata laksana farmakologis, tata laksana nonfarmakologis, serta rujukan dan rujuk balik oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sesuai kompetensi dan kewenangan.
Pasal 158 #Laporkan Penjelasan
(1) Tindakan medis dalam rangka tata laksana ODGJ, pecandu, penyalahguna, dan korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya harus mendapatkan persetujuan tindakan secara tertulis dari ODGJ, pecandu, penyalahguna, dan korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya yang bersangkutan.
a. suami atau istri;
b. orang tua;
c. anak atau saudara kandung yang paling sedikit berusia 18 (delapan belas) tahun;
d. wali atau pengampu; atau
e. pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Penentuan kecakapan ODGJ untuk mengambil keputusan dalam memberikan persetujuan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh dokter spesialis kedokteran jiwa atau dokter yang memberikan layanan medis saat itu.
hlm. 71 OCRPasal 159 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan jiwa yang bersifat rehabilitatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 150 merupakan kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan Pelayanan Kesehatan jiwa yang ditujukan untuk:
a. mencegah atau mengendalikan disabilitas;
b. memulihkan fungsi sosial;
c. memulihkan fungsi okupasional; dan
d. mempersiapkan dan memberi kemampuan ODGJ agar mandiri di masyarakat.
a. rehabilitasi psikiatrik/psikososial;
b. rehabilitasi medik; dan
c. rehabilitasi sosial.
(3) Rehabilitasi psikiatrik/psikososial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a bertujuan mengembalikan fungsi kognitif, emosi, adaptasi sosial, dan spiritual ke dalam kondisi yang optimal melalui:
a. farmakoterapi dan psikoterapi;
b. psikoedukasi;
c. pelatihan keterampilan hidup mandiri; dan/atau
d. memberikan dukungan psikologis pada Pasien dan keluarga.
(4) Rehabilitasi medik sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 160 #Laporkan Penjelasan
(1) Keluarga dengan ODGJ, pecandu, penyalahguna, dan korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya yang dalam proses rehabilitasi atau telah menyelesaikan rehabilitasi harus diberikan dukungan berupa:
a. kemudahan akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan; dan
b. dukungan sosial oleh tenaga profesional.
(2) Dukungan
hlm. 72 OCR(2) Dukungan dimaksud emosional, dan/atau penguatan keluarga. -72-sosial oleh tenaga profesional sebagaimana pada ayat (1) huruf b berupa dukungan pengetahuan, dan keterampilan pengasuhan perawatan, keterampilan berelasi, serta kapabilitas dan tanggung jawab sosial
Pasal 161 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang dilarang melakukan pemasungan, penelantaran, kekerasan, danf atau
(3) Penelantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindakan langsung maupun tidak langsung yang membuat seseorang tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya, tidak terpelihara, tidak terawat, dan tidak terurus.
(4) Kekerasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penyalahgunaan kekuatan dan kekuasaan, ancaman, tindakan, atau pembiaran yang disengaja baik secara fisik maupun psikis terhadap seseorang yang berpotensi mengakibatkan gangguan fisik, gangguan jiwa, perampasan kemerdekaan secara melawan hukum, atau kematian.
Pasal 162 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk menjamin pelindungan terhadap ODGJ, dilakukan penghapusan praktik pemasungan dan penanganan kasus pemasungan.
a. menjamin keberlangsungan pengobatan;
b.
c. penyediaan tempat tinggal bagi ODGJ yang tidak memiliki keluarga; dan
d. penyediaan lingkungan sosial yang mendukung pemulihan ODGJ.
hlm. 73 OCR(3) Penanganan kasus pemasungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a. penilaian dan penatalaksanaan awal, termasuk aspek kegawatdaruratan;
b. pembebasan;
c. rujukan; dan
d. pencegahan pemasungan berulang.
Pasal 163 #Laporkan Penjelasan
Penanganan terhadap penelantaran dan kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 ayat (3) dan ayat (4) dilaksanakan melalui:
a. penilaian dan penatalaksanaan awal termasuk aspek kegawatdaruratan;
b. rujukan; dan
c. rehabilitasi.
Pasal 164 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan jiwa dilaksanakan dengan mengedepankan peran keluarga dan masyarakat termasuk upaya rehabilitasi terhadap ODGJ.
a. menerapkan pola asuh positif dalam keluarga;
b. memberikan pertolongan pertama bagi anggota keluarga yang mengalami luka psikologis;
c. mengenali gejala awal gangguan jiwa di keluarga;
d. melaporkan adanya ODGJ dalam keluarga yang membutuhkan pertolongan;
e. memberikan dukungan dalam menjangkau akses Pelayanan Kesehatan bagi Orang yang Berisiko dan ODGJ di keluarga;
f. menerapkan perilaku saling mendukung antaranggota keluarga dalam pemulihan ODGJ; dan
g. berpartisipasi dalam proses pemulihan anggota keluarga lainnya yang berisiko atau mengalami gangguan jiwa dengan mengikuti sesi psikoterapi sesuai dengan rekomendasi penyedia Pelayanan Kesehatan jiwa.
(3) Peran serta masyarakat dalam Upaya Kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara perseorangan dan/atau berkelompok, dengan cara:
hlm. 74 OCRa. memberikan bantuan tenaga, dana, fasilitas, serta sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa;
b. melaporkan adanya ODGJ yang membutuhkan pertolongan;
c. melaporkan tindakan kekerasan yang dialami serta yang dilakukan ODGJ;
d. menciptakan iklim yang kondusif bagi ODGJ;
e. memberikan pelatihan keterampilan khusus kepada ODGJ;
f. memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya peran keluarga dalam penyembuhan ODGJ; dan
g. mengawasi fasilitas pelayanan di bidang Kesehatan jiwa.
(4) Dalam hal masyarakat berupa badan usaha berperan memberikan bantuan tenaga, dana, fasilitas, serta sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa untuk menunjang pemenuhan ketahanan keluarga.
Pasal 165 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa didukung oleh sumber daya manusia, fasilitas pelayanan di bidang Kesehatan jiwa, dan pendanaan.
Pasal 166 #Laporkan Penjelasan
(1) Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 165 terdiri atas:
a. Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dengan kompetensi dan kewenangan di bidang Kesehatan jiwa; dan
b. Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan.
(2) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dengan kompetensi dan kewenangan di bidang Kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. dokter;
b. dokter spesialis kedokteran jiwa;
c. dokter spesialis lainnya;
d. psikolog klinis;
e. perawat;
f. ners spesialis jiwa; dan
g. Tenaga Kesehatan lainnya yang mendukung Kesehatan jiwa.
hlm. 75 OCR(3) Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi tenaga profesional lainnya dan tenaga lain yang terlatih di bidang Kesehatan jiwa.
(4) Tenaga profesional lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
a. tenaga profesi psikolog;
b. pekerja sosial;
c. konselor; dan
d. guru bimbingan konseling.
(5) Tenaga lain yang terlatih di bidang Kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
a. tokoh masyarakat;
b. tokoh agama;
c. kader Kesehatan; dan
d. pendidik dan tenaga kependidikan.
(6) Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berperan sebagai mitra Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam menyelenggarakan Upaya Kesehatan jiwa sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya.
Pasal 167 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas pelayanan di bidang Kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 165 terdiri atas:
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan; dan
b. fasilitas pelayanan di luar sektor Kesehatan dan fasilitas pelayanan berbasis masyarakat.
(2) Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut.
(3) Fasilitas pelayanan di luar sektor Kesehatan dan fasilitas pelayanan berbasis masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas:
a. pos pelayanan terpadu;
b. praktik profesi psikologi;
c. praktik pekerja sosial;
d. pusat kesejahteraan sosial;
e. pusat rehabilitasi sosial;
f. lembaga kesejahteraan sosial;
g. rumah pelindungan sosial;
h. pesantren/institusi berbasis keagamaan;
i. rumah singgah; dan
j. bentuk lainnya yang menyelenggarakan Upaya Kesehatan jiwa.
hlm. 76 OCR(5) Fasilitas pelayanan di luar sektor Kesehatan dan fasilitas pelayanan berbasis masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menyelenggarakan rehabilitasi sosial untuk penanganan ODGJ, pecandu, penyalahguna, dan korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya agar menjadi produktif.
(6) Fasilitas pelayanan di luar sektor Kesehatan dan fasilitas pelayanan berbasis masyarakat selain menyelenggarakan rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (5), juga dapat menyelenggarakan Upaya Kesehatan jiwa yang bersifat promotif, preventif, dan kuratif.
(7) Fasilitas pelayanan di luar sektor Kesehatan dan fasilitas pelayanan berbasis masyarakat dalam menyelenggarakan Upaya Kesehatan jiwa yang bersifat kuratif sebagaimana dimaksud pada ayat (6) wajib bekerja sama dengan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan dikoordinasikan oleh Puskesmas penanggung jawab wilayah.
(8) Upaya Kesehatan jiwa yang diselenggarakan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan, fasilitas pelayanan di luar sektor Kesehatan, dan fasilitas pelayanan berbasis masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) sampai dengan ayat (7) wajib dilaksanakan sesuai dengan standar Pelayanan Kesehatan jiwa.
Pasal 168 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap fasilitas pelayanan di luar sektor Kesehatan dan fasilitas pelayanan berbasis masyarakat yang tidak melaksanakan kewajiban kerja sama dalam menyelenggarakan Upaya Kesehatan jiwa yang bersifat kuratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 167 ayat (7) dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa:
a. peringatan tertulis;
b. pembekuan kegiatan;
c. pencabutan win; dan/atau
d. penutupan fasilitas pelayanan di bidang Kesehatan jiwa.
hlm. 77 OCRa. peringatan tertulis;
b. pembekuan kegiatan;
c. pencabutan izin1' dan/atau
d. penutupan fasilitas pelayanan di bidang Kesehatan jiwa.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 169 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan fasilitas pelayanan di luar sektor Kesehatan dan fasilitas pelayanan berbasis masyarakat serta standar Pelayanan Kesehatan jiwa pada fasilitas pelayanan di luar sektor Kesehatan dan fasilitas pelayanan berbasis masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 167 diatur dengan Peraturan Menteri berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial.
Pasal 170 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan, fasilitas pelayanan di luar sektor Kesehatan, dan fasilitas pelayanan berbasis masyarakat wajib melakukan pencatatan dan pelaporan setiap pelayanan dalam rangka Upaya Kesehatan jiwa melalui Sistem
Pasal 171 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk kepentingan penegakan hukum, seseorang yang diduga ODGJ yang melakukan tindak pidana harus mendapatkan pemeriksaan Kesehatan jiwa sesuai dengan pedoman pemeriksaan Kesehatan jiwa.
hlm. 78 OCR(2) Pemeriksaan Kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk:
a. menentukan kemampuan seseorang dalam
b. menentukan kecakapan hukum seseorang untuk menjalani proses peradilan.
(3) Untuk kepentingan keperdataan, seseorang yang diduga ODGJ harus mendapatkan pemeriksaan Kesehatan jiwa sesuai dengan pedoman pemeriksaan Kesehatan jiwa.
(4) Pemeriksaan Kesehatan jiwa untuk kepentingan perkara perdata bertujuan untuk menemukan ada tidaknya gangguan jiwa tertentu dan/atau penentuan kecakapan seseorang untuk melakukan perbuatan hukum.
(5) Pemeriksaan Kesehatan Jiwa untuk kepentingan penegakan hukum perkara pidana harus diselenggarakan di Rumah Sakit milik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
(6) Pemeriksaan Kesehatan jiwa untuk kepentingan penegakan hukum perkara perdata diselenggarakan di Rumah Sakit atau klinik utama milik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, atau masyarakat.
(7) Pemeriksaan Kesehatan jiwa untuk kepentingan penegakan hukum dilakukan setelah terperiksa dan/atau keluarganya diberikan informasi mengenai:
a. prosedur pemeriksaan Kesehatan jiwa; dan
b. hasil pemeriksaan Kesehatan jiwa hanya diberikan kepada instansi pemohon.
(8) Pemeriksaan Kesehatan jiwa untuk kepentingan penegakan hukum perkara pidana hanya dapat dilaksanakan atas dasar surat permohonan resmi dari:
a. Kepolisian Negara Republik Indonesia;
b. Kejaksaan Republik Indonesia;
c. pengadilan; atau
d. lembaga negara penegak hukum lainnya yang ditetapkan undang-undang.
(9) Ketentuan mengenai pedoman pemeriksaan Kesehatan jiwa diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 172 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk melaksanakan pekerjaan tertentu atau menduduki jabatan tertentu, setiap orang wajib dilakukan pemeriksaan Kesehatan jiwa.
hlm. 79 OCR(2) Pemeriksaan Kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan sebelum melaksanakan pekerjaan tertentu atau menduduki jabatan tertentu sesuai kebutuhan.
(3) Pekerjaan tertentu atau jabatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pekerjaan dan jabatan yang memenuhi kriteria
a. pejabat publik yang membuat keputusan penting;
b. pekerjaan yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain;
c. pekerjaan yang berhubungan dengan kelompok rentan; dan/atau
d. pekerjaan atau jabatan lain yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.
(5) Dalam hal diperlukan, pemeriksaan Kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan selama dan sesudah melaksanakan pekerjaan tertentu atau menduduki jabatan tertentu sesuai kebutuhan.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemeriksaan Kesehatan jiwa untuk kepentingan pekerjaan tertentu atau jabatan tertentu diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 173 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa termasuk upaya penghapusan pemasungan, penelantaran, dan kekerasan terhadap Orang yang Berisiko atau ODGJ dilakukan koordinasi lintas sektor untuk penggerakan Kesehatan jiwa masyarakat.
(2) Penggerakan Kesehatan jiwa masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a. penanganan dan penghapusan pemasungan, penelantaran, dan kekerasan kepada Orang yang Berisiko atau ODGJ dengan menjunjung pemenuhan hak asasi manusia; dan
b. penyelenggaraan upaya promotif dan preventif Kesehatan jiwa di masyarakat.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penggerakan Kesehatan jiwa masyarakat diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian urusan kementerian dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan.
hlm. 80 OCRPasal 174 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan tanggung jawab pada Upaya Kesehatan jiwa, Pemerintah Pusat melakukan:
a. penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa bagi Orang yang Berisiko, ODGJ, dan masyarakat di Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
b. penetapan kebijakan dan strategi nasional penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa;
c. koordinasi dan kerja sama dengan kementerian
d. penyediaan sumber daya manusia, sarana, prasarana, Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan, dan pendanaan yang menunjang Pelayanan Kesehatan jiwa;
e. pengembangan sistem data dan informasi Upaya Kesehatan jiwa yang terintegrasi;
f. penetapan institusi/lembaga yang melaksanakan fungsi sebagai pusat penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan teknologi dan produk teknologi dalam bidang Kesehatan jiwa;
g. pemastian tersedianya lingkungan yang mendukung tercapainya Kesehatan jiwa; dan
h. sosialisasi kebijakan dan fasilitasi Upaya Kesehatan jiwa bagi Pemerintah Daerah.
Pasal 175 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan tanggung jawab pada Upaya Kesehatan jiwa, Pemerintah Daerah provinsi melakukan:
a. penetapan kebijakan penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa di tingkat provinsi dengan berpedoman pada kebijakan dan strategi nasional penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa;
b. koordinasi dan kerja sama dengan organisasi perangkat daerah yang terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. pengelolaan dan pelaksanaan sistem data dan informasi Upaya Kesehatan jiwa;
d. fasilitasi Upaya Kesehatan jiwa di wilayah kerjanya;
e. penjaminan ketersediaan sumber daya manusia, sarana, prasarana, Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan, dan pendanaan yang menunjang Pelayanan Kesehatan jiwa;
f. penyediaan Pelayanan Kesehatan jiwa di Rumah Sakit;
g. pemastian tersedianya lingkungan yang mendukung tercapainya Kesehatan jiwa; dan
h. penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa secara terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan.
hlm. 81 OCRPasal 176 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan tanggung jawab Kesehatan jiwa, Pemerintah Daerah melakukan:
a. penetapan kebijakan penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa di tingkat kabupaten/kota dengan berpedoman pada kebijakan dan strategi nasional penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa dan kebijakan Pemerintah Daerah provinsi;
b. kerjasama dengan instansi terkait di tingkat kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. pengelolaan dan pelaksanaan sistem data dan informasi Upaya Kesehatan jiwa;
d. penjaminan ketersediaan sumber daya manusia, sarana, prasarana, Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan, dan pendanaan yang menunjang Pelayanan Kesehatan jiwa;
e. penyediaan Pelayanan Kesehatan jiwa di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama di kabupaten/kota;
f. penyediaan Pelayanan Kesehatan jiwa di Rumah Sakit;
g. pemastian tersedianya lingkungan mendukung tercapainya Kesehatan jiwa; dan
h. penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa secara terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan.
Pasal 177 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Upaya Kesehatan jiwa yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan/atau rehabilitatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 150 sampai dengan Pasal 160 diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KetujuhPenanggulangan Penyakit Menular
Pasal 178 #Laporkan Penjelasan
(1) Penanggulangan penyakit menular diselenggarakan secara terkoordinasi, terpadu, dan berkesinambungan dalam bentuk promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif dengan mempertimbangkan aspek determinan Kesehatan.
(3) Penyakit menular sebagaimana dimaksud pada ayat
a. penyakit menular langsung; dan
b. penyakit tular vektor dan binatang pembawa penyakit. pada Upaya kabupaten/kota
hlm. 82 OCRPasal 179 #Laporkan Penjelasan
Penanggulangan penyakit menular dilakukan untuk melindungi masyarakat dari tertularnya penyakit untuk menurunkan jumlah yang sakit, disabilitas, dan/atau meninggal dunia serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat penyakit menular.
Pasal 180 #Laporkan Penjelasan
(1) Penanggulangan penyakit menular dilakukan melalui:
a. promosi Kesehatan;
b. surveilans penyakit menular;
c. pengendalian faktor risiko;
d. penemuan kasus;
e. penanganan kasus;
f. pemberian kekebalan;
g. pemberian Obat pencegahan; dan/atau
h. kegiatan lain yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Promosi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku hidup sehat, serta mencegah terjadinya penularan penyakit.
(3) Promosi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Surveilans penyakit menular sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan untuk:
a. tersedianya informasi situasi, kecenderungan penyakit, dan faktor risiko yang mempengaruhi sebagai bahan pengambilan keputusan;
b. terselenggaranya kewaspadaan dini terhadap kemungkinan terjadinya KLB penyakit menular atau Wabah dan dampaknya;
c. terselenggaranya investigasi dan penanggulangan KLB penyakit menular atau Wabah dan dampaknya; dan
d. dasar penyampaian
(5) Surveilans penyakit menular sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Pengendalian faktor risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c ditujukan untuk memutus rantai penularan melalui:
a. intervensi atau rekayasa lingkungan;
b. pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit;
c. peningkatan daya tahan tubuh;
d. perbaikan kualitas media lingkungan; dan
e. pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat.
(8) Penemuan kasus sebagaimana dimaksud pada ayat
(9) Penanganan kasus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e ditujukan untuk penyembuhan penyakit, mencegah dan membatasi disabilitas dan kematian, menghapus stigma dan diskriminasi penderita yang diakibatkan oleh penyakit menular, serta memutus rantai penularan.
(10) Penanganan kasus sebagaimana dimaksud pada ayat (9) dilakukan melalui tata laksana terhadap kasus dan kontak, perawatan mandiri kasus, penegakan diagnosis, tata laksana dini, pengobatan, dan perawatan, termasuk perawatan rehabilitatif dan/atau paliatif, serta rujukan dan rujuk balik.
(11) Pemberian kekebalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f ditujukan untuk memutus rantai penularan penyakit yang dilakukan melalui imunisasi.
(12) Pemberian Obat pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g ditujukan untuk memutus rantai penularan penyakit yang dilakukan melalui pemberian Obat pencegahan secara massal, pada kelompok masyarakat tertentu, atau perseorangan.
(13) Pemberian Obat pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (12) dilaksanakan dengan memperhatikan tingkat endemisitas masing-masing wilayah dan/atau faktor risiko yang mempengaruhinya.
Pasal 181 #Laporkan Penjelasan
Penanggulangan penyakit menular dapat dilakukan bekerja sama dengan lintas sektor, lintas program, dan lintas disiplin baik di tingkat lokal, nasional, regional, maupun global.
hlm. 84 OCRPasal 182 #Laporkan Penjelasan
(1) Penanggulangan penyakit tular vektor dan binatang pembawa penyakit sebagai akibat dari interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan, dilakukan melalui pendekatan satu Kesehatan.
(3) Pendekatan satu Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 183 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penanggulangan penyakit menular dibutuhkan ketersediaan:
a. Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan yang merata dan mencukupi, serta Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan;
b. Fasilitas Pelayanan Kesehatan, termasuk sarana prasarana;
c. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lainnya;
d. pendanaan yang memadai sesuai kebutuhan dengan prinsip efektif dan efisien; dan
e. pemberdayaan Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat.
a. orang atau sekelompok orang yang diduga tertular penyakit atau memiliki faktor risiko penyakit menular; dan/atau
b. tempat yang dicurigai berkembangnya vektor dan sumber penyakit lain.
hlm. 85 OCRPasal 184 #Laporkan Penjelasan
Penanggulangan penyakit menular menggunakan pendekatan berfokus pada masyarakat berupa:
a. peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penyakit menular dan kondisinya;
b. dukungan dan pendampingan untuk menyelesaikan pengobatan dan pemantauannya dari keluarga, komunitas, Tenaga Medis, dan/atau Tenaga Kesehatan;
c. pelindungan bagi penderita dari stigma dan diskriminasi; dan
d. dukungan psikososial bagi orang yang terinfeksi penyakit menular.
Pasal 185 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penanggulangan penyakit menular, Pemerintah Pusat bertanggung jawab:
a. melakukan penanggulangan penyakit menular melalui kegiatan pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan penyakit menular serta bertanggung jawab terhadap akibat yang ditimbulkannya;
b. menetapkan kebijakan dan strategi nasional penanggulangan penyakit menular;
c. menyediakan Sumber Daya Kesehatan;
d. melakukan advokasi dan kerja sama lintas program, lintas sektor, lintas disiplin, masyarakat, dan dengan negara lain; dan
e. melakukan penelitian dan pengembangan.
a. melakukan penanggulangan penyakit menular melalui kegiatan pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan penyakit menular serta bertanggung jawab terhadap akibat yang ditimbulkannya;
b. membuat dan melaksanakan kebijakan penanggulangan penyakit menular dengan mengacu pada kebijakan dan strategi nasional penanggulangan penyakit menular;
c. menyediakan Sumber Daya Kesehatan;
d. melakukan advokasi dan kerja sama lintas program, lintas sektor, lintas disiplin, dan masyarakat; dan
e. melakukan penelitian dan pengembangan.
(3) Dalam penanggulangan penyakit menular, Pemerintah Desa bertanggung jawab:
a. melaksanakan kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
b. menyediakan Sumber Daya Kesehatan;
hlm. 86 OCRc. melakukan advokasi dan kerja sama lintas program dan lintas sektor; dan
d. menyelenggarakan Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat.
Pasal 186 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri menetapkan program prioritas dan target penanggulangan penyakit menular di tingkat nasional maupun daerah.
(3) Selain melaksanakan program prioritas dan target penanggulangan penyakit menular sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pemerintah Daerah dapat menetapkan program prioritas dan target lain sesuai dengan kebutuhan wilayahnya.
(4) Penetapan sebagai program prioritas dan target sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) didasarkan pada kriteria sebagai berikut:
a. tingkat endemisitas;
b. penyakit menular potensial KLB atau Wabah;
c. fatalitas atau angka kematian tinggi;
d. dampak sosial, ekonomi, politik, dan ketahanan yang luas;
e. sasaran reduksi, eliminasi, dan eradikasi yang merupakan komitmen global; dan/atau
f. kriteria lain yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 187 #Laporkan Penjelasan
Dalam penanggulangan penyakit menular, masyarakat berperan:
a. meningkatkan pengetahuan terhadap penyakit menular;
b. memelihara dan menjaga Kesehatan dirinya;
c. mencegah penyebaran penyakit menular melalui perilaku hidup bersih dan sehat, ikut berperan dalam perbaikan kualitas media lingkungan, pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit, serta melengkapi imunisasi sesuai standar;
d. memberikan dukungan psikososial serta mencegah stigma dan diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi penyakit menular dan orang terdampak lainnya; dan
e. melakukan deteksi dini penyakit menular dan melaporkan kepada pihak yang berwenang terkait penyakit menular potensial KLB dan/atau Wabah.
hlm. 87 OCRPasal 188 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang dilarang:
a. menyebarluaskan atau memperjualbelikan mikroorganisme penyebab penyakit menular; dan/atau
b. merekayasa mikroorganisme menjadi lebih virulen dan/atau menjadi kebal terhadap antimikroba.
(2) Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif.
(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat
a. peringatan tertulis;
b. denda administratif;
c. penghentian sementara dari kegiatan produksi dan/atau peredaran;
d. penarikan dan pemusnahan produk dari peredaran; dan/atau
e. pencabutan
(4) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/wali kota sesuai dengan kewenangannya.
(5) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dikenakan sesuai dengan besaran yang telah ditetapkan sebagai penerimaan negara bukan pajak atau pendapatan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Tata cara pengenaan sanksi administratif berupa pencabutan perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf e dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 189 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penanggulangan penyakit menular diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 88 OCRBagian KedelapanPenanggulangan Penyakit Tidak Menular
Pasal 190 #Laporkan Penjelasan
(1) Penanggulangan penyakit tidak menular diselenggarakan secara terkoordinasi, terpadu, dan berkesinambungan dalam bentuk promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif dengan mempertimbangkan aspek determinan Kesehatan.
(2) Penyakit tidak menular sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penyakit yang tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain dan cenderung berdurasi panjang atau kronis yang diakibatkan dari kombinasi faktor risiko genetik, lingkungan, dan perilaku.
Pasal 191 #Laporkan Penjelasan
Penanggulangan penyakit tidak menular dilakukan untuk:
a. meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku hidup sehat;
b. mencegah terjadinya penyakit tidak menular beserta akibat yang ditimbulkan;
c. menurunkan jumlah yang sakit, disabilitas, dan/atau meninggal dunia; dan
d. mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat penyakit tidak menular.
Pasal 192 #Laporkan Penjelasan
(1) Penanggulangan penyakit tidak menular dilaksanakan melalui:
a. promosi Kesehatan;
b. deteksi dini faktor risiko;
c. pengendalian faktor risiko;
d. pelindungan khusus;
e. penemuan dini kasus;
f. tata laksana dini;
g. penanganan kasus berupa Pelayanan Kesehatan kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif; dan
h. kegiatan lain yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Promosi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku hidup sehat, dan mencegah terjadinya penyakit tidak menular.
(3) Promosi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa advokasi, sosialisasi, kampanye Kesehatan, gerakan masyarakat, serta komunikasi, informasi, dan edukasi.
hlm. 89 OCR(4) Deteksi dini faktor risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b ditujukan untuk menemukan kondisi dan kebiasaan seseorang yang berisiko terjadinya penyakit tidak menular melalui anamnesa dan pemeriksaan.
(5) Pengendalian faktor risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat berupa kegiatan:
a. pengendalian konsumsi gula,
b. pengendalian produk tembakau dan turunannya;
c. pembiasaan aktivitas fisik dan olahraga;
d. mengonsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman;
e. istirahat yang cukup dan kelola stres;
f. tidak merokok dan menghindari paparan asap rokok dan polutan;
g. tidak mengonsumsi alkohol;
h. pengendalian lingkungan obesogenik; dan
i. pengendalian karsinogenik.
(6) Pelindungan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dapat
(8) Tata laksana dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dilakukan melalui pengobatan dan perawatan terhadap faktor risiko yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular.
(9) Penanganan kasus berupa Pelayanan Kesehatan kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g dilakukan melalui penegakan diagnosis, pengobatan, dan perawatan termasuk perawatan rehabilitatif dan/atau paliatif, serta tindakan rujukan dan rujuk balik.
Pasal 193 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah provinsi, dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota bertanggung jawab meningkatkan advokasi, sosialisasi, kampanye Kesehatan, serta komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat.
hlm. 90 OCRPasal 194 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak, Pemerintah Pusat menentukan batas maksimal kandungan gula, garam, dan lemak dalam pangan olahan, termasuk pangan olahan siap saji.
(2) Penentuan batas maksimal kandungan gula, garam, dan 'lemak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian urusan kementerian dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan dengan mengikutsertakan' kementerian dan lembaga terkait.
(3) Penentuan batas maksimal kandungan gula, garam, dan lemak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mempertimbangkan :
a. kajian risiko; dan/atau
b. standar internasional.
(4) Selain penetapan batas maksimum kandungan gula, garam, dan lemak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah Pusat dapat menetapkan pengenaan cukai terhadap pangan olahan tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 195 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang memproduksi, mengimpor, dan/atau mengedarkan pangan olahan termasuk pangan olahan siap saji wajib:
a. memenuhi ketentuan batas maksimum kandungan gula, garam dan lemak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 194; dan
b. mencantumkan label gizi termasuk kandungan gula, garam, dan lemak pada kemasan untuk pangan olahan atau pada media informasi untuk pangan olahan siap saji.
hlm. 91 OCR(2) Setiap Orang yang memproduksi, mengimpor, dan/atau mengedarkan pangan olahan termasuk pangan olahan siap saji yang melebihi ketentuan batas maksimum kandungan gula,
(3) Setiap Orang dilarang melakukan penjualan atau peredaran pangan olahan termasuk pangan olahan siap saji yang melebihi ketentuan batas maksimum kandungan gula, garam dan lemak pada kawasan tertentu.
(4) Setiap Orang yang memproduksi, mengimpor, dan/atau mengedarkan pangan olahan termasuk pangan olahan siap saji dibatasi dan/atau dilarang menggunakan
Pasal 196 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 dikenai sanksi administratif.
a. peringatan tertulis;
b. denda administratif;
c. penghentian sementara dari kegiatan produksi dan/atau peredaran produk;
d. penarikan pangan olahan dari peredaran; dan/atau
e. pencabutan perizinan berusaha.
(3) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Menteri, menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan, menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian, kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan, gubernur, atau bupati/wali kota sesuai dengan kewenangannya.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 197 #Laporkan Penjelasan
(1) Penanggulangan penyakit tidak menular didukung dengan kegiatan surveilans faktor risiko, registri penyakit, dan surveilans kematian.
(3) Surveilans faktor risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memantau dan mengumpulkan data faktor risiko penyakit tidak menular melalui
(4) Registri penyakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk mengumpulkan informasi kasus penyakit tidak menular.
(5) Surveilans kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memantau dan mengumpulkan data penyebab kematian akibat penyakit tidak menular.
(6) Surveilans faktor risiko, registri penyakit, dan surveilans kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis populasi, klinis, laboratorium, dan kejadian.
(8) Pelaksanaan
Pasal 198 #Laporkan Penjelasan
Penanggulangan penyakit tidak menular
Pasal 199 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penanggulangan penyakit tidak menular dibutuhkan ketersediaan :
a. Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan yang merata dan mencukupi, serta Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan;
b. Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama beserta jejaringnya dan Fasilitas pelayanan Kesehatan tingkat lanjut, dan fasilitas pelayanan lain, termasuk sarana prasarana;
c. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan perbekalan Kesehatan lainnya;
d. pendanaan yang memadai sesuai kebutuhan dengan prinsip efektif dan efisien; dan
e. pemberdayaan Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat.
(2) Pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dapat diperoleh dari hibah, tanggung jawab sosial perusahaan, dan sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 200 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penanggulangan penyakit tidak menular, Pemerintah Pusat bertanggung jawab:
a. menetapkan kebijakan dan strategi nasional penanggulangan penyakit tidak menular termasuk pencantuman informasi nilai gizi dan/atau batas maksimum kandungan gula, garam, dan lemak pada pangan olahan termasuk pangan olahan siap saji;
b. menetapkan ketentuan pelarangan iklan, promosi, dan sponsor pada pangan olahan termasuk pangan olahan siap saji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 ayat (2);
c. menetapkan ketentuan mengenai informasi kandungan gula, garam, lemak, pesan Kesehatan, dan label gizi depan kemasan pada pangan olahan dan/atau pangan olahan siap saji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 ayat (1);
hlm. 94 OCRd. menetapkan program edukasi kepada masyarakat dalam pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak;
e. menyediakan Sumber Daya Kesehatan;
f. melakukan advokasi dan kerja sama lintas program, lintas sektor, masyarakat, dan dengan negara lain secara terkoordinasi dan terpadu; dan
g. melakukan penelitian dan pengembangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
a. menetapkan kebijakan dan melaksanakan penanggulangan penyakit tidak menular sebagai program prioritas daerah dengan mengacu pada kebijakan dan strategi nasional penanggulangan penyakit tidak menular;
b. menyediakan Sumber Daya Kesehatan;
c. melakukan advokasi dan kerja sama lintas program, lintas sektor, dan masyarakat;
d. melakukan penelitian dan pengembangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
e. menetapkan dan melaksanakan ketentuan mengenai kawasan pangan rendah gula, garam, dan lemak.
(3) Dalam penanggulangan penyakit tidak menular, Pemerintah Desa bertanggung jawab:
a. melaksanakan penanggulangan penyakit tidak menular dengan mengacu pada kebijakan dan strategi nasional penanggulangan penyakit tidak menular dan kebijakan Pemerintah Daerah;
b. menyediakan Sumber Daya Kesehatan;
c. melakukan advokasi dan kerja sama lintas program dan lintas sektor; dan
d. melaksanakan Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat.
Pasal 201 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri menetapkan program prioritas dan target penanggulangan penyakit tidak menular di tingkat nasional maupun daerah.
(3) Selain melaksanakan program prioritas dan target penanggulangan penyakit tidak menular sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Penetapan program prioritas dan target sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) didasarkan pada jenis penyakit tidak menular dengan kriteria:
a. dapat dilakukan pencegahan, pengobatan,
b. tingginya angka kematian, kesakitan, disabilitas, dan/atau beban biaya pengobatan.
(5) Selain kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 202 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Daerah provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota berwenang menetapkan kebijakan pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular berupa:
a. pengaturan dan pembinaan kepada pedagang penjualan makanan dan minuman yang berjualan di sekitar sekolah dan tempat kerja;
b. pengawasan promosi dan kampanye pangan;
c. pengawasan pangan industri rumah tangga, pangan olahan siap saji termasuk porsi makanan dan minuman yang disajikan pada tempat usaha, serta pangan jajanan anak sekolah di wilayahnya;
d. memastikan ketersediaan buah,
e. peningkatan kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik melalui pemenuhan sarana dan prasarana aktivitas fisik dan sarana olahraga termasuk sarana mobilitas untuk transportasi aktif;
f. pemenuhan sarana ruang terbuka hijau dan pemanfaatan lahan untuk promosi Kesehatan lingkungan dan faktor risiko lingkungan, termasuk penanggulangan polusi udara dan pelarangan pembakaran terbuka;
g. pembiasaan aktivitas
h. pembinaan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular; dan
i. upaya pengendalian faktor risiko lainnya.
hlm. 96 OCRPasal 203 #Laporkan Penjelasan
Dalam penanggulangan penyakit tidak menular, masyarakat berperan:
a. meningkatkan pengetahuan dan partisipasi aktif dalam kegiatan promosi Kesehatan, pencegahan dan pengendalian faktor risiko, serta bentuk penanggulangan penyakit tidak menular lain yang memerlukan kolaborasi masyarakat; dan
b. mendukung penyediaan Sumber Daya Kesehatan.
Pasal 204 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penanggulangan penyakit tidak menular diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KesembilanUpaya Kesehatan Penglihatan dan Pendengaran
Pasal 205 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan penglihatan dan pendengaran ditujukan untuk meningkatkan derajat Kesehatan penglihatan dan pendengaran masyarakat serta menurunkan angka disabilitas.
(3) Upaya Kesehatan penglihatan dan pendengaran dilakukan pada seluruh siklus hidup dalam bentuk promotif, preventif, kuratif, dan/atau rehabilitatif.
Pasal 206 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan Upaya Kesehatan penglihatan dan pendengaran diprioritaskan pada penyakit dengan kriteria sebagai berikut:
a. dapat dilakukan pencegahan, pengobatan, dan/atau rehabilitasi; dan
b. tingginya angka kesakitan, angka disabilitas, dan/atau tingginya beban biaya pengobatan.
a. promosi Kesehatan;
b. pengendalian faktor risiko;
c. penemua.n kasus;
d. pelindungan khusus; dan
e. penanganan kasus.
hlm. 97 OCR(3) Promosi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Promosi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat dipublikasikan melalui media resmi.
(6) Pengendalian faktor risiko sebagaimana dimaksud pada ayat
a. pengendalian kebisingan di tempat kerja, tempat hiburan atau rekreasi, satuan pendidikan, dan fasilitas umum lainnya;
b. pengaturan tingkat pencahayaan di tempat kerja dan satuan pendidikan;
c. pengendalian penyakit tidak menular dan komplikasi penyakit;
d. pengendalian pajanan zat kimia dan/atau Obat yang bersifat ototoksik; dan
e. perubahan perilaku berisiko yang menyebabkan gangguan penglihatan dan ganggua.n pendengaran.
(8) Pelindungan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d dapat berupa pemberian imunisasi dan penggunaan alat pelindungan terhadap paparan tertentu.
(9) Penanganan kasus sebagaimana dimaksud pada ayat
(10) Rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (9) dapat dilakukan melalui Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat.
Pasal 207 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan penglihatan dan pendengaran didukung oleh kegiatan surveilans faktor risiko, registri penyakit, dan surveilans disabilitas.
hlm. 98 OCR(3) Surveilans faktor risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memantau dan mengumpulkan data faktor risiko perilaku dan lingkungan.
(4) Registri penyakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk mengumpulkan informasi penyakit mata atau telinga yang didiagnosis berbasis Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(5) Surveilans disabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memantau dan mengumpulkan data disabilitas akibat gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran.
(6) Kegiatan surveilans faktor risiko, registri penyakit, dan surveilans disabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terkoordinasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat.
Pasal 208 #Laporkan Penjelasan
Dalam Upaya Kesehatan penglihatan dan pendengaran dibutuhkan ketersediaan:
a. Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan serta Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan yang merata dan mencukupi;
b. Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama beserta jejaringnya, Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut, dan fasilitas pelayanan lain yang mendukung Upaya Kesehatan penglihatan dan pendengaran, termasuk sarana dan
c. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lainnya,
d. pendanaan yang memadai sesuai kebutuhan dengan prinsip efektif dan efisien; dan
e. pemberdayaan Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat.
hlm. 99 OCRPasal 209 #Laporkan Penjelasan
Tanggung jawab Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, dan masyarakat dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan penglihatan dan pendengaran sesuai dengan ketentuan tanggung jawab Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, dan masyarakat dalam penyelenggaraan penanggulangan penyakit tidak menular.
Pasal 210 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyelenggaraan Upaya Kesehatan penglihatan dan pendengaran diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KesepuluhUpaya Kesehatan Keluarga
Pasal 211 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan keluarga ditujukan agar tercipta interaksi dinamis yang positif antaranggota keluarga yang memungkinkan setiap anggota keluarga mengalami kesejahteraan fisik, jiwa, dan sosial yang optimal.
(2) Keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri atas:
a. suami dan istri;
b. suami, istri, dan anaknya;
c. ayah dan anaknya; atau
d. ibu dan anaknya.
(3) Selain keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Upaya Kesehatan keluarga juga diselenggarakan pada keluarga lain yang sedarah maupun keluarga yang tidak sedarah.
Pasal 212 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan keluarga meliputi aspek:
a. proses sosial dan emosional dalam keluarga;
b. kebiasaan hidup sehat dalam keluarga;
c. sumber daya keluarga untuk hidup sehat; dan
d. dukungan sosial eksternal untuk hidup sehat.
(3) Kebiasaan hidup sehat dalam keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan perilaku hidup sehat setiap individu dalam keluarga.
(4) Sumber daya keluarga untuk hidup sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan ketersediaan materi dan nonmateri yang dibutuhkan keluarga dalam menjamin keberlangsungan Kesehatan anggota keluarga.
(5) Dukungan sosial eksternal untuk hidup sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan bantuan atau
Pasal 213 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan Upaya Kesehatan keluarga dilakukan menggunakan pendekatan siklus hidup.
a. pengasuhan positif;
b. pembiasaan hidup sehat dalam keluarga;
c. pemberian Pelayanan Kesehatan dan kedokteran keluarga;
d. pemanfaatan data dan Informasi Kesehatan berbasis keluarga; dan
e. kunjungan keluarga.
(3) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi.
Pasal 2 14 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengasuhan positif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 213 ayat (2) huruf a bertujuan untuk memenuhi pelindungan hak anak dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
(3) Pengasuhan positif merupakan pemberian pengasuhan pertama dalam menjaga Kesehatan anak yang dapat berupa pemberian makanan bergizi seimbang, pembiasaan perilaku sehat, dan mengenali tanda masalah Kesehatan serta proaktif dalam perawatan Kesehatan.
(4) Ayah dan/atau ibu dari keluarga yang sedarah atau keluarga yang tidak sedarah sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 215 #Laporkan Penjelasan
(1) Pembiasaan hidup sehat dalam keluarga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 213 ayat (2) huruf b bertujuan untuk membudayakan pola perilaku hidup sehat dalam keluarga hingga tercermin dalam tata perilaku sehari-hari untuk keberlangsungan Kesehatan anggota keluarga.
a. melakukan aktivitas fisik;
b. menjaga pola makan sehat;
c. menghindari kebiasaan buruk yang berdampak terhadap Kesehatan;
d. melakukan skrining Kesehatan;
e. menjaga Kesehatan lingkungan rumah; dan
f. perilaku lainnya yang berkorelasi pada Kesehatan.
Pasal 2 16 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemberian Pelayanan Kesehatan dan kedokteran keluarga sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. Tenaga Medis termasuk yang memiliki kompetensi kedokteran keluarga; danI atau
b. Tenaga Kesehatan.
(3) Puskesmas bertanggung jawab mengoordinasikan pelaksanaan Pelayanan Kesehatan dan kedokteran keluarga di wilayahnya.
Pasal 217 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemanfaatan data dan Informasi Kesehatan berbasis keluarga sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. mempermudah proses pelayanan;
b. mengetahui status Kesehatan keluarga;
c. sebagai dasar kunjungan keluarga;
d. menentukan prioritas sasaran; dan
e. melakukan intervensi.
(3) Data dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Sistem informasi data keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 218 #Laporkan Penjelasan
(1) Kunjungan keluarga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 213 ayat (2)
(3) Kunjungan keluarga dikoordinasikan oleh unit Pelayanan Kesehatan di tingkat desa/ kelurahan.
(4) Hasil dari kunjungan keluarga dianalisis untuk merumuskan rencana kerja dan intervensi berikutnya oleh unit Pelaya.nan Kesehatan di tingkat desa/kelurahan.
(5) Dalam hal unit Pelayanan Kesehatan di tingkat desa/kelurahan tidak ma.mpu menangani masalah Kesehatan keluarga di wilayahnya, Puskesmas bertanggung jawab untuk menangani masalah Kesehatan secara komprehensif.
(6) Kunjungan rumah oleh kader sebagaimana dimaksud pada ayat
a. anggota keluarga yang tidak datang pada saat jadwal pelayanan pos pelayanan terpadu atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
b. anggota keluarga yang memerlukan pendampingan dalam kepatuhan pengobatan; dan/atau
c. anggota keluarga dengan risiko masalah Kesehatan.
(7) Kader sebagaimana dimaksud pada ayat (6) sebelum melaksanakan kunjungan rumah harus mendapatkan pembekalan terkait pendampingan Kesehatan.
(8) Kunjungan rumah oleh Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 219 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah
Pasal 220 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyelenggaraan Upaya Kesehatan keluarga sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Bagian KesebelasKesehatan Sekolah
Pasal 221 #Laporkan Penjelasan
(1) Kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat bagi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas serta mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat.
(3) Kesehatan sekolah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diselenggarakan sesuai dengan kemampuan satuan pendidikan.
(4) Kesehatan sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan melalui:
a. pendidikan Kesehatan;
b. Pelayanan Kesehatan; dan
c. pembinaan lingkungan sekolah sehat.
Pasal 222 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendidikan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 221 ayat (4) huruf a ditujukan untuk peningkatan
(2) Pendidikan Kesehatan dilaksanakan melalui kegiatan
(3) Pendidikan Kesehatan diberikan oleh pendidik dan dapat berkolaborasi dengan Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan atau kader Kesehatan yang memiliki kompetensi dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 223 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 221 ayat
(2) Pelayanan promotif dilaksanakan melalui pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi Kesehatan dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.
(3) Pelayanan preventif dilaksanakan melalui pemberian imunisasi, pelaksanaan skrining Kesehatan, pemberian suplementasi gizi, dan pemberian Sediaan Farmasi untuk pencegahan penyakit.
(5) Pelayanan rehabilitatif dilaksanakan melalui pemberian pelayanan psikososial pada korban perundungan atau kekerasan dan masalah Kesehatan jiwa lainnya.
Pasal 224 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan promotif dilaksanakan oleh satuan pendidikan dan dapat berkolaborasi dengan Puskesmas penanggung jawab wilayah.
(3) Pelayanan preventif, kuratif, dan rehabilitatif diberikan oleh Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan yang memiliki kompetensi dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 225 #Laporkan Penjelasan
(1) Pembinaan lingkungan sekolah sehat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 221 ayat
(3) Pembinaan lingkungan fisik sebagaimana dimaksud pada ayat
a. pemenuhan akses air bersih, sanitasi, dan kebersihan;
b. fasilitasi kantin sehat atau pangan jajanan anak sekolah yang sehat, aman, bermutu, dan bergizi;
c. penciptaan lingkungan satuan pendidikan yang bersih, indah, nyaman, tertib, aman, dan rindang;
d. penyehatan media lingkungan, pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit, serta pengamanan limbah, sampah, dan zat berbahaya lainnya;
e. peningkatan kesiapsiagaan bencana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
f. penerapan kawasan tanpa rokok dan bebas dari penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
(4) Pembinaan lingkungan sosial emosional sebagaimana dimaksud pada ayat (21meliputi:
a. penciptaan lingkungan satuan pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan anak termasuk anak yang berkebutuhan khusus; dan
b. penerapan satuan pendidikan bebas kekerasan, pelecehan, pornografi, pornoaksi, dan ketergantungan internet.
(5) Pembinaan lingkungan sekolah sehat dilakukan oleh satuan pendidikan dan dapat berkolaborasi dengan Puskesmas penanggung jawab wilayah dan/atau pihak lain sesuai kebutuhan.
(6) Masyarakat di lingkungan sekolah harus mendukung dan melaksanakan pembinaan lingkungan sekolah sehat melalui:
a. penciptaan kawasan tanpa rokok, tanpa kekerasan, serta bebas dari penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya;
b. pemenuhan pangan jajanan anak sekolah yang sehat, aman, bermutu, dan bergizi; dan
c. menjaga kebersihan dan keamanan.
hlm. 106 OCRPasal 226 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga pendidik pada satuan pendidikan bertanggung jawab memberikan pendidikan Kesehatan dan memastikan kegiatan Kesehatan sekolah termasuk pembiasaan hidup sehat di satuan pendidikan berjalan dengan baik.
(3) Peserta didik pada satuan pendidikan bertanggung jawab ikut berpartisipasi aktif dalam implementasi Kesehatan sekolah dan menjadi pelopor atau agen perubahan hidup sehat di satuan pendidikan.
Pasal 227 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap pelaksanaan kegiatan Kesehatan sekolah harus dilakukan pencatatan dan pelaporan.
(2) Pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem informasi pada satuan pendidikan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 228 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan Kesehatan sekolah, satuan pendidikan melakukan asesmen mandiri terhadap penyelenggaraan sekolah sehat dan kampus sehat.
(3) Satuan pendidikan yang telah mencapai tingkat stratifikasi tertentu dapat diberikan penghargaan.
Pasal 229 #Laporkan Penjelasan
(1) Pedoman dalam penyelenggaraan Kesehatan sekolah pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 221 sampai dengan 228 disusun oleh Menteri berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama.
(2) Pedoman sebagaimana yang dimaksud oleh ayat (1) ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama sesuai dengan kewenangannya.
hlm. 107 OCRPasal 230 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melakukan koordinasi, pembinaan, dan pengawasan penyelenggaraan Kesehatan sekolah secara berkala dan berkelanjutan.
Pasal 231 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan Kesehatan sekolah, masyarakat berperan:
a. memberikan asistensi, konsultasi, atau bimbingan teknis;
b. memberikan penyuluhan atau penyebarluasan Informasi Kesehatan;
c. memberikan dukungan fasilitasi penyelenggaraan Kesehatan sekolah;
d. memberikan dukungan pendanaan; dan
e. memberikan dukungan kegiatan penelitian dan pengembangan Kesehatan sekolah.
Bagian Kedua Belas Upaya Kesehatan Kerja
Pasal 232 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja dan orang lain yang ada di tempat kerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan Kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan dan gangguan Kesehatan lainnya.
(3) Upaya Kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di tempat kerja pada sektor formal dan informal serta pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(4) Upaya Kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku juga untuk pekerjaan di lingkungan matra.
Pasal 233 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan Upaya Kesehatan kerja meliputi:
a. upaya promotif;
b. upaya preventif;
c. upaya kuratif;
d. upaya rehabilitatif; dan
e. upaya paliatif.
hlm. 108 OCR(2) Upaya promotif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. identifikasi risiko atau bahaya dan masalah Kesehatan;
b. peningkatan pengetahuan Kesehatan dan faktor risiko Kesehatan;
c. pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat;
d. pembudayaan keselamatan dan Kesehatan kerja;
e.
f. peningkatan Kesehatan fisik dan jiwa; dan
g. Kesehatan reproduksi.
(3) Upaya promotif sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Upaya preventif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. pencegahan penyakit akibat kerja; dan
b. pencegahan penyakit lainnya di tempat kerja.
(5) Upaya preventif sebagaimana dimaksud pada ayat
a. identifikasi, penilaian, dan pengendalian potensi bahaya Kesehatan;
b. pemenuhan persyaratan Kesehatan lingkungan kerja;
c. perlindungan
d. pemeriksaan Kesehatan;
e. penilaian kelaikan kerja;
f. pemberian imunisasi dan/atau profilaksis bagi pekerja berisiko tinggi;
g. pelaksanaan kewaspadaan standar; dan
h. surveilans Kesehatan kerja.
(6) Upaya kuratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
a. pertolongan pertama pada cedera dan sakit yang terjadi di tempat kerja;
b. diagnosa dan tata laksana penyakit menular, penyakit tidak menular, dan/atau diakibatkan karena pekerjaan dan lingkungan kerja; dan
c. penanganan kasus kegawatdaruratan medik dan/atau rujukan.
a. pemulihan medis; dan
b. pemulihan kerja.
(8) Pemulihan medis sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf a dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan medis.
hlm. 109 OCR(9) Pemulihan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat
(10) Upaya paliatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilaksanakan melalui pemberian Pelayanan Kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup pada penyakit yang mengancam kehidupan dan akhir kehidupan pada pekerja yang berhubungan dengan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
Pasal 234 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Upaya Kesehatan kerja harus didukung dengan:
a. sumber daya manusia;
b. Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
c. peralatan keselamatan dan Kesehatan kerja;
d. pendanaan; dan
e. pencatatan dan pelaporan.
Pasal 235 #Laporkan Penjelasan
Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 234 huruf a terdiri atas Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan.
Pasal 236 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 235 harus memiliki kompetensi untuk menyelenggarakan Upaya Kesehatan kerja yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan.
(3) Pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 237 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 234 huruf b harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Menteri.
(3) Selain Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelenggaraan Upaya Kesehatan kerja juga dapat dilakukan oleh unit Kesehatan kerja.
(4) Unit Kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan unit Kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dalam menyelenggarakan Upaya Kesehatan kerja berkoordinasi dengan Puskesmas setempat.
Pasal 238 #Laporkan Penjelasan
Peralatan keselamatan dan Kesehatan kerja sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 239 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 234 huruf d termasuk dapat menggunakan jaminan sosial Kesehatan dan jaminan sosial ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Selain jaminan sosial Kesehatan dan jaminan sosial ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pendanaan Kesehatan bagi pekerja juga dapat dipenuhi melalui asuransi Kesehatan lainnya atau pembiayaan penuh tempat kerja.
Pasal 240 #Laporkan Penjelasan
Pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 234 huruf e dilaksanakan oleh pemberi kerja, pengurus atau pengelola tempat kerja, dan/atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
hlm. 111 OCRPasal 241 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan kerja sesuai dengan standar Kesehatan kerja wajib diselenggarakan oleh pemberi kerja dan
a. Peraturan Menteri untuk standar Kesehatan kerja yang bersifat teknis Kesehatan; dan
b. peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan untuk penerapan standar Kesehatan kerja bagi pekerja di perusahaan.
(3) Penerapan standar Kesehatan kerja dapat dikembangkan oleh kementerian/lembaga terkait sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik bidang masing-masing.
Pasal 242 #Laporkan Penjelasan
(1) Pekerja berhak mendapatkan Upaya Kesehatan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 233.
(3) Pekerja wajib berpartisipasi aktif menjaga Kesehatan, menjaga lingkungan tempat kerja yang sehat dan aman, serta menaati peraturan keselamatan dan Kesehatan kerja yang berlaku di tempat kerja.
(4) Orang lain di tempat kerja wajib berpartisipasi menjaga lingkungan tempat kerja yang sehat dan menaati peraturan keselamatan dan Kesehatan kerja yang berlaku di tempat kerja.
Pasal 243 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab:
a. menetapkan kebijakan dan melaksanakan Upaya Kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem keselamatan dan Kesehatan kerja;
b. melakukan koordinasi secara berkala dan berkelanjutan dalam pelaksanaan Upaya Kesehatan kerja; dan
c. meningkatkan kapasitas sumber daya dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan kerja.
Pasal 244 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan kerja, masyarakat berperan dalam meningkatkan pemahaman dan mendukung penerapan terhadap Upaya Kesehatan kerja bagi pekerja dan orang lain yang berada di tempat kerja.
hlm. 112 OCRBagian Ketiga Belas Kesehatan Lingkungan
Pasal 245 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat secara fisik, kimia, biologi, dan sosial yang memungkinkan Setiap Orang mencapai derajat Kesehatan yang setinggi-tingginya.
(3) Upaya Kesehatan lingkungan diselenggarakan secara terpadu dan berkesinambungan, termasuk pada kondisi matra dan ancaman global perubahan iklim melalui upaya penyehatan, pengamanan, dan pengendalian.
(4) Upaya Kesehatan lingkungan diselenggarakan pada lingkungan pemukiman, tempat kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum.
Pasal 246 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya penyehatan, pengamanan, dan pengendalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 245 ayat (3) dilaksanakan untuk memenuhi standar baku mutu Kesehatan lingkungan dan persyaratan Kesehatan pada media lingkungan.
a. air;
b. udara;
c. tanah;
d. pangan;
e. sarana dan bangunan;
f. vektor dan binatang pembawa penyakit; dan
g. media lingkungan lain.
(3) Media air sebagaimana dimaksud pada ayat
a. air minum; dan
b. air untuk kolam renang, solus per a.qua, dan pemandian umum.
(4) Media udara sebagaimana dimaksud pada ayat
a. udara dalam ruang; dan
b. udara ambien yang memajan langsung pada manusia dan memiliki risiko Kesehatan.
hlm. 113 OCR(5) Media tanah sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Media pangan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. pangan segar;
b. pangan olahan; dan
c. pangan olahan siap saji.
(8) Media vektor dan binatang pembawa penyakit sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
Pasal 247 #Laporkan Penjelasan
(1) Standar baku mutu Kesehatan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 246 ayat (1) merupakan spesifikasi teknis atau nilai yang dibakukan dari aspek fisik, kimia, dan biologi pada media lingkungan yang meliputi:
a. parameter;
b. kadar dalam rentang minimum dan maksimum yang diperbolehkan;
c. kadar yang dilarang; dan/atau
d. lama pajanan.
(3) Persyaratan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. memastikan air dalam keadaan terlindung dari kontaminasi fisik, kimia, dan biologi, binatang pembawa penyakit, dan tempat perkembangbiakan vektor; hlm. 114 OCR -TT4-
b. menerapkan sistem penghawaan atau ventilasi yang menjamin terjadinya pergantian udara;
c. menerapkan prinsip higiene sanitasi dalam pengelolaan pangan;
d. memastikan tanah aman dari kontaminasi bahan berbahaya dan beracun atau limbah berbahaya dan beracun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
e. memastikan sarana dan bangunan kuat, aman, mudah dibersihkan, dan mudah pemeliharaannya.
(4) Standar baku mutu Kesehatan lingkungan dan persyaratan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(5) Menteri dalam menetapkan standar baku mutu Kesehatan lingkungan dan persyaratan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus berdasarkan pada:
a. hasil penelitian dan pengembangan;
b. peraturan perundang-undangan; dan/atau
c. standar atau panduan internasional.
(6) Standar baku mutu .Kesehatan lingkungan dan persyaratan Kesehatan pada media pangan segar dan pangan olahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 246 ayat (6) huruf a dan huruf b ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 248 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya penyehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 245 ayat (3) dilakukan untuk menjaga atau meningkatkan kualitas media air, udara, tanah, pangan, dan sarana dan bangunan.
(3) Upaya pengendalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 245 ayat (3) dilakukan untuk mengurangi dan/atau mengendalikan vektor dan binatang pembawa penyakit.
(4) Upaya penyehatan, pengamanan, dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3) dilaksanakan melalui:
a. pengamatan;
b. uji laboratorium;
c. analisis risiko;
hlm. 115 OCRd. rekomendasi tindak lanjut;
e. rekayasa lingkungan; dan/atau
f. pemanfaatan dan pengembangan teknologi tepat guna.
(5) Upaya penyehatan, pengamanan, dan pengendalian pada media pangan berupa pangan segar dan pangan olahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 246 ayat (6) huruf a dan huruf b ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya penyehatan, pengamanan, dan pengendalian diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 249 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan lingkungan, Pemerintah Pusat bertanggung jawab:
a. menetapkan kebijakan dan strategi nasional penyelenggaraan Kesehatan lingkungan;
b. menetapkan kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim bidang Kesehatan;
c. melakukan aksi mitigasi dan aksi adaptasi perubahan iklim bidang Kesehatan di lintas provinsi dan lintas batas negara;
d. menetapkan kebijakan dan melaksanakan penyelenggaraan Kesehatan lingkungan pada kondisi matra;
e. melaksanakan surveilans, promosi Kesehatan, serta penelitian dan pengembangan penyelenggaraan Kesehatan lingkungan tingkat nasional;
f. melakukan pengelolaan dan pengembangan Sistem Informasi Kesehatan lingkungan untuk mendukung pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan Kesehatan lingkungan tingkat nasional;
g. melakukan kerja sama dengan lembaga nasional dan internasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
h. memfasilitasi penyelenggaraan Upaya Kesehatan lingkungan di lintas provinsi dan lintas batas negara.
a. menetapkan kebijakan penyelenggaraan Kesehatan lingkungan di tingkat provinsi dengan berpedoman pada kebijakan dan strategi nasional;
hlm. 116 OCRb. menetapkan kebijakan dan strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim bidang Kesehatan di tingkat provinsi dengan berpedoman pada kebijakan yang ditetapkan secara nasional;
c. melakukan aksi mitigasi dan aksi adaptasi perubahan iklim bidang Kesehatan antarkabupaten/kota;
d. menetapkan kebijakan dan melaksanakan penyelenggaraan Kesehatan lingkungan pada kondisi matra;
e. melaksanakan surveilans, promosi Kesehatan, serta penelitian dan pengembangan penyelenggaraan Kesehatan lingkungan tingkat provinsi;
f. melakukan pengelolaan dan pengembangan Sistem Informasi Kesehatan lingkungan untuk mendukung pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan Kesehatan lingkungan di tingkat provinsi;
g. melakukan kerja sEuna dengan lembaga nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
h. melaksanakan fasilitasi Kesehatan lingkungan antarkabupaten/kota.
(3) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan lingkungan, Pemerintah Daerah kabupaten/ kota bertanggung jawab:
a. menetapkan kebijakan untuk melaksanakan penyelenggaraan Kesehatan lingkungan, standar baku mutu Kesehatan lingkungan, dan persyaratan Kesehatan di tingkat kabupaten/kota dengan berpedoman pada kebijakan dan strategi nasional dan kebijakan yang ditetapkan Pemerintah Daerah provinsi;
b. menetapkan kebijakan dan strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim bidang Kesehatan di tingkat kabupaten/kota dengan berpedoman pada kebijakan yang ditetapkan Pemerintah Daerah provinsi;
c. melakukan aksi mitigasi dan aksi adaptasi perubahan iklim bidang Kesehatan di kabupaten/kota;
d. menetapkan kebijakan dan melaksanakan penyelenggaraan Kesehatan lingkungan pada kondisi matra;
e. melaksanakan surveilans, promosi Kesehatan, serta penelitian dan pengembangan penyelenggaraan Kesehatan lingkungan tingkat kabupaten/ kota;
hlm. 117 OCRf. memfasilitasi penyelenggaraan
g. melakukan kerja sama dengan lembaga nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 250 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan Upaya Kesehatan
a. kondisi matra; dan
b. ancaman global perubahan iklim.
(3) Upaya Kesehatan lingkungan dalam kondisi matra seba.gaimana dimaksud pada ayat
(4) Upaya Kesehatan lingkungan dalam ancaman global perubahan iklim sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Upaya Kesehatan lingkungan dalam ancaman global
(6) Sistem Kesehatan yang berketahanan iklim sebagaimana dimaksud pada ayat (5) meliputi area intervensi:
a. mengatasi berbagai dampak Kesehatan dari perubahan iklim, termasuk pencegahan dan pengendalian penyakit sensitif iklim;
b. menguatkan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang berketahanan iklim dan lestari lingkungan; dan
c. mempromosikan manfaat Kesehatan yang diperoleh dari mitigasi perubahan iklim pada sektor lain.
Pasal 251 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap pengelola, penyelenggara, atau penanggung jawab lingkungan permukiman, tempat kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum wajib menyelenggarakan Kesehatan lingkungan.
hlm. 118 OCR(3) Dalam menyelenggarakan Kesehatan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengelola, penyelenggara, atau penanggung jawab lingkungan permukiman, tempat kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum mendayagunakan Tenaga Kesehatan lingkungan atau pihak lain yang berkompeten, memenuhi kualifikasi, dan/ atau terakreditasi.
Pasal 252 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap pengelola, penyelenggara, atau penanggung jawab lingkungan permukiman, tempat kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 251 ayat (1) dikenai sanksi administratif.
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. penghentian sementara kegiatan atau usaha; dan/atau
d. pencabutan atau rekomendasi pencabutan izin.
(3) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 253 #Laporkan Penjelasan
Setiap penghuni dan/atau keluarga yang bertempat tinggal di lingkungan permukiman harus menyelenggarakan Kesehatan lingkungan untuk memelihara kualitas media lingkungan sesuai standar baku mutu Kesehatan lingkungan dan persyaratan Kesehatan.
Pasal 254 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan lingkungan, masyarakat berperan:
a. mendukung perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, penilaian, dan pengawasan;
b. memberikan bantuan sarana, tenaga ahli, dan finansial;
C mendukung
hlm. 119 OCRc. mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan Kesehatan lingkungan;
d. memberikan bimbingan dan penyuluhan serta penyerbarluasan informasi; dan
e. memberikan sumbangan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan penentuan kebijakan dan/atau penyelenggaraan Kesehatan lingkungan.
a. sanitasi total berbasis masyarakat;
b. penyelenggaraan kabupaten/kota sehat; dan
c. adaptasi dan mitigasi pada kondisi matra dan ancaman global perubahan iklim.
Pasal 255 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka upaya pengamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 248 ayat (2), limbah medis yang berasal dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan masyarakat harus dikelola dengan ketentuan:
a. menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan alat pelindung diri untuk meminimalisir risiko Kesehatan dan pencemaran lingkungan;
b. lokasi pengelolaan limbah medis tidak berdekatan dengan kegiatan pelayanan dan permukiman; dan
c. alat, sarana, dan prasarana yang digunakan sesuai dengan standar.
(3) Pengelolaan limbah medis yang berasal dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan pengurangan, pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, penyimpanan, pengolahan, dan penimbunan limbah.
(5) Proses pengelolaan limbah medis yang berasal dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan oleh Menteri.
(6) Proses Pengelolaan limbah medis yang berasal dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat dilakukan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang memenuhi persyaratan teknis atau bekerja sama dengan pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 120 OCRPasal 256 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan pengelolaan limbah medis yang berasal dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah provinsi, dan Pemerintah Daerah
Pasal 257 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan lingkungan dibutuhkan sumber daya yang meliputi:
a. sumber daya manusia, baik Tenaga Kesehatan maupun Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan, yang merata dan mencukupi;
b. sarana dan
c. pendanaan; dan
d. teknologi.
Bagian Keempat Belas Kesehatan Matra
Pasal 258 #Laporkan Penjelasan
(1) Kesehatan matra sebagai bentuk khusus Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat Kesehatan yang setinggi-tingginya dalam lingkungan matra yang serba berubah di lingkungan darat, laut, dan udara.
(3) Untuk dapat mengadaptasi lingkungan matra diperlukan peralatan khusus.
(4) Pengawakan peralatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah melalui pendidikan dan pelatihan teknis maupun manajerial.
hlm. 121 OCRPasal 259 #Laporkan Penjelasan
(1) Kesehatan matra meliputi:
a. Kesehatan matra darat;
b. Kesehatan matra laut; dan
c. Kesehatan matra udara.
(3) Kesehatan matra laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan Kesehatan matra yang berhubungan dengan pekerjaan atau kegiatan di laut dan berhubungan dengan keadaan lingkungan yang bertekanan tinggi.
Pasal 260 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Kesehatan matra dilakukan melalui kegiatan:
a. promosi Kesehatan;
b. surveilans Kesehatan dan surveilans faktor risiko;
c. pengendalian faktor risiko;
d. imunisasi dan/atau profilaksis;
e. penanganan kasus; dan/atau
f. kegiatan lain yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 261 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan Kesehatan matra dilaksanakan sesuai dengan standar dan persyaratan yang ditetapkan pada masing-masing Kesehatan matra darat, laut, dan udara.
(2) Standar dan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri atau menteri/pimpinan lembaga terkait sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.
(3) Menteri atau menteri/pimpinan lembaga terkait sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 262 #Laporkan Penjelasan
(1) Kesehatan matra diselenggarakan secara terkoordinasi, terpadu, dan berkesinambungan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat.
Pasal 263 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah
a. menetapkan kebijakan dan strategi;
b. menyediakan sumber daya; dan
c. melakukan penelitian dan pengembangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 264 #Laporkan Penjelasan
Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan Kesehatan matra wajib melakukan pencatatan dan pelaporan melalui sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 265 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan dalam penyelenggaraan Kesehatan matra darat, laut, dan udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 260 sampai dengan Pasal 262 diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kelima Belas Pelayanan Kesehatan pada Bencana
Pasal 266 #Laporkan Penjelasan
Pelayanan Kesehatan pada bencana merupakan serangkaian kegiatan pelayanan yang direncanakan dan dipersiapkan saat prabencana serta dilaksanakan pada saat bencana dan pascabencana untuk memelihara dan meningkatkan derajat Kesehatan masyarakat.
hlm. 123 OCRPasal 267 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya, fasilitas, dan pelaksanaan Pelayanan Kesehatan pada bencana secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Pasal 268 #Laporkan Penjelasan
Pelayanan Kesehatan pada bencana diselenggarakan untuk menjamin sistem Kesehatan yang tangguh untuk menghadapi ancaman bencana dalam rangka mengurangi risiko dan dampak Kesehatan pada masyarakat.
Pasal 269 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan pada bencana dilakukan melalui serangkaian kegiatan:
a.
b. Pelayanan Kesehatan saat bencana; dan
c.
(2) Perencanaan Kesehatan prabencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa:
a. mitigasi risiko;
b. penyiapan Sumber Daya Kesehatan;
c. perencanaan
d. koordinasi; dan
e. kegiatan lain yang dibutuhkan.
(3) Pelayanan Kesehatan saat bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, mencegah kedisabilitasan, dan memastikan Pelayanan Kesehatan esensial tetap berjalan sesuai dengan standar pelayanan minimal Pelayanan Kesehatan.
(5) Pelayanan Kesehatan pascabencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c bertujuan untuk memulihkan serta meningkatkan kondisi Kesehatan terhadap penduduk terdampak bencana.
(6) Pelayanan Kesehatan pascabencana paling sedikit meliputi pemulihan fisik dan mental.
Pasal 270 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan pada tanggap darurat bencana, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat menerima bantuan Sumber Daya Kesehatan dari luar negeri.
(3) Penerimaan bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terkoordinasi melalui Pemerintah Pusat.
(4) Penerimaan bantuan Sumber Daya Kesehatan dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan hasil analisis kebutuhan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terdampak.
(5) Penerimaan bantuan Sumber Daya Kesehatan yang berasal dari luar negeri pada saat bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 271 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam keadaan darurat, setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan, baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, maupun masyarakat wajib memberikan Pelayanan Kesehatan pada bencana untuk penyelamatan nyawa, pencegahan kedisabilitasan lebih lanjut, dan kepentingan terbaik bagi Pasien.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar Fasilitas Pelayanan Kesehatan aman bencana diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 272 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk mendukung Pelayanan Kesehatan pada bencana, diperlukan:
a.
b. manajemen penanggulangan Kesehatan bencana; dan
c. sistem informasi.
hlm. 125 OCR(3) Pada situasi tanggap darurat bencana, mekanisme kerja sistem klaster Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berada dalam satu komando koordinator klaster Kesehatan.
(4) Manajemen penanggulangan Kesehatan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan pada tahap prabencana, saat bencana, dan pascabencana.
(5) Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan Sistem Informasi Kesehatan bencana yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 273 #Laporkan Penjelasan
(1) Manajemen penanggulangan Kesehatan bencana pada prabencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 272 ayat
a. mengurangi
b. mengurangi kerentanan masyarakat dengan memperkuat status Kesehatan;
c. mengurangi kerentanan infrastruktur Fasilitas Pelayanan Kesehatan terhadap segala ancaman bahaya;
d. meningkatkan kapasitas dan kemampuan Sumber Daya Kesehatan; dan
e. meningkatkan koordinasi klaster Kesehatan dan non-Kesehatan dalam persiapan prabencana.
(2) Upaya mengurangi ancamzrn bahaya yang berkaitan langsung dengan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit berupa penanggulangan penyakit menular dan manajemen bahaya terkait Kesehatan lingkungan.
(3) Upaya mengurangi kerentanan masyarakat dengan memperkuat status Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
(5) Upaya meningkatkan kapasitas dan kemampuan Sumber Daya Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan melalui kajian risiko, perencanaan, mitigasi, kesiapsiagaan, penerapan Fasilitas Pelayanan Kesehatan aman bencana, penyiapan sistem peringatan dini, serta sistem penanggulangan Gawat Darurat terpadu.
(6) Upaya meningkatkan koordinasi klaster Kesehatan dan non-Kesehatan dalam persiapan prabencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi koordinasi tentang keterlibatan dan dukungan institusi non-Kesehatan dalam penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan pada bencana.
Pasal 274 #Laporkan Penjelasan
Manajemen penanggulangan Kesehatan bencana pada saat bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 272 ayat (4) meliputi:
a. penilaian cepat Kesehatan;
b. aktivasi klaster Kesehatan;
c. meningkatkan sistem penanggulangan Gawat Darurat terpadu;
d.
e. mobilisasi Sumber Daya Kesehatan;
f. monitoring dan evaluasi Pelayanan Kesehatan saat bencana; dan
g. komunikasi risiko dan komunikasi krisis.
Pasal 275 #Laporkan Penjelasan
(1) Manajemen penanggulangan Kesehatan bencana pada pascabencana sebagaimana dimaksud dalam pasal 272 ayat (4) dilakukan dalam rangka pemulihan Kesehatan masyarakat terdampak serta penguatan sistem Kesehatan menjadi lebih baik dari sebelum bencana.
a. pengkajian kebutuhan pascabencana;
b.
c. pemantauan dan pengawasan; dan
d. pembelajaran dan evaluasi.
Pasal 276 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah provinsi, dan Pemerintah Daerah kabupate n lkota melakukan pencatatan dan pelaporan terhadap seluruh kegiatan penanggulangan Kesehatan bencana pada seluruh tahapan bencana dan/atau di luar situasi bencana.
(2) Pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem informasi penanggulangan Kesehatan akibat bencana yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(3) Sistem informasi penanggulangan Kesehatan akibat bencana sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Pencatatan dan pelaporan pada Kesehatan bencana dilakukan satu pintu melalui klaster Kesehatan pusat dan daerah.
Pasal 277 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan pada bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 269 dan upaya pendukung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 272 merupakan satu sistem dengan upaya penanggulangan krisis Kesehatan.
(3) Upaya penanggulangan krisis Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tidak atau belum ada penetapan status darurat bencana namun memenuhi kriteria krisis Kesehatan ditetapkan oleh Menteri, kepala dinas kesehatan daerah provinsi, atau kepala dinas kesehatan daerah kabupatenT tota.
a. peningkatan jumlah korban;
b. berdampak masalah Kesehatan masyarakat;
c. keterbatasan kapasitas Kesehatan setempat; dan
d. terganggunya akses Pelayanan Kesehatan.
hlm. 128 OCRPasal 278 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penanggulangan krisis Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Keenam Belas Pelayanan Darah
Pasal 279 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan darah merupakan Upaya Kesehatan yang memanfaatkan darah manusia sebagai bahan dasar dengan tujuan kemanusiaan, penyembuhan penyakit dan pemulihan Kesehatan, serta tidak untuk tujuan komersial.
(2) Darah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh dari donor darah sukarela yang sehat, memenuhi kriteria seleksi sebagai donor, dan atas persetujuan donor.
Pasal 280 #Laporkan Penjelasan
Pengaturan pelayanan darah bertujuan untuk:
a. menyediakan pelayanan darah dan darah yang aman dan bermutu; dan
b. memudahkan akses memperoleh darah dan informasi tentang ketersediaan darah.
Pasal 281 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 279 ayat (1) terdiri atas pengelolaan darah dan pelayanan transfusi darah.
Pasal 282 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengelolaan darah sebagaimana dimaksud Pasal 281 ayat (1) meliputi:
a. perencanaan;
b. pengerahan dan pelestarian donor darah;
c. penyeleksian donor darah;
d. pengambilan darah;
e. pengujian darah;
f. pengolahan darah;
g. penyimpanan darah; dan
h. pendistribusian darah. dalam
hlm. 129 OCR(3) Unit pengelola darah sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Unit pengelola darah sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 283 #Laporkan Penjelasan
(1) Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ayat (1) huruf a dilakukan untuk memenuhi kebutuhan darah dan komponen darah.
(3) Menteri
(4) Menteri dalam
Pasal 284 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengerahan dan pelestarian donor darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ayat (1) huruf b dilakukan dalam rangka menyediakan darah sesuai dengan perencanaan kebutuhan.
(3) Pelestarian donor darah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan upaya yang dilakukan untuk mempertahankan donor darah sukarela untuk dapat melakukan donor darah secara berkesinambungan dan teratur dalam hidupnya.
hlm. 130 OCRPasal 285 #Laporkan Penjelasan
Penyeleksian donor darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ayat (1) huruf c dilakukan untuk menjamin keamanan dan mutu darah melalui pemilihan donor darah sesuai kriteria seleksi donor.
Pasal 286 #Laporkan Penjelasan
Pengambilan darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ayat (1) huruf d dilakukan terhadap donor darah yang memenuhi kriteria seleksi sesuai standar pengambilan darah.
Pasal 287 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengujian darah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 288 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengolahan darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ayat (1) huruf f dilakukan untuk memenuhi kebutuhan komponen darah sesuai standar pengolahan darah dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pasal 289 #Laporkan Penjelasan
Penyimpanan darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ayat (1) huruf g dilakukan untuk menjaga keamanan dan mutu darah dan komponen darah sesuai dengan standar penyimpanan dalam rangka pelayanan darah maupun kepentingan lainnya.
Pasal 290 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendistribusian darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ayat (1) huruf h dilakukan untuk memenuhi pelayanan transfusi darah.
hlm. 131 OCRPasal 291 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan transfusi darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 281 ayat (1) meliputi:
a. perencanaan;
b. penyimpanan;
c.
d. pendistribusian darah; dan
e. tindakan medis pemberian darah kepada Pasien.
(3) Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 292 #Laporkan Penjelasan
(1) Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 291 ayat (1) huruf a dilakukan berdasarkan kebutuhan lingkup Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain untuk pelayanan transfusi darah dan/atau komponen darah.
(2) Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun setiap tahun dengan memperhatikan jumlah Pasien rutin maupun kedaruratan yang memerlukan transfusi darah atau komponen darah.
(3) Perencanaan disusun dengan mengacu pada rencana induk bidang Kesehatan menggunakan Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 293 #Laporkan Penjelasan
Penyimpanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 291 ayat
Pasal 294 #Laporkan Penjelasan
Pengujian pratransfusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29I ayat (1) huruf c dilakukan sesuai dengan standar untuk mencegah risiko ketidakcocokan darah Pasien dengan darah donor serta risiko transfusi darah sebelum tindakan medis pemberian darah.
Pasal 295 #Laporkan Penjelasan
Pendistribusian darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 1 ayat (1) huruf d dilakukan untuk menyampaikan darah dari bank darah kepada instalasi/bagian yang melaksanakan pelayanan transfusi darah di lingkup Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain sesuai dengan standar distribusi darah dalam pelayanan transfusi darah.
Pasal 296 #Laporkan Penjelasan
Tindakan medis pemberian darah kepada Pasien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 291 ayat (1) huruf e dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan medis Pasien, menggunakan darah atau komponen darah yang telah dilakukan uji pratransfusi sesuai dengan standar pelayanan transfusi darah.
Pasal 297 #Laporkan Penjelasan
(1) Darah yang tidak memenuhi persyaratan dan standar untuk digunakan dalam transfusi darah wajib dimusnahkan sesuai dengan standar pemusnahan darah.
Pasal 298 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap unit pengelola darah, Rumah Sakit, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain penyelenggara pelayanan transfusi darah yang melaksanakan pelayanan darah tidak sesuai dengan standar pelayanan darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. peringatan tertulis;
b. perintah pemusnahan darah atau komponen darah;
c. penghentian sementara kegiatan berusaha; dan/atau
d. pencabutan perizinan berusaha.
hlm. 133 OCR(2) Tata cara
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 299 #Laporkan Penjelasan
Setiap unit pengelola darah, Rumah Sakit, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain penyelenggara pelayanan transfusi darah harus melakukan pencatatan dan pelaporan terhadap ketersediaan darah melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 300 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menjamin pembiayaan dalam penyelenggaraan pelayanan darah.
Pasal 301 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan darah yang aman, mudah diakses, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
(3) Pemerintah Pusat bertanggung jawab melakukan pemantauan dan evaluasi unit pengelola darah, Rumah Sakit, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain penyelenggara pelayanan transfusi darah.
(4) Menteri bertanggung jawab dalam
(5) Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap pelayanan darah di wilayahnya.
Pasal 302 #Laporkan Penjelasan
Masyarakat berperan aktif sebagai donor darah dalam upaya pemenuhan ketersediaan darah.
hlm. 134 OCRPasal 303 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan pengelolaan darah dan pelayanan transfusi darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 281 sampai dengan Pasal 301 diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 304 #Laporkan Penjelasan
(1) Plasma dapat digunakan untuk tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan Kesehatan melalui pengolahan dan produksi.
(3) Selain dari donor plasma sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Pengumpulan plasma dilakukan atas persetujuan donor plasma.
(5) Pengumpulan plasma dilakukan dengan menjaga keselamatan dan Kesehatan donor plasma, Tenaga Medis, dan Tenaga Kesehatan.
Pasal 305 #Laporkan Penjelasan
(1) Plasma yang dikumpulkan dari donor untuk kepentingan memproduksi produk Obat derivat plasma sebagaimana dimaksud dalam Pasal
(2) Plasma yang tidak digunakan dalam Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 304 ayat (3) didapat dari unit pengelola darah.
(3) Bank plasma sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, lembaga penelitian, dan/atau organisasi kemanusiaan tertentu yang mendapatkan izin dari Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Donor plasma dapat diberikan kompensasi oleh bank plasma.
Pasal 306 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka pengumpulan plasma sebagaimana dimaksud dalam Pasal 305 ayat (1) dilakukan pengelolaan hlm. 135 OCR plasma sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pengelolaan meliputi:
a. perencanaan;
b. pengerahan dan pelestarian donor plasma;
c. penyeleksian donor plasma;
d. pengambilan plasma;
e. pengujian plasma;
f. pengolahan plasma; penyimpanan plasma; dan
h. pendistribusian plasma.
Pasal 307 #Laporkan Penjelasan
(1) Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 306 ayat
(3) Menteri
(4) Menteri dalam
(5) Perencanaan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun dengan mengacu pada rencana induk bidang Kesehatan menggunakan Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem
Pasal 308 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengerahan dan pelestarian donor plasma sebagaimana dimaksud dalam Pasal 306 ayat (2) huruf b dilakukan oleh bank plasma dalam rangka menyediakan plasma sesuai dengan perencanaan.
(3) Pelestarian donor plasma sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan upaya yang dilakukan untuk mempertahankan donor plasma sukarela untuk dapat memberikan plasma secara berkesinambungan dan teratur.
hlm. 136 OCRPasal 309 #Laporkan Penjelasan
Penyeleksian donor plasma sebagaimana dimaksud dalam Pasal 306 ayat (2) huruf c dilakukan oleh bank plasma untuk menjamin keamanan dan mutu plasma melalui pemilihan donor plasma sesuai dengan kriteria seleksi donor.
Pasal 310 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengambilan plasma sebagaimana dimaksud dalam Pasal 306 ayat (2) huruf d dilakukan oleh bank plasma terhadap donor plasma yang memenuhi kriteria seleksi donor.
Pasal 31 1 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengujian plasma sebagaimana dimaksud dalam Pasal
(3) Selain dilaksanakan sesuai dengan standar pengujian plasma sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 312 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengolahan plasma sebagaimana dimaksud dalam Pasal 306 ayat (2) huruf f dilakukan oleh bank plasma untuk memenuhi kebutuhan plasma sebagai bahan baku produk Obat derivat plasma.
(3) Selain dilaksanakan sesuai dengan standar pengolahan plasma sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 313 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyimpanan plasma sebagaimana dimaksud dalam Pasal 306 ayat (2) huruf g dilakukan oleh bank plasma untuk menjaga keamanan dan mutu plasma.
hlm. 137 OCRPasal 314 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendistribusian plasma sebagaimana dimaksud dalam h dilakukan oleh bank plasma Pasal 306 ayat (2) huruf untuk memenuhi kebutuhan produksi produk Obat derivat plasma.
(3) Bank plasma dan/atau unit pengelola darah wajib mendistribusikan plasma kepada fasilitas fraksionasi plasma sesuai dengan standar pendistribusian plasma.
Pasal 315 #Laporkan Penjelasan
(1) Plasma yang akan didistribusikan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 316 #Laporkan Penjelasan
(1) Produk Obat derivat plasma diperoleh melalui proses fraksionasi plasma.
(2) Fraksionasi plasma sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pemilahan plasma menjadi fraksi protein individual untuk menghasilkan produk Obat derivat plasma.
(3) Plasma yang digunakan untuk fraksionasi plasma harus diperoleh dari bank plasma atau unit pengelola darah yang telah memenuhi standar cara pembuatan Obat yang baik.
(4) Produk Obat derivat plasma yang dihasilkan oleh fasilitas fraksionasi plasma harus memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu, serta memperoleh izin edar Obat dari kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 317 #Laporkan Penjelasan
(1) Fraksionasi plasma harus dilakukan di fasilitas fraksionasi plasma dalam negeri.
(3) Fasilitas fraksionasi plasma untuk dapat melaksanakan fraksionasi plasma harus memiliki sertifikat cara pembuatan Obat yang baik dari kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
(4) Fasilitas fraksionasi plasma dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam melakukan fraksionasi plasma wajib sesuai dengan standar cara pembuatan Obat yang baik.
Pasal 318 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal fasilitas fraksionasi plasma belum memiliki sertifikat cara pembuatan Obat yang baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 317 ayat (3), pelaksanaan fraksionasi plasma dapat diselenggarakan secara kontrak oleh fasilitas fraksionasi plasma dalam negeri dengan fasilitas fraksionasi plasma di luar negeri setelah mendapatkan persetujuan Menteri.
(3) Pengiriman plasma ke fasilitas fraksionasi plasma diluar negeri wajib dilakukan sesuai dengan standar pendistribusian plasma dan disertai dengan perjanjian alih material sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 319 #Laporkan Penjelasan
(1) Plasma yang tidak memenuhi persyaratan dan standar untuk digunakan dalam fraksionasi plasma wajib dimusnahkan sesuai dengan standar pemusnahan plasma.
Pasal 320 #Laporkan Penjelasan
(1) Bank plasma yang melaksanakan kegiatan tidak sesuai dengan standar sebagaimana dimaksud dalam pasal 310, Pasal 311 ayat (2), Pasal 312 ayat (2), pasal 313, pasal 314 ayat (3), dan Pasal 319 ayat (1) dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa:
a. peringatan tertulis;
b. perintah pemusnahan plasma;
c. penghentian sementara kegiatan berusaha; dan/atau
d. pencabutan perizinan berusaha.
(2) Unit pengelola darah yang melaksanakan kegiatan tidak sesuai dengan standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 314 ayat (3) dan Pasal 319 ayat (1) dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa:
a. peringatan tertulis;
b. perintah pemusnahan plasma;
c. penghentian sementara kegiatan berusaha; dan/atau
d. pencabutan
(3) Fasilitas fraksionasi plasma yang melaksanakan fraksionasi plasma tidak sesuai dengan standar sebagaimana dimaksud dalam pasal 317 ayat
a. peringatan tertulis;
b. larangan untuk sementara waktu dan/atau perintah untuk menarik produk dari peredaran;
c. perintah pemusnahan produk;
d. penghentian sementara kegiatan berusaha; dan/atau
e. pencabutan perizinan berusaha.
(4) Tata cara pengenaan sanksi administratif berupa penghentian sementara kegiatan berusaha atau pencabutan perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan huruf d, ayat (2) huruf c dan huruf d, dan ayat (3) huruf d dan huruf e dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b, ayat (2) huruf a dan huruf b, dan ayat (3) huruf a sampai dengan huruf c diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 140 OCRPasal 32 I #Laporkan Penjelasan
Pasal 322 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat bertanggung jawab atas ketersediaan plasma dan produk Obat derivat plasma yang aman, berkhasiat, bermutu, dan terjangkau sesuai - dengan kebutuhan Pelayanan Kesehatan.
(2) Pemerintah Pusat mengendalikan biaya pengolahan plasma dan produk Obat derivat plasma.
Pasal 323 #Laporkan Penjelasan
Masyarakat berperan serta dalam
Pasal 324 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai
Bagian Ketujuh Belas Transplantasi Organ dan/atau Jaringan
Paragraf 1Umum
Pasal 325 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka penyembuhan penyakit dan pemulihan Kesehatan dapat dilakukan
Pasal 326 #Laporkan Penjelasan
(1) Transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh bertujuan untuk penyembuhan penyakit dan
Pasal 327 #Laporkan Penjelasan
(1) Donor pada transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh terdiri atas:
a. donor hidup; dan
b. donor mati.
(3) Donor mati sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan donor yang organ dan/atau jaringannya diambil pada saat yang bersangkutan telah dinyatakan mati oleh Tenaga Medis pada Fasilitas pelayanan Kesehatan dan harus atas persetujuan keluarganya secara tertulis.
Pasal 328 #Laporkan Penjelasan
(1) Keluarga sebagaimana dimaksud dalam pasal 322 ayat
a. suami atau istri;
b. anak yang sudah dewasa;
c. orang tua kandung; dan/atau
d. saudara kandung, donor.
Pasal 329 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus mendukung upaya meningkatkan donasi dan ketersediaan organ -dan jaringan tubuh melalui kegiatan pengerahan donor.
(2) Pengerahan donor sebagaimana dimaksud pada ayat (l) berupa fasilitasi pembuatan wasiat medik dan kegiatan pengerahan donor lain.
hlm. 142 OCRParagraf 2Transplantasi Organ
Pasal 330 #Laporkan Penjelasan
Transplantasi organ hanya dapat diselenggarakan di Rumah sakit setelah memiliki
Pasal 331 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka penyelenggaraan transplantasi organ, Rumah Sakit penyelenggara transplantasi organ dapat membentuk jejaring antar-Rumah Sakit penyelenggara transplantasi organ, termasuk Rumah Sakit y".rg
(2) Penyelenggaraan jejaring sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh Menteri.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan jejaring antar-Rumah Sakit penyelenggara transplantasi organ diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 332 #Laporkan Penjelasan
(1) Donor pada transplantasi organ dapat berasal dari:
a. donor yang memiliki hubungan darah atau suami atau istri dengan resipien; atau
b. donor yang tidak memiliki hubungan darah dengan resipien.
(3) Pelaksanaan transplantasi organ pada donor yang memiliki hubungan darah atau suami atau istri dengan resipien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak memerlukan daftar tunggu.
(4) Pelaksanaan transplantasi organ pada donor yang tidak memiliki hubungan darah dengan resipien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan sesuai dengan daftar tunggu.
(5) Urutan daftar tunggu disusun memperhatikan kebutuhan medis resipien dengan menggunakan sistem informasi transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(6) Berdasarkan kebutuhan medis resipien sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat ditetapkan urutan prioritas.
hlm. 143 OCRPasal 333 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Pasien yang membutuhkan transplantasi organ dapat menjadi calon resipien.
(2) Calon resipien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan Pasien dengan:
a. indikasi medis; dan
b. tidak memiliki kontraindikasi medis, untuk dilakukan transplantasi organ.
Pasal 334 #Laporkan Penjelasan
(1) Transplantasi organ dapat dilakukan pada calon resipien warga negara asing.
Pasal 335 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan proses Pelayanan
a. pendaftaran calon donor hidup dan calon resipien;
b. pemeriksaan kelayakan calon donor hidup;
c. pemeriksaan kecocokan antara donor hidup dan resipien organl dan
d. operasi transplantasi dan penatalaksanaan pascaoperasi transplantasi organ.
a. biaya Pelayanan Kesehatan bagi calon donor serta pemeriksaan kelayakan dan kecocokan antara resipien dan donor;
b. biaya Pelayanan Kesehatan, pemeriksaan kelayakan, dan kecocokan bagi calon donor yang gagal menjadi donor;
c. biaya operasi transplantasi organ bagi donor dan resipien; dan
d.
Pasal 336 #Laporkan Penjelasan
Pendaftaran calon donor hidup dan calon resipien
Pasal 337 #Laporkan Penjelasan
(1) Persyaratan administratif untuk pendaftaran calon donor hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 336 paling sedikit terdiri atas:
a. berusia paling rendah 18 (delapan belas) tahun;
b. membuat pernyataan tertulis tentang kesediaan
c. mendapat persetujuan keluarga;
d. memahami indikasi, kontraindikasi, risiko, prosedur transplantasi
e. membuat pernyataan tidak melakukan penjualan organ maupun melakukan perjanjian dengan resipien yang bermakna jual beli atau pemberian imbalan.
(3) Ketentuan mengenai persetujuan dan mekanisme persetujuan keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 327 dan Pasal 328.
Pasal 338 #Laporkan Penjelasan
Dalam hal donor hidup hanya akan mendonorkan organ tubuhnya kepada resipien hubungan darah atau suami atau istri dengan donor, persyaratan administratif calon donor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 336 dan Pasal 337 harus disertai dengan keterangan hubungan darah atau suami atau istri dengan resipien dari perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kependudukan dan catatan sipil.
Pasal 339 #Laporkan Penjelasan
Persyaratan administratif untuk pendaftaran calon resipien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 336 terdiri atas:
a. memiliki keterangan dari dokter penanggung jawab pelayanan di Rumah Sakit tentang adanya indikasi medis dan tidak memiliki kontraindikasi medis untuk dilakukan transplantasi organ; hlm. 145 OCR bersedia membayar biaya penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan dalam transplantasi organ dengan donor hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 335 ayat (2) secara mandiri, mekanisme jaminan
Pasal 340 #Laporkan Penjelasan
Pendaftaran terhadap setiap calon donor hidup dan calon resipien yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 336 sampai dengan Pasal 339 dilakukan melalui sistem informasi transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 341 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemeriksaan kelayakan calon donor hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 335 ayat (1) huruf b terdiri atas pemeriksaan:
a. medis;
b. psikologis; dan
c. sosioyuridis.
(3) Pemeriksaan psikologis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan pemeriksaan untuk mengidentifikasi dan memahami berbagai aspek psikologis calon donor melalui pemeriksaan Kesehatan mental, kepribadian, kemampuan kognitif, dan kualifikasi tertentu dalam konteks keputusan untuk mendonorkan organnya.
(5) Pemeriksaan kelayakan calon donor hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat lebih dari 1 (satu) calon donor.
Pasal 342 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemeriksaan kecocokan antara donor hidup dan resipien organ sebagaimana dimaksud dalam Pasal 335 ayat (1) huruf c dilihat dari segi medis dan nonmedis.
(2) Pemeriksaan kecocokan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh tim transplantasi pada Rumah Sakit penyelenggara transplantasi organ.
(3) Selain dilaksanakan di Rumah Sakit penyelenggara transplantasi organ sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Verifikasi lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Verifikasi lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat dilakukan melalui koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan/atau instansi lain yang dibutuhkan.
Pasal 343 #Laporkan Penjelasan
(1) Operasi transplantasi organ dan penatalaksanaan pascaoperasi transplantasi organ sebagaimana dimaksud dalam Pasal 335 ayat (1) huruf d dilakukan oleh tim transplantasi Rumah Sakit penyelenggara transplantasi organ.
a. donor hidup dan resipien selama proses pemulihan di Rumah Sakit; dan
b. donor hidup dan resipien setelah proses pemutihan di Rumah Sakit yang dilakukan dalam bentuk monitoring dan evaluasi.
hlm. 147 OCRPasal 344 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap donor hidup pada transplantasi organ berhak:
a. mengetahui identitas resipien atas persetujuan resipien;
b. dibebaskan dari seluruh biaya Pelayanan Kesehatan selama perawatan transplantasi organ;
c. memperoleh prioritas sebagai resipien apabila memerlukan transplantasi organ; dan
d. mencabut pendaftaran dirinya dalam data calon donor sampai sebelum tindakan persiapan operasi transplantasi organ dimulai.
(2) Setiap donor hidup pada transplantasi organ berkewajiban:
a. menjaga kerahasiaan resipien sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. tidak melakukan perjanjian khusus dengan resipien terkait dengan transplantasi organ; dan
c. mematuhi petunjuk pemeliharaan Kesehatan bagi donor.
Pasal 345 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap resipien pada transplantasi organ dengan donor hidup berhak:
a. mengetahui identitas donor dan informasi medis yang terkait dengan transplantasi organ atas persetujuan donor; dan
b. mengetahui urutan daftar tunggu calon resipien untuk memperoleh donor.
(2) Setiap resipien pada transplantasi organ dengan donor hidup berkewajiban:
a. menjaga kerahasiaan informasi medis donor sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. membayar paket biaya transplantasi organ secara mandiri, mekanisme jaminan kesehatan nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, atau melalui asuransi penjamin lainnya;
c. mematuhi petunjuk pemeliharaan Kesehatan bagi resipien;
d. melakukan uji Kesehatan sesuai petunjuk dokter; dan
e. tidak melakukan perjanjian khusus dengan donor terkait dengan transplantasi organ.
hlm. 148 OCR(3) Paket biaya transplantasi organ sebagaimana dimaksud pada
Pasal 346 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan dalam transplantasi organ dengan donor mati dilakukan melalui kegiatan:
a. pendaftaran calon donor mati dan calon resipien;
b. pemeriksaan kelayakan calon donor mati dilihat dari segi medis, psikologis, dan sosioyuridis;
c. pemeriksaan kecocokan antara donor mati dan resipien organ; dan
d. operasi transplantasi dan penatalaksanaan pascaoperasi transplantasi organ.
(3) Kegiatan penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan dalam transplantasi organ dengan donor mati sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikenakan biaya pelayanan sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 335 ayat (2).
(4) Selain biaya pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), biaya pelayanan juga mencakup biaya perawatan medis, pengangkatan organ, dan perawatan jenazah pascapengangkatan organ.
Pasal 347 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendaftaran calon donor mati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 346 ayat (1) huruf a dilakukan oleh calon donor mati pada saat yang bersangkutan masih hidup dengan memenuhi persyaratan administratif.
(3) Untuk penyakit tertentu, persyaratan usia paling rendah 18 (delapan belas) tahun dapat dikecualikan bagi calon donor mati.
(4) Calon donor mati yang telah memenuhi persyaratan administratif akan terdaftar sebagai donor organ pada sistem informasi transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
hlm. 149 OCR(5) Pendaftaran calon donor mati juga dapat dilakukan pada saat donor telah dinyatakan mati atas persetujuan keluarga.
Pasal 348 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan persyaratan administratif bagi calon resipien pada penyelenggaraan transplantasi organ dengan donor mati dilakukan sesuai dengan ketentuan persyaratan administratif bagi pend aftaran calon resipien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 339.
Pasal 349 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan dalam transplantasi organ dengan donor mati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 346 ayat (1) huruf b sampai dengan huruf d dilakukan saat yang bersangkutan telah dinyatakan mati setelah memenuhi kriteria diagnosis kematian.
(2) Dalam hal calon donor organ dirawat di Rumah Sakit dengan menunjukan adanya gejala klinis yang mengarah pada mati batang otak/mati otak, calon donor harus dilakukan uji mati batang otak/mati otak.
(3) Dalam hal hasil uji mati batang otak/mati otak menunjukan positif mati batang otak/mati otak, calon donor dapat ditetapkan sebagai donor organ.
a. kematian klinis/konvensional atau berhentinya fungsi sistem jantung sirkulasi secara permanen; atau
b. kematian mati batang otak/mati otak.
(5) Diagnosis kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan setelah memenuhi persyaratan pemeriksaan, prosedur pemeriksaan, penyimpulan mati klinis atau mati batang otak/mati otak, dan penetapan waktu kematian.
(6) Pemeriksaan untuk penentuan diagnosis kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus menjunjung tinggi nilai dan norma agama, moral, etika, dan hukum.
(7) Diagnosis kematian klinis/konvensional atau berhentinya fungsi sistem jantung sirkulasi secara permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a dapat dilakukan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan, dan standar operasional prosedur.
hlm. 150 OCR(8) Penetapan waktu kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan pada saat dinyatakan mati batang otak/mati otak, bukan saat terapi bantuan hidup dihentikan atau jantung berhenti berdenyut.
(9) Setelah calon donor ditetapkan mati batang otak/mati otak, terhadap terapi bantuan hidup
Pasal 350 #Laporkan Penjelasan
(1) Diagnosis kematian di Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus dilakukan oleh:
a. dokter atau dokter spesialis untuk mati klinis/ konvensional; dan
b. dokter spesialis sesuai dengan kompetensinya untuk mati batang otak/mati otak.
(2) Diagnosis kematian klinis/konvensional di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan merupakan penentuan kematian yang dilakukan oleh dokter atau dokter spesialis.
(3) Dalam hal tidak ada dokter atau dokter spesialis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, penentuan kematian dapat dilakukan oleh perawat atau bidan.
(5) Dokter spesialis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) terdiri dari dokter spesialis anestesi dan dokter'spesialis saraf.
(6) Dalam hal diperlukan, penentuan mati batang otak/mati otak dapat melibatkan dokter spesialis lain sesuai dengan kebutuhan.
Pasal 351 #Laporkan Penjelasan
(1) Orang yang telah ditetapkan mati batang otak/mati otak dan tidak diketahui identitasnya dapat menjadi donor mati.
Pasal 352 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan mengenai pemeriksaan kelayakan calon donor mati dilaksanakan sesuai dengan ketentuan pemeriksaan kelayakan calon donor hidup sebagaimana dimaksud dalam pasal 341.
hlm. 151 OCRPasal 353 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemeriksaan kecocokan antara donor mati dan resipien
Pasal 354 #Laporkan Penjelasan
(1) Operasi transplantasi organ dan penatalaksanaan pascaoperasi transplantasi organ sebagaimana dimaksud dalam Pasal 346 ayat . (1) huruf d dilakukan oleh tim transplantasi Rumah Sakit penyelenggara transplantasi organ.
(2) Dalam hal organ berasal dari calon donor mati, operasi transplantasi organ sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didahului dengan penandatanganan surat persetujuan oleh keluarga.
(3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Penatalaksanaan pascaoperasi transplantasi organ sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap resipien selama proses pemulihan di Rumah Sakit dan setelah proses pemulihan di Rumah Sakit yang dilakukan dalam bentuk monitoring dan evaluasi.
Pasal 355 #Laporkan Penjelasan
Setiap calon donor mati pada transplantasi organ berhak:
a. dibebaskan dari seluruh biaya Pelayanan Kesehatan setelah ditetapkan mati batang otak/mati otak;
b. memperoleh prioritas sebagai resipien apabila memerlukan transplantasi organ;
c. mencabut pendaftaran dirinya dalam data calon donor mati semasa hidupnya;
d. memilih jenis
e. dibebaskan dari biaya pemulasaraan jenazah di Rumah Sakit.
hlm. 152 OCRPasal 356 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap resipien pada transplantasi organ dengan donor mati berhak mengetahui urutan daftar tunggu calon resipien untuk memperoleh donor.
a. membayar paket biaya transplantasi organ, baik secara mandiri maupun melalui asuransi penjaminnya;
b. mematuhi petunjuk pemeliharaan Kesehatan bagi resipien; dan
c. melakukan uji Kesehatan sesuai petunjuk dokter.
Pasal 357 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap donor pada transplantasi organ dapat memperoleh penghargaan karena tidak dapat melakukan kegiatan atau pekerjaan secara optimal selama proses transplantasi dan pemulihan Kesehatan.
(2) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan imbalan, bukan jual beli, dan hanya untuk tujuan kemanus iaant, serta tidak dikomersialkan.
(3) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Resipien tidak mampu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan resipien yang memenuhi kriteria sebagai peserta penerima bantuan iuran jaminan kesehatan nasional.
(6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat(41, bentuk dan/atau nilainya ditetapkan oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara.
Pasal 358 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendanaan penyelenggaraan transplantasi organ berasal dari sumber:
a. anggaran pendapatan dan belanja negara;
b. anggaran pendapatan dan belanja daerah; dan/atau
c. sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 153 OCR(2) Pendanaan yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara sebagaimana dimaksud
a. sosialisasi dan peningkatan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan transplantasi organ;
b. pembinaan Rumah Sakit penyelenggara transplantasi organ;
c. pemeriksaan kelayakan calon donor; dan
d. pengambilan organ donor mati batang otak/mati otak.
(3) Pendanaan yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah sebagaimana dimaksud
a. sosialisasi dan peningkatan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan transplantasi organ;
b. pembinaan Rumah Sakit penyelenggara transplantasi organ milik Pemerintah Daerah;
c. pemeriksaan kelayakan calon donor yang tidak didanai oleh anggaran pendapatan dan belanja negara; dan
d. pengambilan organ donor mati batang
(5) Penggunaan anggaran pendapatan dan belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Pemberian penghargaan bagi donor sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dibebankan pada "-rgg"r"r, pendapatan dan belanja negara dan
Pasal 359 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan pelayanan Kesehatan dalam transplantasi organ sebagaimana
Paragraf 3Transplantasi Jaringan Tubuh
Pasal 360 #Laporkan Penjelasan
(1) Transplantasi jaringan tubuh meliputi transplantasi jaringan mata dan transplantasi jaringan tubuh lain.
(3) Jaringan yang diperoleh dari berbagai jenis jaringan, termasuk sisa jaringan hasil operasi, dan jaringan lain yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh donor sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 361 #Laporkan Penjelasan
(1) Transplantasi jaringan tubuh hanya dapat diselenggarakan di Rumah Sakit atau klinik utama yang memenuhi persyaratan dan standar.
(3) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dengan kompetensi dan kewenangan di bidang transplantasi jaringan.
(4) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan berdasarkan
(5) Standar Rumah Sakit atau klinik utama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 362 #Laporkan Penjelasan
(1) Bank mata dan bank jaringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 360 ayat (3) dapat diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat sesuai kebutuhan dan/atau kemampuan daerah.
Pasal 363 #Laporkan Penjelasan
(1) Bank mata sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. pengerahan donor;
b. pendaftaran calon donor dan calon resipien;
c. seleksi donor melalui pemeriksaan kesehatan yang meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium;
d. pengambilan jaringan kornea danf atau sklera dan penyimpanan sementara serta pemulihan estetik donor;
e. pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pelabelan, dan sterilisasi jaringan, serta pemeliharaan;
f. pengendalian mutu jaringan dari organ mata;
g. pendistribusian jaringan;
h.
i. pendidikan dan pelatihan; dan
j. penelitian dan pengembangan.
(3) Dalam rangka melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 364 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk memenuhi penyediaan jaringan mata
a. mendatangkan dan mengirimkan jaringan mata dari dan ke luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ;
b. melakukan koordinasi pengumpulan jaringan mata tingkat nasional; dan
c. menyediakan jaringan mata donor secara nasional.
(3)
(4) Tugas mengirimkan jaringan mata ke luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 365 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai bank mata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 362 sampai dengan Pasal 364 diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 366 #Laporkan Penjelasan
(1) Donor pada transplantasi jaringan terdiri atas donor hidup dan donor mati.
(3) Ketentuan mengenai calon resipien transplantasi jaringan tubuh dilaksanakan sesuai dengan ketentuan calon resipien transplantasi organ.
Pasal 367 #Laporkan Penjelasan
Transplantasi jaringan tubuh dilaksanakan melalui tahapan kegiatan:
a. pendaftaran calon donor dan calon resipien;
b. pemeriksaan kelayakan calon donor dilihat dari segi tindakan, psikologis, dan sosioyuridis;
c.
d. -operisi transplantasi dan penatalaksanaan pascaoperasi transplantasi jaringan tubuh.
Pasal 368 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk terdaftar sebagai calon donor jaringan tubuh, setiap calon donor di bank mata dan/atau bank jaringan harus memenuhi persyaratan.
b. mendapat persetujuan keluarga; dan
c. memahami indikasi, kontraindikasi, risiko, prosedur transplantasi jaringan tubuh, panduan hidup pascatransplantasi jaringan tubuh, dan bersedia membuat surat Persetujuannya.
hlm. 157 OCR(3) Ketentuan mengenai keluarga dan mekanisme persetujuan keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 369 #Laporkan Penjelasan
Persyaratan untuk terdaftar sebagai calon resipien terdiri atas:
a. memiliki keterangan dari dokter penanggung jawab pelayanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tentang "d"ny" indikasi medis untuk dilakukan transplantasi jaringan tubuh; b. -bersedia membayar biaya penggantian pengambilan dan pemrosesan jaringan tubuh atau memberikan surat penjaminan biaya penggantian pengambilan dan pemrosesan jaringan tubuh, untuk calon resipien yang dijamin asuransi atau lembaga penjamin lain;
c. memahami indikasi, kontraindikasi, risiko, dan tata cara transplantasi jaringan tubuh, serta memberikan persetujuan dilakukannya transplantasi jaringan tubuh; dan
d. membuat pernyataan tidak melakukan pembelian jaringan tubuh maupun melakukan perjanjian dengan calon donor yang bermakna jual beli atau komersialisasi.
Pasal 370 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan pemeriksaan kelayakan calon donor transplantasi jaringan tubuh dilakukan melalui pemeriksaan medis yang dilakukan di laboratorium yang dimiliki oleh bank mata atau bank jaringan.
Pasal 371 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengambilan jaringan tubuh dalam rangka penyiapan jaringan tubuh dapat dilaksanakan oleh Rumah Sakit atau klinik utama yang bekerja sama dengan bank mata atau bank jaringan.
(2) Selain Rumah Sakit atau klinik utama, untuk pengambilan jaringan mata dapat dilakukan di tempat lain yang memungkinkan untuk dilakukan pengambilan jaringan mata sesuai standar.
(3) Pengambilan jaringan tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan yang terlatih.
hlm. 158 OCR(4) Hasil pengambilan jaringan tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pengolahan dan penyimpanan.
Pasal 372 #Laporkan Penjelasan
(1) Operasi transplantasi dan penatalaksanaan pascaoperasi jaringan tubuh dilakukan oleh Tenaga Medis yang mempunyai keahlian dan kewenangan.
(2) Tenaga Medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penanggung jawab pelayanan di Rumah Sakit atau klinik utama penyelenggara.
(3) Dalam melaksanakan operasi transplantasi dan penatalaksanaan pascaoperasi jaringan tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Tenaga Medis dapat dibantu oleh Tenaga Kesehatan yang terlatih.
(4) Operasi transplantasi jaringan tubuh berupa jaringan
Pasal 373 #Laporkan Penjelasan
Bank mata dan/atau bank jaringan melakukan pelaporan terhadap penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing kepada Menteri melalui sistem informasi transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 374 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap donor pada transplantasi jaringan tubuh berhak dijaga kerahasiaan identitas dan hasil pemeriksaan kesehatannya.
(3) Donor hidup pada transplantasi jaringan tubuh berkewajiban memberikan informasi yang jujur, lengkap, dan akurat sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya tentang masalah kesehatannya.
hlm. 159 OCRPasal 375 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap resipien pada transplantasi jaringan tubuh berhak mengetahui urutan daftar tunggu calon resipien untuk memperoleh jaringan tubuh.
a. mengikuti prosedur pelaksanaan transplantasi jaringan tubuh;
b. membayar seluruh biaya penyelenggaraan transplantasi jaringan tubuh, baik secara mandiri atau melalui asuransi penjaminnya; dan
c. mengganti biaya pemrosesan dan biaya pengembangan jaringan tubuh.
Pasal 376 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan pendanaan pengembangan bank mata dan bank jaringan.
Pasal 377 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendanaan penyelenggaraan transplantasi jaringan tubuh berasal dari sumber:
a. anggaran pendapatan dan belanja negara;
b. anggaran pendapatan dan belanja daerah; dan/atau
c. sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
a. sosialisasi dan peningkatan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan transplantasi jaringan tubuh;
b. pembinaan Rumah Sakit
c. pemeriksaan kelayakan calon donor; dan
d. pengambilan jaringan tubuh donor mati.
(3) Pendanaan yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dipergunakan untuk kegiatan:
a. sosialisasi dan peningkatan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan transplantasi jaringan tubuh;
b. pembinaan Rumah Sakit penyelenggara transplantasi jaringan tubuh milik Pemerintah Daerah;
c. pemeriksaan kelayakan calon donor yang tidak didanai oleh anggaran pendapatan dan belanja negara; dan
hlm. 160 OCRd. pengambilan jaringan tubuh donor mati yang tidak
Pasal 378 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis pelaksanaan penyelenggaraan transplantasi jaringan tubuh sebagaimana ii*Lt"rd dalam pasal 36O, Pasal 361, dan Pasal 366 sampai dengan Pasal 377 diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 4Sistem
dan/atau Jaringan Tubuh
Pasal 379 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka mendukung penyelenggaraan transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh, Menteri membentuk
(3) Sistem informasi transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyediakan data dan informasi terkait penyelenggaraan transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh, wadah dan sarana komunikasi bagi masyarakat, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan penyelenggara transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh.
Paragraf 5Tanggung Jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
Pasal 380 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat bertanggung jawab melaksanakan peningkatan upaya transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh melalui:
a. melakukan sosialisasi dan peningkatan peran serta masyarakat sebagai donor organ
b. menyelenggarakan registrasi dan pengelolaan data donor dan resipien organ dan/atau jaringan tubuh;
c. menyelenggarakan pendidikan dan penelitian yang menunjang kegiatan pelayanan transplantasi organ dan/ atau jaringan tubuh;
d. melakukan koordinasi penyelenggaraan jejaring antar-Rumah Sakit penyelenggara transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh;
e.
f. melakukan penelusuran latar belakang donor;
g. mengkaji kelayakan pasangan resipien dan donor berdasarkan hasil pemeriksaan oleh Rumah Sakit penyelen ggara tran splantasi organ dan hasil verifi kasi latar belakang donor;
h. melakukan
i. melakukan kerja sama dengan lembaga transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh internasional.
(2) Pemerintah Daerah bertanggung jawab melaksanakan peningkatan upaya transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh melalui:
a. melakukan koordinasi penyelenggaraan jejaring antar Rumah Sakit penyelenggara transplantasi organ dan/ atau jaringan tubuh;
b. melakukan sosialisasi dan promosi kepada masyarakat untuk mendonorkan organ demi kepentingan tolong menolong dan amal kebaikan; dan
c. melakukan pemantauan pelindungan Kesehatan dan hak donor hidup pascatransplantasi.
(3) Tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
Paragraf 6Peran Serta Masyarakat
Pasal 381 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan transplantasi organ dan jaringan tubuh, masyarakat dapat berperan melalui kegiatan:
a. promosi dan sosialisasi transplantasi organ dan jaringan tubuh;
hlm. 162 OCRb. melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai transplantasi organ dan jaringan tubuh; dan
c. mencegah terjadinya jual beli organ dan jaringan tubuh.
(3) Mencegah terjadinya jual beli organ dan jaringan tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan melalui edukasi, pemberdayaan masyarakat, pengaduan, dan/atau pelaporan.
Bagian Kedelapan Belas Terapi Berbasis Sel dan/atau Sel Punca
Paragraf 1Umum
Pasal 382 #Laporkan Penjelasan
(1) Terapi berbasis sel dan/atau sel punca dapat dilakukan apabila terbukti keamanan dan kemanfaatannya serta memenuhi standar mutu.
(3) Terapi berbasis sel dan/atau sel punca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang untuk reproduksi.
(4) Sel punca sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak boleh berasal dari sel punca embrionik.
Pasal 383 #Laporkan Penjelasan
(1) Terapi berbasis sel dan/atau sel punca sebagaimana dimaksud dalam Pasal 382 ayat (1) dapat menggunakan:
a. sel;
b. sel punca;
c. sekretom;
d. vesikel ekstraseluler; dan
e. sel, sel punca, dan/atau produk turunan lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
hlm. 163 OCR(3) Menteri dan kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan -obat dan makanan memfasilitasi pengembangan produk terapi berbasis sel dan turtrnannya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persetujuan- d1. pengembangan produk sebagaimana yang dimaksud pada i1a{ Q) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri dan plraturan kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan sesuai dengan kewenangannya.
Paragraf 2Kegiatan PelaYanan
Pasal 384 #Laporkan Penjelasan
(1) Terapi berbasis sel dan/atau sel punca sebagaimana dimaksud dalam Pasal 383 diberikan melalui penyelenggaraan pelayanan sel danf atau sel punca.
a. pengambilan;
b. pengolahan;
c. penyimpanan; dan latau
d. pemanfaatan klinis.
Pasal 385 #Laporkan Penjelasan
Pengambilan sel dan/atau sel punca sebagaimana dimaksud dalam Pasal 384 ayat (2) huruf a harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Pasien dan/atau donor sesuai standar profesi dan standar prosedur operasional dan memperhatikan
Pasal 386 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengolahan sel dan/atau sel punca sebagaimana dimiksud dalam Pasal 384 ayat
(3) Selain Fasilitas Pelayanan Kesehatan, pengolahan sel dan/atau sel punca dapat dilakukan oleh industri farmasi yang penyelenggaraannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar cara pembuatan Obat yang baik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
Pasal 387 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyimpanan sel dan/atau sel punca sebagaimana dimaksud dalam Pasal 384 ayat (2) huruf c dilakukan di bank sel dan/atau sel punca atau tempat penyimpanan lainnya di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Pasal 388 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemanfaatan klinis sel dan/atau sel punca sebagaimana dimaksud dalam Pasal 384 ayat
a. sistemik;
b. regional;
c. lokal;
d. topikal;
e. mekanisme lain sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Paragraf 3Penggunaan
Pasal 389 #Laporkan Penjelasan
Penggunaan sel dan/atau sel punca dilaksanakan pada:
a. pelayanan terapi; dan
b. penelitian berbasis pelayanan terapi.
hlm. 165 OCRPasal 390 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan terapi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 389 huruf a merupakan pelayanan yang berbasis bukti ilmiah dan telah mempunyai standar pelayanan terapi.
(3) Standar pelayanan terapi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diusulkan oleh Kolegium, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, atau pusat penelitian.
(4) Penggunaan sel dan/atau sel punca pada pelayanan terapi dilakukan di:
a. Rumah Sakit; dan
b. klinik.
Pasal 39 1 #Laporkan Penjelasan
(1) Penelitian berbasis pelayanan terapi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 389 huruf b merupakan penelitian translasional dan pemanfaatan terapeutik sel dan/atau sel punca yang dilakukan terhadap Pasien sebagai subjek penelitian.
(3) Penelitian berbasis pelayanan terapi hanya diselenggarakan di Rumah Sakit yang ditetapkan oleh Menteri.
(4) Dalam rangka memperluas kegiatan penelitian berbasis pelayanan terapi, Rumah Sakit dapat melaksanakan jejaring penelitian berbasis pelayanan.
(5) Penelitian berbasis pelayanan terapi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus
Pasal 392 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemilik produk dan pemberi layanan terapi berbasis sel, sel punca, dan/atau turunannya harus melakukan pemantauan keamanan penggunaan melalui Farmakovigilans pada setiap Pasien yang menggunakan produk berbasis sel, sel punca, dan/atau
Pasal 393 #Laporkan Penjelasan
Fasilitas Pelayanan Kesehatan penyelenggara dapat menetapkan biaya pelayanan terapi terstandar.
Pasal 394 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan pelayanan dan penggunaan terapi berbasis sel dan/atau sel punca diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kesembilan Belas Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetika
Pasal 395 #Laporkan Penjelasan
Pengaturan bedah plastik rekonstruksi dan estetika bertujuan untuk:
a. meningkatkan upaya penyembuhan penyakit, memulihkan kesehatan, memperbaiki fungsi atau penampilan, dan meningkatkan kualitas hidup pasien;
b. menjamin pemeliharaan mutu dan keselamatan pasien dalam pelayanan bedah plastik rekonstruksi dan estetika; dan
c. mencegah kegiatan penyalahgunaan tindakan bedah plastik rekonstruksi dan estetika oleh pihak yang tidak berwenang dan tidak kompeten, serta untuk tujuan non medis.
Pasal 396 #Laporkan Penjelasan
(1) Bedah plastik
(2) Bedah plastik rekonstruksi dan estetika tidak boleh bertentangan dengan nonna yang berlaku dalam masyarakat dan tidak ditujukan untuk mengubah identitas.
Pasal 397 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan bedah plastik rekonstruksi dan estetika dapat diselenggarakan oleh Fasilitas pelayanan Kesehatan berupa:
a. Rumah Sakit; atau
b. klinik utama, setelah memenuhi persyaratan.
hlm. 167 OCR(2) Persyaratan yang harus dipenuhi oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa sumber daya manusia, bangunan, prasarana, dan peralatan kesehatan.
(3) Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Peralatan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 398 #Laporkan Penjelasan
Pelayanan bedah plastik rekonstruksi dan estetika untuk menyesuaikan alat kelamin dengan jenis kelamin yang sebenarnya hanya dapat dilakukan berdasarkan indikasi medis dan dilakukan pada Rumah Sakit yang telah memenuhi persyaratan.
Pasal 399 #Laporkan Penjelasan
(1) Tata cara pelayanan bedah plastik rekonstruksi dan estetika meliputi:
a. pemberian penjelasan mengenai prosedur dan hasil beserta risiko operasi bedah plastik rekonstruksi dan estetika;
b. pemeriksaan kelayakan tindakan bedah plastik
c. pelaksanaan operasi bedah plastik rekonstruksi dan estetika; dan
d. penatalaksanaan pascaoperasi bedah plastik rekonstruksi dan estetika.
Pasal 400 #Laporkan Penjelasan
Setiap pelayanan bedah plastik rekonstruksi dan estetika yang diselenggarakan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 397 ayat (1) harus dilakukan pencatatan dan pelaporan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 401 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara teknis penyelenggaraan bedah plastik
Bagian Kedua Puluh Pengamanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT
Pasal 402 #Laporkan Penjelasan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT harus aman, berkhasiat/bermanfaat, bermutu, dan terjangkau serta memenuhi ketentuan jaminan produk halal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 403 #Laporkan Penjelasan
Pengamanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT diselenggarakan untuk melindungi masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan keamanan, khasiat/kemanfaatan, dan mutu.
Pasal 404 #Laporkan Penjelasan
Pengamanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT diselenggarakan dengan memenuhi standar dan/atau persyaratan untuk menjamin keamanan, khasiat/kemanfaatan, dan mutu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 405 #Laporkan Penjelasan
(1) standar dan/atau persyaratan sediaan Farmasi terdiri atas:
a. farmakope lndonesia dan/atau standar lainnya yang diakui untuk Sediaan Farmasi berupa Obat dan Bahan Obat;
hlm. 169 OCRb. farmakope herbal Indonesia dan/atau standar lainnya yang diakui untuk Sediaan Farmasi berupa Obat Bahan Alam;
c. farmakope Indonesia, farmakope herbal Indonesia, dan/atau standar lainnya yang diakui untuk Sediaan Farmasi berupa Suplemen Kesehatan dan Obat Kuasi; dan
d. kodeks Kosmetik Indonesia dan/atau standar lainnya yang diakui untuk Sediaan Farmasi berupa Kosmetik.
(2) . Standar lainnya yang diakui sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa farmakope lain yang berlaku secara internasional, metode analisis/monografi, serta standar dan/atau persyaratan lainnya, dalam hal tidak terdapat dalam farmakope Indonesia, farmakope herbal Indonesia, dan kodeks Kosmetik Indonesia.
(3) Standar dan/atau persyaratan Alat Kesehatan berupa standar nasional Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kompendium Alat Kesehatan, darrrf atau standar lainnya yang diakui.
(5)
(6)
Pasal 406 #Laporkan Penjelasan
(1) Bahan baku yang digunakan dalam Sediaan Farmasi berupa Obat Bahan Alam, Suplemen Kesehatan, Obat Kuasi, dan Kosmetik sediaan tertentu berdasarkan kajian risiko harus memenuhi standar dan/atau persyaratan mutu sebagai bahan baku farmasi.
hlm. 170 OCR(3) Kajian risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
(5) Ketentuan mengenai kajian risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
Pasal 407 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam memenuhi standar dan/atau persyaratan keamanan, khasiat/kemanfaatan, dan mutu, pelaku usaha di bidang Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT wajib menyelenggarakan upaya pemastian mutu dan keamanan produk sejak kegiatan pembuatan sampai dengan peredaran.
(3) Upaya pemastian mutu dan keamanan produk sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Sampling yang dilaksanakan di sarana pengelola Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan milik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dilakukan setelah berkoordinasi dengan Menteri dan/atau Pemerintah Daerah provinsi dan / atau kabupate n / kota.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai sampling dan pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) untuk Sediaan Farmasi diatur dengan peraturan kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
Pasal 408 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam upaya melindungi masyarakat dari Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT di peredaran yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, dilakukan:
a. Farmakovigilans; dan
b. Vigilans.
(3) Pemilik izin edar Alat Kesehatan dan PKRT wajib melakukan Vigilans dan melaporkan kepada Menteri.
(5) Dalam melakukan Farmakovigilans dan Vigilans, pemilik izin edar dapat melibatkan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(6) Dalam rangka pelaksanaan Farmakovigilans dan Vigilans sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan atau Menteri sesuai dengan kewenangannya dapat melakukan tindakan berupa mengambil sampel atau contoh Sediaan Farmasi, Atat Kesehatan, atau PKRT yang terdapat di industri, fasilitas distribusi, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan tempat tinggal pasien atau konsumen.
hlm. 172 OCRPasal 409 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka mendukung Farmakovigilans dan Vigilans di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan dapat melaporkan kejadian tidak diinginkan atau efek samping Sediaan Farmasi dan/atau Alat Kesehatan kepada kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan dan Menteri sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari penyelenggaraan keselamatan Pasien di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(3) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem
Pasal 410 #Laporkan Penjelasan
(1) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Farmakovigilans sebagaimana dimaksud dalam pasal 408 ayat (1) huruf a diatur dengan peraturan kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
Pasal 41 1 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal
Pasal 412 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemusnahan dilaksanakan terhadap Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan/atau PKRT yang:
a. tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan;
b. tidak memiliki izin edar;
c. dicabut izin edarnya;
d. izin edar berakhir dan tidak dilakukan perpanjangan;
e. kedaluwarsa;dan/atau
f. berhubungan dengan tindak pidana di bidang Kesehatan.
(3) Pemusnahan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan/atau PKRT yang berhubungan dengan tindak pidana di bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemusnahan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan/atau PKRT diatur dengan Peraturan Menteri dan peraturan kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 413 #Laporkan Penjelasan
(1) Produksi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan/atau PKRT hanya dapat dilakukan oleh fasilitas produksi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan/atau PKRT yang memiliki perizinan berusaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 174 OCR(3) Produksi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan/atau PKRT wajib memenuhi ketentuan cara pembuatan yang baik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 414 #Laporkan Penjelasan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT hanya dapat diedarkan setelah memperoleh perizinan berusaha berupa izin edar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 415 #Laporkan Penjelasan
Peredaran Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan, terdiri atas kegiatan:
a. distribusi; dan
b. penyerahan.
Pasal 416 #Laporkan Penjelasan
(1) Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 415 huruf a hanya dapat dilakukan oleh fasilitas pengelolaan kefarmasian, produsen, dan distributor Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.
(2) Produsen dan distributor Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memiliki perizinan berusaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan sesuai dengan cara distribusi yang baik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai fasilitas pengelolaan kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 417 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyerahan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 415 huruf b hanya dapat dilakukan oleh fasilitas pelayanan kefarmasian dan fasilitas lain yang telah memiliki perizinan berusaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 175 OCR(3) Penyerahan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan di fasilitas pelayanan kefarmasian harus memenuhi standar pelayanan kefarmasian.
(4) Ketentuan mengenai penyerahan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan di fasilitas lain diatur dengan Peraturan Menteri dan peraturan kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 418 #Laporkan Penjelasan
Peredaran Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dapat dilakukan dengan memanfaatkan sistem elektronik yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 419 #Laporkan Penjelasan
(1) Ketentuan mengenai upaya pemastian mutu dan keamanan Alat Kesehatan dan PKRT, cara pembuatan yang baik untuk Alat Kesehatan dan PKRT, cara distribusi yang baik untuk Alat Kesehatan, standar pelayanan kefarmasian, dan peredaran Sediaan Farmasi dan/atau Alat Kesehatan dengan memanfaatkan sistem elektronik diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 420 #Laporkan Penjelasan
(1) Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan pKRT yang diimpor dan diekspor harus memenuhi standar dan persyaratan keamanan, khasiat/kemanfaatan, dan mutu.
(2) Impor dan/atau ekspor Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT hanya dapat dilakukan oleh pelaku usaha yang telah memiliki perizinan berusaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 176 OCR(3) Selain pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Selain pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2), organisasi riset kontrak, lembaga pendidikan, institusi/lembaga penelitian, instansi pemerintah, Rumah Sakit, klinik, organisasi nirlaba, dan perseorangan dapat mengimpor Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan untuk keadaan tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Psikotropika, prekursor farmasi, dan Alat Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) serta Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilarang untuk diedarkan.
Pasal 421 #Laporkan Penjelasan
(1) Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT yang diimpor harus memiliki perizinan berusaha berupa izin edar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Dalam keadaan tertentu, Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dapat diimpor tanpa memiliki perizinan berusaha
Pasal 422 #Laporkan Penjelasan
Impor dan/atau ekspor Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 423 #Laporkan Penjelasan
(1) Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT wajib memiliki penandaan yang objektif, lengkap, dan tidak menyesatkan.
Pasal 424 #Laporkan Penjelasan
(1) Promosi dan/atau iklan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT yang diedarkan wajib memuat keterangan secara objektif, lengkap, dan tidak menyesatkan serta mematuhi etika periklanan.
hlm. 177 OCR(3) Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan yang dikecualikan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 425 #Laporkan Penjelasan
(1) Ketentuan lebih lanjut mengenai penandaan, promosi, dan iklan Alat Kesehatan dan PKRT diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 426 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap pemilik izin
a. tidak menyelenggarakan upaya pemastian mutu dan keamanan produk sejak kegiatan pembuatan sampai dengan peredaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal
b. tidak melakukan Farmakovigilans dan Vigilans sebagaimana dimaksud dalam Pasal 408 ayat (2) dan ayat (3);
c. tidak melakukan penarikan dari peredaran terhadap produk yang tidak sesuai dengan standar dan/atau persyaratan, keamanan, khasiat/kemanfaatan, dan mutu, serta penandaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 411 ayat (1);
d. tidak melakukan pemusnahan terhadap produk yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan, tidak memiliki izin edar, dicabut izin edarnya, izin edar berakhir dan tidak dilakukan perpanjangan, dan kedaluwarsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 412 ayat (2);
hlm. 178 OCRe. tidak memenuhi ketentuan cara pembuatan yang baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 413 ayat (3);
f. melakukan distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan tidak sesuai dengan cara distribusi yang baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 416 ayat (3);
g. memiliki produk dengan penandaan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 423 ayat (1); atau
h. melakukan promosi dan/atau iklan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 424 ayat(ll, dikenakan sanksi administratif.
a. peringatan;
b. penghentian sementara kegiatan usaha melalui pembekuan perizinan berusaha;
c. pengenaan denda administratif;
d. pengenaa.n daya paksa polisional; dan/atau
e. pencabutan perizinan berusaha.
(3) Pengenaan daya paksa polisional sebagaimana dimaksud pada ayat
a. penarikan dari peredaran;
b. ganti rugi;
c. pemusnahan;
d. penutupan atau pemblokiran sistem elektronik dan/atau media internet lain; dan /atau
e. penutupan akses permohonan perizinan berusaha.
(5) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan secara kumulatif atau bertahap berdasarkan tingkat risiko pelanggaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 427 #Laporkan Penjelasan
Masyarakat dapat berperan serta dalam mewujudkan pelindungan dari bahaya yang disebabkan oleh penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT yang tidak tepat dan/atau tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan.
hlm. 179 OCRPasal 428 #Laporkan Penjelasan
(1) Praktik kefarmasian meliputi produksi, termasuk pengendalian mutu, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, penelitian dan pengembangan Sediaan Farmasi, serta pengelolaan dan pelayanan kefarmasian.
(2) Praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan oleh tenaga kefarmasian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Dalam menjalankan praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Dalam kondisi tertentu, praktik kefarmasian secara terbatas pada fasilitas pelayanan kefarmasian dapat dilakukan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(5) Kondisi tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat
a. ketiadaan tenaga kefarmasian di suatu wilayah;
b. kebutuhan program pemerintah;
c. penanganan kegawatdaruratan medis; dan/atau
d. KLB, Wabah, dan darurat bencana lainnya.
(6) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi dokter, dokter gigi, perawat, atau bidan yang memberikan pelayanan kefarmasian dalam batas tertentu.
Bagian Kedua Puluh Satu Pengamanan Zat Adiktif
Pasal 429 #Laporkan Penjelasan
(1) Produksi, peredaran, dan penggunaan zat adiktif diarahkan agar tidak mengganggu dan membahayakan Kesehatan
(2) Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan produk yang mengandung tembakau atau tidak mengandung tembakau, baik yang berupa rokok atau bentuk lain yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya danf atau masyarakat dan dapat berbentuk padat, cairan, dan gas.
hlm. 180 OCR(3) Produk tembakau merupakan setiap produk yang seluruhnya atau sebagian terbuat dari daun tembakau sebagai bahan bakunya yang diolah untuk digunakan dengan cara dibakar, dipanaskan, diuapkan, dihisap, dihirup, dikunyah, atau dengan cara konsumsi apa pun.
(4) Produk tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
a. rokok;
b. cerutu;
c. rokok daun;
d. tembakau iris;
e. tembakau padat dan cair; dan
f. hasil pengolahan tembakau lainnya.
(5) Rokok elektronik merupakan hasil tembakau berbentuk cair, padat, atau bentuk lainnya yang berasal dari pengolahan daun tembakau yang dibuat dengan cara ekstraksi atau cara lain sesuai dengan perkembangan teknologi dan selera konsumen tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu dalam pembuatannya yang disediakan untuk konsumen akhir dalam kemasan penjualan ecera.n yang dikonsumsi dengan cara dipanaskan menggunakan alat pemanas elektronik kemudian dihisap.
(6) Selain rokok elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (5), rokok elektronik yang mengandung nikotin dan/atau bahan lain berbentuk cair, padat, atau bentuk lainnya, dan/atau hasil olahannya termasuk pembuatan sintetis yang jenis dan sifatnya sama atau serupa yang dikonsumsi dengan cara dipanaskan menggunakan alat pemanas elektronik kemudian dihisap termasuk dalam ketentuan Peraturan Pemerintah ini.
Pasal 430 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan pengamanan zat adiktif berupa produk tembakau dan rokok elektronik bertujuan untuk:
a. menurunkan prevalensi perokok dan mencegah perokok pemula;
b. menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat dampak merokok;
c. meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya merokok dan manfaat hidup tanpa merokok;
hlm. 181 OCRd. melindungi Kesehatan perseorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan dari bahaya konsumsi dan/atau paparan zat
e. mendorong dan menggerakkan masyarakat untuk aktif terlibat dalam upaya pengendalian produk tembakau dan rokok elektronik.
Pasal 43 1 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang memproduksi, mengimpor, dan/atau mengedarkan produk tembakau wajib:
a. memiliki perizinan berusaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. mematuhi batas maksimal kadar nikotin dan tar;
c. melakukan pengujian kandungan kadar nikotin dan tar untuk setiap varian yang diproduksi dan/atau diimpor; dan
d. melaporkan hasil pengujian kadar nikotin dan tar sebagaimana dimaksud dalam huruf c kepada lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
(3) Pengujian produk tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
(4) Produk tembakau yang belum memiliki teknologi pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri.
(5) Setiap Orang yang memproduksi, mengimpor, dan/atau mengedarkan rokok elektronik wajib:
a. memiliki perizinan berusaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. mematuhi batas maksimal kadar nikotin;
c. melakukan pengujian kandungan kadar nikotin untuk setiap varian yang diproduksi dan/atau diimpor; dan
hlm. 182 OCRd. melaporkan hasil pengujian kadar nikotin sebagaimana dimaksud dalam huruf c, daftar kandungan, dan bahan tambahan kepada lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
(6) Penentuan batas maksimal kadar nikotin dan tar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan batas maksimal kadar nikotin sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian urusan kementerian dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan dengan mengikutsertakan kementerian dan lembaga terkait.
(7) Pengujian kandungan kadar nikotin untuk setiap varian yang diproduksi dan/atau diimpor sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c dilakukan di laboratorium terakreditasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(8) Laporan kepada lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dan ayat (5) huruf d dijadikan sebagai bahan pengawasan.
(9) Ketentuan mengenai koordinasi penentuan batas maksimal kadar nikotin dan tar sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian urusan kementerian dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan.
Pasal 432 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang memproduksi produk tembakau dan rokok elektronik dilarang menggunakan bahan tambahan kecuali telah dapat dibuktikan secara ilmiah bahan tambahan tersebut tidak berbahaya bagi Kesehatan.
(3) Dalam rangka pengawasan terhadap penggunaan bahan tambahan yang dilarang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan:
a. pengujian pada saat sebelum beredar; dan
b. verifikasi selama beredar.
hlm. 183 OCR(4) Pengujian dan verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dilakukan di laboratorium terakreditasi yang berbeda.
(5) Hasil pengujian dan verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaporkan kepada lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
(6) Setiap Orang yang memproduksi produk tembakau dan rokok elektronik yang menggunakan bahan tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi administratif oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan berupa penarikan produk atas biaya produsen.
Pasal 433 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang memproduksi dan latau mengimpor produk tembakau berupa rokok putih mesin dilarang mengemas kurang dari 20 (dua puluh) batang dalam setiap kemasan.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi produk tembakau selain rokok putih mesin.
(3) Setiap Orang yang memproduksi dan /atau mengimpor produk tembakau berupa tembakau iris dilarang mengemas lebih dari 50 (lima puluh) gram dalam setiap kemasan.
(4) Setiap Orang yang memproduksi dan /atau mengimpor rokok elektronik dengan sistem tertutup atau
(5) Setiap Orang yang memproduksi dan latau mengimpor rokok elektronik dengan sistem terbuka atau dapat diisi ulang dilarang mengemas cairan nikotin selain dengan kemasan 10 (sepuluh) dan 20 (dua puluh) mililiter perkemasan.
(6) Setiap Orang yang memproduksi dan /atau mengimpor rokok elektronik padat wajib mengemas atau mengimpor rokok elektronik padat dalam kemasan 20 (dua puluh) batang dalam setiap kemasan.
(7) Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) sampai dengan ayat (6) dikenakan sanksi administratif berupa:
a. peringatan tertulis; dan
b. penarikan produk.
hlm. 184 OCRPasal 434 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang dilarang menjual produk tembakau dan rokok elektronik:
a. menggunakan mesin layan diri;
b. kepada setiap orang di bawah usia 21 (dua puluh satu) tahun dan perempuan hamil;
c. secara eceran satuan perbatang, kecuali bagi produk tembakau berupa cerutu dan rokok elektronik;
d. dengan menempatkan produk tembakau dan rokok elektronik pada area sekitar pintu masuk dan keluar atau pada tempat yang sering dilalui;
e. dalam radius
f. menggunakan jasa situs web atau aplikasi elektronik komersial dan media sosial.
(2) Ketentuan larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f bagi jasa situs web atau aplikasi elektronik komersial dikecualikan jika terdapat verifikasi umur.
Pasal 435 #Laporkan Penjelasan
Setiap Orang yang memproduksi dan I atau mengimpor produk tembakau dan rokok elektronik harus memenuhi standardisasi kemasan yang terdiri atas desain dan tulisan.
Pasal 436 #Laporkan Penjelasan
Peringatan Kesehatan merupakan tulisan dan gambar pada kemasan yang memberikan informasi dan edukasi mengenai bahaya merokok.
Pasal 437 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang memproduksi, memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan/atau mengedarkan zat adiktif berupa produk tembakau dan/atau rokok elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 429 wajib mencantumkan peringatan Kesehatan.
(2) Pencantuman peringatan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan ketentuan:
a. berbentuk tulisan disertai gambar, yang dicantumkan pada permukaan kemasan;
b. tercetak menjadi satu dengan kemasan produk tembakau atau kemasan rokok elektronik dan kemasan cairan nikotin isi ulang rokok elektronik; dan
c. dicantumkan pada bagian atas kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang.
hlm. 185 OCR(3) Setiap 1 (satu) varian produk tembakau dan rokok elektronik wajib dicantumkan gambar dan tulisan peringatan Kesehatan yang terdiri atas 5 (lima) jenis yang berbeda, dengan porsi masing-masing
(5) Industri produk tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai gambar dan tulisan peringatan Kesehatan sebagaimana dimaksud ayat (21 sampai dengan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusa.n pemerintahan di bidang keuangan negara.
Pasal 438 #Laporkan Penjelasan
(1) Gambar dan tulisan peringatan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 437 dicantumkan pada setiap kemasan terkecil dan kemasan lebih besar produk tembakau dan/atau rokok elektronik.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi rokok klobot, rokok kelembak menyan, dan cerutu kemasan batangan.
a. dicantumkan pada bagian atas kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing seluas
b. gambar sebagaimana dimaksud dalam huruf a harus dicetak berwarna; dan
hlm. 186 OCRc. jenis huruf harus menggunakan huruf arial bold dan proporsional dengan kemasan, tulisan warna kuning di atas latar belakang hitam.
(5) Gambar dan tulisan peringatan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 439 #Laporkan Penjelasan
(1) Kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan melakukan pengawasan terhadap pencantuman peringatan Kesehatan pada produk tembakau dan rokok elektronik.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berkoordinasi dengan instansi terkait.
Pasal 440 #Laporkan Penjelasan
Setiap Orang yang memproduksi, memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan/atau mengedarkan zat adiktif berupa produk tembakau dan rokok elektronik dengan tidak mencantumkan peringatan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 437 dikenai sanksi administratif berupa:
a. penarikan produk tembakau dan rokok elektronik; dan/atau
b. denda administratif.
Pasal 44 1 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang memproduksi dan latau mengimpor produk tembakau wajib mencantumkan informasi pada label setiap kemasan dengan penempatan yang jelas dan mudah dibaca dengan ketentuan:
a. pernyataan "mengandung nikotin dan tar';
b. pernyataan "dilarang menjual atau memberi kepada orang berusia di bawah 21 tahun dan perempuan hamil";
c. kode produksi, tanggal, bulan, dan tahun produksi, serta nama dan alamat produsen; dan
d. pernyataan "tidak ada batas aman" dan "mengandung lebih dari 7.000 zat kimia serta lebih dari 83 zat penyebab kanker" untuk produk tembakau.
hlm. 187 OCR(2) Setiap Orang yang memproduksi dan latau mengimpor produk tembakau dilarang mencantumkan:
a. keterangan atau tanda apa pun yang menyesatkan atau kata yang bersifat promotif; dan
b. kata
(3) Setiap Orang yang memproduksi dan latau mengimpor rokok elektronik wajib mencantumkan informasi pada label setiap kemasan dengan penempatan yang jelas dan mudah dibaca dengan ketentuan:
a. pernyataan "mengandung nikotin";
b. pernyataan "dilarang menjual atau memberi kepada orang berusia di bawah 21 tahun dan perempuan hamil";
c. kode produksi, tanggal, bulan, dan tahun produksi, serta nama dan alamat produsen; dan
d. dilarang mencantumkan keterangan atau tanda apa pun yang menyesatkan atau kata yang bersifat promotif.
a. produk tembakau yang sudah mendapatkan sertifikat merek sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan/ atau
b. produk tembakau yang dibawa oleh penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas, kiriman dalam jumlah yang ditentukan, atau untuk keperluan perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal balik.
(5) Setiap Orang yang memproduksi dan /atau mengimpor produk tembakau dan rokok elektronik yang tidak memenuhi kewajiban atau melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3) dikenai sanksi administratif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 442 #Laporkan Penjelasan
(1) Kawasan tanpa rokok merupakan
(3) Larangan kegiatan memproduksi produk tembakau dan rokok elektronik tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan produksi.
Pasal 443 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Daerah wajib menetapkan dan mengimplementasikan kawasan tanpa rokok di wilayahnya dengan Peraturan Daerah.
(2) Kawasan tanpa rokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
b. tempat proses belajar mengajar;
c. tempat anak bermain;
d. tempat ibadah;
e. angkutan umum;
f. tempat kerja; dan
g. tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan.
(3) Pengelola, penyelenggara, atau penanggung jawab tempat kerja, tempat umum, dan tempat lainnya yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f dan huruf g wajib menyediakan tempat khusus untuk merokok.
(4) Kewajiban menyediakan tempat khusus untuk merokok pada tempat kerja, tempat umum, dan tempat lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikecualikan pada tempat yang berpotensi menimbulkan bahaya Kesehatan dan keselamatan kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Tempat khusus untuk merokok sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan ruang terbuka, terpisah dari bangunan utama, jauh dari lalu lalang orang, dan jauh dari pintu keluar masuk.
Pasal 444 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka peningkatan kepatuhan Pemerintah Daerah dalam implementasi kawasan tanpa rokok, Pemerintah pusat melakukan pemantauan dengan menggunakan Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan sistem Informasi Kesehatan Nasional.
hlm. 189 OCRPasal 445 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri dapat memberikan penghargaan kepada Pemerintah Daerah yang berhasil mengimplementasikan kawasan tanpa rokok.
Pasal 446 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang memproduksi, mengimpor, dan/atau mengedarkan produk tembakau dan rokok elektronik dilarang mengiklankan di media sosial berbasis digital.
(2) Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang komunikasi dan informatika melakukan pemutusan akses informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik terhadap penjualan produk tembakau dan rokok elektronik pada media sosial berbasis digital berdasarkan rekomendasi kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.
Pasal 447 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengendalian iklan produk tembakau dan rokok elektronik pada situs web dan latau aplikasi elektronik komersial dilakukan sebagai berikut:
a.
b. mencantumkan tulisan "Dilarang menjual dan memberi kepada orang di bawah usia 21 tahun dan perempuan hamil";
c. tidak menggambarkan atau menyarankan bahwa mengonsumsi produk tembakau dan rokok elektronik memberikan manfaat bagi kesehatan;
d. tidak menggunakan kata atau kalimat yang menyesatkan dan/atau berupa ajakan untuk mengonsumsi produk tembakau dan rokok elektronik;
e. tidak memperagakan, menggunakan, dan/atau menampilkan wujud atau bentuk produk tembakau dan rokok elektronik, atau sebutan lain yang dapat diasosiasikan dengan merek produk tembakau dan rokok elektronik;
f. tidak menampilkan anak, remaja, dan/atau wanita hamil dalam bentuk gambar dan/atau tulisan;
hlm. 190 OCRg. tidak ditujukan terhadap anak, remaja, dan/atau wanita hamil;
h. tidak menggunakan kartun atau animasi sebagai bentuk tokoh iklan;
i. tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat; dan
j. menerapkan verifikasi umur untuk membatasi akses hanya kepada orang berusia 21 (dua puluh satu) tahun ke atas.
Pasal 448 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengendalian iklan produk tembakau dan rokok elektronik pada tempat penjualan dilakukan sebagai berikut:
a. tidak diletakkan pada pintu atau area masuk dan keluar, serta pada tempat yang mudah dilihat oleh anak-anak;
b. mencantumkan peringatan Kesehatan;
c. mencantumkan tulisan "Dilarang menjual dan memberi kepada orang di bawah usia 21 tahun dan perempuan hamil";
d. tidak menggambarkan atau menyarankan bahwa mengonsumsi produk tembakau dan rokok elektronik memberikan manfaat bagi kesehatan;
e. tidak menggunakan kata atau kalimat yang menyesatkan dan/atau berupa ajakan untuk mengonsumsi produk tembakau dan rokok elektronik;
f. tidak memperagakan, menggunakan, dan/atau menampilkan wujud atau bentuk produk tembakau dan rokok elektronik, atau sebutan lain yang dapat diasosiasikan dengan merek produk tembakau dan rokok elektronik;
g. tidak menampilkan anak, remaja, dan/atau wanita hamil dalam bentuk gambar dan/atau tulisan;
hlm. 191 OCRh. tidak ditujukan terhadap anak, remaja, dan/atau wanita hamil;
i. tidak menggunakan kartun atau animasi sebagai bentuk tokoh iklan; dan
j. tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Pasal 449 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengendalian iklan produk tembakau dan rokok elektronik pada media luar ruang dilakukan sebagai berikut:
a. mencantumkan peringatan Kesehatan paling sedikit 15% (lima belas persen) dari total luas iklan;
b. tidak diletakkan di kawasan tanpa rokok meliputi Fasilitas Pelayanan Kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, dan angkutan umum;
c. tidak diletakkan di jalan utama dan jalan protokol;
d. tidak diletakkan dalam radius 500 (lima ratus) meter di luar satuan pendidikan dan tempat bermain anak;
e.
f. mencantumkan tulisan "Dilarang menjual dan memberi kepada orang di bawah 2l tahun dan perempuan hamil";
g. tidak memperagakan, menggunakan, dan/atau menampilkan wujud atau bentuk produk tembakau dan rokok elektronik, atau sebutan lain yang dapat diasosiasikan dengan merek produk tembakau dan rokok elektronik;
h. tidak menggambarkan atau menyarankan bahwa mengonsumsi produk tembakau dan rokok elektronik memberikan manfaat bagi kesehatan;
i. tidak menggunakan kata atau kalimat yang menyesatkan dan/atau berupa ajakan untuk mengonsumsi produk tembakau dan rokok elektronik;
j. tidak menampilkan anak, remaja, dan/atau wanita hamil dalam bentuk gambar dan/atau tulisan;
k. tidak ditujukan terhadap anak, remaja, dan/atau wanita hamil;
1. tidak menggunakan kartun atau animasi sebagai bentuk tokoh iklan; dan/atau
m. tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
hlm. 192 OCR(2) Media iklan luar ruang berupa videotron hanya dapat ditayangkan pada pukul 22.OO sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat.
(3) Pengaturan lebih lanjut iklan produk tembakau dan rokok elektronik pada media luar ruang diatur oleh Pemerintah Daerah.
Pasal 450 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat melakukan pengawasan terhadap iklan produk tembakau dan rokok elektronik pada media sosial berbasis digital serta situs web dan/atau aplikasi elektronik komersial yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 446 dan Pasal 447 .
Pasal 451 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengendalian iklan produk tembakau dan rokok elektronik pada media cetak dan media penyiaran berupa televisi dilakukan sebagai berikut:
a. mencantumkan peringatan Kesehatan untuk iklan bergerak di media penyiaran berupa televisi harus berukuran full screen selama paling singkat 10% (sepuluh persen) dari total durasi iklan dan tidak kurang dari 2 (dua) detik atau untuk iklan tidak bergerak di media penyiaran berupa televisi atau media cetak
b. mencantumkan tulisan "Dilarang menjual dan memberi kepada orang di bawah 2l tahun dan perempuan hamil";
c. tidak memperagakan, menggunakan, dan/atau menampilkan wujud atau bentuk produk tembakau dan rokok elektronik, atau sebutan lain yang dapat diasosiasikan dengan merek produk tembakau dan rokok elektronik;
d. tidak mencantumkan nama produk merupakan produk tembakau atau rokok elektronik;
e. tidak menggambarkan atau menyarankan bahwa mengonsumsi produk tembakau dan rokok elektronik memberikan manfaat bagi Kesehatan;
hlm. 193 OCRf. tidak menggunakan kata atau kalimat yang menyesatkan dan/atau berupa ajakan untuk mengonsumsi produk tembakau dan rokok elektronik;
g. tidak menampilkan anak, remaja, danf atau wanita hamil dalam bentuk gambar dan/atau tulisan;
h. tidak ditujukan terhadap anak, remaja, dan/atau wanita hamil;
i. tidak menggunakan kartun atau animasi sebagai bentuk tokoh iklan; dan
j. tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
a. menyampaikan peringatan Kesehatan dengan suara yang jelas;
b. tidak menyebutkan kata atau kalimat yang menyesatkan dan/atau berupa ajakan untuk mengonsumsi produk tembakau dan rokok elektronik; dan
c. durasi iklan paling lama 1 (satu) menit.
(3) Bentuk peringatan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan oleh Menteri.
a. tidak diletakkan di sampul atau halaman depan dan belakang media cetak;
b. tidak diletakkan satu halaman dengan iklan makanan dan minuman;
c. luas kolom iklan tidak memenuhi seluruh halaman; dan
d. tidak dimuat di media cetak untuk anak, remaja, dan
(6) Pimpinan lembaga yang menyelenggarakan urusan di bidang penyiaran melakukan pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran ketentuan pengendalian iklan produk tembakau dan rokok elektronik pada media penyiaran berupa televisi dan radio sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (5).
hlm. 194 OCR(7) Pimpinan lembaga yang menyelenggarakan urusan di bidang media cetak melakukan pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran ketentuan pengendalian iklan produk tembakau dan rokok elektronik pada media cetak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (4).
(8) Penindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dan ayat
a. penarikan dan/atau perbaikan iklan;
b. peringatan tertulis; dan/atau
c. pelarangan sementara mengiklankan produk tembakau dan rokok elektronik yang bersangkutan pada pelanggaran berulang atau pelanggaran berat.
Pasal 452 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka memenuhi akses ketersediaan informasi dan edukasi Kesehatan masyarakat, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menyelenggarakan iklan layanan masyarakat mengenai bahaya menggunakan produk tembakau dan rokok elektronik.
Pasal 453 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melakukan pengendalian promosi produk tembakau dan rokok elektronik.
a. tidak memberikan secara cuma-cuma, potongan harga, hadiah produk tembakau dan rokok elektronik, atau produk lainnya yang dikaitkan dengan produk tembakau dan rokok elektronik;
b. tidak menggunakan logo dan/atau merek produk tembakau dan rokok elektronik pada produk atau barang bukan produk tembakau dan rokok elektronik; dan
c. tidak menggunakan logo dan/atau merek produk tembakau dan rokok elektronik pada suatu kegiatan lembaga dan/ atau perseorangan.
hlm. 195 OCRPasal 454 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang memproduksi dan latau mengimpor produk tembakau dan rokok elektronik yang mensponsori suatu kegiatan lembaga dan/atau perseorangan hanya dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. tidak menggunakan nama merek dagang dan logo produk tembakau dan rokok elektronik termasuk citra merek produk tembakau dan rokok elektronik; dan
b. tidak bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau dan rokok elektronik.
Pasal 455 #Laporkan Penjelasan
Setiap Orang yang memproduksi dan I atau mengimpor produk tembakau dan rokok elektronik dapat memberikan bantuan dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. tidak menggunakan nama merek dagang dan logo produk tembakau dan rokok elektronik;
b. tidak bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau dan rokok elektronik;
c. tidak memberikan secara cuma-cuma, potongan harga, maupun hadiah produk tembakau dan rokok elektronik, atau produk terkait lainnya;
d. tidak diliput dan dipublikasikan oleh media; dan
e. tidak mengikutsertakan setiap orang di bawah usia 21 (dua puluh satu) tahun.
Pasal 456 #Laporkan Penjelasan
Setiap orang dilarang menyiarkan dan
Pasal 457 #Laporkan Penjelasan
Setiap Orang yang memproduksi dan I ata,u mengimpor produk tembakau dan rokok elektronik dilarang memberikan produk tembakau, rokok elektronik, dan/atau barang yang menyerupai produk tembakau dan rokok elektronik secara cuma-cuma kepada anak, remaja, dan perempuan hamil.
Pasal 458 #Laporkan Penjelasan
Setiap Orang dilarang
Pasal 459 #Laporkan Penjelasan
Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 454 sampai dengan Pasal 458 dikenai sanksi administratif oleh Menteri, menteri/pimpinan lembaga terkait, dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berupa:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. penghentian sementara kegiatan; dan/atau
d. pemutusan akses informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik.
Pasal 460 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab menyediakan layanan konseling dan intervensi farmakologi berhenti merokok di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(3) Layanan konseling dan intervensi farmakologi berhenti merokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menggunakan layanan Telekesehatan dan Telemedisin.
hlm. 197 OCRPasal 461 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat bertanggung jawab:
a. mengatur dan menyelenggarakan pengamanan produk tembakau dan rokok elektronik, termasuk menetapkan standardisasi perangkat rokok elektronik;
b. menyediakan akses terhadap informasi dan edukasi mengenai pengamanan produk tembakau dan rokok elektronik;
c. menyediakan layanan konseling dan intervensi farmakologi berhenti merokok;
d. melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan, termasuk survei perilaku merokok setiap tahun secara periodik;
e. melakukan upaya
f. melakukan advokasi dan kerja sama lintas program/ sektor, masyarakat, dan internasional.
a. mengatur dan menyelenggarakan pengamanan produk tembakau dan rokok elektronik, pada level daerah dengan mengacu pada kebijakan Pemerintah Pusat serta sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah;
b. menyediakan akses terhadap informasi dan edukasi mengenai pengamanan produk tembakau dan rokok elektronik di wilayah provinsi dan
c. menyediakan layanan konseling dan intervensi farmakologi berhenti merokok di wilayah provinsi dan kabupaten/kota;
d. melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan;
e. melakukan upaya pengembangan dalam rangka diversifikasi produk tembakau yang penggunaannya akan membawa manfaat bagi kesehatan dan melindungi kelestarian tanaman tembakau;
f. melakukan advokasi dan kerja sama lintas program/sektor dan masyarakat di wilayah provinsi dan kabupaten/kota;
hlm. 198 OCRg. mendorong partisipasi dan Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat untuk pengendalian konsumsi produk tembakau dan rokok elektronik di wilayah provinsi dan kabupaten/kota; dan
h. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan implementasi kawasan tanpa rokok dan pelarangan iklan, promosi, dan sponsor produk tembakau dan rokok elektronik.
Pasal 462 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan pengamanan produk tembakau dan rokok elektronik masyarakat dapat berperan:
a. memberikan edukasi bahaya mengonsumsi produk tembakau dan rokok elektronik bagi Kesehatan;
b. melakukan upaya layanan konseling berhenti merokok;
c. melakukan gerakan tidak merokok di dalam rumah;
d. tidak menjual produk tembakau dalam bentuk satuan perbatang;
e. tidak menjual kepada setiap orang di bawah usia 21 (dua puluh satu) tahun dan perempuan hamil;
f. melaporkan pelanggaran kawasan tanpa rokok kepada pejabat Pemerintah Daerah setempat yang berwenang dalam pelaksanaan kawasan tanpa rokok; dan
g. tidak menyediakan produk tembakau dan rokok elektronik pada kegiatan sosial, pendidikan, olahraga, musik, kepemudaan, dan kebudayaan yang melibatkan masyarakat umum.
Pasal 463 #Laporkan Penjelasan
Pencatatan dan pelaporan terhadap upaya pengamanan produk tembakau dan rokok elektronik, termasuk layanan konseling dan intervensi farmakologi berhenti merokok dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan masyarakat dengan menggunakan Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
hlm. 199 OCRBagian Kedua Puluh Dua Pelayanan Kedokteran untuk Kepentingan Hukum
Paragraf 1Umum
Pasal 464 #Laporkan Penjelasan
Setiap Orang berhak mendapatkan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum.
Pasal 465 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum.
Pasal 466 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum ditujukan untuk memperoleh fakta dan temuan yang dapat digunakan sebagai dasar dalam memberikan keterangan ahli.
Pasal 467 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum terdiri atas:
a. pelayanan kedokteran terhadap orang hidup; dan
b. pelayanan kedokteran terhadap orang mati.
(3) Pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
Pasal 468 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum dilakukan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang memenuhi persyaratan.
hlm. 200 OCR(2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. memiliki pelayanan kedokteran forensik dan medikolegal;
b. memiliki Pelayanan Kesehatan untuk korban kekerasan pada ora.ng hidup;
c. memiliki sarana, prasarana, dan peralatan kesehatan yang menunjang pelayanan; dan
d. memiliki standar prosedur operasional pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum.
(3) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Dalam hal terdapat kebutuhan pelayanan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat memberikan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum di tempat lain yang memenuhi persyaratan.
Pasal 469 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum dapat dilakukan dengan melibatkan peran serta masyarakat.
Paragraf 2Pelayanan Kedokteran Terhadap Orang Hidup
Pasal 470 #Laporkan Penjelasan
Pelayanan kedokteran terhadap orang hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 467 ayat (1) huruf a ditujukan untuk mengetahui:
a. keadaan dan sifat kecederaan;
b. penyebab kecederaan;
c. adanya kekerasan atau hubungan seksual;
d. dampak terhadap Kesehatan baik fisik maupun jiwa;
e. kecakapan hukum seseorang; dan/atau
f. temuan lain yang berhubungan dengan tindak pidana dan pelakunya.
Pasal 471 #Laporkan Penjelasan
Pelayanan kedokteran terhadap orang hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 470 dilakukan
a. korban kekerasan fisik;
b. korban kekerasan psikis atau psikologis;
c. korban kekerasan seksual;
d. korban penelantaran;
e. kasus lain.
hlm. 201 OCRParagraf 3Pelayanan Kedokteran Terhadap Orang Mati
Pasal 472 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan kedokteran terhadap orang mati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 467 ayat (1) huruf b dapat dilakukan melalui:
a. audit kematian;
b. autopsi verbal;
c. bedah mayat klinis;
d. bedah mayat forensik; dan/atau
e. pemeriksaan laboratorium dan autopsi virtual pascakematian.
(3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 473 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk kepentingan penegakan hukum dan administratif kependudukan, setiap orang yang mati harus diupayakan untuk diketahui sebab kematian dan identitasnya.
(2) Dalam rangka upaya penentuan identitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan upaya identifikasi mayat sesuai dengan standar.
Pasal 474 #Laporkan Penjelasan
Tindakan bedah mayat oleh Tenaga Medis harus dilakukan sesuai dengan norma
Pasal 475 #Laporkan Penjelasan
Pelaksanaan upaya penentuan sebab kematian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 473 ayat (1) dapat dipadukan dengan penelitian, pendidikan dan pelatihan, termasuk bedah mayat anatomis dan/atau bedah mayat klinis.
hlm. 202 OCRParagraf 4Bedah Mayat Anatomis
Pasal 476 #Laporkan Penjelasan
(1) Bedah mayat anatomis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 475 merupakan pemeriksaan bedah mayat dalam rangka pendidikan anatomi manusia.
(2) Bedah mayat anatomis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan terhadap:
a. mayat yang tidak dikenal atau mayat yang tidak diurus oleh keluarganya;
b. mayat atas persetujuan tertulis orang tersebut semasa hidupnya; atau
c. mayat atas persetujuan tertulis keluarganya, wali, atau pengampu.
(3) Mayat yang tidak dikenal sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Mayat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak boleh diperjualbelikan.
Paragraf 5Bedah Mayat Klinis
Pasal 477 #Laporkan Penjelasan
(1) Bedah mayat klinis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 475 merupakan pemeriksaan yang dilakukan dengan cara pembedahan terhadap mayat untuk mengetahui dengan pasti penyakit atau kelainan yang menjadi sebab kematian.
(2) Bedah mayat klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan permintaan tertulis Pasien saat masih hidup atau permintaan keluarga, wali, atau pengampu dari Pasien yang meninggal dunia.
(3) Bedah mayat klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga dapat dilakukan permintaan oleh dinas kesehatan setempat tanpa harus memperoleh persetujuan Pasien atau keluarga, wali, atau pengampu, jika Pasien diduga menderita penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB atau Wabah.
Pasal 478 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum bagi orang hidup dan orang mati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 470 sampai dengan Pasal 477 diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 203 OCRBagian Kedua Puluh Tiga Pelayanan Kesehatan Tradisional
Pasal 479 #Laporkan Penjelasan
Pelayanan Kesehatan tradisional merupakan Pelayanan Kesehatan yang dilakukan berdasarkan pada pengetahuan, keahlian, dan/atau nilai yang bersumber dari kearifan lokal.
Pasal 480 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 479 meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif,
(3) Pelayanan preventif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk pencegahan penyakit dan perawatan kesehatan melalui pemanfaatan Pelayanan Kesehatan tradisional.
(5) Pelayanan rehabilitatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk membantu mempercepat pemulihan Kesehatan melalui pemanfaatan Pelayanan Kesehatan tradisional.
(6) Pelayanan paliatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup melalui pemanfaatan Pelayanan Kesehatan tradisional.
Pasal 481 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan kesehatan tradisional dilakukan dengan menggunakan:
a. keterampilan; dan latau
b. ramuan.
a. teknik manual;
b. terapi olah pikir; dan
c. terapi energi.
hlm. 204 OCR(3) Pelayanan Kesehatan tradisional yang menggunakan ramuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, dan/atau bahan lain dari sumber daya alam dan harus berupa
Pasal 482 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan tradisional diselenggarakan secara terintegrasi dengan Pelayanan Kesehatan konvensional.
a. pemetaan penggunaan Pelayanan Kesehatan tradisional termasuk keuntungan dan risikonya;
b. promosi peran dan potensi Pelayanan Kesehatan tradisional;
c. penetapan kebijakan sumber daya manusia dan pembiayaan Pelayanan Kesehatan tradisional;
d. penetapan kebijakan tentang produk, praktik, dan praktisi pemberi Pelayanan Kesehatan tradisional; dan
e. penetapan alur kerja sama dan rujukan antara Pelayanan Kesehatan tradisional dengan Pelayanan Kesehatan konvensional dalam sistem Pelayanan Kesehatan.
Pasal 483 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka penyelenggaraan dan pengembangan Pelayanan Kesehatan tradisional yang terintegrasi dengan Pelayanan Kesehatan konvensional, Menteri:
a.
b. menetapkan persyaratan kelayakan praktik Kesehatan tradisional; dan
c. mengembangkan alur kerja sama dan
Pasal 484 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengembangan Pelayanan Kesehatan tradisional dilakukan melalui pengembangan produk, praktik, dan praktisi pemberi Pelayanan Kesehatan tradisional.
(3) Pengembangan praktik Pelayanan Kesehatan tradisional dilakukan melalui pemetaan, penelitian, registrasi, standarisasi, serta pembinaan dan pengawasan praktik.
(5) Pengembangan Pelayanan Kesehatan tradisional dapat dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, lembaga penelitian, lembaga pendidikan, dan/atau industri.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan Pelayanan Kesehatan tradisional diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 485 #Laporkan Penjelasan
Pelayanan Kesehatan tradisional dapat dilakukan di:
a. tempat praktik mandiri;
b. Puskesmas;
c. Rumah Sakit;
d. Fasilitas Pelayanan Kesehatan tradisional; dan
e. Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 486 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan tradisional diberikan oleh Tenaga Kesehatan tradisional.
hlm. 206 OCRPasal 487 #Laporkan Penjelasan
(1) Selain Tenaga Kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 486, Pelayanan Kesehatan tradisional juga dapat diberikan oleh penyehat tradisional dan tenaga lain yang memiliki kompetensi di bidang pelayanan Kesehatan tradisional.
(3) Penyehat tradisional yang memberikan Pelayanan Kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memiliki bukti pencatatan dari Menteri.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyehat tradisional dan tenaga lain yang memiliki kompetensi di bidang Pelayanan Kesehatan tradisional diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 488 #Laporkan Penjelasan
Pasal 489 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Kesehatan tradisional, penyehat tradisional, dan tenaga lain yang melakukan Pelayanan Kesehatan tradisional wajib:
a. menggunakan alat dan teknologi yang aman bagi Kesehatan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Menteri;
b. mengikuti alur kerja sama dan rujukan dengan Pelayanan Kesehatan konvensional di dalam sistem Kesehatan nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
c. memberikan pelayanan sesuai kompetensi dan kewenangannya.
hlm. 207 OCR(2) Tenaga Kesehatan tradisional, penyehat tradisional, dan tenaga lain yang memberikan Pelayanan Kesehatan tradisional dilarang melakukan publikasi dan iklan yang tidak sesuai dengan bukti ilmiah.
(3) Setiap penyehat tradisional yang melakukan Pelayanan Kesehatan tradisional dilarang memberikan dan/atau menggunakan Obat dan Bahan Obat serta bahan berbahaya, radiasi, invasif, dan menggunakan Alat Kesehatan / penunjang diagnostik kedokteran, tumbuhan, hewan, dan mineral yang dilarang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 490 #Laporkan Penjelasan
Setiap pelaksanaan kegiatan Pelayanan Kesehatan tradisional harus dilakukan pencatatan dan pelaporan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 491 #Laporkan Penjelasan
Pelayanan Kesehatan tradisional yang terintegrasi dengan Pelayanan Kesehatan konvensional dapat dibiayai melalui jaminan kesehatan nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 492 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mengatur dan mengawasi Pelayanan Kesehatan tradisional dengan didasarkan pada keamanan, manfaat, dan kualitas pelayanan dalam rangka pelindungan masyarakat.
(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis; dan/atau
c. pencabutan izin.
hlm. 208 OCRPasal 493 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melakukan koordinasi secara berkala dan berkelanjutan dalam pelaksanaan Pelayanan Kesehatan tradisional.
a.
b. penyelenggaraan dan fasilitasi pelaksanaan Pelayanan Kesehatan tradisional;
c. penyediaan Sumber Daya Kesehatan di bidang Kesehatan tradisional; dan
d. penyelenggaraan pemantauan dan penilaian kualitas Pelayanan Kesehatan tradisional.
(3) Pemerintah Daerah bertanggung jawab menjamin ketersediaan Pelayanan Kesehatan tradisional melalui:
a.
b. penyelenggaraan dan fasilitasi pelaksanaan Pelayanan Kesehatan tradisional;
c. penyediaan Sumber Daya Kesehatan di bidang Kesehatan tradisional;
d. penyelenggaraan pemantauan dan penilaian kualitas Pelayanan Kesehatan tradisional; dan
e. perizinan praktik Pelayanan Kesehatan tradisional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 494 #Laporkan Penjelasan
Masyarakat diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan, meningkatkan, dan menggunakan Pelayanan Kesehatan tradisional yang dapat dipertan ggun gj awabkan manfaat dan keamanannya.
hlm. 209 OCRBagian Kedua Puluh Empat Standar Pelayanan Kesehatan
Pasal 495 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap penyelenggaraan Upaya Kesehatan yang dilakukan melalui Pelayanan Kesehatan dilaksanakan sesuai dengan standar Pelayanan Kesehatan.
(2) Standar Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pedoman bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan.
Pasal 496 #Laporkan Penjelasan
Standar Pelayanan Kesehatan bertujuan untuk:
a. memberikan acuan bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan;
b. menjamin mutu Pelayanan Kesehatan; dan
c. memberikan pelindungan dan kepastian hukum bagi Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Pasien dalam penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan.
Pasal 497 #Laporkan Penjelasan
(1) Standar Pelayanan Kesehatan berupa:
a. standar Pelayanan Kesehatan nasional; dan
b. pedoman nasional pelayanan klinis.
Pasal 498 #Laporkan Penjelasan
(1)
a. pelayanan berpusat pada Pasien;
b. kebutuhan Pasien;
c. keselamatan Pasien;
d. pelayanan berkelanjutan; dan
e. etika profesi.
(2) Pelayanan berpusat pada Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan Pelayanan Kesehatan yang melibatkan hubungan antara Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, Pasien, dan keluarga untuk memastikan Pelayanan Kesehatan yang diberikan menghargai kebutuhan Pasien.
hlm. 210 OCR(3) Kebutuhan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan kebutuhan Pasien untuk mendapatkan Pelayanan Kesehatan sesuai dengan kebutuhan kesehatan Pasien.
(4) Keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan sistem yang membuat asuhan Pasien lebih aman.
(5) Pelayanan berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan pelayanan berkesinambungan yang dilakukan secara komprehensif di sepanjang siklus kehidupan serta diberikan dalam tempat yang berkesinambungan mencakup keluarga, komunitas, Pelayanan Kesehatan primer, dan Pelayanan Kesehatan lanjutan.
(6) Etika profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e merupakan seperangkat prinsip dan norma yang mengikat profesi dalam memberikan Pelayanan Kesehatan terbaik kepada Pasien.
Pasal 499 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam
a. panduan praktik klinis; dan
b. prosedur pemeriksaan atau tindakan.
(3) Standar prosedur operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(4) Panduan praktik klinis sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Panduan praktik klinis sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Prosedur pemeriksaan atau tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 500 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib memberikan Pelayanan Kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan standar Pelayanan Kesehatan.
(2) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam menyelenggarakan praktik wajib memberikan Pelayanan Kesehatan sesuai dengan standar Pelayanan Kesehatan.
(3) Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Tenaga Medis, dan Tenaga Kesehatan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. denda administratif;
d. pencabutan SIP; dan/atau
e. pencabutan perizinan berusaha.
(5) Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a sampai dengan huruf d diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kedua
Paragraf 1Umum
Pasal 501 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan dalam bentuk pelayanan diselenggarakan melalui:
a. Pelayanan Kesehatan primer; dan
b. Pelayanan Kesehatan lanjutan.
hlm. 212 OCRParagraf 2Pelayanan Kesehatan Primer
Pasal 502 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan primer merupakan Pelayanan Kesehatan yang terdekat dengan masyarakat sebagai kontak pertama Pelayanan Kesehatan.
a. pemenuhan kebutuhan Kesehatan dalam setiap fase kehidupan;
b. perbaikan determinan Kesehatan atau faktor yang mempengaruhi Kesehatan yang terdiri atas determinan sosial, ekonomi, komersial, dan lingkungan; dan
c. penguatan Kesehatan perseorangan, keluarga, dan masyarakat.
(3) Pemenuhan k'ebutuhan Kesehatan dalam setiap fase kehidupan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Perbaikan determinan Kesehatan atau faktor yang mempengaruhi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Perbaikan determinan Kesehatan atau faktor yang mempengaruhi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan dukungan dan komitmen Pemerintah
(6) Penguatan Kesehatan perseorangan, keluarga, dan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (21huruf c dilaksanakan untuk mengoptimalkan status Kesehatan dengan membangun kemandirian hidup sehat serta menguatkan peran sebagai mitra pembangunan Kesehatan dan pemberi asuhan untuk diri sendiri dan untuk orang lain.
Pasal 503 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan primer menyelenggarakan Upaya Kesehatan perseorangan dan Upaya Kesehatan masyarakat.
(2) Upaya Kesehatan perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan secara komprehensif meliputi promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif yang berdampak hanya kepada individu dengan pendekatan siklus hidup yang berkesinambungan.
(3) Upaya Kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan secara komprehensif meliputi promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif yang berdampak kepada masyarakat dengan pendekatan siklus hidup yang berkesinambungan.
Pasal 504 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan perseorangan yang bersifat promotif merupakan kegiatan untuk memampukan individu dalam mengendalikan dan meningkatkan kesehatannya.
(3) Upaya Kesehatan perseorangan yang bersifat preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit atau menghentikan penyakit dan mencegah komplikasi yang diakibatkan setelah timbulnya penyakit.
(4) Upaya Kesehatan perseorangan yang bersifat preventif dapat berupa imunisasi, deteksi dini, dan intervensi dini.
(6) Upaya Kesehatan perseorangan yang bersifat rehabilitatif bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi dan mengurangi disabilitas pada individu dengan masalah Kesehatan dalam interaksinya dengan lingkungannya.
(7) Upaya Kesehatan perseorangan yang bersifat rehabilitatif dapat berupa terapi wicara atau fisioterapi.
(8) Upaya Kesehatan perseorangan yang bersifat paliatif bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup Pasien dan keluarganya yang menghadapi masalah berkaitan dengan penyakit yang mengancam jiwa.
hlm. 214 OCR(9) Upaya Kesehatan perseorangan yang bersifat paliatif dapat berupa identifikasi dini, penilaian yang benar, pengobatan rasa sakit, dan penanganan masalah lain, baik fisik, psikososial, maupun spiritual.
Pasal 505 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan masyarakat yang bersifat promotif merupakan suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan untuk memampukan masyarakat dalam mengendalikan dan meningkatkan kesehatannya.
Pasal 506 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan masyarakat yang bersifat preventif merupakan suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah Kesehatan/penyakit untuk menghindari atau mengurangi risiko, masalah, dan dampak buruk akibat penyakit.
(2) Upaya Kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dilakukan melalui surveilans, pemantauan status dan permasalahan Kesehatan masyarakat, penanggulangan permasalahan yang ditemukan, serta kegiatan pencegahan penyakit atau permasalahan kesehatan lainnya.
Pasal 507 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan masyarakat yang bersifat kuratif merupakan kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk menghentikan atau mengendalikan penularan dan beban penyakit di masyarakat.
Pasal 508 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan masyarakat yang bersifat rehabilitatif merupakan kegiatan untuk membantu penyintas kembali ke masyarakat.
hlm. 215 OCRPasal 509 #Laporkan Penjelasan
Upaya Kesehatan masyarakat yang bersifat paliatif merupakan kegiatan untuk memampukan masyarakat atau komunitas dalam memberikan dukungan untuk meningkatkan kualitas hidup Pasien dan keluarganya yang menghadapi masalah berkaitan dengan penyakit yang mengancam jiwa.
Pasal 510 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan primer diselenggarakan melalui suatu sistem jejaring Pelayanan Kesehatan yang saling berkoordinasi dan bekerja sama.
(2) Puskesmas mengoordinasikan sistem jejaring Pelayanan Kesehatan primer di wilayah kerjanya.
(3) Sistem jejaring Pelayanan Kesehatan primer sebagaimana dimaksud pada ayat
a. struktur jejaring berbasis wilayah administratif;
b. struktur jejaring berbasis satuan pendidikan;
c. struktur jejaring berbasis tempat kerja;
d. struktur jejaring sistem rujukan; dan
e. struktur jejaring lintas sektor.
Pasal 511 #Laporkan Penjelasan
Struktur jejaring berbasis wilayah administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 510 ayat (3) huruf a memastikan tersedianya Pelayanan Kesehatan untuk seluruh masyarakat dengan menjamin tersedianya Pelayanan Kesehatan hingga tingkat desa/ kelurahan yang meliputi:
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan penunjang, baik milik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, maupun masyarakat;
b. unit Pelayanan Kesehatan di tingkat desa/kelurahan; dan
c. Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat, di dalam wilayah kerja
Pasal 512 #Laporkan Penjelasan
(1) Unit Pelayanan Kesehatan di tingkat desa/kelurahan mengoordinasikan urusan Kesehatan di desa/kelurahan termasuk pemberian Pelayanan Kesehatan dan partisipasi masyarakat.
(3) Pemberian Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Tenaga Kesehatan yang paling sedikit terdiri atas satu orang perawat dan satu orang bidan.
(4) Partisipasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh kader Kesehatan paling sedikit 2 (dua) orang yang ditugaskan oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Desa/ kelurahan.
(5) Dalam rangka menunjang tugas kader Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Unit Pelayanan Kesehatan di tingkat desa/kelurahan dilaksanakan sesuai standar pelayanan
Pasal 513 #Laporkan Penjelasan
(1) Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat merupakan wahana pemberdayaan masyarakat bidang Kesehatan yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola oleh, dari, untuk, dan bersama masyarakat, serta dapat difasilitasi oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,
(3) Pos pelayanan terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Pos pelayanan terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bertugas membantu kepala desa dalam peningkatan Pelayanan Kesehatan masyarakat desa.
(6) Pelayanan Kesehatan masyarakat desa sebagaimana dimaksud pada ayat (41termasuk:
a. Pelayanan Kesehatan seluruh siklus hidup sesuai standar yang ditetapkan oleh Menteri;
b. pemberian edukasi Kesehatan kepada masyarakat;
c. pemberdayaan
d. partisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan Kesehatan di desa/ kelurahan.
hlm. 217 OCRPasal 514 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka pelayanan sosial dasar bidang Kesehatan di pos pelayanan terpadu, dilakukan pembinaan teknis dan peningkatan kemampuan kader oleh unit Kesehatan di desa/ kelurahan dan Puskesmas.
Pasal 515 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan pelayanan sosial dasar bidang Kesehatan di pos pelayanan terpadu, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, atau Pemerintah Desa memberikan insentif kepada kader.
(2) Insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat bersumber dari anggaran Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau Pemerintah Desa.
(3) Pemberian insentif kepada kader yang bersumber dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau Pemerintah Desa tidak bersifat duplikatif.
(6) Besaran insentif lingkup desa ditetapkan oleh kepala desa.
(7) Dalam menetapkan besaran insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6), kepala daerah dan kepala desa mempertimbangkan tugas dan beban kerja kader.
Pasal 516 #Laporkan Penjelasan
Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam struktur jejaring berbasis wilayah administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 510 ayat (3) huruf a melakukan:
a. Pelayanan Kesehatan sesuai dengan standar; dan
b. penyampaian laporan pelayanan kepada Puskesmas di wilayah kerjanya melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 517 #Laporkan Penjelasan
Setiap unit Pelayanan Kesehatan dalam struktur jejaring berbasis wilayah administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 510 ayat (3) huruf a melakukan:
a. Pelayanan Kesehatan untuk seluruh siklus hidup sesuai standar; dan
hlm. 218 OCRb. penyampaian laporan pelayanan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 518 #Laporkan Penjelasan
(1) Struktur jejaring berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Pasal 519 #Laporkan Penjelasan
(1) Struktur jejaring berbasis tempat kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 510 ayat (3) huruf c mencakup semua tempat kerja di dalam wilayah kerja suatu Puskesmas.
(2) Tempat kerja dalam jejaring Pelayanan Kesehatan primer melakukan Pelayanan Kesehatan sesuai standar Kesehatan kerja.
Pasal 520 #Laporkan Penjelasan
(1) Struktur jejaring sistem rujukan sebagaimana dimaksud Pasal 510 ayat (3)
(3) Rujukan secara horizontal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan rujukan dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan perujuk ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan penerima rujukan yang sama tingkatan Pelayanan Kesehatannya, namun memiliki jenis kompetensi tertentu yang tidak dimiliki oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan perujuk.
(4) Rujuk balik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pelaksanaan rujukan terhadap Pasien yang telah selesai ditangani pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan penerima rujukan dan masih dibutuhkan perawatan lanjutan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang lebih rendah kompetensinya.
hlm. 219 OCR(5) Jejaring sistem rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberlakukan bagi penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan perseorangan berdasarkan kebutuhan medis Pasien dan
(6) Dalam menentukan rujukan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan primer dapat menggunakan Telemedisin.
Pasal 521 #Laporkan Penjelasan
(1) Struktur jejaring lintas sektor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 510 ayat (3) huruf e mencakup jejaring pemerintah di tingkat kecamatan, desa/kelurahan, dusun, rukun warga,
(2) Pelibatan jejaring lintas sektor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendukung Pelayanan Kesehatan.
Pasal 522 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Puskesmas, dan sistem jejaring Pelayanan Kesehatan primer dan masyarakat yang menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan primer harus melakukan pencatatan dan pelaporan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 523 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah Desa bertanggung jawab atas penyelenggaraan dan pembinaan Pelayanan Kesehatan primer.
a. penyusunan regulasi Pelayanan Kesehatan primer di daerah yang mengacu pada kebijakan nasional;
b. perencanaan dan pengalokasian anggaran Pelayanan Kesehatan primer di daerah;
c. penyediaan akses Pelayanan Kesehatan primer;
d. pemenuhan sumber daya dalam Pelayanan Kesehatan primer; dan
e. pelaporan Pelayanan Kesehatan primer skala daerah.
(3) Dalam melaksanakan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah Desa melakukan:
a. penggerakan dan fasilitasi partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan Kesehatan;
b. pemenuhan hlm. 220 OCR pemenuhan sumber daya termasuk kader dan anggaran desa dalam menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan primer; dan penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan primer di desa.
Pasal 524 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan primer, masyarakat berperan:
a. menerapkan kemandirian hidup sehat;
b. melakukan identifikasi permasalahan Kesehatan di masyarakat;
c. diseminasi Informasi Kesehatan; dan
d. mendukung kemudahan akses dalam jejaring Pelayanan Kesehatan.
(2) Dalam hal masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa badan usaha swasta, tanggung jawab atas penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan primer dapat dilakukan melalui:
a. kerja sama pemenuhan sarana prasarana dan pemenuhan Perbekalan Kesehatan yang terkait Pelayanan Kesehatan primer;
b. kerja sama peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia Kesehatan di Pelayanan Kesehatan primer;
c. kerja sama dukungan operasional pemberdayaan masyarakat; dan
d. kerja sama dalam diseminasi Informasi Kesehatan.
Pasal 525 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan primer dalam suatu sistem jejaring Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 10 dan kader sebagaimana dimaksud dalam Pasal 513 ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 3Laboratorium Kesehatan
Pasal 526 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan primer didukung dengan laboratorium Kesehatan.
(2) Laboratorium Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. laboratorium medis;
b. laboratorium Kesehatan masyarakat; dan
c. laboratorium lainnya yang ditetapkan oleh Menteri. b
hlm. 221 OCRPasal 527 #Laporkan Penjelasan
(1) Laboratorium medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 526 ayat (2) huruf a merupakan laboratorium yang melaksanakan fungsi pemeriksaan spesimen klinik untuk mendapatkan informasi tentang Kesehatan Pasien terkait dengan penegakan diagnosis, tata laksana, monitoring penyakit, prognosis, dan pencegahan penyakit yang dapat berpengaruh pada Kesehatan perorangan.
Pasal 528 #Laporkan Penjelasan
Laboratorium medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 526 ayat (2) huruf a dapat diselenggarakan oleh Pemerintah
Pasal 529 #Laporkan Penjelasan
(1) Laboratorium Kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 526 ayat (2) huruf b merupakan laboratorium yang melaksanakan pemeriksaan spesimen klinik dan pengujian sampel sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit serta peningkatan Kesehatan masyarakat.
a. pemeriksaan spesimen klinik;
b. pengujian sampel;
c. surveilans penyakit dan faktor risiko Kesehatan berbasis laboratorium serta respon KLB, Wabah, dan bencana;
d. pengelolaan dan analisis data laboratorium;
e. komunikasi dengan pemangku kepentingan;
f. penguatan kapasitas sumber daya manusia;
g. pengelolaan logistik khusus laboratorium;
h. penjaminan mutu laboratorium;
i. pengoordinasian jejaring laboratorium Kesehatan;
j. kerja sama dengan lembaga/institusi nasional dan/ atau internasional;
k. pengelolaan biobank dan/atau biorepositori;
1. analisis masalah Kesehatan masyarakat berbasis laboratorium;
m. pengembangan teknologi tepat guna; dan
n. perumusan rekomendasi kebijakan dan pengembangan program Kesehatan.
hlm. 222 OCRPasal 530 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab menyediakan dan menyelenggarakan laboratorium Kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 526 ayat
Pasal 531 #Laporkan Penjelasan
(1) Laboratorium Kesehatan masyarakat diselenggarakan secara berjenjang dalam 5 (lima) tingkatan, meliputi:
a. laboratorium Kesehatan masyarakat tingkat 1 (satu);
b. laboratorium Kesehatan masyarakat tingkat 2 (dua);
c. laboratorium Kesehatan masyarakat tingkat 3 (tiga);
d. laboratorium Kesehatan masyarakat tingkat 4 (empat); dan
e. laboratorium Kesehatan masyarakat tingkat 5 (lima).
(2) Laboratorium Kesehatan masyarakat tingkat 1 (satu) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan laboratorium Kesehatan masyarakat di Puskesmas atau laboratorium lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Laboratorium Kesehatan masyarakat tingkat 2 (dua) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan laboratorium Kesehatan masyarakat pada daerah kabupaten/kota.
(5) Laboratorium Kesehatan masyarakat tingkat 4 (empat) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan laboratorium Kesehatan masyarakat pada wilayah regional.
(6) Laboratorium Kesehatan masyarakat tingkat 5 (lima) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e merupakan laboratorium Kesehatan masyarakat nasional.
Pasal 532 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam melaksanakan fungsinya, laboratorium Kesehatan masyarakat dapat berjejaring dengan laboratorium medis, penyelenggara biobank dan/atau biorepositori, laboratorium Kesehatan lainnya, dan/atau laboratorium non-Kesehatan.
hlm. 223 OCRa. pemeriksaan spesimen klinik dan/atau pengujian sampel;
b. pemrosesan data dan informasi;
c. peningkatan kapasitas sumber daya manusia;
d. penjaminan mutu laboratorium Kesehatan;
e. penyelenggaraan biobank dan/atau biorepositori; dan/atau
f. bentuk kegiatan jejaring lainnya.
(3) Laboratorium Kesehatan masyarakat menjadi koordinator jejaring laboratorium Kesehatan di wilayahnya.
Pasal 533 #Laporkan Penjelasan
Pemrosesan data dan informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 532 ayat (2) huruf b dilakukan melalui sistem informasi laboratorium Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 534 #Laporkan Penjelasan
Dalam hal laboratorium Kesehatan dan laboratorium non-Kesehatan menemukan hasil pemeriksaan laboratorium yang berkaitan dengan penyakit yang berpotensi KLB atau Wabah, laboratorium Kesehatan dan laboratorium non-Kesehatan wajib melaporkan kepada kepala dinas kesehatan dalam waktu kurang dan 24 (dua puluh empat) jam sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 535 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan laboratorium Kesehatan harus didukung oleh sumber daya manusia, sarana, prasarana, serta peralatan.
(2) Laboratorium Kesehatan harus memenuhi standar keamanan dan keselamatan hayati.
Pasal 536 #Laporkan Penjelasan
(1) Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 535 ayat (1) terdiri atas tenaga manajerial dan tenaga teknis.
(3) Prasarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 535 ayat (1) paling sedikit terdiri atas:
a. sistem tata udara/ventilasi;
b. sistem pencahayaan;
c. sistem pengelolaan air, sanitasi, dan higiene;
d. sistem kelistrikan;
e. sistem pengelolaan limbah;
f. sistem komunikasi;
g. sistem proteksi petir;
h. sistem proteksi kebakaran; dan
i. sarana evakuasi serta keselamatan dan Kesehatan kerja.
(4) Peralatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 537 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyelenggaraan laboratorium Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 526 sampai dengan Pasal 536 diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 4Pelayanan Kesehatan Lanjutan
Pasal 538 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan lanjutan merupakan pelayanan spesialis dan/atau subspesialis yang mengedepankan pelayanan kuratif, rehabilitatif, dan paliatif tanpa mengabaikan promotif dan preventif.
Pasal 539 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam pengembangan Pelayanan Kesehatan lanjutan, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat dapat mengembangkan pusat pelayanan unggulan nasional yang berstandar internasional.
Bagian Kedua Puluh Enam Pelayanan Kesehatan di Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan serta Daerah Bermasalah Kesehatan atau Daerah Tidak Diminati
Pasal 540 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib menyediakan akses Pelayanan Kesehatan primer dan Pelayanan Kesehatan lanjutan di seluruh wilayah Indonesia.
Pasal 541 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan serta daerah bermasalah Kesehatan atau daerah tidak diminati diselenggarakan untuk meningkatkan aksesibilitas dan mutu Pelayanan Kesehatan melalui berbagai pendekatan dengan memperhatikan karakteristik masing-masing daerah, kebutuhan masyarakat setempat, dan permasalahan Kesehatan yang ada.
(3) Pendekatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. strategi Pelayanan Kesehatan;
b. penyediaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan atau pelimpahan kewenangan dalam Pelayanan Kesehatan; dan
c. penyediaan sarana dan prasarana, Sediaan Farmasi, dan Alat Kesehatan sesuai standar.
Pasal 542 #Laporkan Penjelasan
(1) Strategi Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 541 ayat (3) huruf a dilakukan dengan modifikasi Pelayanan Kesehatan.
hlm. 226 OCR(3) Modifikasi Pelayanan Kesehatan yang dilakukan di kawasan daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan, kawasan hutan, dan komunitas adat terpencil berupa:
a. Pelayanan Kesehatan bergerak;
b. Pelayanan Kesehatan gugus pulau;
c. Pelayanan Kesehatan berbasis Telekesehatan dan Telemedisin; dan
d. modifikasi Pelayanan Kesehatan lain.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai modifikasi Pelayanan Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 543 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan di kawasan daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan, kawasan hutan, dan komunitas adat terpencil harus dilakukan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang memiliki kompetensi dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 544 #Laporkan Penjelasan
Dalam hal Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan tidak tersedia, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah provinsi, atau Pemerintah Daerah kabupaten/ kota harus melakukan:
a. pemindahtugasan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan antarkabupaten/kota, atau antarkecamatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. pelatihan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan untuk kompetensi tambahan tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ; atau
c. pelimpahan wewenang untuk melakukan Pelayanan Kesehatan kepada Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang tersedia baik secara mandat maupun delegatif.
Pasal 545 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah
(2) Ketersediaan sarana, prasarana, dan Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mempertimbangkan:
a. kebutuhan Pelayanan Kesehatan;
b. ketersediaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan; dan
c. kesulitan geografis dan keterbatasan jejaring Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(3) Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Obat, bahan medis habis pakai, dan Alat Kesehatan baik jenis dan jumlah sesuai kebutuhan, termasuk alat kontrasepsi;
b. Obat untuk penyelamatan nyawa;
c. Perbekalan Kesehatan untuk skrining penyakit minimal sesuai dengan paket layanan pada Pelayanan Kesehatan primer;
d. Perbekalan Kesehatan dalam bentuk rapid test; dan
e. Perbekalan Kesehatan lain sesuai kebutuhan Pelayanan Kesehatan berdasarkan kondisi dan masalah Kesehatan masing-masing daerah termasuk daerah endemis.
(4) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara bertahap melakukan pembangunan infrastruktur jalan, perhubungan, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan untuk meningkatkan akses Pelayanan Kesehatan yang bermutu.
Pasal 546 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan kawasan daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan, kawasan hutan, dan komunitas adat terpencil dapat menerima distribusi Perbekalan Kesehatan dari dinas kesehatan kabupaten/kota melebihi kebutuhan Pelayanan Kesehatan dalam 1 (satu) bulan.
Pasal 547 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan di kawasan daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan,. kawasan hutan, dan komunitas adat terpencil wajib melakukan pencatatan dan pelaporan.
hlm. 228 OCRPasal 548 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di kawasan daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan, kawasan hutan, dan komunitas adat terpencil diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kedua Puluh Tujuh Pelayanan Kesehatan dengan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Paragraf 1Umum
Pasal 549 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan Upaya Kesehatan dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan tujuan memperluas akses dan meningkatkan mutu Pelayanan Kesehatan.
Pasal 550 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 549 ayat (1) dapat dilaksanakan melalui Telekesehatan dan Telemedisin.
(2) Telekesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas pemberian pelayanan klinis dan pelayanan nonklinis.
(3) Pemberian pelayanan klinis sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 551 #Laporkan Penjelasan
Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan melalui teknologi informasi dan komunikasi wajib menjalankan standar keamanan data dan sistem elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 229 OCRPasal 552 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap
(2)
Pasal 553 #Laporkan Penjelasan
(1) Sumber daya manusia dalam penyelengaraan Upaya Kesehatan berbasis teknologi informasi dan komunikasi, terdiri atas:
a. Tenaga Medis;
b. Tenaga Kesehatan; dan
c. Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan.
Pasal 554 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam mendukung penyelenggaraan Telekesehatan dan Telemedisin yang berkualitas, Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus menyediakan sarana, prasarana, dan/atau peralatan.
(2) Ruangan pelayanan untuk penyelenggaraan Telekesehatan dan Telemedisin dapat berdiri sendiri atau terintegrasi dengan ruangan Pelayanan Kesehatan lainnya.
(3) Penyediaan jaringan internet dan jaringan listrik sesuai standar kebutuhan layanan digital.
Pasal 555 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara Telekesehatan dan Telemedisin dalam memberikan pelayanan dapat menggunakan aplikasi.
(3) Penyelenggara Telekesehatan dan Telemedisin dapat mengembangkan dan menggunakan aplikasi mandiri ataupun menggunakan aplikasi milik pemerintah atau swasta.
hlm. 230 OCR(4) Dalam hal penyelenggaraan Telekesehatan dan Telemedisin menggunakan aplikasi yang dikembangkan secara mandiri, aplikasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Ketentuan mengenai registrasi aplikasi yang dikembangkan secara mandiri dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 556 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk mendukung terselenggaranya Upaya Kesehatan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab untuk menyediakan infrastruktur.
(2) Infrastruktur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi listrik, jaringan internet, dan infrastruktur lainnya guna mendukung terselenggaranya Upaya Kesehatan.
Paragraf 2Telekesehatan
Pasal 557 #Laporkan Penjelasan
(1) Telekesehatan merupakan Upaya Kesehatan dalam bentuk Pelayanan Kesehatan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi jarak jauh dengan pemberian pelayanan klinis dan nonklinis.
(2) Pemberian pelayanan klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan konsultasi klinis dan konsultasi hasil pemeriksaan penunjang.
(3) Pemberian pelayanan nonklinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif ,
a. sumber daya manusia;
b. sarana dan prasarana;
c. peralatan; dan
d. aplikasi.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan untuk penyelenggaraan Telekesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 231 OCRParagraf 3Telemedisin
Pasal 558 #Laporkan Penjelasan
(1)
a. antar-Fasilitas Pelayanan Kesehatan; dan
b. antara Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan masyarakat.
(3) Penyelenggaraan Telemedisin antara Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan Telemedisin yang dilaksanakan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan kepada perseorangan untuk kepentingan diagnosis, penatalaksanaan klinis, dan/atau pencegahan penyakit dan cedera.
(4) Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat secara mandiri menyelenggarakan Telemedisin atau bekerja sama dengan penyelenggara sistem elektronik yang terdaftar sesuai dengan ketentuan peraturan
(5) Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang dapat menyelenggarakan Telemedisin terdiri atas:
a. Rumah Sakit;
b. Puskesmas;
c. klinik;
d. praktik mandiri Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan;
e. laboratorium Kesehatan; dan
f. apotek.
(6) Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan Telemedisin harus memenuhi persyaratan yang meliputi:
a.
b. jenis pelayanan;
c. sumber daya manusia; dan
d. standar klinis.
hlm. 232 OCRPasal 559 #Laporkan Penjelasan
(1) Infrastruktur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 558 ayat (6) huruf a merupakan fasilitas yang diperlukan untuk mendukung terselenggaranya Telemedisin.
a. sarana;
b. prasarana; dan
c. perangkat.
(3) Sarana sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Perangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c meliputi perangkat lunak dan perangkat keras dalam mendukung penyelenggaraan Telemedisin.
(6) Sarana, prasarana, dan perangkat sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 560 #Laporkan Penjelasan
(1) Perangkat lunak sebagaimana dimaksud dalam pasal 559 ayat (5) merupakan aplikasi yang mendukung penyelenggaraan Telemedisin dengan sistem keamanan dan keselamatan data sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Dalam hal penyelenggaraan Telemedisin menggunakan aplikasi mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Registrasi aplikasi mandiri dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 233 OCRPasal 561 #Laporkan Penjelasan
(1) Jenis pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 558 ayat (6) huruf b, meliputi:
a. telekonsultasi;
b. telefarmasi; dan
c. pelayanan Telemedisin lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(2) Telekonsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan pelayanan konsultasi klinis jarak jauh untuk membantu menegakkan diagnosis dan/atau memberikan pertimbangan/ saran tata laksana.
(3) Telefarmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan pelayanan kefarmasian melalui penggunaan teknologi komunikasi dan sistem informasi kepada Pasien dalam jarak jauh.
(4) Pelayanan Telemedisin lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan semua pelayanan konsultasi dengan Telemedisin sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan Teknologi Kesehatan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis pelayanan yang dapat diselenggarakan pada penyelenggaraan Telemedisin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 562 #Laporkan Penjelasan
(1) Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 558 ayat (6) huruf c terdiri atas:
a. Tenaga Medis;
b. Tenaga Kesehatan; dan
c. Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai STR dan SIp dalam penyelenggaraan Telemedisin sebagaimana dimaksud pada ayat (21diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 563 #Laporkan Penjelasan
(1) Standar klinis sebagaimana dimaksud dalam pasal
a. standar prosedur operasional dan ruang lingkup pelayanan;
hlm. 234 OCRb. komunikasi antara pemberi pelayanan dengan Pasien; dan
c. kerahasiaan Pasien.
(2) Standar prosedur operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa prosedur pemberian pelayanan Telemedisin.
(3) Ruang lingkup pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan jenis pelayanan atau tindakan yang dapat diberikan melalui Telemedisin yang didasarkan pada standar profesi.
(4) Komunikasi antara pemberi pelayanan dengan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan kemampuan pemberi pelayanan dalam melakukan komunikasi dengan Pasien.
(5) Kerahasiaan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan kewajiban penyelenggara Telemedisin untuk memastikan data dan informasi Pasien terlindungi.
Pasal 564 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Telemedisin diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB IIIPENGELOLAAN TENAGA MEDIS DAN TENAGA KESEHATAN
Bagian KesatuPerencanaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 565 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam
a. jenis, kualifikasi, jumlah, pengadaan, dan distribusi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
b. penyelenggaraan
c. ketersediaan Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
d. keuangan negara atau daerah;
e. kondisi demografis, geografis, dan sosial budaya; dan
f. tipologi/jenis penyakit di daerah atau kebutuhan masyarakat.
hlm. 235 OCRPasal 566 #Laporkan Penjelasan
(1) Perencanaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diselenggarakan sebagai dasar pelaksanaan:
a. pengadaan;
b. pendayagunaan;
c. peningkatan mutu; dan
d. pengembangan karier Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan untuk menjamin keberlangsungan pembangunan Kesehatan.
(3) Perencanaan sebagai dasar pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan Pelayanan Kesehatan, ketersediaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, serta kondisi wilayah.
(4) Perencanaan sebagai dasar peningkatan mutu Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan dengan memperhatikan standar profesi, standar kompetensi, standar pelayanan, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(5) Perencanaan sebagai dasar pengembangan karier Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan dengan memperhatikan ketersediaan jenis dan syarat jabatan serta kompetensi.
Pasal 567 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri menetapkan kebijakan dan
(3) Perencanaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan secara nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 568 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Daerah wajib
Pasal 569 #Laporkan Penjelasan
Perencanaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dilakukan terhadap Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang melaksanakan pekerjaan keprofesian sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya yang bekerja pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau unit kerja milik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, atau masyarakat.
Pasal 570 #Laporkan Penjelasan
Perencanaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 567 ayat (1) dan Pasal 568 ayat (1) mengacu pada rencana induk bidang Kesehatan.
Pasal 571 #Laporkan Penjelasan
Perencanaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan disusun melalui pendekatan:
a. institusi; dan/atau
b. wilayah.
Pasal 572 #Laporkan Penjelasan
(1)
a. analisis beban kerja Kesehatan; dan/atau
b. standar ketenagaan minimal.
hlm. 237 OCR(2)
(3)
(4) Selain menggunakan metode sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam
Pasal 573 #Laporkan Penjelasan
(1)
(3) Perencanaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan melalui pendekatan wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan peninjauan kembali setiap tahun.
Pasal 574 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
Bagian KeduaPengadaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Paragraf 1Umum
Pasal 575 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengadaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(3) Pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. pendidikan akademik, yang terdiri atas program sarjana, magister, dan doktor;
b. pendidikan vokasi, yang terdiri atas program diploma tiga, diploma empat/sarjana terapan, magister terapan, dan doktor terapan; dan
c. pendidikan profesi, yang terdiri atas program profesi, spesialis, dan subspesialis.
(5) Tenaga Kesehatan memiliki kualifikasi pendidikan paling rendah diploma tiga.
Paragraf 2Penyelenggara Pendidikan Tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 576 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diselenggarakan oleh perguruan tinggi bekerja sama dengan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(2) Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang akan bekerja sama dengan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Menteri.
(3) Selain diselenggarakan oleh perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan program spesialis dan subspesialis juga dapat diselenggarakan oleh RSPPU bekerja sama dengan perguruan tinggi.
hlm. 239 OCRPasal 577 #Laporkan Penjelasan
(1) Kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 576 bertujuan untuk:
a. meningkatkan efektivitas, efisiensi, produktivitas, kreativitas, inovasi, mutu, dan relevansi pelaksanaan tridharma perguruan tinggi untuk meningkatkan daya saing bangsa;
b. meningkatkan sinkronisasi dan harmonisasi pelayanan pendidikan dan penelitian bidang Kesehatan; dan
c. memberikan kontribusi nyata untuk bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembangunan bidang Kesehatan di wilayahnya.
a. kerja sama akademik; dan
b. kerja sama nonakademik.
(3) Bentuk kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat
a. Pelayanan Kesehatan dalam suatu sistem Kesehatan akademik;
b. penjaminan mutu pendidikan tinggi bidang Kesehatan; dan
c.
Pasal 578 #Laporkan Penjelasan
(1) Ruang lingkup kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 577 dituangkan dalam perjanjian kerja sama.
(2) Perjanjian kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat hak dan kewajiban para pihak serta memperhatikan hak dan kewajiban peserta didik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 579 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 576 ayat (1) dan ayat (3) wajib memperoleh izin dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan setelah mendapatkan rekomendasi dari Menteri.
hlm. 240 OCR(3) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit meliputi:
a. studi kelayakan dan naskah akademik;
b. rencana strategis penyelenggaraan pendidikan tinggi;
c. pemenuhan standar nasional pendidikan tinggi;
d. kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 576 dengan Fasilitas Pelayanan Kesehatan bagi perguruan tinggi atau dengan perguruan tinggi bagi RSPPU; dan
e. sistem penjaminan mutu internal.
(4) Dalam hal penyelenggara pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
a. perguruan tinggi negeri badan hukum; atau
b. RSPPU tertentu yang memenuhi persyaratan tambahan, izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan untuk membuka program studi secara mandiri.
(5) Penyelenggaraan perguruan tinggi negeri badan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
(6) Persyaratan tambahan bagi RSPPU tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b meliputi:
a. penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang bermutu;
b. pemenuhan standar minimum kelayakan finansial; dan
c. pengelolaan organisasi berdasarkan prinsip tata kelola yang baik.
Pasal 580 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggara pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan harus memberikan manfaat dan berperan aktif dalam mendukung program untuk meningkatkan derajat Kesehatan masyarakat.
hlm. 241 OCRParagraf 3Standar dan Kurikulum Pendidikan Tinggi Tenaga Medis dan Tenaga
Kesehatan
Pasal 581 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan harus memenuhi standar nasional pendidikan tinggi.
(3) Standar kompetensi lulusan yang menjadi bagian dari standar nasional pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud pada
(4) Standar nasional pendidikan tinggi pada pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Standar nasional pendidikan tinggi pada pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disusun oleh penyelenggara pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan bersama Kolegium.
Paragraf 4Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 582 #Laporkan Penjelasan
(1) Seleksi penerimaan peserta didik pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dilaksanakan dengan prinsip:
a. objektif
hlm. 242 OCRa. objektif;
b. berbasis kompetensi dan prestasi;
c. transparan;
d. berorientasi pada kebutuhan; dan
e. berbasis teknologi yang terintegrasi dengan sistem informasi.
Pasal 583 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal seleksi penerimaan peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 582 ayat
(3) Penerimaan peserta didik pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan program spesialis/subspesialis sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Penerimaan peserta didik pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan program spesialis/subspesialis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat mempertimbangkan afirmasi untuk pemerataan distribusi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan spesialis/ subspesialis.
Pasal 584 #Laporkan Penjelasan
(1) Peserta didik pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan program spesialis / subspesialis didayagunakan dan diangkat sebagai pegawai pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau RSPPU penyelenggara pendidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 243 OCR(3) Peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan imbalan jasa pelayanan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau RSPPU penyelen ggara pendidikan.
(4) Dalam hal peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan peserta didik tahap akhir maka pendayagunaan dapat dilakukan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain yang membutuhkan.
(5) Selain menerima imbalan jasa pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), peserta didik yang ditempatkan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (4)juga dapat menerima insentif.
Pasal 585 #Laporkan Penjelasan
Pelaksanaan pendayagunaan peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 584 mengacu pada perencanaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 567 ayat (1).
Pasal 586 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pendayagunaan peserta didik pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan program spesialis / subspesialis diatur dengan Peraturan Menteri setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara.
Paragraf 5Pembinaan, Pengawasan, dan Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Tenaga
Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 587 #Laporkan Penjelasan
(1) Pembinaan dan pengawasan terhadap pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dilaksanakan melalui:
a. advokasi, sosialisasi, dan bimbingan teknis; dan
b. monitoring dan evaluasi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan terhadap pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan dan Peraturan Menteri sesuai dengan kewenangan masing-masing.
Pasal 588 #Laporkan Penjelasan
(1) Penjaminan mutu pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dilaksanakan melalui sistem penjaminan mutu.
(3) Sistem penjaminan mutu internal sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 589 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyelenggaraan pendidikan oleh RSPPU diatur dengan Peraturan Menteri setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan.
Paragraf 6
Pasal 590 #Laporkan Penjelasan
(1) Peserta didik yang menyelesaikan pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan berhak mendapatkan:
a. ijazah dan gelar untuk diploma tiga, sarjana, dan diploma empat/ sarjana terapan; atau
b. Sertifikat Profesi dan gelar untuk pendidikan profesi.
(3) Dalam hal pendidikan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan program spesialis/subspesialis, Sertifikat Profesi dan gelar diberikan oleh perguruan tinggi bersama dengan mitra Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau RSPPU bersama dengan mitra perguruan tinggi.
Pasal 591 #Laporkan Penjelasan
(1) Peserta didik pada pendidikan vokasi dan pendidikan profesi harus mengikuti uji kompetensi secara nasional.
(3) Uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(4) Dalam hal Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan tidak memiliki Kolegium, uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan oleh penyelenggara pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(5) Uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan berdasarkan standar prosedur operasional yang ditetapkan bersama oleh Menteri dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan.
Pasal 592 #Laporkan Penjelasan
(1) Peserta didik pendidikan vokasi yang lulus uji kompetensi pada akhir masa pendidikan memperoleh Sertifikat Kompetensi.
(3) Sertifikat Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diterbitkan oleh penyelenggara pendidikan bekerja sama dengan Kolegium.
(4) Sertifikat Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk program pendidikan spesialis dan subspesialis diterbitkan oleh Kolegium.
hlm. 246 OCRPasal 593 #Laporkan Penjelasan
(1) Peserta didik yang telah lulus uji kompetensi wajib mengangkat sumpah profesi sebagai pertanggungjawaban moral kepada
(2) Sumpah profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh penyelenggara pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sumpah profesi sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 594 #Laporkan Penjelasan
(1) Lulusan pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang telah memiliki Sertifikat Kompetensi dan/atau Sertifikat Profesi dapat diberikan STR atau pembaharuan STR oleh Konsil atas nama Menteri yang berlaku seumur hidup.
Paragraf 7Internsip Tenaga Medis dan Pendayagunaan
Peserta Didik Program Spesialis Tenaga Medis
Pasal 595 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis yang telah mengangkat sumpah profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 593 wajib mengikuti program internsip yang merupakan penempatan wajib sementara pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut.
(3) Rumah Sakit dan
Pasal 596 #Laporkan Penjelasan
(1) Program internsip sebagaimana dimaksud dalam Pasal 595 ayat (1) bertujuan untuk pemantapan, pemahiran, dan pemandirian.
hlm. 247 OCRPasal 597 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara Indonesia yang lulus program profesi dokter atau dokter gigi dalam negeri dan luar negeri wajib mengikuti program internsip.
(3) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyelesaikan internsip sebelum melaksanakan praktik keprofesiannya.
Pasal 598 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Medis yang telah menyelesaikan program internsip diberikan surat tanda selesai internsip.
Pasal 599 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Medis yang mengikuti program internsip wajib:
a. bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia;
b. bekerja sesuai dengan standar kompetensi, standar pelayanan, dan standar profesi;
c. mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh selama pendidikan dan mengaplikasikannya dalam Pelayanan Kesehatan;
d. mengembangkan keterampilan praktik kedokteran Pelayanan Kesehatan primer yang menekankan pada upaya promotif dan preventif;
e. bekerja dalam batas kewenangan klinis, mematuhi peraturan internal Fasilitas Pelayanan Kesehatan, serta ketentuan hukum dan etika; dan
f. berperan aktif dalam tim Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
hlm. 248 OCRPasal 600 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Medis yang mengikuti program internsip berhak mendapatkan:
a. bantuan biaya hidup dasar, transportasi, dan/atau tunjangan;
b. pelindungan hukum sepanjang mematuhi standar profesi dan standar pelayanan;
c. pendampingan dari dokter atau dokter gigi; dan
d. fasilitas tempat tinggal.
Pasal 601 #Laporkan Penjelasan
(1) Biaya penyelenggaraan program internsip dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja negara.
Pasal 602 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan program internsip dokter atau dokter gigi berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan dan Konsil.
Pasal 603 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal Tenaga Medis yang mengikuti program internsip melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 599, Menteri mengenakan sanksi administratif.
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis; dan/atau
c. rekomendasi penundaan penerbitan STR.
Pasal 604 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan program internsip diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 249 OCRParagraf 8Sumber Daya Manusia dalam Pendidikan
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 605 #Laporkan Penjelasan
(1) Sumber daya manusia dalam pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan terdiri atas:
a. pendidik dan tenaga kependidikan yang bukan merupakan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
b. Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
c. peneliti dan/atau perekayasa; dan
d. tenaga lain sesuai dengan kebutuhan.
(2) Pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
(3) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan baik sebagai pendidik klinis maupun bukan pendidik klinis.
(4) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagai pendidik klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memberikan Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang bermitra dengan perguruan tinggi atau RSPPU dan menjalankan tugas pendidikan, serta dapat melaksanakan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat.
(5) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan bukan pendidik klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang memberikan Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang bermitra dengan
Pasal 606 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagai pendidik klinis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 605 ayat (3) dapat memiliki jenjang jabatan akademik sampai dengan jabatan profesor setelah memenuhi persyaratan.
Pasal 607 #Laporkan Penjelasan
(1) Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 605 ayat (1) mendapatkan kesetaraan pengakuan atas pekerjaannya dalam proses pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam pengembangan kariernya.
hlm. 250 OCR(2) Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditugaskan untuk melaksanakan pekerjaannya secara fleksibel antarpenyelenggara pendidikan tinggi dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(3) Pelaksanaan pekerjaan secara fleksibel sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 608 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan mengenai dosen, tenaga kependidikan, peneliti, dan perekayasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 605 dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 9Bantuan Pendanaan Pendidikan
Pasal 609 #Laporkan Penjelasan
(1) Bantuan pendanaan pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diberikan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
(2) Bantuan pendanaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan sesuai dengan kebijakan perencanaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(3) Bantuan pendanaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (21diberikan kepada Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dengan mempertimbangkan:
a.
b. kebutuhan program;
c. ketersediaan alokasi anggaran; dan
d. mekanisme
Pasal 610 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang menerima bantuan pendanaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 609 ayat (1) wajib melaksanakan masa pengabdian pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang ditunjuk setelah menyelesaikan pendidikan.
hlm. 251 OCR(2) Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan untuk:
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan;
b. Fasilitas Pelayanan Kesehatan di daerah bermasalah Kesehatan; dan/atau
c. Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang memerlukan Pelayanan Kesehatan termasuk pelayanan spesialistik dan subspesialistik.
(3) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang melaksanakan masa pengabdian pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan milik pemerintah diangkat sebagai aparatur sipil negara oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Jangka waktu masa pengabdian diperhitungkan sebagai masa kerja dan diakui sebagai pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(6) Pemerintah Daerah wajib menyediakan sumber daya dalam pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5).
(8) Ketentuan lebih lanjut mengenai bantuan pendanaan pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 611 #Laporkan Penjelasan
(1) Bantuan pendanaan pendidikan dapat diberikan oleh masyarakat.
hlm. 252 OCRPasal 612 #Laporkan Penjelasan
Menteri, gubernur, dan bupati/wali kota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan bantuan pendanaan pendidikan sesuai dengan kewenangannya.
Paragraf 10Pendanaan Pendidikan
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 613 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendanaan Pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, penyelenggara pendidikan tinggi, Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang melaksanakan pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, dan masyarakat.
(3) Dalam hal peserta didik pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan menerima bantuan pendanaan pendidikan dari Pemerintah Pusat:
a. pendanaan penyelenggaraan pendidikan pada pergurua.n tinggi berasal dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan; dan
b. pendanaan penyelenggaraan pendidikan pada Rumah Sakit pendidikan dan RSPPU berasal dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.
hlm. 253 OCR(4) Dalam hal peserta didik pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan menerima bantuan pendanaan pendidikan dari Pemerintah Daerah, pendanaan penyelenggaraan pendidikan baik pada perguruan tinggi, Rumah Sakit pendidikan, maupun RSPPU berasal dari Pemerintah Daerah.
(5) Dalam hal peserta didik pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan tidak menerima bantuan pendanaan pendidikan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan membayar pendidikan secara mandiri, peserta didik membayar biaya pendidikan kepada:
a. perguruan tinggi dan mitra Rumah Sakit Pendidikan; atau
b. RSPPU dan mitra perguruan tinggi.
Paragraf 1 1 Peningkatan Kompetensi secara Berkelanjutan
Pasal 614 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan untuk mengembangkan keprofesiannya.
Pasal 615 #Laporkan Penjelasan
(1) Peningkatan kualifikasi pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 614 ayat (2) diselenggarakan pada penyelenggara pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
Pasal 616 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai peningkatan kompetensi secara berkelanjutan diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 254 OCRBagian KetigaPendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Paragraf 1Umum
Pasal 617 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dilakukan oleh Pemerintah
(2) Pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas pendayagunaan di dalam negeri dan luar negeri.
(3) Pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan aspek pemerataan, pemanfaatan, dan/ atau pengembangan.
Paragraf 2Insentif atau Disinsentif
Pasal 618 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Daerah kabupaten/kota wajib memenuhi kebutuhan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan untuk Pelayanan Kesehatan primer di Puskesmas dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama lainnya milik Pemerintah Daerah berdasarkan ketentuan peraturan
Pasal 619 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 618, Pemerintah Pusat dapat memberikan insentif atau disinsentif kepada Pemerintah Daerah.
hlm. 255 OCRPasal 620 #Laporkan Penjelasan
Pemberian insentif atau disinsentif kepada Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 619 dilaksanakan sesuai dengan kriteria dan memperhatikan aspek pemerataan, transparansi, akuntabilitas, dan efisien.
Pasal 62 1 #Laporkan Penjelasan
(1) Ketentuan mengenai kriteria pemberian insentif atau disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 620 diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara setelah berkoordinasi dengan Menteri.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian insentif atau disinsentif kepada Pemerintah Daerah diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 3Penugasan Khusus
Pasal 622 #Laporkan Penjelasan
(1) Penugasan khusus Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan merupakan pendayagunaan secara khusus Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam kurun waktu tertentu guna meningkatkan akses dan mutu Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan di daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan, serta daerah bermasalah Kesehatan dan Rumah Sakit pemerintah yang memerlukan pelayanan medik spesialis, serta memenuhi kebutuhan Pelayanan Kesehatan lain oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(3) Penugasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/wali kota sesuai perencanaan nasional dengan memperhatikan kebutuhan Pelayanan Kesehatan, ketersediaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, serta memperhatikan daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan.
hlm. 256 OCR(4) Menteri menetapkan jenis Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang menjadi prioritas, kriteria, dan penetapan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menjadi lokasi penugasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(5) Penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) menjadi acuan bagi gubernur atau bupati/wali kota dalam melakukan penugasan khusus.
Pasal 623 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka penugasan khusus Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, Pemerintah Daerah wajib menyediakan Alat Kesehatan, Sediaan Farmasi, serta sarana dan prasarana sesuai dengan Pelayanan Kesehatan yang diperlukan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan fasilitas lainnya sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing.
Pasal 624 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang didayagunakan melalui penugasan khusus berhak:
a. memperoleh penghasilan;
b. memperoleh jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, dan jaminan kematian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ;
c. memperoleh cuti;
d. menjalankan praktik perseorangan sepanjang dilaksanakan di luar jam
e. memperoleh surat keterangan selesai melaksanakan penugasan khusus;
f. memperoleh jaminan keamanan; dan
g. memperoleh hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 257 OCRPasal 625 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelenggaraan penugasan khusus Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 4Penempatan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 626 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka pemerataan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sesuai dengan kebutuhan Pelayanan Kesehatan, Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah dapat memanfaatkan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan lulusan dari penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat atau masyarakat untuk mengikuti seleksi penempatan.
(2) Penempatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 566.
(3) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang telah lulus seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan milik Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah untuk jangka waktu tertentu.
a. pemenuhan kebutuhan insentif;
b. jaminan keamanan serta keselamatan kerja;
c. daerah yang memiliki kekurangan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
d. kebutuhan Pelayanan Kesehatan; dan
e. Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penempatan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 5Pemindahtugasan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 627 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang diangkat oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah dapat dipindahtugaskan antarprovinsi, antarkabupaten, atau antarkota karena alasan kebutuhan Fasilitas Pelayanan Kesehatan
(3) Pemindahtugasan karena alasan promosi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan kinerja Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(4) Pemindahtugasan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang berstatus aparatur sipil negara melalui penugasan atau mutasi dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang dipindahtugaskan diberikan kompensasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 628 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 627 ayat (1) yang bertugas di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan serta daerah bermasalah Kesehatan atau daerah tidak diminati memperoleh tunjangan atau insentif khusus, jaminan keamanan, dukungan sarana prasarana dan Alat Kesehatan, kenaikan pangkat luar biasa, dan pelindungan dalam pelaksanaan tugas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menetapkan jenis dan besaran tunjangan atau insentif bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang ditugaskan pada daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan serta daerah bermasalah Kesehatan atau daerah tidak diminati.
(4) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberikan tunjangan atau insentif khusus, jaminan keamanan, dukungan sarana prasarana dan Alat Kesehatan dan perlindungan dalam pelaksanaan tugas di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan serta daerah bermasalah Kesehatan atau daerah tidak diminati.
hlm. 259 OCR(5) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang memenuhi kinerja dan kriteria tertentu saat bertugas di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan serta daerah bermasalah Kesehatan atau daerah tidak diminati diberikan kenaikan pangkat luar biasa.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemenuhan kinerja dan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 629 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab pada pemenuhan kebutuhan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang mengalami kekosongan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(3) Pemberian Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat
Paragraf 6Penempatan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Dalam Kondisi Tertentu
Pasal 630 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam kondisi tertentu terdapat kekurangan Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan, Menteri berwenang mengatur penempatan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan lulusan penyelenggara pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(3) Penempatan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu.
(4) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada
Pasal 631 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan penempatan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan lulusan penyelenggara pendidikan dalam kondisi tertentu terdapat kekurangan Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 630 diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 7Pola Ikatan Dinas bagi Calon Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 632 #Laporkan Penjelasan
(1) Pola ikatan dinas ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah, badan usaha, atau masyarakat bagi calon Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(3) Pola ikatan dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberlakukan kepada calon Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang mendapatkan:
a. subsidi biaya pendidikan;
b. bantuan biaya pendidikan/beasiswa; dan latau
c. pengangkatan sebagai pegawai.
(5) Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, badan usaha, atau masyarakat yang menetapkan pola ikatan dinas wajib mendayagunakan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan memperhatikan gaji/upah, imbalan jasa, dan tunjangan kinerja yang layak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 8Pendayagunaan Tenaga Cadangan Kesehatan
untuk Penanggulangan KLB, Wabah, dan Darurat Bencana
Pasal 633 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat membentuk tenaga cadangan Kesehatan untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia Kesehatan dan mendukung ketahanan Kesehatan.
(3) Tenaga cadangan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan non-Tenaga Kesehatan yang dipersiapkan untuk dimobilisasi pada penanggulangan KLB, Wabah, dan darurat bencana.
(4) Tenaga cadangan Kesehatan berupa non-Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berasal dari non-Tenaga Kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan terkait dengan penanggulangan KLB, Wabah, dan darurat bencana.
(5) Selain dipersiapkan untuk dimobilisasi pada penanggulangan KLB, Wabah, dan darurat bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (3), tenaga cadangan Kesehatan dapat dipersiapkan untuk kondisi kedaruratan Kesehatan lainnya.
(6) Tenaga cadangan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk tim dan/atau perseorangan.
hlm. 262 OCRPasal 634 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengelolaan tenaga cadangan Kesehatan dilakukan melalui:
a. pendaftaran dan kredensial dengan memanfaatkan teknologi informasi yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional;
b. pembinaan dan peningkatan kapasitas tenaga cadangan Kesehatan; dan
c. pelaksanaan mobilisasi.
(3) Pendaftaran secara penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Kredensial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dilakukan untuk menilai pemenuhan persyaratan calon tenaga cadangan Kesehatan yang telah melakukan pendaftaran.
(5) Pembinaan dan peningkatan kapasitas tenaga cadangan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing.
(6) Pembinaan dan peningkatan kapasitas tenaga cadangan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditujukan untuk menghasilkan tenaga cadangan Kesehatan yang kompeten dan siap untuk dimobilisasi pada penanggulangan KLB, Wabah, dan darurat bencana serta kedaruratan Kesehatan lainnya.
a. kejadian KLB, Wabah, dan darurat bencana serta kedaruratan Kesehatan lainnya di tingkat nasional, provinsi, atau kabupaten/ kota;
b. rekomendasi kebutuhan penanggulangan KLB, Wabah, dan darurat bencana serta kedaruratan Kesehatan lainnya; dan
hlm. 263 OCRc. keamanan dan keselamatan dalam menjalankan tugasnya.
Pasal 635 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengelolaan tenaga cadangan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 634 dilakukan melalui sistem informasi tenaga cadangan Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 636 #Laporkan Penjelasan
Dalam pelaksanaan mobilisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 634 ayat (1) huruf c, tenaga cadangan Kesehatan mendapatkan jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 637 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melakukan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi perkembangan program tenaga cadangan Kesehatan baik sebelum, pada saat, maupun pasca-KlB, Wabah, dan darurat bencana serta kedaruratan Kesehatan lainnya.
Pasal 638 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme pendayagunaan tenaga cadangan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 633 sampai dengan Pasal 637 diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 9Pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Warga Negara Indonesia ke Luar Negeri
Pasal 639 #Laporkan Penjelasan
Pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara Indonesia ke luar negeri bertujuan untuk:
a. mendorong adanya alih ilmu pengetahuan, keterampilan, dan teknologi;
b. meningkatkan profesionalisme, daya saing, dan jejaring di tingkat internasional; dan
c. memperluas lapangan kerja sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
hlm. 264 OCRPasal 640 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara Indonesia ke luar negeri dapat dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan di Indonesia serta peluang kerja bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara Indonesia di luar negeri.
(3) Pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara Indonesia ke luar negeri dilaksanakan oleh Pemerintah
Pasal 64 1 #Laporkan Penjelasan
Pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara Indonesia ke luar negeri dapat dilakukan melalui kegiatan:
a. bakti sosial;
b. peningkatan kompetensi; dan/atau
c. penempatan sebagai pekerja migran Indonesia bidang Kesehatan.
Pasal 642 #Laporkan Penjelasan
(1) Bakti sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 641 huruf a dilaksanakan berdasarkan:
a. rasa kemanusiaan;
b. kemitraan;
c. kesetaraan gender;
d. nondiskriminasi;
e. netralitas;
f. cerminan kehidupan berbangsa dan bernegara; dan
g. menghormati kearifan lokal.
a. bakti sosial pada keadaan normal; atau
b. bakti sosial pada keadaan bencana.
(3) Bakti sosial sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 643 #Laporkan Penjelasan
Peningkatan kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 641 huruf b dilaksanakan dalam rangka peningkatan daya saing.
hlm. 265 OCRPasal 644 #Laporkan Penjelasan
Penempatan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagai pekerja migran Indonesia bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 641 huruf c harus memenuhi:
a. persyaratan ketenagakerjaan;
b. persyaratan teknis bidang Kesehatan; dan
c. persyaratan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan negara tujuan penempatan.
Pasal 645 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat memfasilitasi pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara Indonesia ke luar negeri melalui:
a.
b. pemberian pendampingan dan pemantauan selama didayagunakan; dan
c. pemanfaatan
Pasal 646 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat yang melakukan pendayagunaan menjamin dan memberikan pelindungan kepada Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang didayagunakan ke luar negeri.
Pasal 647 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat memfasilitasi pendayagunaan kembali Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
(2) Fasilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui pemanfaatan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam rangka penguatan sistem Kesehatan nasional.
Pasal 648 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan kegiatan pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara Indonesia ke luar negeri diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 266 OCRParagraf
Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri
Pasal 649 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri yang akan melaksanakan praktik di Indonesia harus mengikuti evaluasi kompetensi.
(3) Evaluasi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri dengan melibatkan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan, Konsil, dan Kolegium.
Pasal 650 #Laporkan Penjelasan
(1) Evaluasi Kompetensi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 649 ayat (1), meliputi:
a. penilaian kelengkapan administratif; dan
b. penilaian kemampuan praktik melalui uji kompetensi.
(2) Hasil penilaian kelengkapan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa:
a. lengkap; atau
b. tidak lengkap.
(3) Dalam hal hasil penilaian kelengkapan administratif dinyatakan lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri mengikuti uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b.
(4) Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa:
a. kompeten; atau
b. belum kompeten.
(5) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri yang dinyatakan kompeten sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a diberikan Sertifikat Kompetensi oleh Kolegium.
hlm. 267 OCRPasal 651 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri yang dinyatakan kompeten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 650 ayat (5) harus mengikuti adaptasi.
(3) Adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang ditetapkan oleh Menteri.
(4) Adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 652 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri yang dinyatakan belum kompeten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 650 ayat
(3) Penambahan kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Dalam rangka pelaksanaan penambahan kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri diberikan surat tugas penambahan kompetensi yang dikeluarkan oleh Menteri.
Pasal 653 #Laporkan Penjelasan
(1) Ketentuan penilaian kemampuan praktik melalui uji kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 650 ayat (1) huruf b dikecualikan bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri yang:
a. merupakan lulusan dari penyelenggara pendidikan di
b.
(3) Penilaian kemampuan praktik bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri sebagaimana di maksud pada ayat (1) berupa penilaian portofolio.
(4) Hasil penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa:
a. kompeten; atau
b. belum kompeten.
(5) Dalam hal hasil penilaian portofolio dinyatakan kompeten sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Dalam hal hasil penilaian portofolio dinyatakan belum kompeten sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 654 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri yang telah menyelesaikan evaluasi kompetensi dan akan melaksanakan praktik di Indonesia harus memiliki STR dan SIP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 655 #Laporkan Penjelasan
(1) Masa adaptasi dan penambahan kompetensi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 651 dan Pasal 652 dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pendayagunaan.
(3) Menteri mengatur penempatan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri selama mengikuti adaptasi dan penambahan kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(4) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri yang didayagunakan selama mengikuti adaptasi dan penambahan kompetensi dapat diberikan insentif dan hak lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan oleh Menteri setelah mendapatkan persetujuan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara.
(6) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri yang telah menyelesaikan adaptasi dapat didayagunakan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang membutuhkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 656 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan evaluasi kompetensi dilaksanakan dengan menggunakan Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 657 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi kompetensi dan tata cara pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 11Pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Warga Negara Asing
Pasal 658 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara asing terdiri atas:
a. lulusan dalam negeri; atau
b. lulusan luar negeri.
Pasal 659 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Dalam Negeri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 660 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Dalam Negeri hanya dapat melakukan praktik atas permintaan dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan pengguna dengan batasan waktu tertentu.
(2) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Dalam Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dapat melaksanakan praktik di Indonesia hanya berlaku untuk Tenaga Medis spesialis dan subspesialis serta Tenaga Kesehatan tingkat kompetensi tertentu.
(3) Tenaga Kesehatan tingkat kompetensi tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (21 merupakan Tenaga Kesehatan yang memiliki kualifikasi setara dengan level 8 (delapan) kerangka kualifikasi nasional Indonesia.
(4) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Dalam Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang menyelenggarakan praktik secara mandiri dan wajib mematuhi ketentuan tentang praktik keprofesian yang berlaku di Indonesia.
(5) Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3), Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Dalam Negeri yang akan melaksanakan praktik di Indonesia wajib memenuhi persyaratan ketenagakerjaan dan persyaratan teknis bidang Kesehatan serta persyaratan lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 661 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 658 ayat (1) huruf b yang dapat melaksanakan praktik di lndonesia hanya berlaku untuk Tenaga Medis spesialis dan subspesialis serta Tenaga Kesehatan tingkat kompetensi tertentu setelah mengikuti evaluasi kompetensi.
hlm. 271 OCR(3) Dalam kondisi tertentu, Menteri dapat menetapkan pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri dengan kualifikasi selain sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 662 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri yang melaksanakan praktik di Indonesia merupakan bagian dari pendayagunaan.
(2) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memiliki pengalaman praktik keprofesian paling singkat 3 (tiga) tahun sesuai dengan kompetensi di bidang keprofesiannya.
(3) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan praktik pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia dengan ketentuan:
a. terdapat permintaan dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan pengguna Tenaga Medis spesialis dan subspesialis serta Tenaga Kesehatan tingkat kompetensi tertentu warga negara asing lulusan luar negeri sesuai dengan kebutuhan;
b. untuk alih teknologi dan ilmu pengetahuan; dan
c. untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali hanya untuk 2 (dua) tahun berikutnya.
(4) Selain memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri juga harus memenuhi persyaratan ketenagakerjaan dan persyaratan teknis bidang Kesehatan serta persyaratan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib memfasilitasi pelatihan bahasa Indonesia bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri yang didayagunakan.
hlm. 272 OCRPasal 663 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri dilarang menyelenggarakan praktik secara mandiri.
Pasal 664 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 658 ayat (1) huruf b harus mengikuti evaluasi kompetensi.
(2) Evaluasi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menilai kompetensi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri yang akan berpraktik di Indonesia.
(3) Penyelenggaraan evaluasi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan menggunakan Sistem Informasi Kesehatan.
Pasal 665 #Laporkan Penjelasan
(1) Evaluasi kompetensi bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 664 meliputi:
a. penilaian kelengkapan administratif; dan
b. penilaian kemampuan praktik.
Pasal 666 #Laporkan Penjelasan
(1) Hasil penilaian kelengkapan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 665 ayat (1) huruf a berupa:
a. lengkap; atau
b. tidak lengkap.
(3) Dalam hal hasil penilaian kelengkapan administratif dinyatakan tidak lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri dapat:
a. melengkapi dokumen yang dipersyaratkan; atau
b. ditolak.
(4) Penyetaraan kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat
a. tidak setara; atau
b. setara.
(6) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri yang telah mengikuti
(8) Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat
a. kompeten; atau
b. belum kompeten.
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri yang dinyatakan kompeten sebagaimana dimaksud pada ayat (8) huruf a diberikan Sertifikat Kompetensi oleh Kolegium.
(10) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri yang dinyatakan kompeten sebagaimana dimaksud pada ayat (9) harus mengikuti adaptasi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tempat pendayagunaan.
(11) Masa adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat (10) merupakan bagian dari pendayagunaan.
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri yang dinyatakan belum kompeten sebagaimana dimaksud pada ayat (8) huruf b harus kembali ke negara asalnya sesuai dengan ketentuan peraturan
Pasal 667 #Laporkan Penjelasan
(1) Evaluasi kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 664 ayat (2) dikecualikan bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri yang memiliki kriteria:
a. lulusan dari penyelenggara pendidikan di luar negeri yang sudah direkognisi dan telah praktik sebagai Tenaga Medis spesialis dan subspesialis serta Tenaga Kesehatan tingkat kompetensi tertentu paling singkat 5 (lima) tahun di luar negeri yang harus dibuktikan dengan surat keterangan atau dokumen lain yang diterbitkan oleh lembaga yang berwenang di negara yang bersangkutan; atau
b. ahli dalam suatu bidang unggulan tertentu dalam Pelayanan Kesehatan yang dibuktikan dengan sertifikasi kompetensi dan telah praktik paling singkat 5 (lima) tahun di luar negeri.
(3) Evaluasi kompetensi bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri yang memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui:
a. penilaian kelengkapan administratif; dan
b. penilaian kemampuan praktik melalui portofolio.
a. lengkap; atau
b. tidak lengkap.
(5) Hasil penilaian praktik melalui portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b berupa:
a. kompeten; atau
b. belum kompeten.
(6) Dalam hal hasil penilaian praktik melalui portofolio dinyatakan kompeten sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a, Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri diberikan Sertifikat Kompetensi.
hlm. 275 OCR(8) Dalam hal hasil penilaian praktik melalui portofolio dinyatakan belum kompeten sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b, Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri harus mengikuti uji kompetensi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(9) Fasilitas Pelayanan Kesehatan pengguna memberikan pengenalan terkait sistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia kepada Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri.
Pasal 668 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi kompetensi dan tata cara pendayagunaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara asing diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KeempatPeningkatan Mutu Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 669 #Laporkan Penjelasan
(1) Peningkatan mutu Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dilakukan melalui penyelenggaraan pelatihan dan/atau kegiatan peningkatan kompetensi.
(3) Akreditasi lembaga pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 670 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan pelatihan sebagaimana Pasal 669 ayat (1) dilakukan berdasarkan:
a. pengkajian kebutuhan; dan
b. kurikulum terstandar. dimaksud dalam
hlm. 276 OCRPasal 671 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengkajian kebutuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 670 huruf a mempertimbangkan kebutuhan:
a. organisasi;
b. program dan Pelayanan Kesehatan;
c. peningkatan kompetensi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan; dan
d. untuk daya saing nasional dan internasional.
(3) Pengkajian kebutuhan program dan Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan melalui identifikasi kebutuhan pemenuhan program pembangunan dan Pelayanan Kesehatan.
(4) Pengkajian kebutuhan peningkatan kompetensi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
a. standar profesi;
b. standar kompetensi jabatan; atau
c. standar kompetensi kerja.
(5) Pengkajian kebutuhan untuk daya saing nasional dan internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan melalui identifikasi kebutuhan negara tujuan dan penguatan kompetensi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
Pasal 672 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan kegiatan peningkatan kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 669 ayat (1) dilakukan berdasarkan :
a. perencanaan; dan
b. standardisasi mekanisme penyelenggaraan.
Pasal 673 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelatihan dan/atau kegiatan peningkatan kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 669 dapat digunakan untuk pemenuhan kecukupan satuan kredit profesi melalui sertifikasi pelatihan dan/atau kegiatan peningkatan kompetensi.
Pasal 674 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka menjamin kualitas dan keberhasilan penyelenggaraan pelatihan dan/atau kegiatan peningkatan kompetensi dilakukan evaluasi.
(2) Evaluasi penyelenggaraan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a. evaluasi pada saat proses pelatihan; dan
b.
(3) Evaluasi penyelenggaraan kegiatan peningkatan kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui evaluasi proses penyelenggaraan.
Pasal 675 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam
(3) Dalam rangka pelaksanaan fellowship sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Program pengembangan pendidikan keprofesian berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit dilakukan melalui:
a. pelaksanaan praktik/Pelayanan Kesehatan yang langsung berhubungan dengan keahlian atau profesinya kepada Pasien, klien, danf atau masyarakat;
b. pembelajaran dan/atau pengabdian masyarakat;
c. pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
d. publikasi ilmiah.
hlm. 278 OCR(5) Peningkatan kompetensi melalui program pengembangan pendidikan keprofesian berkelanjutan sebagaimana dim.aksud pada ayat (4) dapat digunakan untuk pemenuhan kecukupan satuan kredit profesi.
Pasal 676 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman pelatihan dan/atau kegiatan peningkatan kompetensi diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KelimaRegistrasi dan Perizinan
Paragraf 1Registrasi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 677 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang akan menjalankan praktik wajib memiliki STR.
(2) STR sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diberikan kepada:
a. Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara Indonesia; dan
b. Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara asing.
(3) STR bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) STR bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara asing sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b berlaku paling lama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang sebanyak 1 (satu) kali untuk masa 2 (dua) tahun berikutnya.
(6) Ketentuan jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikecualikan bagi STR Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara asing yang didayagunakan di kawasan ekonomi khusus yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
hlm. 279 OCRPasal 678 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengajuan permohonan STR bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dilakukan secara elektronik melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(3) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. memiliki ijazah pendidikan di bidang Kesehatan dan/atau Sertifikat Profesi; dan
b. memiliki Sertifikat Kompetensi.
Pasal 679 #Laporkan Penjelasan
Dalam hal terdapat perubahan kualifikasi kompetensi dan/atau beralih profesi, Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dapat mengajukan perubahan data STR.
Pasal 680 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, tata cara pengajuan, dan penerbitan STR diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 2Perizinan
Pasal 681 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan tertentu yang akan melakukan praktik keprofesiannya wajib memiliki SIP.
(3) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan tertentu dalam mengajukan permohonan SIP harus memiliki:
a. STR; dan
b. tempat praktik.
(4) SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Pemerintah Daerah kabupaten/kota tempat Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan menjalankan praktiknya.
hlm. 280 OCR(5) Dalam hal penerbitan SIP sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Dalam hal proses penerbitan SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (5) melebihi batas waktu maksimal, SIP secara otomatis terbit melalui sistem informasi yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 682 #Laporkan Penjelasan
(1) SIP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 681 ayat (1) diberikan bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan tertentu warga negara Indonesia dan warga negara asing.
(3) SIP Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan.
a. STR;
b. tempat praktik; dan
c. pemenuhan kecukupan satuan kredit profesi.
(6) Ketentuan jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikecualikan bagi SIP Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan warga negara asing yang didayagunakan di kawasan ekonomi khusus yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 683 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemenuhan kecukupan satuan kredit profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 682 ayat (4) huruf c digunakan untuk proses perpanjangan SIP.
a. pelatihan dan/atau kegiatan peningkatan kompetensi;
b. pelayanan; dan
c. pengabdian.
(3) Standar pemenuhan kecukupan satuan kredit profesi sebagaimana dimaksud ayat (2) ditetapkan oleh Kolegium.
hlm. 281 OCRPasal 684 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam kondisi tertentu, Menteri dapat menerbitkan SIP.
(2) Penerbitan SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk:
a. pelaksanaan program internsip bagi dokter dan dokter gigi;
b. pelaksanaan program pendidikan dokter spesialis, dokter subspesialis, dokter gigi spesialis, dokter gigi subspesialis, dan Tenaga Kesehatan spesialis;
c. pemenuhan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan pada kawasan ekonomi khusus atau Pintu Masuk atau pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik;
d. pemenuhan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan di daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan, dan daerah bermasalah Kesehatan; dan/atau
e. percepatan pemenuhan Pelayanan Kesehatan lainnya.
Pasal 685 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam kondisi tertentu, Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang memberikan Pelayanan Kesehatan tidak memerlukan SIP di tempat tersebut.
(3) Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan yang memberikan Pelayanan Kesehatan berdasarkan penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang memiliki SIP.
Pasal 686 #Laporkan Penjelasan
(1) Penerbitan SIP oleh Pemerintah Daerah kabupaten/kota harus mempertimbangkan perencanaan kebutuhan secara nasional dan kuota untuk setiap jenis Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(2) Kuota untuk setiap jenis Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memperhatikan kriteria:
a. ketersediaan dan persebaran Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan pada daerah tersebut;
hlm. 282 OCRb. rasio jumlah penduduk dengan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan aktif yang ditetapkan oleh Menteri; dan
c. beban kerja Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(3) Proses penerbitan SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem informasi yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(4) Kuota untuk setiap jenis Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 687 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penerbitan SIP Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 681 sampai dengan Pasal 686 diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 3Monitoring dan Evaluasi
Pasal 688 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan Registrasi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, Pemerintah Pusat melakukan monitoring dan evaluasi secara terintegrasi melalui Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Paragraf 4Surat Tugas
Pasal 689 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan pelayanan kedokteran, Menteri dapat memberikan surat tugas kepada dokter spesialis atau dokter gigi spesialis tertentu yang telah memiliki SIP untuk bekerja pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan tertentu tanpa memerlukan SIP di tempat tersebut.
(3) Pemberian surat tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan ketentuan:
a. terdapat permintaan dari dinas kesehatan kabupaten / kota berdasarkan kebutuhan;
b. ketiadaan dokter spesialis atau dokter gigi spesialis dengan keahlian dan kompetensi yang sama pada kabupaten/ kota tersebut; dan
c. dokter spesialis atau dokter gigi spesialis yang mendapat surat tugas harus telah memiliki SIP.
(4) Dinas kesehatan kabupaten/kota dalam mengajukan permohonan surat tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, melampirkan:
a. hasil kajian kebutuhan pelayanan kedokteran atau kedokteran gigi spesialistik tertentu yang dibutuhkan di daerah pengusul;
b. pernyataan ketiadaan dokter spesialis atau dokter gigi spesialis dengan keahlian dan kompetensi yang sama pada kabupaten/kota tersebut; dan
c. usulan kandidat dokter spesialis atau dokter gigi spesialis yang akan diusulkan dengan melampirkan bukti SIP maksimal yang dimiliki calon kandidat.
(5) Surat tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh Menteri setelah dilakukan kajian pemenuhan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
(6) Pemberian surat tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berdasarkan kajian kebutuhan Pelayanan Kesehatan sesuai dengan usulan pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang berada pada kawasan ekonomi khusus.
Pasal 690 #Laporkan Penjelasan
(1) Surat tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 689 diberikan oleh Menteri melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(3) Dalam hal selama jangka waktu keberlakuan surat tugas telah ada dokter spesialis atau dokter gigi spesialis lain dengan keahlian dan kompetensi yang sama pada daerah tersebut, surat tugas menjadi tidak berlaku.
hlm. 284 OCRPasal 69 1 #Laporkan Penjelasan
Selain pemberian surat tugas kepada dokter spesialis atau dokter gigi spesialis tertentu, Menteri juga dapat memberikan surat tugas kepada dokter subspesialis atau dokter gigi subspesialis tertentu berdasarkan kajian kebutuhan Pelayanan Kesehatan sesuai dengan usulan dinas kesehatan kabupaten/kota.
Pasal 692 #Laporkan Penjelasan
(1) Surat tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 689 memiliki kedudukan hukum yang sama dengan SIP.
Pasal 693 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian surat tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 689 sampai dengan Pasal 692 diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KeenamKonsil Kesehatan Indonesia
Paragraf 1Umum
Pasal 694 #Laporkan Penjelasan
(1) Konsil berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri.
(3) Konsil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disebut Konsil Kesehatan Indonesia.
Paragraf 2
Pasal 695 #Laporkan Penjelasan
(1) Konsil Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 694 memiliki peran:
a. merumuskan kebijakan internal dan standardisasi pelaksanaan tugas Konsil Kesehatan Indonesia;
hlm. 285 OCRb. melakukan Registrasi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan; dan
c. melakukan pembinaan teknis keprofesian Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(2) Dalam menjalankan peran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Konsil Kesehatan Indonesia mempunyai tugas melaksanakan dukungan peningkatan mutu praktik dan kompetensi teknis keprofesian Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan serta memberikan pelindungan dan kepastian hukum kepada masyarakat.
(3) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat
a. pelaksanaan Registrasi dan pengelolaan data STR;
b. penetapan kompetensi yang beririsan;
c. penetapan percabangan disiplin ilmu;
d. pelaksanaan keputusan pemberian sanksi disiplin;
e. perumusan dan penetapan kebijakan internal;
f. penetapan standar kurikulum pelatihan yang disusun oleh Kolegium;
g. pelaksanaan evaluasi kompetensi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri dan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri bersama Menteri, menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang pendidikan dan Kolegium;
h. pelaksanaan validasi dan pengusulan standar kompetensi yang disusun oleh Kolegium untuk ditetapkan oleh Menteri;
i. pengusulan standar profesi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan bersama dengan Kolegium yang ditetapkan oleh Menteri; dan
j. pengusulan jenis dan kelompok Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan baru, bersama dengan Kolegium untuk ditetapkan Menteri.
Pasal 696 #Laporkan Penjelasan
(1) Konsil Kesehatan Indonesia dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 695 ayat (2) sampai dengan ayat
(2) Dalam hal pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri, Menteri dapat melakukan penyesuaian pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang.
Paragraf 3Susunan Organisasi
Pasal 697 #Laporkan Penjelasan
(1) Susunan organisasi Konsil Kesehatan Indonesia terdiri atas:
a. pimpinan Konsil Kesehatan Indonesia; dan
b. Konsil masing-masing kelompok Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
a. 1 (satu) orang ketua;
b. 1 (satu) orang wakil ketua; dan
c. 7 (tujuh) orang anggota.
(3) Pimpinan Konsil Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Konsil masing-masing kelompok Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b sejumlah I (satu) orang dari setiap kelompok Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
Pasal 698 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka melaksanakan tugas, fungsi, dan kewenangan, Konsil Kesehatan Indonesia didukung oleh Kolegium.
Pasal 699 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka penegakan disiplin profesi sebagai bagian dari peningkatan mutu dan kompetensi teknis keprofesian Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, Konsil Kesehatan Indonesia didukung oleh majelis.
Pasal 700 #Laporkan Penjelasan
(1) Pimpinan Konsil Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 697 ayat (1) huruf a diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usulan Menteri.
hlm. 287 OCR(2) Masa bakti pimpinan Konsil Kesehatan lndonesia selama 4 (empat) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Pasal 701 #Laporkan Penjelasan
Untuk dapat diangkat dalam keanggotaan Konsil Kesehatan Indonesia harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. warga negara Indonesia;
b. sehat jasmani dan rohani;
c. bertakwa kepada
d. berkelakuan baik;
e. berusia paling tinggi 65 (enam puluh lima) tahun pada saat diangkat;
f. bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, pernah melakukan praktik keprofesian dan memiliki STR;
g. tidak pernah dan tidak sedang menjalani sanksi disiplin, etik, dan hukum; dan
h. tidak merangkap jabatan yang memiliki potensi konflik kepentingan.
Pasal 702 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri melakukan seleksi calon pimpinan Konsil Kesehatan Indonesia.
(3) Presiden menetapkan pimpinan Konsil Kesehatan Indonesia berdasarkan usulan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 703 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut
Bagian KetujuhKolegium
Paragraf 1Umum
Pasal 704 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk mengembangkan cabang disiplin ilmu dan standar pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, setiap kelompok ahli tiap disiplin ilmu Kesehatan dapat membentuk Kolegium.
(3) Kolegium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disahkan oleh Menteri.
Paragraf 2
Pasal 705 #Laporkan Penjelasan
(1) Kolegium memiliki peran:
a.
b.
(3) Kolegium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki tugas mengembangkan cabang disiplin ilmu dan standar pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(4) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Kolegium menjalankan fungsi:
a.
b. terlibat dalam
c.
d.
e. bekerja sarna dengan penyelenggara pendidikan tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan untuk melaksanakan uji kompetensi;
f.
g. penyusunan kompetensi yang beririsan;
h.
i. pelaksanaan evaluasi kompetensi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri serta Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Lulusan Luar Negeri bersama Menteri, menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan, dan Konsil; dan
j. pemberian dukungan
(5) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4), Kolegium memiliki wewenang untuk menerbitkan sertifikasi kompetensi.
Pasal 706 #Laporkan Penjelasan
Kolegium dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenangnya berkoordinasi dengan pihak terkait sesuai disiplin ilmunya.
Pasal 707 #Laporkan Penjelasan
(1) Kolegium dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Paragraf 3Kolegium Kesehatan Indonesia
Pasal 708 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka mengoordinasikan pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan Kolegium, dibentuk Kolegium Kesehatan Indonesia.
a. 1 (satu) orang ketua merangkap anggota;
b. 1 (satu) orang wakil ketua merangkap anggota; dan
c. 1 (satu) orang perwakilan masing-masing Kolegium sebagai anggota.
(3) Ketua Kolegium Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan sebagai perwakilan dalam Konsil Kesehatan Indonesia.
Pasal 709 #Laporkan Penjelasan
Untuk dapat diangkat sebagai anggota Kolegium Kesehatan Indonesia harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. warga negara Indonesia;
b. sehat jasmani dan rohani;
c. bertakwa kepada
d. berkelakuan baik;
e. berusia paling tinggi 65 (enam puluh lima) tahun pada saat diangkat;
f. bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, pernah melakukan praktik keprofesian paling sedikit
g. tidak pernah dan tidak sedang menjalani sanksi disiplin, etik, dan hukum; dan
h. tidak merangkap jabatan yang memiliki potensi konflik kepentingan.
Pasal 710 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri melakukan seleksi calon anggota Kolegium Kesehatan Indonesia dengan melibatkan kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan untuk penetapan Kolegium Kesehatan Indonesia.
(3) Masa bakti keanggotaan Kolegium Kesehatan Indonesia selama 4 (empat) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya sepanjang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 709.
Pasal 71 1 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, mekanisme seleksi, tata cara pengangkatan dan pemberhentian anggota, serta tata kerja Kolegium Kesehatan lndonesia diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KedelapanMajelis Disiplin Profesi
Paragraf 1Umum
Pasal 712 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka penegakan disiplin profesi, Menteri membentuk majelis.
(2) Majelis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selanjutnya disebut Majelis Disiplin Profesi.
(3) Majelis Disiplin Profesi sebagaimana dimaksud pada ayat
Paragraf 2
Pasal 713 #Laporkan Penjelasan
(1) Majelis Disiplin Profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 L2 mempunyai tugas melaksanakan penegakan disiplin profesi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan berdasarkan ketentuan penegakan disiplin yang ditetapkan oleh Menteri.
a. penerimaan dan verifikasi pengaduan atas tindakan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
b. pemeriksaan pengaduan dugaan pelanggaran disiplin profesi;
hlm. 292 OCRc. penentuan ada atau tidaknya pelanggaran disiplin profesi yang dilakukan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
d. pengambilan putusan atas pengaduan dan menentukan sanksi atas pelanggaran disiplin; dan
e. pemberian rekomendasi yang berkaitan dengan Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan yang diduga melakukan tindakan/perbuatan yang melanggar hukum dalam pelaksanaan Pelayanan Kesehatan atau yang dimintai
Paragraf 3Keanggotaan
Pasal 714 #Laporkan Penjelasan
(1) Anggota Majelis Disiplin Profesi terdiri dari 9 (sembilan) orang yang berasal dari unsur:
a. perwakilan dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan;
b. profesi;
c. perwakilan dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
d. ahli hukum; dan
e. masyarakat.
(3) Masa jabatan anggota sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 715 #Laporkan Penjelasan
Untuk dapat diangkat sebagai anggota Majelis Disiplin Profesi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. warga negara Indonesia;
b. sehat jasmani dan rohani;
c. bertakwa kepada
d. berkelakuan baik;
e. berusia paling tinggi
f. bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, pernah melakukan praktik keprofesian paling sedikit
g. bagi ahli hukum, pernah memiliki pengalaman di bidang hukum paling sedikit 10 (sepuluh) tahun;
h. tidak pernah dan tidak sedang menjalani sanksi disiplin, etik, dan hukum; dan
i. tidak merangkap jabatan yang memiliki potensi konflik kepentingan.
Pasal 716 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri melakukan seleksi calon anggota Majelis Disiplin Profesi.
Pasal 7 LT #Laporkan Penjelasan
(1) Majelis Disiplin Profesi dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 713 harus berkoordinasi dengan Menteri dalam rangka menjamin kesesuaian dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 718 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme pelaksanaan seleksi, tata cara pengangkatan dan pemberhentian anggota, serta tata kerja penegakan disiplin Majelis Disiplin Profesi diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KesembilanSekretariat Konsil Kesehatan Indonesia, Kolegium Kesehatan Indonesia, dan Majelis Disiplin Profesi
Pasal 719 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi Konsil Kesehatan Indonesia, Kolegium Kesehatan Indonesia, dan Majelis Disiplin Profesi dibantu oleh 1 (satu) sekretariat.
hlm. 294 OCRPasal 720 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam melaksanakan tugas, ketua, wakil ketua, anggota Konsil Kesehatan Indonesia, dan anggota Konsil masing-masing kelompok Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diberikan hak keuangan dan fasilitas.
(2) Pendanaan untuk pelaksanaan tugas Konsil dan sekretariat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 719 dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja negara.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak keuangan dan fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden.
Bagian KesepuluhHak dan Kewajiban Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Pasien
Paragraf 1Hak Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 721 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik berhak:
a. mendapatkan pelindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan profesi, standar prosedur operasional, dan etika profesi, serta kebutuhan Kesehatan Pasien;
b. mendapatkan informasi yang lengkap dan benar dari Pasien atau keluarganya;
c. mendapatkan gaji/upah, imbalan jasa, dan tunjangan kinerja yang layak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
d. mendapatkan pelindungan atas keselamatan, Kesehatan kerja, dan keamanan;
e. mendapatkan jaminan kesehatan dan jaminan ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
hlm. 295 OCRf. mendapatkan pelindungan atas perlakuan yang tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai sosial budaya;
g. mendapatkan penghargaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ;
h. mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pengembangan kompetensi, keilmuan, dan karier di bidang keprofesiannya;
i. menolak keinginan Pasien atau pihak lain yang bertentangan dengan standar profesi, standar pelayanan, standar prosedur operasional, kode etik, atau ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
j. mendapatkan hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 722 #Laporkan Penjelasan
Pelindungan hukum sebagaimana dimaksud dalam
a. memberikan kepastian hukum kepada Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam melaksanakan Pelayanan Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. menjamin bekerja tanpa paksaan dan ancaman dari pihak lain; dan
c. menjamin bekerja sesuai dengan kewenangan dan kompetensi keprofe siannya.
Pasal 723 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelindungan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 721 huruf a diberikan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang meliputi:
a. pelindungan hukum dalam rangka mencegah Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan melakukan pelanggaran; dan
b. pelindungan hukum bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang menghadapi permasalahan hukum.
(2) Bentuk pelindungan hukum dalam rangka mencegah Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa:
a. standar profesi, standar pelayanan, standar prosedur operasional, norma, standar, prosedur, dan kriteria terkait praktik keprofesian Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
hlm. 296 OCRb. memastikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan memiliki STR dan SIP;
c. memastikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan melakukan praktik keprofesian sesuai dengan kewenangan klinis;
d. persetujuan dari Pasien dan/atau keluarga untuk tindakan yang dilakukan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, kecuali dalam kondisi kegawatdaruratan; dan
e. memfasilitasi Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan memiliki manfaat pelindungan tanggung gugat profesi.
(3) Bentuk pelindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat dilakukan melalui:
a. penyelesaian perselisihan;
b. penegakan etika profesi;
c. penegakan disiplin keilmuan; dan
d. penegakan hukum.
a. konsultasi hukum; dan/atau
b. pemberian pendampingan dalam penyelesaian sengketa.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelindungan hukum bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 724 #Laporkan Penjelasan
Hak mendapatkan informasi yang lengkap dan benar dari Pasien atau keluarganya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 721
a. data diri Pasien;
b. riwayat penyakit, pemeriksaan, tindakan, dan Obat yang pernah diterima;
c. masalah Kesehatan Pasien yang dirasakan saat diperiksa oleh Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan Pasien atau keluarga;
d. kemampuan dan jaminan pembiayaan Kesehatan yang dimiliki; dan
e. informasi lain yang diperlukan.
hlm. 297 OCRPasal 725 #Laporkan Penjelasan
(1) Gaji/upah, imbalan jasa, dan tunjangan kinerja yang layak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 721
(3) Gaji/upah, imbalan jasa, dan tunjangan kinerja bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang ditugaskan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah untuk melaksanakan program pemerintah diberikan dalam bentuk insentif sesuai dengan ketentuan peraturan
Pasal 726 #Laporkan Penjelasan
Pemberian gaji/upah, imbalan jasa, dan tunjangan kinerja bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 725 ayat (1) diberikan dengan mempertimbangkan:
a. jenjang pendidikan;
b. kompetensi, keahlian, atau spesialisasi;
c. masa kerja sebagai Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan;
d. beban kerja;
e. produktivitas dan kinerja Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
f. risiko pekerjaan;
g. jenjang karier profesional sebagai Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
h. tempat bertugas; dan
i. pertimbangan objektif lainnya.
Pasal 727 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penghitungan pemberian gaji/upah, imbalan jasa, dan tunjangan kinerja Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang bekerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 725 ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 298 OCRPasal 728 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelindungan atas keselamatan, Kesehatan kerja, dan keamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
(2) Pelindungan atas keselamatan, Kesehatan kerja, dan keamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan secara terintegrasi dengan sistem keselamatan dan Kesehatan kerja yang dilakukan dengan cara:
a. pengendalian bahaya di tempat kerja;
b. pencegahan penyakit, termasuk penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja;
c. promosi Kesehatan;
d. penanganan penyakit;
e. pemulihan Kesehatan; dan
f. pengamanan di tempat kerja.
(3) Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pasal 729 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang melaksanakan tugas Pelayanan Kesehatan di daerah tertinggal, perbatasan, kepulauan, termasuk daerah terpencil, daerah sangat terpencil, daerah rawan konflik, dan daerah konflik serta daerah bermasalah Kesehatan harus mendapatkan pelindungan keamanan dan keselamatan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangannya.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelindungan keamanan dan keselamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden.
Pasal 730 #Laporkan Penjelasan
(1) Jaminan kesehatan dan jaminan ketenagakerjaan bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Pasal 731 #Laporkan Penjelasan
(1) Hak mendapatkan pelindungan atas perlakuan yang tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai sosial budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 721 huruf f termasuk tindakan kekerasan, pelecehan, dan perundungan baik yang berasal dari Pasien atau keluarga Pasien, rekan kerja, manajemen, dan pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(2) Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan memberikan pelindungan kepada Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang menghentikan Pelayanan Kesehatan apabila memperoleh perlakuan yang tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai sosial budaya termasuk tindakan kekerasan, pelecehan, dan perundungan sesuai dengan tugas, fungsi, dan
(3) Dalam rangka memberikan pelindungan atas perlakuan yang tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai sosial budaya kepada Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah
a. menciptakan lingkungan kerja yang kondusif;
b. melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi;
c. menyediakan pelayanan atau kanal pelaporan/ pengaduan; dan
d. melakukan tindak lanjut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 300 OCR(4) Dalam hal Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan memperoleh perlakuan yang tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai sosial budaya termasuk tindakan kekerasan, pelecehan, dan perundungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dapat menghentikan Pelayanan Kesehatan sepanjang bukan dalam rangka tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kedisabilitasan seseorang pada keadaan Gawat Darurat dan/atau pada bencana.
Pasal 732 #Laporkan Penjelasan
(1) Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. tanda kehormatan;
b. kenaikan jenjang karier fungsional/profesional;
c. piagam;
d. pin;
e. barang atau natura;
f. kesempatan prioritas untuk pengembangan kompetensi;
g. kesempatan menghadiri acara resmi dan/atau acara kenegaraan; dan/atau
h. bentuk lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian penghargaan bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diatur dalam Peraturan Menteri.
Pasal 733 #Laporkan Penjelasan
(1) Hak Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan berupa mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pengembangan kompetensi, keilmuan, dan karier di bidang keprofesiannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. pendidikan formal; dan
b. pelatihan dan/atau kegiatan peningkatan kompetensi.
hlm. 301 OCR(3) Pengembangan kompetensi, keilmuan, dan karier Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang berstatus sebagai pegawai selain aparatur sipil negara yang bekerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 734 #Laporkan Penjelasan
(1) Hak menolak keinginan Pasien atau pihak lain yang bertentangan dengan standar profesi, standar pelayanan, standar prosedur operasional, kode etik, atau ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 721 huruf i, dilakukan dalam hal Pasien meminta:
a. melakukan aborsi yang dilarang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan ;
b. bunuh diri dengan bantuan;
c. mencarikan ibu pengganti atau sewa rahim hasil reproduksi dengan bantuan yang dilakukan oleh pasangan suami-istri yang sah;
d. memberikan keterangan palsu;
e. melakukan perbuatan curang; dan/atau
f. tindakan lain yang bertentangan dengan standar profesi, standar pelayanan, standar prosedur operasional, kode etik, atau ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 735 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik wajib:
a. memberikan Pelayanan Kesehatan sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan profesi, standar prosedur operasional, dan etika profesi serta kebutuhan Kesehatan Pasien;
b. memperoleh persetujuan dari Pasien atau keluarganya atas tindakan yang akan diberikan;
hlm. 302 OCRc. menjaga rahasia Kesehatan Pasien;
d. membuat dan menyimpan catatan dan/atau dokumen tentang pemeriksaan, asuhan, dan tindakan yang dilakukan; dan
e. merujuk Pasien ke Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan lain yang mempunyai kompetensi dan kewenangan yang sesuai.
a. pemenuhan permintaan aparat penegak hukum dalam rangka penegakan hukum;
b. penanggulangan KLB, Wabah, atau bencana;
c. kepentingan pendidikan dan penelitian secara terbatas;
d. upaya pelindungan terhadap bahaya ancaman keselamatan orang lain secara individual atau masyarakat;
e. kepentingan pemeliharaan Kesehatan, pengobatan, penyembuhan, dan perawatan Pasien;
f. permintaan Pasien sendiri;
g. kepentingan administratif, pembayaran asuransi, atau jaminan pembiayaan Kesehatan; dan/atau
h. kepentingan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
(3) Kewajiban Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan kewenangan dan kompetensi berdasarkan standar profesi, standar pelayanan profesi, standar prosedur operasional, dan etika profesi yang dimiliki dalam menjalankan praktik.
Pasal 736 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 735 dikenai sanksi administratif berupa:
a. teguran lisan;
b. peringatan tertulis;
c. denda administratif; dan/atau
d. pencabutan izin.
hlm. 303 OCRParagraf 2Hak dan Kewajiban Pasien
Pasal 737 #Laporkan Penjelasan
(1) Pasien mempunyai hak:
a. mendapatkan informasi mengenai Kesehatan dirinya;
b. mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai Pelayanan Kesehatan yang diterimanya;
c. mendapatkan Pelayanan Kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis, standar profesi, dan pelayanan yang bermutu;
d. menolak atau menyetujui tindakan medis, kecuali untuk tindakan medis yang diperlukan dalam rangka pencegahan penyakit menular dan penanggulangan KLB atau Wabah;
e. mendapatkan akses terhadap informasi yang terdapat di dalam rekam medis;
f. meminta pendapat Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan lain; dan
g. mendapatkan hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.
a. hasil pemeriksaan fisik dan penunjang;
b. diagnosis, pengobatan, tindakan, dan prognosis; dan
c. pelayanan lain yang diberikan kepada Pasien.
(3) Penjelasan yang memadai mengenai Pelayanan Kesehatan yang diterimanya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diberikan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dengan penjelasan keterangan yang cukup dan disampaikan secara lengkap dengan bahasa yang mudah dipahami.
(4) Pelayanan Kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis, standar profesi, dan pelayanan yang bermutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diberikan sesuai dengan kemampuan pelayanan dan dilakukan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang memiliki kompetensi dan kewenangan yang sesuai.
(5) Menolak atau menyetujui tindakan medis, kecuali untuk tindakan medis yang diperlukan dalam rangka pencegahan penyakit menular dan penanggulangan KLB atau Wabah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan setelah menerima dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap dan memadai serta dicatat dalam rekam medis.
hlm. 304 OCR(6) Mendapatkan akses terhadap informasi yang terdapat di dalam rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 738 #Laporkan Penjelasan
(1) Pasien mempunyai kewajiban:
a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya;
b. mematuhi nasihat dan petunjuk Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
c. mematuhi ketentuan yang berlaku pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan; dan
d. memberikan imbalan jasa atas Pelayanan Kesehatan yang diterima.
a. data diri Pasien;
b. riwayat penyakit, pemeriksaan, tindakan, dan Obat yang pernah diterima; dan
c. masalah Kesehatan Pasien yang dirasakan saat diperiksa oleh Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan Pasien atau keluarga.
(3) Mematuhi nasihat dan petunjuk Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap dan memadai.
(4) Mematuhi ketentuan yang berlaku pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c paling sedikit berupa mematuhi tata tertib yang berlaku pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(5) Memberikan imbalan jasa atas Pelayanan Kesehatan yang diterima sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d
Bagian KesebelasPenyelenggaraan Praktik
Paragraf 1Umum
Pasal 739 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dapat menjalankan praktik mandiri dan/atau berpraktik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan selain praktik mandiri.
(2) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab secara moral untuk:
a. mengabdikan diri sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki;
b. bersikap dan berperilaku sesuai dengan etika profesi;
c. mengutamakan kepentingan Pasien dan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau kelompok; dan
d. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(3) Dalam menjalankan praktik, Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang memberikan Pelayanan Kesehatan kepada Pasien harus melaksanakan upaya terbaik sesuai dengan norma, standar pelayanan, dan standar profesi, serta kebutuhan Kesehatan Pasien.
(4) Praktik Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diselenggarakan berdasarkan kesepakatan antara Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan dan Pasien berdasarkan prinsip kesetaraan dan transparansi.
Pasal 740 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik mandiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 739 wajib menginformasikan identitas dirinya.
(2) Informasi identitas Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. nama dan gelar Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang berpraktik;
b. bidang keahlian;
c. nomor SIP;
d. nomor STR; dan
e. jadwal praktik.
hlm. 306 OCR(3) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa:
a. teguran lisan;
b. peringatan tertulis;
c. denda administratif; dan/atau
d. pencabutan izin.
Paragraf 2Kewenangan Praktik Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
tidak pada
Pasal 741 #Laporkan Penjelasan
Dalam penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, Pasien memiliki kewajiban:
a. menghormati hak Pasien lain, pengunjung, hak Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan serta petugas lainnya yang bekerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
b. memberikan informasi mengenai kemampuan dan jaminan kesehatan yang dimilikinya; dan
c. menerima segala konsekuensi atas keputusan pribadinya untuk menolak rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dan/atau tidak mematuhi petunjuk yang diberikan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan untuk penyembuhan penyakit atau masalah Kesehatannya.
Pasal 742 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik harus dilakukan sesuai dengan kewenangan yang didasarkan pada kompetensi yang dimilikinya.
(3) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dapat memiliki kewenangan berdasarkan penambahan kompetensi yang dimiliki melalui pelatihan.
Pasal 743 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan tertentu dalam memberikan Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan sesuai dengan kewenangan klinis.
(2) Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan tertentu yang mendapatkan kewenangan klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan yang melakukan Pelayanan Kesehatan secara langsung kepada Pasien atau yang berdampak pada keselamatan Pasien.
(3) Kewenangan klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan setelah melalui kredensial.
(4) Kewenangan klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(5) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 744 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam keadaan tertentu, Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dapat memberikan pelayanan di luar kewenangannya.
a. ketiadaan Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan di suatu wilayah tempat Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan bertugas;
b. kebutuhan program pemerintah;
c. penanganan kegawatdaruratan medis; dan/atau
d. KLB, Wabah, dan/atau darurat bencana.
(3) Ketiadaan Tenaga Medis dan/atau Tenaga Kesehatan di suatu wilayah tempat Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan bertugas sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Pemberian pelayanan di luar kewenangan dalam penanganan kegawatdaruratan medis sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Pelayanan di luar kewenangan dalam kondisi KLB, Wabah, dan/atau darurat bencana sebagaimana dimaksud pada ayat
(8) Jangka waktu dan tempat pemberian Pelayanan Kesehatan di luar kewenangan dalam keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada
(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria
Pasal 745 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dapat menerima pelimpahan kewenangan untuk melakukan pelayanan Kesehatan terdiri atas:
a. pelimpahan secara mandat; dan
b. pelimpahan secara delegatif.
(3) Pelimpahan wewenang secara delegatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan pelimpahan tugas dengan tanggung jawab berada pada penerima wewenang.
(4) Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus menetapkan jenis Pelayanan Kesehatan yang dapat dilimpahkan kewenangannya.
Pasal 746 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan praktik Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan diatur dalam Peraturan Menteri.
Bagian Kedua Belas Pengenaan Sanksi Administratif
Pasal 747 #Laporkan Penjelasan
(1) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 736 dan Pasal
a. hasil monitoring dan evaluasi;
b. pengaduan; dan/atau
c. pemberitaan media elektronik atau media cetak.
Pasal 748 #Laporkan Penjelasan
(1) Sanksi administratif berupa teguran lisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 736 huruf a dan Pasal
(2) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang melakukan praktik perseorangan dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib melakukan perbaikan sesuai dengan rekomendasi yang diberikan dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak menerima teguran lisan.
Pasal 749 #Laporkan Penjelasan
(1) Sanksi administratif berupa peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 736 huruf b dan Pasal
(3) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang melakukan praktik perseorangan dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib melakukan perbaikan sesuai dengan rekomendasi yang diberikan dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak menerima peringatan tertulis.
Pasal 750 #Laporkan Penjelasan
(1) Sanksi administratif berupa denda administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 736 huruf c dan Pasal
(3) Besaran denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenakan sesuai dengan besaran yang telah ditetapkan oleh Menteri dan merupakan penerimaan negara bukan pajak atau pendapatan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Tata cara pembayaran denda administratif ke kas negara atau kas daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 751 #Laporkan Penjelasan
(1) Sanksi administratif berupa pencabutan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 736 huruf d dan Pasal
(3) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah penerbit izin.
Pasal 752 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 677 ayat (1) dan Pasal 681 ayat (1) dikenakan sanksi administratif berupa denda administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah provinsi, atau Pemerintah Daerah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan berdasarkan:
a. hasil monitoring dan evaluasi;
b. pengaduan; dan/atau
c. pemberitaan media elektronik atau media cetak.
Pasal 753 #Laporkan Penjelasan
Pengenaan denda administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 752 ayat (1) dan ayat
Pasal 754 #Laporkan Penjelasan
Dalam hal Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tidak melaksanakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 747 sampai dengan Pasal 753, nama Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan masuk dalam daftar pelanggar administratif dan akan diumumkan kepada masyarakat secara berkala melalui media sosial.
Bagian Ketiga Belas Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan
Pasal 755 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan, terdiri atas:
a. tenaga pendukung atau penunjang Upaya Kesehatan atau Pelayanan Kesehatan;
b. tenaga pendukung atau penunjang administrasi, manajemen, dan teknologi Informasi Kesehatan; dan
c. tenaga pendukung atau penunjang sarana dan prasarana Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
hlm. 312 OCRPasal 756 #Laporkan Penjelasan
(1) Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan melakukan pencatatan setiap Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan yang bekerja pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau institusi lain bidang Kesehatan.
(2) Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 757 #Laporkan Penjelasan
Perencanaan kebutuhan Tenaga pendukung atau Penunjang Kesehatan dapat dilakukan sesuai kebutuhan Pelayanan Kesehatan.
Pasal 758 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Daerah dan pimpinan Fasilitas
Pasal 759 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Pendukung atau penunjang Kesehatan, mempunyai hak:
a. mendapatkan pelindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar prosedur operasional;
b. mendapatkan gaji/upah yang layak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. mendapatkan pelindungan atas keselamatan, Kesehatan kerja, dan keamanan;
d. mendapatkan jaminan kesehatan dan jaminan ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
hlm. 313 OCRe. mendapatkan pelindungan atas perlakuan yang tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai sosial budaya;
f. mendapatkan penghargaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ;
g. mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pengembangan kompetensi, keilmuan, dan karier di bidang keprofesiannya; dan
h. mendapatkan hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
a. bekerja sesuai dengan standar prosedur operasional dan etika di tempat kerja untuk mendukung produktivitas kinerja Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau institusi lain di bidang Kesehatan;
b. menjaga data dan informasi rahasia yang dimiliki Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau institusi lain di bidang Kesehatan; dan
c. mematuhi aturan yang berlaku pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau institusi lain di bidang Kesehatan.
Pasal 760 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai perencanaan, pemenuhan, pendayagunaan, kesejahteraan, dan pencatatan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB IVFASILITAS PELAYANAN KESEHATAN
Bagian KesatuJenis Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pasal 761 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan memberikan pelayanan Kesehatan berupa Pelayanan Kesehatan perseorangan dan/atau Pelayanan Kesehatan masyarakat.
(2) Fasilitas Pelayanan Kesehatan meliputi:
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama;
b. Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut; dan
c. Fasilitas Pelayanan Kesehatan penunjang.
hlm. 314 OCRPasal 762 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan primer.
a. Puskesmas;
b. klinik pratama; dan
c. praktik mandiri Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan.
(3) Selain Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Menteri dapat menetapkan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan Pelayanan Kesehatan.
(5) Integrasi pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dikoordinasikan oleh Puskesmas sebagai penanggung jawab wilayah.
(6) Integrasi pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditujukan untuk mendukung pelaksanaan program pemerintah, terutama Pelayanan Kesehatan dalam bentuk promotif dan preventif.
a. pemanfaatan sumber daya;
b. penanganan kasus;
c. pelaporan kasus; dan
d. bentuk lain menyesuaikan dengan program yang diselenggarakan.
Pasal 763 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan lanjutan yang meliputi pelayanan spesialistik dan/atau pelayanan subspesialistik.
a. Rumah Sakit;
b. klinik utama;
c. balai Kesehatan; dan
d. praktik mandiri Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan.
hlm. 315 OCR(3) Selain Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Menteri dapat menetapkan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan Pelayanan Kesehatan.
Pasal 764 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan penunjang menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang menunjang Pelayanan Kesehatan primer dan Pelayanan Kesehatan lanjutan.
(2) Fasilitas Pelayanan Kesehatan penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berdiri sendiri atau dapat bergabung dengan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut.
(3) Fasilitas Pelayanan Kesehatan penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. apotek;
b. unit pengelola darah;
c. laboratorium Kesehatan;
d. laboratorium pengolahan sel punca dan/atau sel;
e. bank materi biologi;
f. optik;
g. institusi pengamanan alat dan fasilitas Kesehatan; dan
h. Fasilitas Pelayanan Kesehatan penunjang lain yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 765 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 761 berdasarkan bentuknya terdiri atas:
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan statis; dan
b. Fasilitas Pelayanan Kesehatan bergerak.
(2) Fasilitas Pelayanan Kesehatan statis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang didirikan di suatu lokasi dan bersifat permanen yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat -jalan, dan/atau Gawat Darurat.
(3) Fasilitas Pelayanan Kesehatan bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang memberikan Pelayanan Kesehatan yang dapat dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain dalam jangka waktu tertentu.
hlm. 316 OCR(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Fasilitas Pelayanan Kesehatan bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KeduaPenentuan Jumlah dan Jenis Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pasal 766 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas ketersediaan dan akses Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam rangka mewujudkan derajat Kesehatan yang setinggi-tingginya.
(3) Perencanaan kebutuhan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. kebutuhan pelayanan;
b. jumlah dan persebaran penduduk; dan/atau
c. pola penyakit.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai perencanaan kebutuhan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 767 #Laporkan Penjelasan
Pertimbangan kebutuhan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 766 tidak berlaku bagi Fasilitas Pelayanan Kesehatan di daerah terpencil, sangat terpencil, tertinggal, perbatasan, dan kepulauan.
Bagian KetigaPerizinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pasal 768 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib memiliki perizinan berusaha yang diberikan setelah memenuhi persyaratan sesuai jenis Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(3) Ketentuan mengenai perizinan berusaha Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 317 OCRPasal 769 #Laporkan Penjelasan
(1) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 768, perizinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan berupa praktik mandiri Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan, berlaku perizinan Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 681.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan berupa praktik mandiri Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KeempatPenyelenggaraan Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pasal 770 #Laporkan Penjelasan
Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib memiliki sistem tata kelola manajemen dan tata kelola Pelayanan Kesehatan atau klinis yang baik.
Pasal 771 #Laporkan Penjelasan
Setiap Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib memiliki STR dan SIP.
Pasal 772 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib menginformasikan daftar nama, nomor STR dan SIP, serta jadwal praktik Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang melakukan praktik.
a. teguran lisan;
b. peringatan tertulis;
c. denda administratif; dan/atau
d. pencabutan perizinan berusaha.
(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Tata cara pengenaan sanksi administratif bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 747 sampai dengan Pasal
(5) Tata cara
Pasal 773 #Laporkan Penjelasan
Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib melaksanakan sistem rujukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 774 #Laporkan Penjelasan
Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat dimanfaatkan sebagai tempat atau wahana pendidikan bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, serta tempat penelitian dan pengembangan di bidang Kesehatan yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 775 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis penyelenggaraan Fasilitas Pelayanan Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 776 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Fasilitas Pelayanan Kesehatan di kawasan ekonomi khusus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian KelimaRekam Medis
Pasal 777 #Laporkan Penjelasan
Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib menyelenggarakan rekam medis.
hlm. 319 OCRPasal 778 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang memberikan Pelayanan Kesehatan perseorangan wajib membuat rekam medis.
(3) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
Pasal 779 #Laporkan Penjelasan
(1) Rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 777 dan Pasal 778 ayat (1) wajib diselenggarakan secara elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 780 #Laporkan Penjelasan
Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam menyelenggarakan rekam medis wajib:
a. mencatat dan mendokumentasikan seluruh tindakan yang dilakukan secara lengkap dan jelas;
b. menjaga keamanan, keutuhan, kerahasiaan, dan ketersediaan data yang terdapat dalam dokumen rekam medis;
c. menjamin pelindungan data dan informasi rekam medis Pasien;
d. memastikan kesesuaian sistem elektronik yang kompatibel antara satu sistem dengan sistem elektronik lainnya sesuai dengan variabel dan meta data yang ditetapkan oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan; dan hlm. 320 OCR memastikan sistem elektronik yang berbeda mampu bekerja secara terpadu melakukan komunikasi menggunakan standar pertukaran data.
Pasal 781 #Laporkan Penjelasan
(1) Rekam medis elektronik merupakan bagian dari Sistem Informasi Kesehatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan wajib terintegrasi dengan Sistem
Pasal 782 #Laporkan Penjelasan
Pengisian rekam medis elektronik dimulai dari Pasien masuk sampai Pasien pulang, dirujuk, atau meninggal.
Pasal 783 #Laporkan Penjelasan
(1) Pembukaan isi rekam medis dapat dilakukan:
a. atas persetujuan Pasien; dan/atau
b. tidak atas persetujuan Pasien.
(3) Permintaan pembukaan isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Pembukaan isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terbatas sesuai dengan kebutuhan.
(5) Pembukaan isi rekam medis atas persetujuan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan untuk kepentingan:
a. pemeliharaan Kesehatan, pengobatan, penyembuhan, dan perawatan Pasien;
b. permintaan Pasien sendiri; dan/atau
c. administratif, pembayaran asuransi, atau jaminan pembiayaan Kesehatan.
(6) Dalam hal Pasien tidak cakap, persetujuan pembukaan isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat diberikan oleh keluarga terdekat atau pengampunya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 321 OCR(8) Selain keluarga terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat (7), persetujuan pembukaan isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat dilakukan oleh ahli waris.
(9) Dalam hal keluarga terdekat dan ahli waris tidak dapat memberikan persetujuan karena tidak diketahui keberadaannya, tidak cakap secara hukum, meninggal dunia, atau tidak ada, persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(10) Pembukaan isi rekam medis untuk keperluan administrasi, pembayaran asuransi, atau jaminan pembiayaan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c harus dilakukan secara tertulis dan/atau elektronik melalui persetujuan umum pada saat registrasi Pasien di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(11) Pembukaan isi rekam medis tidak atas persetujuan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan untuk kepentingan:
a. pemenuhan permintaan aparat penegak hukum dalam rangka penegakan hukum;
b. penanggulangan KLB, Wabah, atau bencana;
c. pendidikan dan penelitian secara terbatas;
d. upaya pelindungan terhadap bahaya ancaman keselamatan orang lain secara individual atau masyarakat; dan
e. kepentingan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
(12) Permintaan pembukaan isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (11) dilakukan oleh pihak atau institusi yang berwenang atas kepentingan.
Pasal 784 #Laporkan Penjelasan
(1) Dokumen rekam medis merupakan milik Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(2) Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib menjaga keamanan, keutuhan, kerahasiaan, dan ketersediaan data yang terdapat dalam dokumen rekam medis.
Pasal 785 #Laporkan Penjelasan
lsi rekam medis wajib dijaga kerahasiaannya oleh semua pihak yang terlibat dalam Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan walaupun Pasien telah meninggal dunia.
hlm. 322 OCRPasal 786 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk mendukung penyelenggaraan rekam medis elektronik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Pemerintah Pusat bertanggung jawab menyediakan:
a. sistem elektronik pada penyelenggaraan rekam medis elektronik; dan
b. platform layanan serta standar interoperabilitas dan integrasi Data Kesehatan.
Pasal 787 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan rekam medis elektronik diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KeenamRahasia Kesehatan Pribadi Pasien
Pasal 788 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus menyimpan rahasia Kesehatan pribadi Pasien.
(2) Selain Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam melaksanakan Pelayanan Kesehatan wajib menyimpan rahasia Kesehatan pribadi Pasien.
(3) Rahasia Kesehatan pribadi Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. identitas Pasien;
b. data dan Informasi Kesehatan Pasien yang meliputi hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, penegakan diagnosis, pengobatan dan/atau tindakan Pelayanan Kesehatan; dan
c. hal lain yang berkenaan dengan Pasien.
Pasal 789 #Laporkan Penjelasan
Semua pihak pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang harus menyimpan rahasia Kesehatan pribadi Pasien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 788 ayat (1) meliputi:
a. Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
b. pimpinan dan manajemen Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
c. tenaga yang berkaitan dengan pembiayaan Pelayanan Kesehatan;
d. tenaga lainnya yang memiliki data dan Informasi Kesehatan Pasien di Fasilitas Pelayanan Kesehatan; dan
e. pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Pasal 790 #Laporkan Penjelasan
(1) Pembukaan rahasia Kesehatan pribadi Pasien berupa rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 788 ayat (4) sesuai dengan ketentuan pembukaan rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 783.
Pasal 791 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka menjaga rahasia Kesehatan pribadi Pasien, Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus menerapkan sistem manajemen keamanan informasi atas Data Kesehatan pribadi Pasien.
Pasal 792 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan penyedia penyimpanan data harus menanggulangi dan menanggapi insiden keamanan siber dalam bentuk penerimaan, pemantauan, dan penanganan laporan dan aktivitas insiden keamanan siber.
Bagian KetujuhPuskesmas
Pasal 793 #Laporkan Penjelasan
(1) Puskesmas mempunyai tugas menyelenggarakan dan mengoordinasikan Pelayanan Kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif dengan mengutamakan promotif dan preventif di wilayah kerjanya.
Pasal 794 #Laporkan Penjelasan
(1) Selain menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 793 ayat
a. berperilaku hidup sehat;
b. mudah mengakses Pelayanan Kesehatan bermutu;
c. hidup dalam lingkungan sehat; dan
d. memiliki derajat Kesehatan yang setinggi-tingginya, baik individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat.
(3) Kemudahan mengakses Pelayanan Kesehatan bermutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakan melalui penyediaan jaminan kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan infrastruktur pendukung lainnya hingga tingkat desa/kelurahan, serta kemudahan dalam mendapatkan Pelayanan Kesehatan.
(5) Memiliki derajat Kesehatan yang setinggi-tingginya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d mencakup keadaan Kesehatan fisik, jiwa, maupun sosial yang lebih baik dari sebelumnya yang dapat dicapai sesuai dengan kemampuan maksimal dari setiap orang atau masyarakat.
hlm. 325 OCRPasal 795 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka melaksanakan fungsi penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan primer di wilayah kerjanya, Puskesmas melakukan koordinasi dengan:
a. struktur jejaring berbasis wilayah administratif;
b. struktur jejaring berbasis satuan pendidikan;
c. struktur jejaring berbasis tempat kerja;
d. struktur jejaring sistem rujukan; dan
e. struktur jejaring lintas sektor.
Pasal 796 #Laporkan Penjelasan
(1) Struktur jejaring berbasis wilayah administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 795 huruf a terdiri atas:
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan penunjang, baik milik Pemerintah
b. unit Pelayanan Kesehatan di tingkat desa/kelurahan; dan
c. Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat, di dalam wilayah kerja Puskesmas.
Pasal 797 #Laporkan Penjelasan
(1) Unit Pelayanan Kesehatan di tingkat desa/kelurahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 796 ayat (1) huruf b dapat berupa Puskesmas pembantu atau bentuk lainnya yang standar pelayanannya menyesuaikan dengan standar pelayanan
Pasal 798 #Laporkan Penjelasan
(1) Struktur jejaring berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 795 huruf b terdiri atas jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
hlm. 326 OCRPasal 799 #Laporkan Penjelasan
(1) Struktur jejaring berbasis tempat kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 795 huruf c terdiri atas tempat kerja pada sektor formal, informal, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan, serta lingkungan matra.
(2) Dalam rangka koordinasi
(3) Selain melakukan surveilans sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 800 #Laporkan Penjelasan
(1) Struktur jejaring sistem rujukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 795 huruf d terdiri atas Fasilitas Pelayanan Kesehatan untuk rujukan vertikal, horizontal, dan rujuk balik.
a. pelaporan rujukan Pasien;
b. penerimaan pelaporan rujuk balik;
c. pencatatan dan pelaporan data secara terintegrasi; dan
d. pertemuan koordinasi secara berkala setiap 3 (tiga) bulan sekali atau sesuai dengan kebutuhan.
Pasal 801 #Laporkan Penjelasan
(1) Struktur jejaring lintas sektor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 795 huruf e meliputi jejaring pemerintah di tingkat kecamatan, desa/kelurahan, dusun, rukun warga, rukun tetangga, dan jejaring mitra Kesehatan untuk mengatasi determinan Kesehatan.
hlm. 327 OCRPasal 802 #Laporkan Penjelasan
Seluruh struktur jejaring sebagaimana dimaksud dalam Pasal 795 sampai dengan Pasal 801 harus melaksanakan pencatatan dan pelaporan data secara terintegrasi dan melakukan pertemuan koordinasi rutin.
Pasal 803 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Daerah kabupaten/kota mendirikan Puskesmas di setiap kecamatan.
(3) Aksesibilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi aspek waktu tempuh yang dibutuhkan masyarakat untuk mencapai Puskesmas.
a. lokasi;
b. bangunan;
c. prasarana;
d. sumber daya manusia;
e. laboratorium; dan
f. Perbekalan Kesehatan.
(5) Lokasi, bangunan, dan prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a sampai dengan huruf c harus memenuhi syarat fungsi, keamanan, kenyamanan, pelindungan keselamatan dan Kesehatan, serta kemudahan dalam memberi pelayanan bagi semua orang, termasuk yang berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas, anak-anak, dan lanjut usia.
(6) Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf d terdiri atas:
a. Tenaga Medis;
b. Tenaga Kesehatan; dan
c. Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan.
hlm. 328 OCR(8) Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf b termasuk Tenaga Kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang Kesehatan komunitas.
(9) Laboratorium dan Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf e dan huruf f harus memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 804 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Puskesmas harus Sistem Informasi Kesehatan yang Sistem Informasi Kesehatan Nasional. didukung terintegrasi dengan dengan
Pasal 805 #Laporkan Penjelasan
Puskesmas dapat memanfaatkan Telekesehatan dan Telemedisin dalam menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan.
Pasal 806 #Laporkan Penjelasan
(1) Puskesmas dipimpin oleh tenaga yang memiliki kompetensi dalam mengoordinasikan Sumber Daya Kesehatan dan jejaring Pelayanan Kesehatan primer di wilayah kerja Puskesmas.
Pasal 807 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis penyelenggaraan
Bagian KedelapanRumah Sakit
Paragraf I Umum
Pasal 808 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Rumah Sakit bertujuan:
a. meningkatkan akses dan mutu Pelayanan Kesehatan spesialistik danI atau subspesialistik; dan
b. memberikan pelindungan kepada Pasien, sumber daya manusia di Rumah Sakit, masyarakat, dan lingkungan Rumah Sakit.
hlm. 329 OCRPasal 809 #Laporkan Penjelasan
(1) Rumah Sakit menyelenggarakan fungsi Pelayanan Kesehatan perseorangan dalam bentuk spesialistik dan/ atau subspesialistik.
(2) Selain Pelayanan Kesehatan perseorangan dalam bentuk spesialistik dan/atau subspesialistik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Rumah Sakit dapat memberikan Pelayanan Kesehatan dasar.
Pasal 810 #Laporkan Penjelasan
Selain menyelenggarakan fungsi Pelayanan Kesehatan perseorangan sebagaimana dimaksud dalam
Paragraf 2Tanggung Jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Dalam Penyelenggaraan Rumah Sakit
Pasal 81 1 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab untuk:
a. menyediakan Rumah Sakit berdasarkan kebutuhan masyarakat dalam rangka meningkatkan akses dan mutu Pelayanan Kesehatan;
b. meningkatkan dan mengembangkan kemampuan Pelayanan Kesehatan spesialistik danf atau subspesialistik;
c. menjamin pembiayaan Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin atau orang tidak mampu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
d. memberikan pelindungan kepada Rumah Sakit dan masyarakat pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit;
e. menggerakkan peran serta masyarakat dalam pendirian Rumah Sakit sesuai dengan kemampuan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat;
f. menyediakan Informasi Kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat;
g. menjamin pembiayaan pelayanan kegawatdaruratan di Rumah Sakit akibat KLB, Wabah, atau bencana;
h. menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan; dan
i. mengatur pendistribusian dan penyebaran Alat Kesehatan berteknologi tinggi dan bernilai tinggi.
hlm. 330 OCR(2) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 3Penyelenggaraan Rumah Sakit
Pasal 812 #Laporkan Penjelasan
Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, sarana dan prasarana, peralatan Kesehatan, serta Sumber Daya Manusia Kesehatan.
Pasal 813 #Laporkan Penjelasan
(1) Persyaratan lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 812 harus memenuhi ketentuan mengenai Kesehatan dan keselamatan lingkungan serta tata ruang.
(3) Ketentuan mengenai Kesehatan dan keselamatan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi upaya pemantauan lingkungan, upaya pengelolaan lingkungan, danf atau dengan analisis mengenai dampak lingkungan yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Kajian kebutuhan dan kelayakan penyelenggaraan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 814 #Laporkan Penjelasan
(1) Persyaratan sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 812 harus memenuhi aspek keandalan teknis bangunan gedung dan konstruksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 815 #Laporkan Penjelasan
(1) Persyaratan peralatan Kesehatan pada Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 812 harus memenuhi standar pelayanan, persyaratan mutu, keamanan, keselamatan, dan laik pakai.
(2) Peralatan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh institusi pengujian fasilitas Kesehatan yang berwenang.
(3) Pengujian dan kalibrasi peralatan Kesehatan serta standar yang berkaitan dengan keamanan, mutu, dan manfaat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 816 #Laporkan Penjelasan
(1) Sumber Daya Manusia Kesehatan pada Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 812 meliputi Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan.
(2) Sumber Daya Manusia Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan yang diberikan.
(3) Sumber Daya Manusia Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Pemilik Rumah Sakit dan pimpinan Rumah Sakit bertanggung jawab dalam pemenuhan Sumber Daya Manusia Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan jumlah dan kualifikasi disesuaikan dengan hasil analisis beban kerja, kebutuhan, dan kemampuan pelayanan Rumah Sakit.
(5) Sumber Daya Manusia Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan ditetapkan oleh pemilik Rumah Sakit atau kepala/direktur Rumah Sakit.
(6) Rumah Sakit dapat mendayagunakan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
Pasal 817 #Laporkan Penjelasan
(1) Rumah Sakit dapat diselenggarakan oleh Pemerintah
(3) Rumah Sakit yang didirikan oleh Pemerintah Daerah berbentuk unit organisasi bersifat khusus yang memberikan layanan secara profesional dan dapat menerapkan pola pengelolaan keuangan badan layanan umum daerah.
(4) Rumah Sakit yang didirikan oleh masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk badan hukum yang kegiatan usahanya hanya bergerak di bidang Pelayanan Kesehatan.
(5) Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dikecualikan bagi Rumah Sakit yang diselenggarakan oleh badan hukum yang bersifat nirlaba.
Pasal 818 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendapatan Rumah Sakit yang dikelola Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah seluruhnya dapat digunakan secara langsung untuk biaya operasional Rumah Sakit dan tidak dapat dijadikan sebagai pendapatan negara atau pendapatan pemerintah daerah.
Pasal 819 #Laporkan Penjelasan
(1) Rumah Sakit memberikan Pelayanan Kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.
Pasal 820 #Laporkan Penjelasan
(1) Rumah Sakit ditetapkan klasifikasinya berdasarkan kemampuan pelayanan.
Pasal 82 1 #Laporkan Penjelasan
Pelayanan Kesehatan yang diberikan Rumah Sakit paling sedikit meliputi:
a. pelayanan medik;
b. pelayanan intensif;
c. pelayanan bedah;
d. pelayanan keperawatan dan/atau kebidanan;
e. pelayanan kefarmasian;
f. pelayanan laboratorium;
g. pelayanan radiologi;
h. pelayanan darah;
i. pelayanan gizi;
j. pemulasaraan jenazah;
k. pelayanan sterilisasi sentral; dan
1. pemeliharaan sarana dan prasarana serta Alat Kesehatan.
Pasal 822 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Rumah Sakit harus menyelenggarakan tata kelola Rumah Sakit yang baik dan tata kelola klinis yang baik.
Pasal 823 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyelenggaraan Rumah Sakit diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 4Perizinan Rumah Sakit
Pasal 824 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Rumah Sakit wajib memiliki perizinan berusaha.
(2) Pemberian perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 5Pengorganisasian
Pasal 825 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Rumah Sakit harus memiliki organisasi yang efektif, efisien, dan akuntabel.
hlm. 334 OCRPasal 826 #Laporkan Penjelasan
Organisasi Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas:
a. unsur pimpinan;
b. unsur pelayanan medis;
c. unsur keperawatan;
d. unsur penunjang medis dan nonmedis;
e. unsur pelaksana administratif; dan
f. unsur operasional.
Pasal 827 #Laporkan Penjelasan
(1) Unsur pimpinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 826 huruf a dijabat oleh:
a. Tenaga Medis;
b. Tenaga Kesehatan; atau
c. tenaga profesional, yang memiliki kompetensi manajemen Rumah Sakit.
(3) Pemilik Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi pimpinan Rumah Sakit.
Pasal 828 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka pelaksanaan unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur penunjang medis dan nonmedis, unsur pelaksana administratif, dan unsur operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 826 huruf b sampai dengan huruf f, dapat dibentuk direktorat, departemen, divisi, instalasi, unit kerja, komite, danf atau satuan sesuai dengan kebutuhan dan beban kerja Rumah Sakit.
Pasal 829 #Laporkan Penjelasan
Pimpinan organisasi yang membidangi keperawatan, dan sumber daya berkewarganegaraan Indone sia. pelayanan manusia medis, harus
Pasal 830 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman organisasi Rumah Sakit diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 335 OCRParagraf 6Dewan Pengawas
Pasal 831 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemilik Rumah Sakit dapat membentuk dewan pengawas Rumah Sakit.
(3) Dewan pengawas Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas melaksanakan pengawasan penyelenggaraan Rumah Sakit secara internal.
Pasal 832 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai dewan pengawas Rumah Sakit diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 7Kewajiban Rumah Sakit
Pasal 833 #Laporkan Penjelasan
Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban:
a. memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat;
b. memberikan Pelayanan Kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminatif, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan Pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit;
c. memberikan pelayanan Gawat Darurat kepada Pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya;
d. berperan aktif dalam memberikan Pelayanan Kesehatan pada bencana sesuai dengan kemampuan pelayanannya;
e. menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin;
f. melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan bagi Pasien tidak mampu atau miskin, pelayanan Gawat Darurat tanpa uang muka, ambulans gratis, pelayanan bagi korban bencana dan KLB, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan;
hlm. 336 OCRg. membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani Pasien;
h. menyelenggarakan rekam medis;
i. menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak, antara lain sarana ibadah, tempat parkir, ruang tunggu, sarana untuk penyandang disabilitas, wanita
j. melaksanakan sistem
k. menolak keinginan Pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta ketentuan peraturan perundang-undangan;
1. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai hak dan kewajiban Pasien;
m. menghormati dan melindungi hak-hak Pasien;
n. melaksanakan etika Rumah Sakit;
o. memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana;
p. melaksanakan program pemerintah di bidang Kesehatan, baik secara regional maupun nasional;
q. membuat daftar Tenaga Medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan Tenaga Kesehatan lainnya;
r.
s. melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas; dan
t. memberlakukan seluruh lingkungan Rumah Sakit sebagai kawasan tanpa rokok.
Pasal 834 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf a
a. informasi umum Rumah Sakit;
b. informasi terkait dengan pelaksanaan Pelayanan Kesehatan kepada Pasien; dan
c. informasi terkait dengan kinerja pelayanan.
Pasal 835 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit memberikan Pelayanan Kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminatif, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan Pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf b dilakukan melalui:
a. pelaksanaan standar mutu dalam penyelenggaraan Rumah Sakit;
b. penerapan standar keamanan dan keselamatan Pasien;
c. pengukuran indikator nasional mutu Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit; dan
d. pelayanan dengan tidak membedakan ras, agama, suku, gender, kemampuan ekonomi, orang dengan kebutuhan khusus atau penyandang disabilitas, serta latar belakang sosial politik dan antargolongan.
Pasal 836 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit memberikan pelayanan Gawat Darurat kepada Pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf c dilakukan pada instalasi Gawat Darurat berupa:
a. triase; dan
b. tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kedisabilitasan.
(3) Pelayanan Gawat Darurat dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.
hlm. 338 OCRPasal 837 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit untuk berperan aktif dalam memberikan Pelayanan Kesehatan pada bencana sesuai kemampuan pelayanannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf d dilakukan melalui:
a. peningkatan manajemen penanggulangan bencana;
b. memberikan pelayanan langsung kepada korban bencana di lokasi bencana atau di Rumah Sakit; dan
c. melakukan mitigasi dampak bencana melalui penyediaan pelayanan rehabilitasi psikososial dan rehabilitasi fisik.
(2) Pelayanan Kesehatan pada bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk Pelayanan Kesehatan dalam rangka upaya penanggulangan krisis Kesehatan lainnya.
Pasal 838 #Laporkan Penjelasan
Kewajiban Rumah Sakit menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf e dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 839 #Laporkan Penjelasan
Kewajiban Rumah Sakit membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani Pasien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833
a.
b. menyelenggarakan penugasan klinis bagi semua Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan; dan
c. melaksanakan peningkatan mutu pelayanan secara internal dan eksternal.
Pasal 840 #Laporkan Penjelasan
Kewajiban Rumah Sakit dalam menyelenggarakan rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf h dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 339 OCRPasal 841 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit dalam menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak paling sedikit meliputi sarana ibadah, tempat parkir, ruang tunggu, sarana untuk penyandang disabilitas, wanita
Pasal 842 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit melaksanakan sistem rujukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf j dilaksanakan berdasarkan kemampuan pelayanan Rumah Sakit dan kebutuhan medis Pasien.
Pasal 843 #Laporkan Penjelasan
Kewajiban Rumah Sakit menolak keinginan Pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf k dilakukan dengan cara:
a. melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi; dan
b. membuat peraturan internal Rumah Sakit.
Pasal 844 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit untuk memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai hak dan kewajiban Pasien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf 1 dilakukan melalui pemberian informasi kepada Pasien secara lengkap tentang hak dan kewajibannya.
Pasal 845 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit untuk menghormati dan melindungi hak-hak Pasien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf m dilaksanakan dengan:
a. melakukan pelayanan yang berorientasi pada hak dan kepentingan Pasien; dan
b. melakukan monitoring dan evaluasi.
Pasal 846 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit untuk melaksanakan etika Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf n dilakukan dengan:
a.
b. menerapkan panduan etik dan perilaku;
c. melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan panduan etik dan perilaku; dan
d. mengenakan sanksi bagi pelanggaran panduan etik dan perilaku.
Pasal 847 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit dalam memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf o ditujukan untuk mencegah dan mengendalikan potensi bahaya terhadap kecelakaan dan bencana.
a. kebakaran dan kecelakaan lain yang berhubungan dengan instalasi listrik;
b. radiasi atau pencemaran bahan kimia yang berbahaya, termasuk bahan berbahaya dan beracun;
c. gangguan psikososial; dan/atau
d. masalah ergonomis.
(3) Pengelolaan sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 341 OCRPasal 848 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit untuk melaksanakan program pemerintah di bidang Kesehatan baik secara regional maupun nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf p dilaksanakan dalam bentuk pemberian pelayanan dalam rangka pelaksanaan
a. penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi;
b. penurunan angka gizi kurang pada bayi dan balita;
c. perbaikan pengelolaan jaminan kesehatan nasional;
d. peningkatan promosi Kesehatan dan penyehatan masyarakat;
e. peningkatan pengelolaan pengendalian penyakit serta penanggulangan KLB, Wabah, dan darurat bencana;
f. peningkatan akses dan mutu Pelayanan Kesehatan;
g. peningkatan akses Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dengan mengutamakan produk dalam negeri;
h. peningkatan pemenuhan Sumber Daya Manusia Kesehatan sesuai standar; dan
i. pelaksanaan program pemerintah bidang Kesehatan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pelaksanaan program pemerintah di bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat dan dilaporkan oleh Rumah Sakit melalui Sistem Informasi Kesehatan Rumah Sakit yang terintegrasi dengan Sistem
Pasal 849 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit untuk membuat daftar Tenaga Medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan Tenaga Kesehatan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf q dilaksanakan melalui penyusunan daftar Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang dapat diakses oleh pengguna pelayanan.
Pasal 850 #Laporkan Penjelasan
(1) Kewajiban Rumah Sakit men)rusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf r dilakukan melalui
(2) Peraturan internal Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. peraturan organisasi Rumah Sakit; dan
b. peraturan staf medis dan staf Tenaga Kesehatan Rumah Sakit.
(3) Peraturan organisasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Peraturan staf medis dan staf Tenaga Kesehatan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyusunan dan pelaksanaan peraturan internal Rumah Sakit diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 851 #Laporkan Penjelasan
Kewajiban Rumah Sakit melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf s dilaksanakan dengan:
a. memberikan konsultasi hukum;
b. memfasilitasi proses mediasi dan proses peradilan;
c. memberikan advokasi hukum;
d. memberikan pendampingan dalam penyelesaian sengketa medik;
e. mengalokasikan anggaran untuk pendanaan proses hukum dan ganti rugi; dan
f. memberikan upaya pelindungan dan bantuan hukum lainnya.
Pasal 852 #Laporkan Penjelasan
Kewajiban Rumah Sakit dalam memberlakukan seluruh lingkungan Rumah Sakit sebagai kawasan tanpa rokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 huruf t dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 343 OCRPasal 853 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelanggaran atas kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 833 sampai dengan Pasal 852 dikenai sanksi administratif berupa:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. denda administratif; dan/atau
d. pencabutan
(3) Tata cara
Paragraf 8Pencatatan dan Pelaporan
Pasal 854 #Laporkan Penjelasan
Setiap Rumah Sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan terhadap semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit dalam Sistem
Pasal 855 #Laporkan Penjelasan
(1) Rumah Sakit wajib menyelenggarakan penyimpanan terhadap pencatatan dan pelaporan yang dilakukan untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pemusnahan atau penghapusan terhadap berkas pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 9Pembinaan dan Pengawasan
Pasal 856 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah
a. pemenuhan kebutuhan Pelayanan Kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat;
b. peningkatan mutu Pelayanan Kesehatan;
c. keselamatan Pasien;
d. pengembangan jangkauan pelayanan; dan
e. peningkatan kemampuan kemandirian Rumah Sakit.
(3) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Pemerintah Pusat mengenakan sanksi administratif berupa:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. denda administratif; dan/atau
d. pencabutan
(4) Tata cara pengenaan sanksi administratif berupa pencabutan perizinan berusaha Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 857 #Laporkan Penjelasan
(1) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 853 ayat (1) dan Pasal 856 ayat (3) dikenakan berdasarkan laporan dugaan pelanggaran yang berasal dari:
a. pengaduan;
b. pemberitaan media elektronik atau media cetak; dan/atau
c. hasil monitoring dan evaluasi.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Pemerintah
Pasal 858 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengaduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 857 ayat (1)
a. dilakukan secara tertulis; dan
b. memiliki uraian peristiwa yang dapat ditelusuri faktanya.
hlm. 345 OCR(3) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. identitas pelapor;
b. nama dan alamat lengkap pihak yang diadukan;
c. jenis dugaan pelanggaran yang dilakukan Rumah Sakit;
d. waktu pelanggaran dilakukan;
e. kronologis peristiwa yang diadukan; dan
f. keterangan yang memuat fakta, data, atau petunjuk terjadinya pelanggaran.
(4) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang menerbitkan perizinan berusaha Rumah Sakit.
(5) Identitas pelapor sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a wajib dirahasiakan.
Pasal 859 #Laporkan Penjelasan
Pemberitaan media elektronik atau media cetak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 857 ayat (1) huruf b merupakan pemberitaan yang dapat ditelusuri kebenarannya.
Pasal 860 #Laporkan Penjelasan
(1) Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 857 ayat (1) huruf c dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah.
(2) Hasil monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang menerbitkan perizinan berusaha Rumah Sakit.
Pasal 861 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah setelah menerima laporan dugaan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 857 melakukan pemeriksaan tindak lanjut laporan.
Pasal 862 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 856 ayat (3) huruf a sampai dengan huruf c diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 346 OCRBagian KesembilanRumah Sakit Pendidikan
Paragraf 1Umum
Pasal 863 #Laporkan Penjelasan
(1) Rumah Sakit pendidikan merupakan Rumah Sakit yang mempunyai fungsi sebagai tempat pendidikan, penelitian, dan Pelayanan Kesehatan secara terpadu dalam bidang pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan serta pendidikan berkelanjutan secara multiprofesi.
a. Rumah Sakit pendidikan yang bekerja sama dengan perguruan tinggi sebagai mitra penyelenggara pendidikan; dan
b. RSPPU bekerja sama dengan perguruan tinggi.
Pasal 864 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Rumah Sakit pendidikan bertujuan:
a. menyediakan tempat penyelenggaraan pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
b. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang dapat digunakan untuk pendidikan dan penelitian bidang kedokteran, kedokteran gigi, dan Kesehatan lain dengan mengutamakan kepentingan dan keselamatan Pasien; dan
c. meningkatkan mutu dan kompetensi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
Pasal 865 #Laporkan Penjelasan
Rumah Sakit pendidikan harus memberikan pelindungan dan kepastian hukum bagi Pasien, pemberi pelayanan, peserta didik, pendidik, subyek penelitian bidang kedokteran/kedokteran gigi/Kesehatan lain, peneliti, penyelenggara Rumah Sakit pendidikan, serta institusi pendidikan.
Pasal 866 #Laporkan Penjelasan
(1) Rumah Sakit dapat ditetapkan menjadi Rumah Sakit pendidikan oleh Menteri setelah memenuhi persyaratan.
hlm. 347 OCRa. telah menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dan memiliki variasi dan jumlah kasus yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan;
b. memiliki perizinan berusaha yang masih berlaku;
c. terakreditasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
d. memiliki dokumen perjanjian kerja sama dengan perguruan tinggi;
e. memiliki sumber daya manusia yang memenuhi kualifikasi sebagai pendidik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ;
f. memiliki teknologi kedokteran danf atau Kesehatan yang sesuai dengan standar nasional pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan;
g. memiliki program penelitian secara rutin;
h. memiliki visi, misi, dan komitmen Rumah Sakit di bidang pendidikan; dan
i. memiliki persetujuan menjadi Rumah Sakit pendidikan dari pemilik Rumah Sakit.
(3) Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. standar manajemen dan administrasi pendidikan;
b. standar sumber daya manusia;
c. standar sarana penunjang pendidikan; dan
d. standar perancangan dan pelaksanaan program pendidikan klinik yang berkualitas.
Paragraf 2Fungsi Rumah Sakit Pendidikan
Pasal 867 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam menjalankan fungsi sebagai tempat pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 863 ayat (1), Rumah Sakit pendidikan harus:
a. menyediakan pendidik;
b. menyediakan sarana dan prasarana serta peralatan yang mendukung penyelenggaraan pendidikan;
c. memiliki variasi dan jumlah kasus yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan; dan
d. melakukan koordinasi dengan institusi pendidikan dan jejaringnya.
hlm. 348 OCRa. mengembangkan dan menyelenggarakan penelitian unggulan dan translasional di bidang ilmu dan teknologi kedokteran, kedokteran gigi, dan Tenaga Kesehatan lain;
b. menilai, menapis, dan/atau mengadopsi teknologi kedokteran danf atau kedokteran gigi, serta Teknologi Kesehatan lainnya; dan
c. mengembangkan kerja
(3) Dalam menjalankan fungsi sebagai tempat penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Dalam menjalankan fungsi sebagai tempat Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 863 ayat (1), Rumah Sakit pendidikan
Pasal 868 #Laporkan Penjelasan
Dalam menjalankan fungsi sebagai Rumah Sakit pendidikan, Rumah Sakit dapat melakukan kerja sama dengan pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 3Jenis Rumah Sakit Pendidikan
Pasal 869 #Laporkan Penjelasan
(1) Jenis Rumah Sakit pendidikan terdiri dari:
a. Rumah Sakit pendidikan utama; dan
b. Rumah Sakit pendidikan satelit.
Paragraf 4Penyelenggaraan
Pasal 870 #Laporkan Penjelasan
(1) Rumah Sakit pendidikan hanya dapat menerima mahasiswa sesuai dengan:
a. rasio jumlah dosen dengan mahasiswa; dan
b. jumlah dan variasi jenis kasus penyakit.
(2) Rumah Sakit pendidikan utama wajib memiliki perjanjian kerja sama secara tertulis dengan institusi pendidikan.
(3) Rumah Sakit pendidikan satelit wajib memiliki perjanjian kerja sama secara tertulis dengan Rumah Sakit pendidikan utama dan institusi pendidikan.
Pasal 871 #Laporkan Penjelasan
(1) Rumah Sakit pendidikan memiliki kewajiban:
a. meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan Pasien;
b. meningkatkan kompetensi sumber daya manusia secara
c. menjalankan tata kelola organisasi dan tata kelola klinis yang efektif, efisien, dan akuntabel;
d. meningkatkan fasilitas peralatan pendidikan bidang kedokteran, kedokteran gigi, dan Kesehatan lain sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat berdasarkan fungsi dan klasifikasinya;
e. meningkatkan penelitian klinis dan penelitian lain di bidang Kesehatan; dan
f. memberikan imbalan jasa pelayanan bagi peserta didik sesuai dengan Pelayanan Kesehatan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa pendanaan, sumber daya manusia, peralatan, bantuan hukum, serta sarana dan prasarana.
(4) Bantuan pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan untuk peningkatan kompetensi peserta didik.
hlm. 350 OCRPasal 872 #Laporkan Penjelasan
Pendanaan untuk penyelenggaraan fungsi Rumah Sakit pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemilik Rumah Sakit pendidikan dan sumber pendanaan lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.
Paragraf 5Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama
Program Spesialis/ Subspesialis
Pasal 873 #Laporkan Penjelasan
(1) RSPPU ditetapkan oleh Menteri setelah memenuhi persyaratan dan standar.
a. memiliki surat keputusan sebagai Rumah Sakit pendidikan dari Menteri;
b. memiliki surat permohonan menjadi RSPPU program spesialis/subspesialis yang ditandatangani oleh pimpinan Rumah Sakit;
c. memiliki persetujuan menjadi RSPPU program spesialis/subspesialis dari pemilik Rumah Sakit; dan
d. memiliki dokumen perjanjian kerja sama dengan
(3) Standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. standar manajemen dan administrasi pendidikan;
b. standar sumber daya manusia;
c. standar sarana penunjang pendidikan; dan
d. standar
Pasal 874 #Laporkan Penjelasan
(1) RSPPU yang telah ditetapkan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 873 ayat (1) dapat
Paragraf 6Koordinasi Pembelajaran Klinik
Pasal 875 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka melaksanakan koordinasi terhadap seluruh proses pembelajaran klinik di Rumah Sakit pendidikan dan / atau penyelenggaraan pendidikan program spesialis / subspesialis di RSPPU, pimpinan Rumah Sakit pendidikan atau pimpinan RSPPU membentuk unit fungsional.
a. memberikan dukungan administrasi proses pembelajaran klinik di Rumah Sakit pendidikan atau RSPPU.
b. -.rry,.rlm perencanaan kegiatan dan anggaran belanja tahunan pembelajaran klinik sesuai kebutuhan;
c.
d. membentuk sistem informasi terpadu untuk menunjang penyelenggaraan fungsi pelayanan, pendidikan, dan penelitian bidang kedokteran, kedokteran gigi, dan Kesehatan lain;
e. melakukan koordinasi dalam rangka fasilitasi kepada seluruh peserta didik yang melaksanakan pembelajaran klinik, serta dosen dan penyelia yang melakukan bimbingan dan supervisi proses pembelajaran klinik peserta didik di Rumah Sakit pendidikan atau RSPPU;
f. melakukan supervisi dan koordinasi penilaian kinerja terhadap tenaga pendidik atas seluruh proses pelayanan yang dilakukan, termasuk yang dilakukan di jejaring Rumah Sakit pendidikan atau RSPPU dan/atau yang terkait dengan sistem rujukan;
g. melakukan pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan proses pembelajaran klinik peserta didik; dan
h. melaporkan hasil kerja secara berkala kepada pimpinan Rumah Sakit pendidikan atau pimpinan RSPPU dan pimpinan institusi pendidikan.
Pasal 876 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut Rumah Sakit pendidikan Peraturan Menteri. mengenal dan RSPPU penyelenggaraan diatur dengan
hlm. 352 OCRBagian KesepuluhKompetensi Manajemen Kesehatan Pimpinan
Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pasal 877 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus memiliki kompetensi manajemen Kesehatan yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
(2) Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kepala, direktur, atau sebutan lain sebagai pimpinan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(3) Tugas dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pembinaan:
a.
b. kepegawaian;
c. pengelolaan keuangan;
d. pengelolaan sarana dan prasarana serta peralatan; dan
e. pengelolaan pelayanan lain, di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Pasal 878 #Laporkan Penjelasan
(1) Kompetensi manajemen Kesehatan pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 877 ayat (1) disesuaikan dengan jenis Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Pasal 879 #Laporkan Penjelasan
Kompetensi manajemen Kesehatan Pelayanan Kesehatan sebagaimana Pasal 878 ayat (1) terdiri atas:
a. kompetensi manajerial; dan
b. kompetensi teknis. pimpinan dimaksud Fasilitas dalam
hlm. 353 OCRPasal 880 #Laporkan Penjelasan
(1) Kompetensi manajerial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 879 huruf a
(3) Kompetensi manajerial pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri atas
a. kerja sama;
b. komunikasi;
c. pelayanan publik; dan
d. pengambilan keputusan.
Pasal 881 #Laporkan Penjelasan
(1) Kompetensi teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 879
Pasal 882 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi manajerial dan kompetensi teknis pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 354 OCRBagian KesebelasPeningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan
Paragraf 1Umum
Pasal 883 #Laporkan Penjelasan
Peningkatan mutu Pelayanan Kesehatan merupakan serangkaian upaya Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang sesuai dengan standar dan mengutamakan keselamatan Pasien.
Pasal 884 #Laporkan Penjelasan
Peningkatan mutu Pelayanan Kesehatan ditujukan untuk:
a. memenuhi hak Pasien untuk mendapatkan Pelayanan Kesehatan yang bermutu dan memberikan kepuasan kepada Pasien;
b. mendorong Fasilitas Pelayanan Kesehatan mewujudkan budaya mutu melalui tata kelola organisasi dan tata kelola klinis yang baik; dan
c. meningkatkan pelindungan bagi Sumber Daya Manusia Kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan masyarakat.
Pasal 885 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib melakukan peningkatan mutu Pelayanan Kesehatan secara internal dan eksternal secara terus-menerus dan berkesinambungan.
a. pengukuran dan pelaporan indikator mutu;
b. pelaporan insiden keselamatan Pasien; dan
c. manajemen risiko.
(3) Peningkatan mutu Pelayanan Kesehatan secara eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a. registrasi;
b. lisensi; dan
c. akreditasi.
(4) Dalam melakukan peningkatan mutu Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Paragraf 2Pengukuran dan Pelaporan Indikator Mutu
Pasal 886 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengukuran dan pelaporan indikator mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 885 ayat
(3) Indikator mutu sebagaimana dimaksud pada ayat
a. indikator mutu nasional; dan
b. indikator mutu Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(4) Indikator mutu nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a ditetapkan oleh Menteri berdasarkan jenis Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(5) Indikator mutu Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b ditetapkan oleh pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan berdasarkan prioritas di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Pasal 887 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengukuran indikator mutu dilakukan melalui tahapan kegiatan pengumpulan, validasi, analisis data, dan diseminasi hasil pengukuran berdasarkan indikator yang ditetapkan.
(3) Pelaporan indikator mutu Fasilitas Pelayanan Kesehatan disampaikan oleh masing-masing penanggung jawab program kepada pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Paragraf 3Pelaporan
Pasal 888 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelaporan insiden keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 885 ayat
(2) Insiden keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan setiap kejadian yang berhubungan atau tidak berhubungan secara langsung dengan pelayanan, yang dapat mengakibatkan kerugian atau berpotensi terjadinya cedera pada Pasien dan dapat dicegah kejadiannya.
(3) Insiden keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. kejadian tidak menimbulkan cedera;
b. kejadian nyaris cedera;
c. kejadian potensial cedera signifikan;
d. kejadian tidak diharapkan; dan/atau
e. kejadian sentinel.
(4) Kejadian tidak diharapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d merupakan insiden keselamatan pasien menimbulkan cedera pada Pasien.
(5) Kejadian sentinel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf e merupakan insiden keselamatan pasien yang tidak berhubungan dengan perjalanan penyakit pasien atau penyakit yang mendasarinya yang terjadi pada pasien.
(6) Kejadian sentinel sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat mengakibatkan kematian, disabilitas yang permanen, atau cedera berat yang bersifat sementara.
Pasal 889 #Laporkan Penjelasan
(1) Seluruh insiden keselamatan pasien yang terjadi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus dilaporkan
Pasal 890 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus melakukan pengelolaan insiden berdasarkan hasil pelaporan insiden sebagaimana dimaksud dalam pasal 889 ayat (1).
Paragraf 4Manajemen Risiko
Pasal 891 #Laporkan Penjelasan
(1) Manajemen risiko sebagaimana dimaksud dalam Pasal 885 ayat (2) huruf c merupakan peningkatan mutu Pelayanan Kesehatan yang dilakukan melalui pendekatan secara proaktif terhadap kemungkinan peristiwa yang dapat terjadi dan berdampak negatif pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(2) Manajemen risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diselenggarakan oleh seluruh penanggung jawab unit pelayanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan untuk menghindari atau meminimalisir risiko yang tidak diinginkan dan dilaporkan kepada pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(3) Manajemen risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan terhadap:
a. risiko klinis; dan/atau
b. risiko nonklinis.
(4) Risiko klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a merupakan peristiwa yang dapat terjadi dan berdampak negatif terkait dengan Pelayanan Kesehatan.
(5) Risiko nonklinis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b merupakan peristiwa yang dapat terjadi dan berdampak negatif terkait dengan selain Pelayanan Kesehatan.
(6) Manajemen risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan identifikasi, analisis, evaluasi, pengendalian, pemantauan, serta pelaporan risiko dan potensinya.
Pasal 892 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengukuran dan pelaporan indikator mutu, pelaporan insiden keselamatan pasien, dan manajemen risiko sebagaimana dimaksud dalam pasar gg6 sampai dengan Pasal 891 diatur dengan peraturan Menteri.
hlm. 358 OCRParagraf 5Registrasi
Pasal 893 #Laporkan Penjelasan
(1) Registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 885 ayat (3) huruf a merupakan kegiatan pendaftaran yang dilakukan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem
Paragraf 6Lisensi
Pasal 894 #Laporkan Penjelasan
(1) Lisensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 885 ayat (3) huruf b merupakan perizinan yang diberikan kepada Fasilitas Pelayanan Kesehatan untuk operasionalisasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan/atau untuk penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan tertentu.
Paragraf 7Akreditasi
Pasal 895 #Laporkan Penjelasan
(1) Akreditasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 885 ayat (3) huruf c merupakan pengakuan terhadap peningkatan mutu Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan berdasarkan standar akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Menteri atau lembaga penyelenggara akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri.
(3) Penyelenggaraan akreditasi melalui tahapan yang terdiri atas kegiatan persiapan, penilaian, dan pascaakreditasi.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai akreditasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 8Tanggung Jawab Pemerintah
Pasal 896 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka penyelenggaraan mutu Pelayanan Kesehatan, Menteri bertanggung jawab:
a. menetapkan strategi nasional mutu Pelayanan Kesehatan;
b. menetapkan strategi nasional keselamatan Pasien; dan
c. menetapkan standar mutu dan keselamatan Pasien.
(2) Gubernur dan bupati/wali kota bertanggung jawab memfasilitasi dan menjamin Fasilitas Pelayanan Kesehatan di wilayahnya serta melakukan peningkatan mutu internal dan eksternal.
Paragraf 9Sanksi Administratif
Pasal 897 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang tidak melakukan peningkatan mutu Pelayanan Kesehatan secara internal dan eksternal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 885 ayat (1) dikenakan sanksi administratif berupa:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. penyesuaian status akreditasi; dan/atau
d. pencabutan
(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sampai dengan huruf c dikenakan berdasarkan:
a. hasil monitoring dan evaluasi pada saat pengawasan;
b. pengaduan; dan/atau
c. pemberitaan media elektronik atau media cetak.
hlm. 360 OCR(4) Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sampai dengan huruf c diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kedua Belas Pengembangan Pelayanan Kesehatan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pasal 898 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka peningkatan akses dan mutu Pelayanan Kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat mengembangkan:
a. jejaring pengampuan Pelayanan Kesehatan;
b. kerja sama 2 (dua) atau lebih Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
c. pusat unggulan; dan
d. Pelayanan Kesehatan terpadu.
Pasal 899 #Laporkan Penjelasan
(1) Jejaring pengampuan Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 898 ayat (1) huruf a merupakan
(2) Pengampuan Pelayanan Kesehatan dilakukan paling sedikit melalui pelatihan, pendampingan penyelenggaraan pelayanan, serta pendampingan tindakan.
(3) Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang dilakukan pengampuan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 900 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka meningkatkan akses dan mutu Pelayanan Kesehatan melalui jejaring pengampuan Pelayanan Kesehatan, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat menyediakan sumber daya berupa sarana dan prasarana, Alat Kesehatan, Sumber Daya Manusia Kesehatan, dan pendanaan.
Pasal 901 #Laporkan Penjelasan
(1) Kerja sama 2 (dua) atau lebih Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 898 ayat (1) huruf b merupakan kerja sama antara 2 (dua) Fasilitas Pelayanan Kesehatan, baik antara Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan di luar negeri maupun antar-Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia.
Pasal 902 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan kerja sama 2 (dua) atau lebih Fasilitas Pelayanan Kesehatan meliputi:
a. Kesehatan masyarakat;
b. Pelayanan Kesehatan;
c. kefarmasian dan Alat Kesehatan;
d. pencegahan dan pengendalian penyakit;
e. penelitian dan pengembangan Kesehatan;
f. pengembangan Sumber Daya Manusia Kesehatan; dan
g. bidang lain sesuai dengan kebutuhan.
a. manajemen pelayanan;
b. peningkatan kapasitas sumber daya;
c. transfer pengetahuan;
d. penelitian dan/atau penelitian bersama; dan/atau
e. bentuk kerja sEuna lain yang disetujui oleh para pihak.
(3) Penyelenggaraan kerja sama 2 (dua) atau lebih Fasilitas Pelayanan Kesehatan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 362 OCRPasal 903 #Laporkan Penjelasan
(1) Pusat unggulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 898 ayat (1) huruf c merupakan Pelayanan Kesehatan dengan karakteristik utama pada Rumah Sakit yang mempunyai standar pelayanan internasional, berteknologi tinggi, memiliki kompetensi sumber daya manusia yang unggul, serta bekerja sama dengan institusi pendidikan untuk meningkatkan budaya belajar, inovasi, dan pengembangan.
(2) Pusat unggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang telah memenuhi persyaratan paling sedikit:
a. terakreditasi oleh lembaga akreditasi luar negeri;
b. memiliki kompetensi Sumber Daya Manusia Kesehatan yang mendukung layanan unggulan;
c. menjalankan penelitian translasional; dan
d. bekerja sama dengan institusi pendidikan untuk
(3) Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan pusat unggulan ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 904 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Kesehatan terpadu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 898 ayat (1) huruf d merupakan Pelayanan Kesehatan yang terintegrasi yang diselenggarakan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan secara terpadu, multidisiplin, dan berpusat pada kebutuhan Pasien.
(3) Pelayanan Kesehatan terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dengan mengutamakan kemudahan akses Pelayanan Kesehatan bagi Pasien.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman Pelayanan Kesehatan terpadu diatur dengan Peraturan Menteri.
hlm. 363 OCRBAB VPERBEKALAN KESEHATAN SERTA KETAHANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
Bagian KesatuKetersediaan, Pemerataan, dan Keterjangkauan
Perbekalan Kesehatan
Pasal 905 #Laporkan Penjelasan
Pengelolaan Perbekalan Kesehatan ditujukan untuk memenuhi ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan Perbekalan Kesehatan dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan baik pada kondisi normal maupun kondisi KLB, Wabah, dan Bencana.
Pasal 906 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap pengelolaan Perbekalan Kesehatan yang meliputi perencanaan, penyediaan, dan pendistribusian.
(3) Fasilitas pengelolaan kefarmasian
Pasal 907 #Laporkan Penjelasan
(1) Perencanaan Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 906 ayat (1) merupakan perencanaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lain.
Pasal 908 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam perencanaan Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9O7 dilakukan pemilihan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lain.
(2) Pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengacu pada formularium, daftar Alat Kesehatan esensial, dan daftar peralatan lain yang disusun dan ditetapkan oleh Menteri sebagai upaya pengendalian mutu dan biaya Pelayanan Kesehatan.
(3) Formularium dan daftar Alat Kesehatan esensial sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 909 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyediaan Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 906 ayat (1) dilakukan sesuai dengan kebutuhan Pelayanan Kesehatan.
(3) Selain dilaksanakan melalui pengadaan sebagaimana dimaksud pada
(4) Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Pasal 910 #Laporkan Penjelasan
(1) Pendistribusian Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 906 ayat (1) dilakukan oleh fasilitas pengelolaan kefarmasian, produsen, atau distributor Perbekalan Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Dalam kondisi tertentu pendistribusian Perbekalan Kesehatan dapat dilakukan dari Pemerintah Pusat langsung ke Pemerintah Daerah kabupaten/kota atau fasilitas Kesehatan yang membutuhkan.
hlm. 365 OCR(4) Untuk pemerataan ketersediaan Perbekalan Kesehatan dapat dilakukan relokasi antarwilayah provinsi atau kabupaten/kota.
(5) Kegiatan pendistribusian Perbekalan Kesehatan oleh fasilitas pengelolaan kefarmasian, produsen, atau distributor Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilaporkan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(6) Pelaporan kegiatan pendistribusian Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 91 1 #Laporkan Penjelasan
Pendistribusian Perbekalan memenuhi standar sesuai dengan perundang-undangan.
Kesehatan ketentuan harus peraturan
Pasal 912 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat melibatkan lembaga terkait dalam melakukan pengendalian ketersediaan Perbekalan Kesehatan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional untuk memastikan tidak terjadi kelebihan dan kekurangan atau kekosongan Perbekalan Kesehatan, terutama Obat dan Alat Kesehatan dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan.
(3) Pemerintah Pusat melakukan pembinaan terhadap pengelolaan Perbekalan Kesehatan untuk memenuhi ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan Perbekalan Kesehatan dalam
Pasal 913 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah h:sat berwenang mengatur dan mengendalikan harga Perbekalan Kesehatan, terutama Obat dan Alat Kesehatan.
(3) Pengaturan dan pengendalian harga Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memperoleh harga yang wajar bagi masyarakat, industri, dan pemerintah.
(4) Pengaturan dan pengendalian harga Perbekalan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 914 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri dapat menetapkan Perbekalan Kesehatan tertentu yang menjadi prioritas Kesehatan.
Pasal 915 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan Perbekalan Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KeduaPenggolongan Obat, Obat dengan Resep, dan Obat Tanpa Resep
Pasal 916 #Laporkan Penjelasan
Penggolongan Obat merupakan pembedaan kategori Obat berdasarkan risiko penggunaan yang bertujuan untuk menjamin keamanan dan ketepatan dalam penggunaan, penyerahan, dan distribusi Obat.
Pasal 917 #Laporkan Penjelasan
(1) Obat terdiri atas:
a. Obat dengan resep; dan
b. Obat tanpa resep.
(2) Obat dengan resep sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan Obat yang hanya dapat diperoleh berdasarkan resep.
(3) Obat dengan resep sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diserahkan oleh apoteker di fasilitas pelayanan kefarmasian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 367 OCR(4) Resep sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan permintaan dari Tenaga Medis kepada apoteker atau apoteker spesialis baik dalam bentuk tertulis fisik maupun elektronik untuk menyediakan dan menyerahkan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan/atau pangan olahan untuk keperluan medis khusus bagi Pasien.
(5) Obat dengan resep digolongkan menjadi:
a. Obat keras;
b. narkotika; dan
c. psikotropika.
(6) Obat tanpa resep sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diperoleh dari fasilitas pelayanan kefarmasian atau fasilitas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
a. Obat bebas; dan
b. Obat bebas terbatas.
Pasal 918 #Laporkan Penjelasan
(1) Obat keras sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Pasal 919 #Laporkan Penjelasan
(1) Obat bebas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 917 ayat
Pasal 920 #Laporkan Penjelasan
(1) Penggolongan Obat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 917 dilakukan berdasarkan kriteria yang meliputi:
a. kandungan zat aktif;
b. cara penggunaan; dan/atau
c. profil keamanan.
hlm. 368 OCR(2) Pada kemasan Obat wajib dicantumkan secara jelas tanda khusus Obat sesuai dengan penggolongannya.
Pasal 92 1 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal terdapat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Menteri dapat menetapkan penggolongan Obat dan/atau melakukan perubahan penggolongan Obat selain penggolongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 917 ayat (5) dan ayat(7).
(3) Dalam hal terdapat pengajuan win edar Obat yang belum ditetapkan penggolongannya, kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang pengawasan obat dan makanan dapat menetapkan penggolongan Obat bersama dengan pemberian izin edar Obat.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penggolongan Obat diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 922 #Laporkan Penjelasan
(1) Obat keras, narkotika, dan psikotropika hanya dapat diserahkan oleh apoteker dan/atau apoteker spesialis berdasarkan resep di fasilitas pelayanan kefarmasian.
(3) Obat keras tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat
a. Obat yang digunakan untuk pengobatan swamedikasi;
b. Obat untuk penyakit kronis pada resep ulangan; atau
c. Obat topikal.
(4) Obat keras tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disusun dalam daftar yang ditetapkan oleh Menteri.
(5) Daftar Obat keras tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditinjau sesuai dengan perkembangan kebutuhan Pelayanan Kesehatan serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pasal 923 #Laporkan Penjelasan
(1) Obat bebas dan Obat bebas terbatas dapat digunakan untuk swamedikasi.
hlm. 369 OCR(2) Swamedikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penggunaan Obat yang dilakukan secara mandiri untuk mengatasi keluhan atau gejala penyakit.
(3) Penyerahan Obat bebas dan Obat bebas terbatas harus dilakukan dalam satuan kemasan terkecil yang memuat informasi tentang Obat.
Pasal 924 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelayanan Obat dengan resep dapat menggunakan resep elektronik.
(2) Pelayanan Obat dengan resep sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(3) Pelayanan Obat dengan menggunakan resep elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan termasuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan Telemedisin.
(4) Resep elektronik pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan Telemedisin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikecualikan untuk Obat yang mengandung narkotika dan psikotropika serta sediaan lain yang ditetapkan oleh Menteri.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai resep diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KetigaPenggolongan Obat Bahan Alam
Pasal 925 #Laporkan Penjelasan
Penggolongan Obat Bahan Alam merupakan pembedaan kategori Obat Bahan Alam berdasarkan tingkat pembuktian empiris/bersumber dari pengetahuan tradisional dan/atau ilmiah dari keamanan dan khasiat serta standardisasi mutu dengan tujuan pemenuhan standar
Pasal 926 #Laporkan Penjelasan
Obat Bahan Alam digolongkan menjadi:
a. jamu;
b. Obat herbal terstandar;
c. fitofarmaka; dan
d. Obat Bahan Alam lainnya.
hlm. 370 OCRPasal 927 #Laporkan Penjelasan
(1) Jamu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 926 huruf a merupakan Obat Bahan Alam berupa bahan atau ramuan yang bersumber dari pengetahuan tradisional atau warisan budaya Indonesia yang digunakan untuk pemeliharaan Kesehatan, peningkatan Kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, dan/atau pemulihan Kesehatan.
(3) Fitofarmaka sebagaimana dimaksud dalam Pasal 926 huruf c merupakan Obat Bahan Alam yang digunakan untuk pemeliharaan Kesehatan, peningkatan Kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, dan/atau pemulihan Kesehatan yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik serta bahan baku dan produk jadinya telah distandardisasi.
(4) Obat Bahan
Pasal 928 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal terdapat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Menteri dapat menetapkan dan/atau melakukan perubahan penggolongan Obat Bahan Alam selain penggolongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 926.
(3) Dalam menetapkan penggolongan Obat Bahan Alam dan/atau melakukan
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penggolongan Obat Bahan Alam diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 929 #Laporkan Penjelasan
(1) Obat Bahan Alam dapat digunakan secara mandiri oleh masyarakat atau digunakan untuk kepentingan Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(3) Obat Bahan Alam yang digunakan untuk kepentingan Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan mengacu pada formularium yang ditetapkan oleh Menteri.
(4) Dalam rangka penggunaan Obat Bahan Alam untuk kepentingan Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ilmu pengetahuan mengenai Obat Bahan Alam dapat dimasukkan ke dalam bahan ajar dalam pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
(5) Penyusunan bahan ajar dalam pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 930 #Laporkan Penjelasan
(1) Obat Bahan Alam yang digunakan secara mandiri oleh masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 929 ayat (1) dapat diperoleh dari fasilitas pelayanan kefarmasian atau fasilitas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian KeempatPercepatan Pengembangan dan Ketahanan Industri
Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
Pasal 931 #Laporkan Penjelasan
(1) Percepatan pengembangan dan ketahanan industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan ditujukan untuk membangun kemajuan Kesehatan nasional.
hlm. 372 OCR(3) Peningkatan kemandirian Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui penelitian dan pengembangan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan serta penguatan tata kelola rantai pasok Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dari hulu hingga hilir secara terintegrasi.
(4) Peningkatan kemandirian Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 932 #Laporkan Penjelasan
(1) Penelitian dan pengembangan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan diarahkan pada prioritas ketahanan Kesehatan nasional.
(3) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mengoordinasikan pelaksanaan penelitian dan pengembangan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan yang dilakukan oleh industri Sediaan Farmasi, industri Alat Kesehatan, lembaga penelitian, dan lembaga pendidikan yang termasuk dalam prioritas ketahanan Kesehatan nasional.
(4) Penelitian dan pengembangan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan mengutamakan penggunaan bahan penelitian produksi dalam negeri.
(5) Pelaksanaan penelitian dan pengembangan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan diutamakan berbentuk kemitraan publik dan swasta dalam rangka hilirisasi penelitian nasional.
Pasal 933 #Laporkan Penjelasan
(1) Penelitian dan pengembangan Obat Bahan Alam dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, proses produksi, serta pengujian dan penilaian keamanan, khasiat, dan mutu.
hlm. 373 OCRa. penyediaan bahan Obat Bahan Alam yang berorientasi mutu melalui sistem budidaya;
b. peningkatan jumlah bahan Obat Bahan Alam melalui penambahan sentra budidaya dan perluasan sentra produksi bahan Obat Bahan Alam; dan
c. penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas untuk budidaya tanaman Obat Bahan Alam.
(3) Proses produksi Obat Bahan Alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memperhatikan:
a. biaya yang sebanding dengan hasil produksi yang akan dihasilkan;
b. kandungan senyawa aktif simplisia; dan
c. kelestarian bahan baku tanaman Obat.
(4) Pengujian dan penilaian keamanan, khasiat, dan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan spesifisitas Obat Bahan Alam.
Pasal 934 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat memfasilitasi pengujian dan penilaian keamanan, khasiat, dan mutu Obat Bahan Alam yang menjadi prioritas riset nasional.
(2) Fasilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a. prioritas pengujian dan penilaian keamanan, khasiat, dan mutu dalam rangka pendaftaran;
b. pengurangan biaya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan/ atau
c. bimbingan teknis dalam proses pengujian dan penilaian keamanan, khasiat, dan mutu.
(3) Ketentuan mengenai tata cara pengujian dan penilaian keamanan, khasiat, dan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
Pasal 935 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemanfaatan sumber daya alam untuk penelitian dan pengembangan Obat Bahan Alam dan pemeliharaan Obat Bahan Alam dilakukan melalui pengaturan sistem budi daya pertanian berkelanjutan.
hlm. 374 OCR(2) Pemanfaatan sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa penyerapan hasil panen, penyediaan bahan baku sesuai standar, dan penentuan kelayakan/ kesesuaian harga.
(3) Pemanfaatan sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui kemitraan yang melibatkan pelaku usaha dan petani.
(4) Sistem budi daya pertanian berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan
Pasal 936 #Laporkan Penjelasan
(1) Industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
Pasal 937 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, masyarakat, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus mengutamakan penggunaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dalam negeri dengan tetap memperhatikan mutu, kualitas, keamanan, dan kemanfaatan.
(3) Penggunaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Penggunaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memperhatikan tingkat komponen dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 938 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk menjaga keberlangsungan rantai pasok Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dalam Pelayanan Kesehatan, Pemerintah
(3) Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, pelaku usaha, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus menyampaikan data yang mendukung tata kelola rantai pasok Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan pada Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 939 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka dukungan terhadap produksi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dalam negeri, Pemerintah
(2) Selain dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberikan kemudahan perizinan penelitian dan pendukung penelitian bagi lembaga dan/atau masyarakat yang melakukan penelitian.
(3) Kemudahan perizinan penelitian dan pendukung penelitian bagi lembaga dan/atau masyarakat dapat berupa:
a. percepatan perizinan lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan;
b. percepatan perizinan impor bahan dan alat tertentu yang digunakan untuk penelitian yang belum tersedia di dalam negeri; dan
c. kemudahan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
a. memberikan kontribusi terhadap penurunan impor Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan;
b. mempercepat peningkatan ekspor Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan;
hlm. 376 OCRc. menyerap tenaga kerja dan menggunakan sebagian besar sumber daya nasional;
d. mengembangkan dan menjaga kelestarian sumber bahan baku Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan;
e. melakukan, memanfaatkan, dan/atau ikut serta dalam transfer teknologi;
f. melaksanakan kegiatan penelitian, pengembangan, dan inovasi;
g. melakukan kemitraan dengan lembaga penelitian, lembaga pendidikan, petani, usaha mikro, usaha kecil, dan koperasi; dan latau
h. melakukan kegiatan usaha yang mendukung prioritas ketahanan Kesehatan nasional.
(5) Menteri dapat memfasilitasi pemberian kemudahan dan/atau dukungan kepada lembaga penelitian, lembaga pendidikan, institusi, masyarakat, danf atau industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Pemberian insentif bagi industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 940 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka pemberian dukungan bagi penguasaan dan pemanfaatan teknologi dan inovasi serta penelitian dan pengembangan dalam bidang Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memfasilitasi proses alih teknologi yang diperlukan dalam produksi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.
(3) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat memfasilitasi pendanaan kemitraan publik dengan swasta dalam pengembangan industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dalam negeri yang masih dalam tahap awal siklus industri dan sedang berkembang, yang membutuhkan perlindungan dari persaingan internasional sampai industri tersebut menjadi matang serta stabil.
hlm. 377 OCR(5) Kerja sama luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 941 #Laporkan Penjelasan
(1) Percepatan pengembangan dan ketahanan industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 931 sampai dengan Pasal 940 dilaksanakan secara terpadu antarkementerian/lembaga.
(3) Ketentuan mengenai koordinasi percepatan pengembangan dan ketahanan industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri yang menyelenggarakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian urusan kementerian dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang investasi.
Bagian KelimaStandar, Sistem, dan Tata Kelola Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan Lainnya pada
Kondisi Darurat, Bencana, KLB, atau Wabah
Pasal 942 #Laporkan Penjelasan
(1) Standar, sistem, dan tata kelola Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lainnya pada kondisi
(3) Pemerintah Daerah dalam menetapkan standar, sistem, dan tata kelola Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lainnya berdasarkan pada standar, sistem, dan tata kelola Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lainnya yang ditetapkan oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan menggunakan Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 943 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka mitigasi risiko sebagaimana dimaksud dalam Pasal 942 ayat (1) dilakukan upaya pemetaan sumber dan upaya pemenuhan kebutuhan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lainnya pada kondisi darurat, bencana, KLB, atau Wabah.
(3) Upaya pemenuhan kebutuhan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a. penugasan terhadap industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dalam negeri;
b. penunjukan langsung badan usaha penyedia;
c. kerja sama dengan lembaga/badan internasional atau pemerintah negara lain;
d. fasilitasi pelaksanaan impor; e pendanaan
hlm. 379 OCRe. pendanaan riset khusus;
f. penerapan persetujuan penggunaan darurat;
g. lisensi sukarela, lisensi wajib, atau pelaksanaan paten oleh pemerintah;
h.
i. pembatasan ekspor; dan/atau
j. upaya lain sesuai dengan kebutuhan.
(4) Upaya pemenuhan kebutuhan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Ketentuan mengenai koordinasi dalam pelaksanaan standar, sistem, dan tata kelola Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lainnya pada kondisi darurat, bencana, KLB, atau Wabah diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 944 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah
(3) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat
BAB VISISTEM INFORMASI KESEHATAN
Bagian KesatuUmum
Pasal 945 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan ditujukan untuk:
a. menjamin ketersediaan, kualitas, akses, dan keamanan Data Kesehatan dan
b. melaksanakan Upaya Kesehatan yang efektif, efisien, dan berkelanjutan;
c. memberdayakan ekosistem Kesehatan; dan
d. memperkuat koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dalam mendukung pembangunan Kesehatan.
hlm. 380 OCRBagian KeduaPenyelenggara Sistem Informasi Kesehatan
Pasal 946 #Laporkan Penjelasan
(1) Sistem Informasi Kesehatan diselenggarakan oleh:
a. Pemerintah
b. Pemerintah Daerah;
c. Fasilitas Pelayanan Kesehatan; dan
d. masyarakat, baik perseorangan maupun kelompok.
a. Sistem Informasi Kesehatan Nasional diselenggarakan oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan; dan/atau
b. Sistem Informasi Kesehatan yang diselenggarakan oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan,
(3) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan oleh Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakan melalui pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan yang diselenggarakan oleh perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan dan perangkat daerah lain yang menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan bidang Kesehatan.
(5) Penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan melalui pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan yang diselenggarakan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(6) Penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan oleh masyarakat, baik perseorangan maupun kelompok, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilaksanakan melalui pengelolaan:
hlm. 381 OCRa. Sistem
b. Sistem Informasi Kesehatan yang dikembangkan oleh perseorangan; dan I atau
c. Sistem Informasi Kesehatan yang dikembangkan oleh korporasi, untuk kepentingan pemanfaatan di wilayah Indonesia dan/atau oleh warga negara Indonesia
Pasal 947 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 946 ayat (1) wajib mengintegrasikan Sistem Informasi Kesehatan dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(3) Dalam menetapkan standar data, Menteri dapat menggunakan:
a. standar nasional;
b.
c. standar yang dipublikasikan oleh organisasi pengembang standar lainnya.
Pasal 948 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan Nasional berwenang untuk:
a. melakukan pemrosesan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan;
b. menetapkan standar data dan standar interoperabilitas Sistem Informasi Kesehatan;
c. memberikan akses data induk dan kode referensi kepada penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan untuk tujuan menjamin akurasi dan validitas Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan; dan
d. memberikan hak akses terhadap Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan kepada penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan dan masyarakat sesuai dengan klasifikasi dan kewenangan.
hlm. 382 OCRPasal 949 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan melakukan pemrosesan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sesuai dengan standar data dan standar interoperabilitas Sistem Informasi Kesehatan yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melakukan pembinaan dan fasilitasi pengembangan Sistem
Pasal 950 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan melaksanakan tata kelola Sistem Informasi Kesehatan yang mendukung pelayanan di bidang Kesehatan dengan mengacu pada arsitektur Sistem Informasi Kesehatan yang disusun berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri dan arsitektur Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(2) Arsitektur Sistem Informasi Kesehatan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kerangka dasar yang mendeskripsikan proses bisnis, data dan informasi, infrastruktur, aplikasi, keamanan, dan layanan yang terintegrasi, serta domain lain yang dibutuhkan, yang diterapkan secara nasional dan bertujuan sebagai panduan dan deskripsi operasional dalam pelaksanaan integrasi layanan Kesehatan.
(3) Arsitektur Sistem Informasi Kesehatan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat
Bagian KetigaPengelolaan Data Kesehatan, Informasi Kesehatan, dan Indikator Kesehatan
Pasal 951 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka mendukung penyelenggaraan pembangunan Kesehatan, setiap penyelenggara.
Sistem Informasi Kesehatan wajib melakukan pengelolaan Data Kesehatan, Informasi Kesehatan, dan indikator Kesehatan.
hlm. 383 OCR(2) Data Kesehatan, Informasi Kesehatan, dan indikator Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus terinci dan terklasifikasi.
Pasal 952 #Laporkan Penjelasan
(1) Data Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 951 terdiri atas:
a. data rutin; dan
b. data nonrutin.
(3) Data nonrutin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dikumpulkan sewaktu-waktu oleh penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas pembangunan Kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah
(4) Data nonrutin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terdiri atas:
a. data khusus; dan
b. data luar biasa.
(5) Data khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a meliputi data faktor risiko, data lingkungan, dan data lainnya yang mendukung program pembangunan Kesehatan.
(6) Data luar biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b meliputi data yang dikumpulkan dalam KLB, Wabah, dan bencana.
Pasal 953 #Laporkan Penjelasan
Data Kesehatan harus terbuka untuk diakses oleh penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan yang mengelola Sistem Informasi Kesehatan sesuai dengan kewenangan masing-masing.
Pasal 954 #Laporkan Penjelasan
Data Kesehatan harus memenuhi standar yang meliputi:
a. data sesuai dengan indikator Kesehatan;
b. jenis, sifat, format, basis data, kodifikasi, dan metadata yang dapat dengan mudah diintegrasikan;
c. akurat, jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan; dan hlm. 384 OCR d mampu rekam pada alat/sarana pencatatan, pengolahan, dan penyimpanan data yang andal, aman, dan mudah dioperasikan.
Pasal 955 #Laporkan Penjelasan
Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 951 terdiri atas:
a. informasi Upaya Kesehatan;
b. informasi Sumber Daya Kesehatan;
c. informasi penelitian dan pengembangan Kesehatan;
d. informasi manajemen dan regulasi Kesehatan;
e. informasi pemberdayaan masyarakat; dan
f. informasi lainnya di bidang Kesehatan.
Pasal 956 #Laporkan Penjelasan
(1) Data Kesehatan dan
a. data dan informasi publik; dan
b. data dan informasi rahasia.
(2) Data dan informasi publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan data dan Informasi Kesehatan yang disediakan penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan untuk diketahui masyarakat umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan bidang keterbukaan informasi publik.
(3) Data dan informasi rahasia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan data dan informasi yang harus dirahasiakan sesuai
Pasal 957 #Laporkan Penjelasan
(1) Indikator Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 951 mencakup:
a. indikator Kesehatan nasional;
b. indikator Kesehatan provinsi; dan
c. indikator Kesehatan kabupaten/kota.
(3) Indikator Kesehatan provinsi ditetapkan oleh gubernur dengan mengacu pada indikator Kesehatan nasional.
(4) Indikator Kesehatan kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/wali kota dengan mengacu pada indikator Kesehatan provinsi.
hlm. 385 OCR(5) Gubernur dan bupati/wali kota dapat menambahkan indikator Kesehatan tambahan yang bersifat spesifik sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah.
(6) Perumusan setiap indikator Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan untuk tujuan:
a. mendukung prioritas pembangunan nasional dan sesuai dengan rencana pembangunan dan prioritas ' Presiden dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional dan/atau rencana kerja pemerintah;
b. mendukung prioritas pembangunan Kesehatan sesuai dengan rencana strategis dan rencana induk bidang Kesehatan;
c. mendukung pencapaian tujuan pembangunan Kesehatan berkelanjutan;
d. mendukung pencapaian standar pelayanan minimal bidang Kesehatan; dan
e. memenuhi kebutuhan program Kesehatan lainnya.
Pasal 958 #Laporkan Penjelasan
(1) Sistem Informasi Kesehatan memuat Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang bersumber dari:
a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
b. instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
c. badan/lembaga yang menyelenggarakan program jaminan sosial nasional;
d. badan/lembaga lain yang menyelenggarakan kegiatan di bidang Kesehatan;
e. kegiatan masyarakat selain Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
f. pelaporan mandiri perseorangan; dan
g. sumber lainnya.
a. rekam medis elektronik;
b. data Pelayanan Kesehatan; dan
c. Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang dihasilkan dari kegiatan sensus dan survei, penelitian, pelaporan, dan/atau cara lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 386 OCR(3) Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang bersumber dari instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, badan / lembaga yang menyelenggarakan program jaminan sosial nasional, badan/lembaga lain yang menyelenggarakan kegiatan di bidang Kesehatan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b sampai dengan huruf d berupa data dan informasi yang dihasilkan dari Sistem Informasi Kesehatan yang diselenggarakannya sesuai dengan ketentuan peraturan
(4) Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang bersumber dari kegiatan masyarakat selain Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e berupa data dan informasi yang berasal dari:
a. industri pendanaan Kesehatan;
b. fasilitas produksi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan; fasilitas distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan;
d. industri makanan;
e. pelaku usaha makanan dan minuman;
f. lembaga penelitian; sekolah dan perguruan tinggi;
h. organisasi profesi;
i. penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan asing yang dipergunakan di wilayah Indonesia atau oleh warga negara lndonesia; atau penyelenggara sistem informasi lain yang menyelenggarakan kegiatan di bidang Kesehatan.
(5) Data Kesehatan dan
(6) Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang bersumber dari sumber lainnya sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf g berupa data dan informasi yang berasal dari:
a. setiap sistem elektronik yang memproses Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan;
b. setiap perangkat Teknologi Kesehatan yang memproses Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan; dan/atau
c. setiap aktivitas selain dari pemanfaatan sistem elektronik atau perangkat Teknologi Kesehatan yang memproses Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan. c o b.
hlm. 387 OCRPasal 959 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan mendapatkan dukungan akses dan pemanfaatan data layanan publik untuk kepentingan pembangunan Kesehatan.
Pasal 960 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka efektivitas penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan, Menteri mengembangkan data induk dan kode referensi Kesehatan sebagai kesatuan rujukan data dalam penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan untuk dimanfaatkan bersama.
Bagian KeempatPemrosesan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan
Pasal 961 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan wajib melaksanakan pemrosesan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang meliputi:
a. perencanaan;
b. pengumpulan;
c. penyimpanan;
d. pemeriksaan;
e. transfer;
f. pemanfaatan; dan
g. pemusnahan.
a. data pribadi;
b. data yang tidak dapat ditelusuri identitasnya atau berupa data agregat;
c. informasi publik; dan/atau
d. informasi rahasia.
(3) Pemrosesan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan berupa data pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Pemrosesan data yang tidak dapat ditelusuri identitasnya atau berupa data agregat, informasi publik, dan/atau informasi rahasia sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 962 #Laporkan Penjelasan
Setiap penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan merupakan pengendali data pribadi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelindungan data pribadi.
Pasal 963 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemrosesan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang menggunakan Data Kesehatan individu wajib mendapatkan persetujuan dari pemilik data dan/atau memenuhi ketentuan lain yang menjadi dasar pemrosesan data pribadi sesuai dengan ketentuan peraturan
(3) Pemilik data yang tidak menyetujui pemrosesan data pribadinya wajib menyampaikan pernyataan tertulis atau secara elektronik kepada Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan.
Pasal 964 #Laporkan Penjelasan
(1) Perencanaan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 961 ayat (1) huruf a ditujukan untuk menentukan daftar Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang akan dikumpulkan.
(2) Perencanaan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan didasarkan pada arsitektur Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 950.
Pasal 965 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengumpulan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 961 ayat (1) huruf b dilaksanakan sesuai dengan hasil perencanaan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan.
hlm. 389 OCRa. Pelayanan Kesehatan;
b. penyelenggaraan rekam medis elektronik;
c. surveilans Kesehatan;
d. sensus dan survei;
e. penelitian dan pengembangan Kesehatan;
f. layanan Telekesehatan;
g. pemanfaatan teknologi dan sumber lain yang sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dapat dipertanggungjawabkan ; dan / atau
h. cara lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 966 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyimpanan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 961 ayat (1) huruf c dilaksanakan dalam pangkalan data pada tempat yang aman dan tidak rusak atau mudah hilang dengan menggunakan media penyimpanan elektronik dan/atau nonelektronik.
(3) Pusat data sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menggunakan media penyimpanan elektronik dan/atau nonelektronik berupa:
a. server;
b. sistem komputasi awan; dan/atau
c. media penyimpanan lain sesuai dengan perkembangan teknologi.
(4) Penyimpanan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki cadangan data.
(5) Penyimpanan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan dapat dilakukan dengan menggunakan jasa dan fasilitas selain milik penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan, dengan ketentuan:
a. dilaksanakan di dalam wilayah negara Indonesia;
b. berdasarkan perjanjian kerja sama yang memuat paling sedikit ketentuan mengenai kerahasiaan, tingkat layanan, dan target tingkat layanan;
hlm. 390 OCRc. Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan dimiliki dan dikendalikan secara penuh oleh penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan; dan
d. memenuhi kewajiban prosesor data sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Pusat data sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 967 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemeriksaan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. keakuratan;
b. kelengkapan;
c. keunikan;
d. konsistensi;
e. aktualitas; dan/atau
f. keabsahan.
(3) Pemeriksaan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 968 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemeriksaan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan dilaksanakan oleh unit dan/atau perseorangan yang memiliki kompetensi yang relevan terkait pemeriksaan data yang ditentukan oleh penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan.
(3) Pemeriksaan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan secara sewaktu-waktu sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 969 #Laporkan Penjelasan
Dalam pemeriksaan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan, penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan melakukan:
a. validasi atas keakuratan Data Kesehatan yang berbasis data kependudukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
b. verifikasi, perbaikan, dan/atau klarifikasi dalam hal terdapat kesalahan dan/atau ketidakakuratan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 970 #Laporkan Penjelasan
(1) Transfer Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 961 ayat (1) huruf e dilaksanakan antarpenyelenggara Sistem Informasi Kesehatan melalui Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(2) Transfer Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan selain dilaksanakan antarpenyelenggara Sistem Informasi Kesehatan, juga dapat dilakukan dengan pihak lain.
(3) Transfer Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan antara penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan dengan pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat
a. berdasarkan perjanjian
b. melalui portal bagi pakai data bidang Kesehatan.
(4) Perjanjian kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a merupakan kerja sama antara penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan dengan pihak lain yang paling sedikit memuat kesepakatan:
a. hak dan kewajiban;
b. tujuan pemanfaatan;
c. keamanan dan kerahasiaan;
d. mekanisme pemrosesan data dan informasi; dan/atau
e. hak kekayaan intelektual.
(5) Transfer Data Kesehatan dan
Pasal 971 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka melaksanakan transfer Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 970 dilakukan persiapan yang memuat analisis risiko yang paling sedikit meliputi:
a. kebutuhan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan;
b. standar data dan standar interoperabilitas;
c. rencana pemrosesan; dan
d. keamanan sistem informasi.
a. penampilan;
b. pengumuman;
c. penyebarluasan;dan/atau
d. pengungkapan.
(3) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan melaksanakan pemantauan pelaksanaan transfer Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan melalui evaluasi:
a. pemanfaatan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan;
b. keamanan sistem informasi; dan/atau
c. penerapan pelindungan data pribadi.
Pasal 972 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara Sistem
a. penanggulangan KLB;
b. Wabah;
c. ibadah haji;
d. perjanjian alih material;
e. kerja sama internasional di bidang Kesehatan; atau
f. tujuan penggunaan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan lainnya.
hlm. 393 OCR(3) Transfer Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus:
a. mendapatkan izin dari Menteri; dan
b. memenuhi persyaratan transfer data pribadi ke luar wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 973 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemanfaatan Data Kesehatan dan
a. Kesehatan perseorangan;
b. Kesehatan masyarakat;
c. pembangunan Kesehatan; dan
d. pengambilan kebijakan.
(2) Pemanfaatan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan dilaksanakan berdasarkan:
a. klasifikasi Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan; dan
b. hak akses.
(3) Hak akses sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Masyarakat berhak untuk memanfaatkan Data Kesehatan yang bersifat agregat dan Informasi Kesehatan yang terbuka.
(5) Penyelenggara Sistem'Informasi Kesehatan menyediakan dan/atau menampilkan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan dengan bentuk atau format yang dapat dipahami dan mudah diakses oleh masyarakat dalam rangka memperoleh Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan miliknya.
Pasal 974 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemusnahan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 961 ayat (1) huruf g dilakukan oleh penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan dalam hal telah mencapai masa retensinya dan berketerangan dimusnahkan berdasarkan jadwal retensi arsip.
hlm. 394 OCRa. permintaan dari pemilik data sesuai dengan ketentuan
b. telah tercapainya tujuan penyelenggaraan Sistem
(3) Masa retensi Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1):
a. paling singkat 25 (dua puluh lima) tahun, untuk Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan elektronik; dan
b. paling singkat 10 (sepuluh) tahun, untuk Data Kesehatan dan
Pasal 975 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemusnahan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan berdasarkan permintaan dari pemilik data sebagaimana dimaksud dalam Pasal 974 ayat (2) huruf a disampaikan kepada penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan melalui Sistem Informasi Kesehatan dan/atau Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 976 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemusnahan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 975 dikecualikan untuk Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan terkait:
a. penanggulangan penyakit;
b. kepentingan statistik dan penelitian ilmiah;
c. pertahanan dan keamanan; dan/atau
d. proses penegakan hukum.
Pasal 977 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan wajib mencatat riwayat pemrosesan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan.
(2) Pencatatan riwayat pemrosesan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui perekaman secara elektronik dan/atau nonelektronik.
(3) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan memberikan akses kepada pemilik data terhadap catatan riwayat pemrosesan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(4) Pemberian akses catatan riwayat pemrosesan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian KelimaSumber Daya Sistem Informasi Kesehatan
Pasal 978 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan harus menyediakan sumber daya Sistem Informasi Kesehatan.
a. infrastruktur;
b. layanan; dan
c. sumber daya manusia.
Pasal 979 #Laporkan Penjelasan
(1) Infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 978 ayat (2) huruf a terdiri atas:
a. perangkat keras; dan
b. perangkat lunak.
a. keamanan, interkonektivitas, kompatibilitas, dan keandalan operasi dengan sistem yang digunakan;
b. menyimpan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
c. membuat cadangan data secara otomatis sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 396 OCR(3) Penggunaan infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan harus:
a. menjamin ketersediaan layanan;
b. memiliki jaminan keberlanjutan layanan;
c. menyesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi informasi;
d. menjamin kepemilikan hak kekayaan intelektual sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. mudah diperbaiki dengan cepat jika mengalami gangguan, kerusakan, atau insiden yang tidak diinginkan dalam masa pengoperasiannya; dan
f. adaptif atau mudah terhubung dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 980 #Laporkan Penjelasan
Penyediaan infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan dapat dilaksanakan melalui kerja
Pasal 981 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan wajib melakukan uji kelaikan sebelum pemanfaatan infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan.
(3) Penyediaan infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan yang pembiayaannya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara atau anggaran pendapatan dan belanja daerah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 982 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri dapat memberikan dukungan pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan dalam penyediaan infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan kepada penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan.
a. keterbatasan sumber daya Sistem Informasi Kesehatan; dan/atau
b. kepentingan pengembangan Sistem Informasi Kesehatan lainnya.
hlm. 397 OCR(3) Dukungan pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan paling sedikit dalam bentuk:
a. pelatihan atau bimbingan teknis; dan/atau
b. fasilitasi perangkat lunak.
Pasal 983 #Laporkan Penjelasan
(1) Layanan Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 978 ayat (2) huruf b dilaksanakan untuk menjamin keberlangsungan dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan Sistem
(2) Layanan Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan terhadap:
a. kendala atau gangguan;
b. permintaan;dan/atau
c. perubahan.
(3) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan menetapkan standar layanan sesuai dengan lingkup dan kewenangan penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan.
(4) Standar layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling sedikit memuat:
a. skala prioritas;
b. indikator layanan;
c. waktu layanan;
d. saluran layanan; dan
e. pelaksana.
(5) Pimpinan penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan melakukan evaluasi berkala terhadap penerapan standar
Pasal 984 #Laporkan Penjelasan
(1) Sumber daya manusia Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 978 ayat (2) huruf c ditujukan untuk menjamin keberlangsungan dan peningkatan mutu layanan Sistem Informasi Kesehatan.
(2) Sumber daya manusia Sistem Informasi Kesehatan . sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. tenaga pengelola; dan
b. tenaga khusus.
(3) Tenaga pengelola sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Tenaga khusus sebagaimana dimaksud pada ayat
Bagian KeenamKeandalan Sistem Informasi Kesehatan
Pasal 985 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan wajib memastikan keandalan Sistem Informasi Kesehatan meliputi:
a. ketersediaan;
b. keamanan;
c. pemeliharaan; dan
d. integrasi.
(3) Keamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan upaya untuk memastikan data dan informasi, infrastruktur, dan transaksi elektronik bebas dari gangguan atau kegagalan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Pemeliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan upaya untuk menjaga infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan dan transaksi elektronik tetap dapat berfungsi dan beroperasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Integrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan upaya untuk memastikan setiap Sistem Informasi Kesehatan terhubung dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 986 #Laporkan Penjelasan
(1) Keandalan Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 985 dilaksanakan dengan upaya:
a. menguji kelaikan sistem;
b. menjaga kerahasiaan data;
c. menentukan kebijakan hak akses data;
d. memiliki sertifikasi keandalan sistem; dan
e. melakukan audit secara berkala.
(3) Pengujian kelaikan Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Upaya menjaga kerahasiaan data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan upaya untuk menjamin Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan hanya dapat diakses oleh pihak yang berhak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan melalui penetapan klasifikasi keamanan, pembatasan akses, dan pengendalian keamanan lainnya.
(5) Dalam upaya menjaga kerahasiaan data sebagaimana dimaksud pada ayat (4), penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan menerapkan pelindungan dalam:
a. aspek teknologi;
b. aspek organisasi; dan
c. aspek sumber daya manusia.
(6) Pelindungan dalam aspek teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a dilaksanakan dengan memastikan Sistem Informasi Kesehatan telah menerapkan pemeliharaan dan pengamanan berlapis untuk memastikan keamanan dan keandalan sistem serta pelindungan data pribadi.
a. analisis penilaian dampak teknologi;
b. analisis penilaian dampak pelindungan data pribadi;
c. penunjukan pejabat atau petugas yang melaksanakan fungsi pelindungan data pribadi;
d. penanganan insiden siber; dan
e.
(8) Pelindungan dalam aspek sumber daya manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kompetensi di bidang Sistem Informasi Kesehatan melalui kegiatan pelatihan dan sosialisasi.
hlm. 400 OCR(9) Upaya menentukan kebijakan hak akses data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan dalam bentuk penetapan kriteria, batasan, dan hak akses pemilik data terhadap Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(10) Upaya memiliki sertifikasi keandalan sistem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d ditujukan untuk menjamin transaksi dalam Sistem Informasi Kesehatan telah lulus audit dan uji kesesuaian dari lembaga sertifikasi keandalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(11) Upaya melakukan audit secara berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e ditujukan paling sedikit terhadap:
a. penerapan tata kelola Sistem Informasi Kesehatan;
b. fungsionalitas infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan; dan/atau
c. aspek Sistem Informasi Kesehatan lainnya.
(12) Audit sebagaimana dimaksud pada ayat (11) dapat dilaksanakan oleh kementerian/lembaga yang berwenang atau lembaga pelaksana audit teknologi informasi yang terakreditasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 987 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan wajib melakukan evaluasi berkala terhadap efisiensi dan efektivitas dalam penyediaan dan pemanfaatan infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan.
a. perbaikan dan peningkatan kapasitas infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan;
b. penyederhanaan proses bisnis infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan;
c. melakukan penggabungan atau integrasi berbagai infrastruktur ke dalam satu infrastruktur; atau
d. menghapus atau menonaktifkan infrastruktur Sistem Informasi Kesehatan.
hlm. 401 OCRBagian KetujuhPengendalian
Pasal 988 #Laporkan Penjelasan
Menteri melakukan pengendalian terhadap pemrosesan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan/atau pemrosesan data pribadi warga negara Indonesia yang dilakukan oleh penyelenggara Sistem Informasi Kesehatan berbadan hukum asing atau beroperasi secara internasional sesuai dengan ketentuan peraturan
Pasal 989 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri melakukan pengendalian terhadap penyedia Sistem Informasi Kesehatan.
a. pendataan;
b. standardisasi data; dan
c. integrasi sistem yang dikembangkan oleh penyedia Sistem Informasi Kesehatan.
(3) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan melalui Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 990 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 945 sampai dengan Pasal 989 diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KedelapanPembinaan dan Pengawasan
Pasal 99 1 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing.
hlm. 402 OCR(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk:
a. mempercepat pelaksanaan integrasi Sistem Informasi Kesehatan ke Sistem Informasi Kesehatan Nasional;
b. meningkatkan mutu dan kualitas penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan;
c. mengembangkan Sistem Informasi Kesehatan yang efisien dan efektif; dan
d. mempercepat proses pengelolaan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan.
BAB VIIPENYELENGGARAAN TEKNOLOGI KESEHATAN
Bagian KesatuUmum
Pasal 992 #Laporkan Penjelasan
(1) Teknologi Kesehatan diselenggarakan, dihasilkan, diedarkan, dikembangkan, dan dievaluasi melalui penelitian,
(2) Selain untuk peningkatan Sumber Daya Kesehatan dan Upaya Kesehatan, Teknologi Kesehatan juga ditujukan untuk meningkatkan Pelayanan Kesehatan primer, Pelayanan Kesehatan lanjutan, sistem ketahanan Kesehatan, sistem pendanaan Kesehatan, Sumber Daya Manusia Kesehatan, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi Pelayanan Kesehatan.
(3) Teknologi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/ atau masyarakat.
Pasal 993 #Laporkan Penjelasan
Teknologi Kesehatan dilakukan dengan cara:
a. penelitian, pengembangan, dan pengkajian;
b. pelaksanaan inovasi Teknologi Kesehatan;
c. penilaian Teknologi Kesehatan; dan
d.
Bagian KeduaPenelitian, Pengembangan, dan Pengkajian
Pasal 994 #Laporkan Penjelasan
Penelitian, pengembangan, dan pengkajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 993 huruf a dilaksanakan melalui tahapan:
a. perencanaan;
b. pelaksanaan; dan
c. pemantauan dan evaluasi.
Pasal 995 #Laporkan Penjelasan
(1) Perencanaan penelitian, pengembangan, dan pengkajian Teknologi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 994 huruf a disusun oleh Menteri berkoordinasi dengan kepala lembaga pemerintah yang menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan serta invensi dan inovasi dalam rangka meningkatkan penyelenggaraan Sumber Daya Kesehatan dan Upaya Kesehatan.
(2) Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dengan mengacu pada rencana induk bidang Kesehatan dan memperhatikan:
a. program prioritas pembangunan Kesehatan;
b. determinan sosial Kesehatan;
c. gangguan lingkungan dan ancaman global;
d. transisi demografi dan transisi epidemiologi; dan/atau
e. perkembangan ilmu pengetahuan dan Teknologi Kesehatan dan kedokteran.
(3) Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat dievaluasi setiap tahun.
a. tujuan dan arah kebijakan;
b. sasaran, strategi, dan program kerja; dan
c. rincian kegiatan.
Pasal 996 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelaksanaan penelitian, pengembangan, dan pengkajian Teknologi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 994 huruf b dapat melalui kemitraan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
hlm. 404 OCRPasal 997 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka pelaksanaan penelitian, pengembangan, dan pengkajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 996, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,
Pasal 998 #Laporkan Penjelasan
(1) Pelaksanaan penelitian, pengembangan, dan pengkajian dapat memanfaatkan hewan coba, tumbuhan, mikroorganisme dan bahan biologi tersimpan, atau mengikutsertakan manusia sebagai subjek.
a. kaidah etik;
b. kaidah ilmiah;
c. metodologi ilmiah; dan
d. izin dari pihak yang berwenang.
(3) Selain memenuhi kaidah atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pelaksanaan penelitian, pengembangan, dan pengkajian juga memperhatikan aspek pelindungan data.
Pasal 999 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap penelitian, pengembangan, dan pengkajian yang memanfaatkan hewan coba, tumbuhan, mikroorganisme, dan bahan biologi tersimpan, atau mengikutsertakan manusia sebagai subjek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 998 wajib mendapat persetujuan etik penelitian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1000 #Laporkan Penjelasan
Persetujuan etik penelitian yang mengikutsertakan manusia sebagai subjek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 999 diberikan berdasarkan prinsip:
a. menghormati harkat martabat manusia;
b. berbuat baik dan tidak merugikan; dan
c. berkeadilan.
hlm. 405 OCRPasal 1001 #Laporkan Penjelasan
(1) Penelitian yang mengikutsertakan manusia sebagai subjek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 998 ayat (1) harus mendapat persetujuan dari pihak yang menjadi subjek penelitian.
(3) Penelitian yang mengikutsertakan keluarga sebagai subjek penelitian harus mendapat persetujuan yang diberikan oleh kepala keluarga yang bersangkutan.
(4) Penelitian yang mengikutsertakan masyarakat di daerah tertentu sebagai subjek penelitian harus mendapat persetujuan yang diberikan oleh kepala daerah yang bersangkutan.
(5) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3) berupa persetujuan tertulis.
(6) Dalam hal subjek penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak dapat memberikan persetujuan tertulis, persetujuan dapat diberikan melalui rekaman vidio dan rekaman suara yang didokumentasikan.
(7) Pihak yang memberikan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) berhak mendapat informasi terlebih dahulu dari pelaksana penelitian sebelum memberikan persetujuan.
(8) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat
a. tujuan penelitian serta penggunaan hasil penelitian;
b. jaminan kerahasiaan tentang identitas dan data pribadi;
c. metode yang digunakan;
d. risiko yang mungkin timbul; dan
e. hal lain yang perlu diketahui dalam rangka penelitian.
Pasal 1002 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggara Penelitian yang mengikutsertakan manusia sebagai subjek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1001 tidak membebankan biaya apa pun kepada subjek penelitian.
hlm. 406 OCRPasal 1003 #Laporkan Penjelasan
(1) Penelitian dengan memanfaatkan hewan coba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 999 ayat (1) merupakan kegiatan pemanfaatan hewan sebagai hewan laboratorium dan hewan model penelitian dan/atau pemanfaatan organ hewan untuk kesejahteraan manusia yang diterapkan pada ilmu kedokteran perbandingan.
Pasal 1004 #Laporkan Penjelasan
Persetujuan etik penelitian dengan memanfaatkan hewan coba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 999 diberikan berdasarkan prinsip:
a. penggantian hewan dengan alternatif lain;
b. jumlah sesedikit mungkin; dan
c. kesejahteraan hewan.
Pasal 1005 #Laporkan Penjelasan
Persetujuan etik penelitian yang memanfaatkan tumbuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 999 diberikan dengan memperhatikan prinsip:
a. menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup; dan
b. manfaat bagi Kesehatan masyarakat.
Pasal 1006 #Laporkan Penjelasan
Persetujuan etik penelitian yang memanfaatkan mikroorganisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 999 diberikan dengan memperhatikan prinsip:
a. keselamatan dan keamanan hayati;
b. menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup; dan
c. manfaat bagi Kesehatan masyarakat.
Pasal 1007 #Laporkan Penjelasan
Persetujuan etik penelitian yang memanfaatkan bahan biologi tersimpan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 999 diberikan dengan memperhatikan prinsip persetujuan etik penelitian bagi sumber bahan biologi tersimpan.
hlm. 407 OCRPasal 1008 #Laporkan Penjelasan
Pelaksanaan etik penelitian Kesehatan diselenggarakan sesuai dengan ketentuan peraturan
Pasal 1009 #Laporkan Penjelasan
(1) Penelitian yang mengikutsertakan manusia sebagai subjek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 998 ayat (1) dapat dilaksanakan dalam bentuk uji klinik.
(3) Penyelenggara uji klinik sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Penyelenggaraan uji klinik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi cara uji klinik yang baik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1010 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam penyelenggaraan uji klinik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1009 dapat menggunakan material, muatan informasi, danf atau data.
(2) Penggunaan material, muatan informasi, dan/atau data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam perjanjian uji klinik.
(3) Dalam hal terdapat sisa material, muatan informasi, dan/atau data dalam penyelenggaraan uji klinik, sisa tersebut wajib dimusnahkan yang dibuktikan dengan berita acara pemusnahan.
(4) Dikecualikan dari ketentuan ayat (3), sisa material, muatan informasi, danf atau data dapat digunakan untuk tujuan pembangunan Kesehatan atau tujuan lain yang ditetapkan oleh Menteri.
(5) Penggunaan sisa material, muatan informasi, dan/atau data pembangunan Kesehatan atau tujuan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1011 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara uji klinik wajib melakukan registrasi uji klinik.
(3) Registrasi uji klinik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
(4) Ketentuan mengenai registrasi penyelenggara uji klinik diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1012 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara terkooordinasi melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan penelitian, pengembangan, dan pengkajian.
Pasal 1013 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemantauan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. sistem pencatatan;
b. verifikasi lapangan; atau
c. bentuk pemantauan lainnya.
Pasal 1014 #Laporkan Penjelasan
(1) Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
(2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan rencana penelitian, pengembangan, dan pengkajian serta persetujuan etik penelitian.
(3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.
Bagian KetigaPelaksanaan Inovasi Teknologi Kesehatan
Pasal 1015 #Laporkan Penjelasan
(1) Inovasi Teknologi Kesehatan merupakan segala bentuk pembaruan terhadap Teknologi Kesehatan yang mampu menambah ketepatan, kecepatan, keamanan, dan kualitas Sumber Daya Kesehatan dan Upaya Kesehatan.
hlm. 409 OCR(2) Penyelenggaraan inovasi Teknologi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
Pasal 1016 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat menyelenggarakan kebijakan untuk memastikan keberlanjutan dan kemanfaatan inovasi Teknologi Kesehatan melalui pengujian skala terbatas atas Teknologi Kesehatan, serta kemudahan berinovasi dalam bentuk perizinan, pemanfaatan produk Teknologi Kesehatan dan pengembangan ekosistem inovasi Teknologi Kesehatan.
a. pengembangan inovasi;
b. perluasan pemanfaatan
c. pembentukan kebijakan berbasis inovasi.
(3) Lingkup pengujian skala terbatas meliputi:
a. mutu tata kelola;
b. jaminan manfaat dan keamanan teknologi;
c. perizinan dan pelindungan konsumen; dan
d. Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan masyarakat yang terlibat dalam ekosistem inovasi Teknologi Kesehatan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengujian skala terbatas dan kemudahan berinovasi diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian KeempatPenilaian Teknologi Kesehatan
Pasal 1017 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap pemanfaatan Teknologi Kesehatan harus mempertimbangkan potensi risiko dan manfaatnya terhadap Kesehatan masyarakat.
hlm. 410 OCR(2) Dalam mempertimbangkan potensi risiko dan manfaat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan penilaian Teknologi Kesehatan.
(3) Penilaian Teknologi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan evaluasi sistematik dan multidisiplin terhadap hasil Teknologi Kesehatan.
Pasal 1018 #Laporkan Penjelasan
(1) Penilaian Teknologi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. volume tinggi;
b. risiko tinggi;
c. biaya tinggi;
d. variabilitas tinggi;
e. memiliki urgensi dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan;
f. memiliki dampak untuk memperbaiki akses, kualitas, dan Kesehatan bagi masyarakat;
g. memiliki potensi penghematan biaya atau keterjangkauan biaya; dan/ atau
h. memiliki penerimaan dari aspek sosial, budaya, etika, politik, dan agama terhadap penerapan Teknologi Kesehatan.
(3) Penilaian Teknologi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan sebelum Teknologi Kesehatan dimanfaatkan.
Pasal 1019 #Laporkan Penjelasan
(1) Permohonan Penilaian Teknologi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1018 dilakukan oleh pelaksana penelitian, pengembangan, dan pengkajian.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian Teknologi Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1020 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap:
a. hasil pengujian skala terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1016; dan
b. hasil penilaian Teknologi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Bagian KelimaPemanfaatan Teknologi Kesehatan
Pasal 1021 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mendorong pemanfaatan Teknologi Kesehatan yang dihasilkan dari penelitian, pengembangan, dan pengkajian dalam negeri dalam rangka mendukung Pelayanan Kesehatan.
(2) Pemanfaatan Teknologi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk membantu menegakkan diagnostik, pencegahan, pengobatan, peningkatan kualitas hidup, dan penanganan masalah Kesehatan.
(3) Pemanfaatan Teknologi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pemanfaatan teknologi Informasi Kesehatan dalam Sistem Informasi Kesehatan Nasional;
b. teknologi biomedis; dan
c. teknologi lainnya.
(4) Pemanfaatan teknologi Informasi Kesehatan dalam Sistem Informasi Kesehatan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dapat berupa penerapan rekam medis elektronik, Telemedisin, Telekesehatan, robotik, dan kecerdasan buatan.
Pasal 1022 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemanfaatan teknologi biomedis dilaksanakan mulai dari kegiatan pengambilan, penyimpanan jangka panjang, serta pengelolaan dan pemanfaatan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan data terkait, yang ditujukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan Teknologi Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan, termasuk pelayanan kedokteran presisi.
(3) Pelayanan kedokteran presisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui pendekatan genomik, transkriptomik, proteomik, dan metabolomik terkait organisme, jaringan, sel, biomolekul, dan teknologi biomedis lain.
(4) Pelayanan kedokteran presisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan setelah mendapatkan izin Menteri.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mendapatkan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1023 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengambilan, penyimpanan jangka panjang, serta pengelolaan dan pemanfaatan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan data terkait dalam rangka pemanfaatan teknologi biomedis wajib mendapatkan persetujuan dari Pasien dan/atau donor.
(3) Pasien dan/atau donor sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Material yang telah diambil dari Pasien dan/atau donor yang memilih untuk tidak melanjutkan partisipasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan pemusnahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Kewajiban mendapatkan persetujuan dari Pasien dan/atau donor dalam pengelolaan dan pemanfaatan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan data terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan apabila:
a. material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan data yang tidak dapat ditelusuri identitasnya atau berupa data agregat;
b. material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan data untuk kepentingan hukum; dan/ atau
c. material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan data untuk kepentingan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 413 OCRPasal 1024 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyimpanan dan pengelolaan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan data untuk jangka panjang harus dilakukan oleh biobank dan/ atau biorepositori.
(3) Penyelenggaraan biobank dan/atau biorepositori sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1025 #Laporkan Penjelasan
Material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan data dapat dimanfaatkan dalam kegiatan penelitian dan pengembanga.n baik untuk tujuan komersial maupun nonkomersial.
Pasal 1026 #Laporkan Penjelasan
(1) Material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi dan/atau data biomedis dapat digunakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan industri atau untuk kepentingan komersial dengan tetap mematuhi aspek keamanan data, aspek pelindungan data pribadi, dan etik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Penggunaan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, danf atau data biomedis oleh Pemerintah
(3) Penggunaan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, danf atau data biomedis oleh industri atau untuk kepentingan komersial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan izin Menteri.
hlm. 414 OCR(4) Untuk mendapatkan izin Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perizinan penggunaan oleh industri atau untuk kepentingan komersial diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1027 #Laporkan Penjelasan
(1) Penyelenggara biobank dan/atau biorepositori wajib menyimpan spesimen dan data di dalam negeri.
(3) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diakses dan dimanfaatkan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat untuk kepentingan penelitian dan pengembangan.
a. data identitas subjek, baik individu maupun kelompok;
b. data dan informasi yang jika dibuka untuk umum dapat meresahkan
c. data dan informasi yang secara etika atau hasil kesepakatan dengan subjek bersifat rahasia atau dirahasiakan;
d. data dan informasi yang masih dalam proses penelitian dan pengembangan, pengolahan dan/atau penyelesaian;
e. data dan informasi yang masih dalam proses pengajuan hak kekayaan intelektual; dan
f. data dan informasi lainnya yang dikecualikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 1028 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka mendukung pelaksanaan penelitian, pengembangan, dan pengkajian, dapat dilakukan pengalihan dan
(2) Pengalihan dan penggunaan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan/atau data ke luar wilayah Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan apabila:
a. cara mencapai maksud dan tujuan pemeriksaan tidak dapat dilakukan di Indonesia;
b. pemeriksaan dapat dilakukan di Indonesia tetapi untuk mencapai tujuan utama penelitian, perlu dilakukan pemeriksaan di luar wilayah Indonesia; dan/atau
c. untuk kepentingan kendali mutu dalam rangka pemutakhiran akurasi kemampuan standar diagnostik dan terapi.
(3) Pengalihan dan penggunaan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan/atau data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan proses pemindahan baik fisik dan/atau digital.
(4) Pengalihan dan penggunaan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan/atau data ke luar wilayah Indonesia harus dilengkapi dengan perjanjian alih material yang disusun berdasarkan prinsip pemeliharaan kekayaan sumber daya hayati dan genetika lndonesia dan pembagian manfaat yang memenuhi keadilan, keselamatan, dan kemanfaatan, serta keamanan negara.
(5) Dalam hal pengalihan dan penggunaan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan/atau data tertentu dilakukan ke dalam wilayah Indonesia serta antarwilayah di Indonesia harus dilengkapi dengan perjanjian alih material yang disusun berdasarkan prinsip keselamatan dan kemanfaatan serta keamanan negara.
(6) Pengalihan dan penggunaan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan/atau data ke luar wilayah Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan setelah mendapatkan persetujuan Menteri.
hlm. 416 OCRPasal 1029 #Laporkan Penjelasan
Selain digunakan untuk kepentingan penelitian, pengembangan, dan pengkajian, pengalihan dan penggunaan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi,
Pasal 1030 #Laporkan Penjelasan
Pengawasan terhadap kegiatan pengalihan material dalam rangka penelitian, pengembangan, dan pengkajian dilakukan oleh Menteri berkoordinasi dengan kepala lembaga pemerintah yang menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan serta invensi dan inovasi.
Pasal 1031 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai persetujuan pengalihan dan penggunaan material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan/atau data diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1032 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengambilan dan pengiriman material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi hanya dapat dilakukan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan.
(3) Syarat dan tata cara pengambilan dan pengiriman material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
Pasal 1033 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemanfaatan Teknologi Kesehatan dapat dipergunakan untuk melakukan pemeriksaan dan analisis genetika seseorang dalam rangka diagnostik atau tujuan lainnya yang berkaitan dengan pemeriksaan atau pengobatan.
(3) Pemeriksaan dan analisis genetika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan oleh laboratorium Kesehatan yang memiliki kapasitas dan kompetensi dalam pemeriksaan dan analisis genetika.
(5) Pemeriksaan dan analisis genetika sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan setelah mendapatkan izin dari Menteri.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1034 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang dilarang melakukan diskriminasi atas hasil pemeriksaan dan analisis genetik seseorang.
(2) Tindakan diskriminasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. diskriminasi dalam kesempatan mendapatkan manfaat asuransi;
b. diskriminasi dalam kesempatan mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak;
c. diskriminasi dalam kesempatan mendapatkan pendidikan dan pelatihan; atau
d. diskriminasi dalam kesempatan mendapatkan hak lainnya.
(3) Setiap Orang yang melanggar ketentuan larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berupa pengenaan denda administratif sampai dengan pencabutan izin.
hlm. 418 OCRPasal 1035 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal terjadi dugaan diskriminasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
(3) Berdasarkan rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 1036 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberikan:
a. kemudahan perizinan;
b. dukungan sumber daya; dan
c. hilirisasi, terhadap penelitian, pengembangan, dan pengkajian Teknologi Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1037 #Laporkan Penjelasan
Pencatatan dan pelaporan terhadap pemanfaatan Teknologi Kesehatan dilakukan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat, dan masyarakat melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
BAB VIIIKEJADIAN LUAR BIASA DAN WABAH
Bagian KesatuUmum
Pasal 1038 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab melaksanakan kegiatan kewaspadaan KLB dan Wabah, penanggulangan KLB dan Wabah, dan pasca-KlB dan pasca-Wabah.
hlm. 419 OCR(3) Dalam pelaksanaan kegiatan kewaspadaan KLB, penanggulangan KLB, dan pasca-KlB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melibatkan unsur Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, akademisi atau pakar, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, lintas sektor, dan/atau tokoh masyarakatl agama.
Bagian KeduaKejadian Luar Biasa
Paragraf 1Kewaspadaan Kejadian Luar Biasa
Pasal 1039 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka mengantisipasi kemungkinan terjadinya KLB di wilayah, Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat melakukan kegiatan kewaspadaan KLB terhadap penyakit dan/atau masalah Kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB sesuai dengan urusan dan kewenangannya.
a. pelaksanaan surveilans;
b. pengendalian faktor risiko;
c. imunisasi terhadap orang dan binatang pembawa penyakit;
d. penguatan Sumber Daya Kesehatan; dan/atau
e. pengembangan rencana tanggap darurat untuk kesiapan menghadapi KLB dan sebagai upaya meminimalisasi terjadinya KLB berulang.
Pasal 1040 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah
(2) Kewaspadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melalui kegiatan:
a. pengamatan penyakit, faktor risiko penyakit, dan/ atau masalah Kesehatan;
hlm. 420 OCRb. tindakan penanggulangan dalam rangka kewaspadaan KLB; dan
c. pemeriksaan dan/atau penerbitan Dokumen Karantina Kesehatan.
(3) Pengamatan penyakit, faktor risiko penyakit, dan/atau masalah Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Tindakan penanggulangan dalam rangka kewaspadaan KLB sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) Tindakan penanggulangan dalam rangka kewaspadaan KLB sebagaimana dimaksud pada ayat
a. karantina, isolasi, pelaksanaan imunisasi atau pemberian profilaksis, rujukan, disinfeksi, dan/atau dekontaminasi terhadap orang sesuai indikasi;
b. disinfeksi, dekontaminasi, disinseksi, dan/atau deratisasi terhadap alat angkut dan barang;
c. penyehatan, pengama.nan, dan pengendalian terhadap media lingkungan; dan
d. tindakan lainnya yang dibutuhkan atau sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Pemeriksaan dan latau penerbitan Dokumen Karantina Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 1041 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman pelaksanaan kegiatan kewaspadaan KLB di wilayah, Pintu Masuk, dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 2Penanggulangan Kejadian Luar Biasa
Pasal 1042 #Laporkan Penjelasan
(1) Bupati/wali kota, gubernur, atau Menteri harus menetapkan KLB jika pada suatu daerah tertentu terdapat penyakit atau masalah Kesehatan yang memenuhi kriteria KLB.
hlm. 421 OCR(2) Dalam penetapan status KLB oleh bupati/wali kota, gubernur, atau Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada suatu daerah tertentu yang terdapat penyakit atau masalah Kesehatan yang memenuhi minimal 1 (satu) kriteria KLB.
(3) Kriteria KLB sebagaimana dimaksud pada ayat
a. timbulnya suatu penyakit atau masalah Kesehatan yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal;
b. peningkatan kejadian secara terus menerus selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam, hari, atau minggu berturut-turut;
c. peningkatan kejadian kesakitan 2 (dua) kali atau lebih jika dibandingkan dengan periode sebelumnya;
d. rata-rata jumlah kejadian kesakitan perbulan selama 1 (satu) tahun menunjukkan kenaikan 2 (dua) kali atau lebih;
e. angka kematian akibat penyakit atau masalah Kesehatan dalam 1 (satu) kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan
f. angka proporsi penyakit penderita baru pada satu periode menunjukkan kenaikan 2 (dua) kali atau lebih jika dibandingkan dengan satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama; dan/atau
g. kriteria lain yang ditetapkan oleh Menteri.
(4) Penyakit sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang berpotensi menimbulkan KLB meliputi penyakit menular yang:
a. dapat menular dari manusia ke manusia dan/atau dari hewan ke manusia;
b. berpotensi menimbulkan sakit yang parah, kedisabilitasan, dan/atau kematian; dan
c. berpotensi meningkat dan menyebar secara cepat.
(5) Masalah Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. paparan radiasi, lepasan, dan/atau kontaminasi zat radioaktif dari instalasi nuklir dan/atau kegiatan yang memanfaatkan zat
b. pencemaran biologi pada media lingkungan air, udara, dan tanah;
c. pencemaran kimia dari bahan atau limbah bahan berbahaya dan beracun, serta bahan berbahaya lainnya;
hlm. 422 OCRd. kejadian yang diakibatkan oleh penyalahgunaan senjata kimia, senjata biologi, radiologi, mikroorganisme, nuklir, radioaktif, atau komponennya, dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme;
e. pangan yang mengandung cemaran biologis, kimia, radioaktif, dan benda lain; dan latau
f. kejadian lain yang menimbulkan bahaya Kesehatan dan/atau berpotensi terjadi peningkatan kasus yang ditetapkan oleh Menteri.
(6) Paparan radiasi, lepasan, dan/atau kontaminasi zat radioaktif dari instalasi nuklir dan/atau kegiatan yang memanfaatkan zat radioaktif, kejadian khusus, atau kejadian keamanan nuklir sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
Pasal 1043 #Laporkan Penjelasan
Menteri dalam menetapkan kriteria KLB lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Pasal 1044 #Laporkan Penjelasan
(1) Penetapan status KLB oleh bupati/wali kota dilakukan dalam hal luas wilayah terdampak KLB terjadi di sebagian atau seluruh wilayah kabupaten I kota setempat.
(2) Penetapan KLB oleh gubernur dilakukan dalam hal:
a. jika terdapat penyakit atau masalah Kesehatan yang memenuhi kriteria KLB di wilayah kabupaten/kota dan bupati/wali kota belum menetapkan status KLB dalam jangka waktu 1 (satu) kali masa inkubasi untuk penyakit menular atau 14 (empat belas) hari untuk masalah Kesehatan; dan/atau
b. luas wilayah terdampak KLB sedikitnya meliputi 2 (dua) wilayah kabupaten/kota dalam suatu wilayah kerja administratif.
hlm. 423 OCR(3) Penetapan KLB oleh Menteri dapat dilakukan dalam hal:
a. jika terdapat penyakit atau masalah Kesehatan yang memenuhi kriteria KLB di suatu wilayah terjadi peningkatan kasus secara signifikan, dan Pemerintah Daerah belum menetapkan status KLB dalam jangka waktu 1 (satu) kali masa inkubasi untuk penyakit menular atau 14 (empat belas) hari untuk masalah Kesehatan; dan/atau
b. luas wilayah terdampak KLB meliputi lintas provinsi.
Pasal 1045 #Laporkan Penjelasan
(1) Bupati/wali kota, gubernur, atau Menteri yang menetapkan KLB wajib segera melaksanakan kegiatan penanggulangan KLB.
(3) Penanggulangan KLB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan kegiatan:
a. penyelidikan epidemiologis;
b.
c. pengendalian faktor risiko;
d. pemusnahan penyebab KLB;
e. pencegahan dan pengebalan;
f. promosi Kesehatan;
g. komunikasi risiko;
h. penatalaksanaan kasus;
i. penanganan jenazah akibat KLB; dan
j. upaya penanggulangan lainnya yang diperlukan sesuai dengan penyebab KLB.
(4) Penyelidikan epidemiologis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dilakukan untuk mengetahui atau menentukan sebab dan faktor risiko KLB, mengetahui kelompok masyarakat yang berisiko terdampak KLB, serta menentukan cara penanggulangan.
a. pengumpulan data kesakitan dan kematian penduduk;
b. pemeriksaan klinis, fisik, laboratorium dan penegakan diagnosis; dan
c. pengamatan terhadap penduduk serta pemeriksaan terhadap makhluk hidup lain dan benda yang ada di suatu wilayah yang diduga mengandung penyebab KLB.
hlm. 424 OCR(6) Pelaksanaan
(7) Pengendalian faktor risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dilakukan melalui penyehatan, pengamanan, dan pengendalian media lingkungan, serta pengendalian perilaku dan faktor risiko lainnya.
(8) Pemusnahan penyebab KLB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d dilakukan melalui pemusnahan penyebab KLB terhadap bibit penyakit, hewan, tumbuhan, dan/atau barang yang mengandung penyebab KLB.
(9) Pemusnahan penyebab KLB sebagaimana dimaksud pada ayat (8) harus dilakukan dengan cara tanpa merusak lingkungan hidup atau tidak menyebabkan tersebarnya penyebab KLB.
(10) Pencegahan dan pengebalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf e dilakukan melalui deteksi dini, pengobatan dini, peningkatan daya tahan tubuh melalui perbaikan gizi dan imunisasi, perlindungan diri dari penularan penyakit, pengendalian sarana, lingkungan, dan binatang pembawa penyakit.
(11) Promosi Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf f dilakukan melalui advokasi, sosialisasi, dan kemitraan.
(12) Komunikasi risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf g dilakukan melalui pemberian informasi dan/atau edukasi kepada masyarakat
(13) Penatalaksanaan kasus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf h dilakukan melalui tindakan pemeriksaan, pengobatan, perawatan, isolasi penderita, dan tindakan karantina di Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau di tempat lain yang ditentukan.
(14) Penanganan jenazah akibat KLB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf i dilakukan melalui penanga.nan secara khusus menurut jenis penyakit dan masalah Kesehatan dengan memperhatikan norma agama atau kepercayaan dan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1046 #Laporkan Penjelasan
Penanggulangan KLB yang merupakan respon terhadap masalah Kesehatan berupa kejadian paparan radiasi, lepasan, dan/atau kontaminasi zat radioaktif dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 425 OCRPasal 1047 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman pelaksanaan kegiatan penanggulangan KLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1045 diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 3Kegiatan Pasca-Kejadian Luar Biasa
Pasal 1048 #Laporkan Penjelasan
(1) Kegiatan pasca-KlB dilakukan setelah bupati/wali kota, gubernur, atau Menteri mencabut penetapan status KLB.
(3) Pencabutan penetapan status KLB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mempertimbangkan:
a. hasil penyelidikan epidemiologis sudah tidak ditemukan kasus baru dalam 2 (dua) kali masa inkubasi terpanjang untuk penyakit menular; atau
b. pelaksanaan upaya penanggulangan dan pengendalian untuk masalah Kesehatan.
Pasal 1049 #Laporkan Penjelasan
(1) Kegiatan pasca-KlB dilakukan untuk pemulihan Kesehatan masyarakat di wilayah terjangkit KLB dan mencegah KLB berulang.
a. komunikasi risiko;
b. pelaksanaan surveilans Kesehatan; dan
c.
(3) Komunikasi risiko sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Pelaksanaan surveilans Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilakukan melalui pengamatan, verifikasi, serta analisis data laporan kasus dan faktor risiko secara periodik.
(5) Pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan melalui fasilitasi proses pemecahan masalah dalam bentuk pendekatan edukatif dan partisipatif.
Bagian KetigaWabah
Paragraf 1Rencana Kontingensi Penanggulangan Wabah
Pasal 1050 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka Kewaspadaan Wabah:
a. Pemerintah Daerah provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota
b. kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan
(3) Pemerintah Daerah provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota dalam
Pasal 1051 #Laporkan Penjelasan
Rencana kontingensi penanggulangan Wabah pada Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1050 ayat (1)
Paragraf 2Kewaspadaan Wabah di Pintu Masuk
Pasal 1052 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat melaksanakan kegiatan Kewaspadaan Wabah di Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik melalui pengamatan penyakit dan/atau faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah.
Pasal 1053 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka pengamatan penyakit dan/atau faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1052, dilakukan pengawasan terhadap alat angkut, orang, barang, dan/atau lingkungan oleh Petugas Karantina Kesehatan.
Pasal 1054 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengawasan terhadap alat angkut pada saat kedatangan dilakukan pada kapal, pesawat udara, dan kendaraan darat yang:
a. datang dari luar negeri; atau
b. datang dari Daerah Terjangkit.
(3) Pengawasan pada kapal, pesawat udara, dan
(4) Kegiatan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di
Pasal 1055 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap nakhoda, kapten penerbang, atau pengemudi pada saat kedatangan atau melewati pos lintas batas negara wajib menginformasikan apabila terdapat orang sakit dan/atau meninggal yang diduga kuat diakibatkan oleh penyakit dan/atau faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah kepada Petugas Karantina Kesehatan.
(2) Penyampaian informasi oleh nakhoda, kapten penerbang, atau pengemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menyerahkan dokumen deklarasi Kesehatan untuk kapal, pesawat udara, dan
Pasal 1056 #Laporkan Penjelasan
Khusus pada kapal, nakhoda wajib menyampaikan permohonan untuk memperoleh persetujuan karantina Kesehatan atau memberitahukan suatu keadaan di Kapal dengan memakai isyarat sebagai berikut:
a. pada siang hari berupa:
1. bendera Q, yang berarti kapal saya sehat atau saya minta persetujuan karantina Kesehatan;
2. bendera Q di atas panji pengganti kesatu, yang berarti kapal saya tersangka; dan
3. bendera Q di atas bendera L, yang berarti kapal saya terjangkit; dan
b. pada malam hari berupa lampu merah di atas lampu putih dengan jarak maksimum 1,80 (satu koma delapan nol) meter, yang berarti belum mendapat persetujuan karantina Kesehatan.
Pasal 1057 #Laporkan Penjelasan
(1) Berdasarkan hasil pengawasan terhadap kedatangan kapal, pesawat udara, dan kendaraan darat, Petugas Karantina Kesehatan menerbitkan surat persetujuan berupa dokumen persetujuan karantina Kesehatan.
hlm. 429 OCR(3) Dokumen persetujuan karantina Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. persetujuan bebas karantina, dalam hal tidak ditemukan faktor risiko Kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB atau Wabah, dan Dokumen Karantina Kesehatan dinyatakan lengkap dan berlaku; atau
b. persetujuan karantina terbatas, dalam hal ditemukan faktor risiko Kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB atau Wabah, dan/atau Dokumen Karantina Kesehatan dinyatakan tidak lengkap dan/ atau tidak berlaku.
(4) Terhadap kapal, pesawat udara, dan kendaraan darat yang mendapat persetujuan karantina terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, Petugas Karantina Kesehatan berwenang melakukan tindakan penanggulangan.
Pasal 1058 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengawasan terhadap alat angkut pada saat keberangkatan dilakukan pada kapal, pesawat udara, dan kendaraan darat yang akan berangkat dari Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik.
(2) Pengawasan terhadap alat angkut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pemeriksaan Dokumen Karantina Kesehatan, dokumen lainnya, serta faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah, termasuk barang, awak, dan penumpang.
(3) Khusus pengawasan pada kendaraan darat, pemeriksaan Dokumen Karantina Kesehatan, dokumen lainnya, serta faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 1059 #Laporkan Penjelasan
Sebelum keberangkatan kapal, pesawat udara, atau kendaraan darat, nakhoda, kapten penerbang, dan pengemudi wajib melengkapi Dokumen Karantina Kesehatan yang masih berlaku.
hlm. 430 OCRPasal 1060 #Laporkan Penjelasan
(1) Berdasarkan hasil pengawasan saat keberangkatan kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1058, Petugas Karantina Kesehatan:
a. memerintahkan nakhoda untuk melengkapi Dokumen Karantina Kesehatan jika hasil pemeriksaan Dokumen Karantina Kesehatan ditemukan dokumen tidak lengkap atau tidak valid;
b. menerbitkan surat persetujuan berlayar karantina Kesehatan jika Dokumen Karantina Kesehatan lengkap dan valid serta tidak ditemukan faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah;
c. melakukan tindakan penanggulangan yang diperlukan sesuai dengan penyakit, masalah Kesehatan, dan/atau faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah yang ditemukan; atau
d. mengeluarkan rekomendasi untuk dilakukan tindakan penanggulangan yang diperlukan sesuai dengan penyakit, masalah Kesehatan, dan/atau faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah yang ditemukan.
Pasal 1061 #Laporkan Penjelasan
(1) Berdasarkan hasil pengawasan saat keberangkatan pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1058, Petugas Karantina Kesehatan:
a. memerintahkan kapten penerbang untuk melengkapi Dokumen Karantina Kesehatan jika hasil pemeriksaan Dokumen Karantina Kesehatan ditemukan dokumen tidak lengkap atau tidak valid; dan
b. memerintahkan kapten penerbang untuk melakukan tindakan penanggulangan yang diperlukan sesuai dengan penyakit, masalah Kesehatan, dan/atau faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah yang ditemukan.
(2) Dalam rangka pengawasan pesawat udara, Petugas Karantina Kesehatan dapat melakukan pemeriksaan faktor risiko Kesehatan terhadap pesawat
Pasal 1062 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengawasan terhadap orang dilakukan pada awak, personel, dan penumpang yang datang atau berangkat.
(3) P.engawasan terhadap orang pada saat keberangkatan dilakukan pada alat angkut-berdasarkan informas-i yang disampaikan terdapat orang yang diduga terjangkiT dan/atau terpapar.
(4) Pengawasan terhadap ora.ng dilakukan melalui
(5) Terhadap orang._ yang terjangkit dan/atau terpapar berdasarkan hasil pemeriksaan
(6) Terhadap orang yang tidak terjangkit dan/atau tidak terpapar berdasarkan hasil pemEriksaan. kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1+1 dapat melanjutkan
(8)
(9) Ma.skapai -penerbangan atau agen pelayaran harus melaksanakan rekomendasi
Pasal 1063 #Laporkan Penjelasan
(1) ??t?-.hal pada
Pasal 1064 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap orang:
a. yang datang dari negara endemis, negara terjangkit, dan/atau negara yang mewajibkan adanya pemberian kekebalan atau profilaksis; atau
b. yang akan berangkat ke negara endemis, negara terjangkit, danf atau negara yang mewajibkan adanya pemberian kekebalan atau profilaksis, wajib memiliki sertifikat vaksinasi internasional yang masih berlaku.
(2) Setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yang tidak memiliki sertifikat vaksinasi internasional, dilakukan karantina dan pemberian kekebalan atau profilaksis oleh Petugas Karantina Kesehatan.
(3) Setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b yang tidak memiliki sertifikat vaksinasi internasional, dilakukan penundaan keberangkatannya oleh Petugas Karantina Kesehatan dan diberikan kekebalan atau profilaksis sesuai persyaratan dan standar yang berlaku.
Pasal 1065 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengawasan terhadap barang dilakukan pada barang yang diduga memiliki faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah dalam alat angkut baik saat kedatangan atau keberangkatan.
hlm. 433 OCR(3) Jika ditemukan faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah pada barang dilakukan tindakan penanggulangan.
Pasal 1066 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengawasan barang berupa jenazah dan/atau abu jenazah dalam alat angkut dilakukan melalui pemeriksaan dokumen penyebab kematian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Jika pada pemeriksaan dokumen penyebab kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditemukan:
a. dokumen tidak lengkap, penanggung jawab alat angkut harus melengkapi dokumen sesuai dengan persyaratan yang berlaku;
b.
c. faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah, Petugas Karantina Kesehatan melakukan tindakan penanggulangan.
(3) Jika hasil pemeriksaan tidak ditemukan faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah atau setelah dilakukan tindakan penanggulangan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 1067 #Laporkan Penjelasan
(1) Jika terdapat
(3) Terhadap jenazah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirim ke Rumah Sakit untuk dilakukan pemulasaraan
Pasal 1068 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengawasan terhadap lingkungan dilakukan terhadap lingkungan pada Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik yang berpotensi atau diduga memiliki faktor risiko penyakit atau masalah Kesehatan.
Pasal 1069 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman pengawasan alat angkut, orang, barang, dan lingkungan diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1070 #Laporkan Penjelasan
(1) Berdasarkan hasil pengawasan terhadap alat angkut, orang, barang, dan/atau lingkungan di Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik, Petugas Karantina Kesehatan menetapkan dan melaksanakan tindakan penanggulangan.
(3) Tindakan penanggulangan tertentu dapat dilakukan oleh:
a. badan usaha yang mempunyai izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau
b. instansi terkait yang berwenang.
(4) Pelaksanaan tindakan penanggulangan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berada dalam pengawasan Petugas Karantina Kesehatan.
Pasal 1071 #Laporkan Penjelasan
(1) Tindakan penanggulangan terhadap alat angkut di Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik dapat berupa:
a. disinfeksi;
b. dekontaminasi;
c. disinseksi;dan/atau
d. deratisasi.
hlm. 435 OCRPasal 1072 #Laporkan Penjelasan
(1) Tindakan penanggulangan terhadap orang di Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik dapat berupa:
a. skrining;
b. rujukan
c. isolasi;
d. karantina;
e.
f. pemberian profilaksis;
g. disinfeksi; dan/atau
h. dekontaminasi.
(2) Skrining sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan terhadap pelaku perjalanan dari luar negeri atau Daerah Terjangkit.
(3) Rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan terhadap pelaku perjalanan yang diduga menderita atau menderita penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah dengan menggunakan peralatan khusus dan/atau kendaraan khusus evakuasi penyakit menular ke Rumah Sakit atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain yang ditetapkan untuk mendapatkan pemeriksaan Kesehatan lanjutan, perawatan, dan/atau pengobatan.
(5) Isolasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan terhadap pelaku perjalanan yang diduga menderita atau menderita penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah di Rumah Sakit.
hlm. 436 OCR(6) Karantina sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan terhadap pelaku perjalanan yang kontak dan/atau diduga terpapar penyakit atau faktor risiko yang berpotensi menimbulkan Wabah selama 1 (satu) kali masa inkubasi terpanjang atau berdasarkan waktu yang ditetapkan oleh Menteri.
(8) Karantina sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dapat dilaksanakan di tempat karantina yang disediakan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah setelah mendapat rekomendasi dari Petugas Karantina Kesehatan.
(9) Pemberian kekebalan atau pemberian profilaksis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dan huruf f wajib dilakukan pada setiap orang yang akan melakukan perjalanan internasional dari dan ke negara terjangkit dan/atau endemis penyakit menular tertentu dan/atau atas permintaan negara tertentu.
(10) Pemberian kekebalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilakukan dengan memberikan imunisasi yang ditetapkan oleh Menteri.
(11) Pemberian profilaksis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dilakukan pada setiap orang yang ditemukan adanya kontra indikasi terhadap vaksin yang akan diberikan atau untuk melindungi masyarakat terhadap penyakit menular yang belum ada vaksinnya.
(12) Disinfeksi dan/atau dekontaminasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g dan huruf h dilaksanakan pada saat kedatangan dan/atau keberangkatan pada orang yang terpapar faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah.
Pasal 1073 #Laporkan Penjelasan
(1) Tindakan penanggulangan terhadap barang di Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik dapat berupa:
a. disinfeksi;
b. dekontaminasi;
c. disinseksi; dan/atau
d. deratisasi.
hlm. 437 OCR(2) Tindakan penanggulangan pada barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan di dalam
(3) Tindakan penanggulangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berkoordinasi dengan pihak terkait yang berwenang dan/atau berada di bawah pengawasan Petugas Karantina Kesehatan.
Pasal 1074 #Laporkan Penjelasan
(1) Tindakan penanggulangan terhadap lingkungan di Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik dilakukan melalui upaya penyehatan, pengamanan, dan pengendalian.
Pasal 1075 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan tindakan penanggulangan terhadap alat angkut, orang, barang, dan lingkungan diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1076 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap alat angkut, orang, dan/atau barang yang:
a. datang dari atau berangkat ke luar negeri; atau
b. datang dari atau berangkat ke daerah/negara endemis atau
a. deklarasi Kesehatan;
b.
c.
d. sertifikat sanitasi;
e. sertifikat Obat dan Alat Kesehatan; dan
f. buku Kesehatan kapal.
hlm. 438 OCR(3) Dokumen Karantina Kesehatan pada orang terdiri atas:
a.
b. sertifikat izin angkut orang sakit pada kapal, pesawat, dan kendaraan darat;
c. sertifikat laik terbang pada pesawat; dan
d. sertifikat laik layar pada kapal.
(4) Dokumen Karantina Kesehatan pada barang terdiri atas:
a. surat izin pengangkutan
b. sertifikat Kesehatan untuk bahan berbahaya; dan
c. sertifikat Kesehatan untuk Obat, makanan, Kosmetik, Alat Kesehatan, bahan adiktif, dan barang lainnya yang akan diekspor sesuai dengan permintaan negara tujuan.
Pasal 1077 #Laporkan Penjelasan
(1) Deklarasi Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1076 ayat
a. deklarasi Kesehatan maritim untuk kapal;
b. deklarasi Kesehatan penerbangan untuk pesawat udara; dan
c. deklarasi Kesehatan pelintasan darat untuk kendaraan darat.
a. surat persetujuan berlayar karantina Kesehatan untuk kapal;
b. surat persetujuan keberangkatan pesawat udara untuk pesawat udara; dan
c. surat persetujuan keberangkatan kendaraan darat untuk kendaraan darat.
(3) Sertifikat sanitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1076 ayat
a. sertifikat bebas tindakan sanitasi kapal dan sertifikat tindakan sanitasi kapal;
b. sertifikat bebas tindakan sanitasi pesawat udara dan sertifikat tindakan sanitasi pesawat udara; dan
c. sertifikat bebas tindakan sanitasi kendaraan darat dan sertifikat tindakan sanitasi kendaraan darat.
Pasal 1078 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri dapat menetapkan perubahan Dokumen Karantina Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1076 dan/atau menetapkan Dokumen Karantina Kesehatan lain.
Pasal 1079 #Laporkan Penjelasan
Dokumen Karantina Kesehatan dikeluarkan oleh pejabat yang
Pasal 1080 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengajuan penerbitan Dokumen Karantina Kesehatan dilakukan kepada Petugas Karantina Kesehatan secara elektronik atau manual.
(3) Penerbitan Dokumen Karantina Kesehatan dilakukan setelah dilaksanakan pengawasan dan/atau tindakan penanggulangan.
(4) Penerbitan Dokumen Karantina Kesehatan dapat dilakukan secara elektronik atau manual.
(5) Penerbitan Dokumen Karantina Kesehatan menggunakan bentuk atau format yang ditetapkan oleh Menteri.
(6) Penerbitan Dokumen Karantina Kesehatan dapat dikenakan biaya yang menjadi pendapatan negara bukan pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1081 #Laporkan Penjelasan
(1) Dokumen Karantina Kesehatan dinyatakan batal atau tidak berlaku apabila:
a. masa berlaku sudah berakhir;
hlm. 440 OCRb. nomor registrasi alat angkut berubah;
c. tidak terpenuhinya persyaratan yang ditetapkan;
d. keterangan dalam dokumen tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya; dan/atau
e. diperoleh secara tidak sah.
(3) Terhadap alat angkut, orang, dan barang dengan Dokumen Karantina Kesehatan yang dinyatakan batal atau tidak berlaku, harus dilakukan pengawasan dan/atau tindakan penanggulangan oleh Petugas Karantina Kesehatan.
Pasal 1082 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap penerbitan dan pembatalan Dokumen Karantina Kesehatan wajib dilakukan pencatatan dan pelaporan.
(2) Pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Pasal 1083 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman teknis pengajuan, penerbitan, dan pembatalan, serta bentuk Dokumen Karantina Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 3Penanggulangan Wabah
Pasal 1084 #Laporkan Penjelasan
(1) Penanggulangan Wabah dilaksanakan segera setelah penetapan Daerah Terjangkit Wabah dengan memperhatikan asas kemanusiaan, sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan.
(3) Dalam penetapan Daerah Terjangkit Wabah sebagaimana dimaksud pada ayat
a. etiologi penyakit;
b. situasi kasus dan kematian;
c. kapasitas Pelayanan Kesehatan; dan/atau
d. kondisi masyarakat.
hlm. 441 OCR(4) Selain pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Menteri dalam menetapkan Daerah Terjangkit Wabah mempertimbangkan aspek kedaulatan negara, keamanan, ekonomi, sosial, dan budaya dalam penetapan Daerah Terjangkit Wabah.
Pasal 1085 #Laporkan Penjelasan
(1) Penetapan Daerah Terjangkit Wabah dapat dilakukan pada:
a. wilayah administratif;
b. wilayah Pintu Masuk dan bandar udara atau pelabuhan yang melayani lalu lintas domestik;
c. wilayah kepulauan; dan/atau
d. wilayah tertentu.
Pasal 1086 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal Wabah berdampak mengancam dan berpotensi mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang menyebabkan jumlah korban, kerugian ekonomi, cakupan luas wilayah yang terkena Wabah, dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan, dan kerusakan lingkungan, Menteri mengusulkan penetapan Wabah sebagai bencana nasional nonalam kepada Presiden.
Pasal 1087 #Laporkan Penjelasan
Dalam hal Wabah berpotensi menyebar lintas negara, Pemerintah Pusat memberitahukan kepada negara lain dan/atau organisasi internasional sesuai dengan ketentuan hukum internasional.
Pasal 1088 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah
(2) Kegiatan penanggulangan Wabah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terintegrasi, komprehensif, dan tepat sasaran berdasarkan besarnya ancaman, efektivitas, dukungan sumber daya, dan teknik operasional dengan mempertimbangkan kedaulatan negara, keamanan dan pertahanan negara, ekonomi, sosial, dan budaya.
(3) Pelaksanaan kegiatan penanggulangan Wabah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh Menteri dengan melibatkan kementerian/lembaga terkait, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pemerintah Daerah, dan masyarakat.
(4) Dalam penanggulangan Wabah, Pemerintah Pusat dapat bekerja sama dengan negara lain atau badan internasional.
Pasal 1089 #Laporkan Penjelasan
Dalam pelaksanaan penanggulangan Wabah, setiap Pemerintah Daerah provinsi, Pemerintah Daerah
Pasal 1090 #Laporkan Penjelasan
Dalam pelaksanaan penanggulangan Wabah, setiap Pemerintah Daerah provinsi, Pemerintah Daerah kabupaten/kota, serta pejabat yang berwenang pada Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik sesuai kewenangannya dalam wilayah, Pintu Masuk, dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik yang terjangkit Wabah mengoordinasikan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan tugas, fungsi, dan tanggung jawab sesuai dengan rencana operasional penanggulangan Wabah.
Pasal 1091 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Daerah provinsi, Pemerintah Daerah kabupatenf kota, serta
(3) Pemerintah Daerah provinsi atau Pemerintah Daerah kabupaten/kota dapat melakukan kerja sama dalam penanggulangan Wabah dengan negara lain dan/atau organisasi internasional melalui Pemerintah Pusat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1092 #Laporkan Penjelasan
(1) Penanggulangan Wabah dilakukan melalui kegiatan:
a. investigasi penyakit;
b. penguatan surveilans;
c. penanganan penderita;
d. pengendalian faktor risiko;
e. penanganan terhadap populasi berisiko;
f. komunikasi risiko; dan/atau
g.
(3) Investigasi penyakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang etiologi penyakit, sumber penyakit, dan cara penularan atau penyebaran penyakit Wabah.
(4) Penguatan surveilans sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan untuk penemuan kasus dan identifikasi mendalam tentang karakteristik dari etiologi/agen penyakit dan faktor risikonya dengan berbasis laboratorium dan/atau penelitian ilmiah.
(5) Penanganan penderita sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan upaya tata laksana penderita sesuai dengan kebutuhan medis melalui isolasi, karantina, danf atau pengobatan dan perawatan.
(6) Pengendalian faktor risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit dari faktor risiko yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan perkembangan teknologi serta karakteristik dari faktor risiko tersebut, termasuk kemungkinan pemusnahan faktor risiko dimaksud.
hlm. 444 OCR(7) Penanganan terhadap populasi berisiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilakukan untuk mencegah dan mengurangi risiko
(8) Komunikasi risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dan meningkatkan peran masyarakat dalam upaya penanggulangan Wabah.
Pasal 1093 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman pelaksanaan kegiatan penanggulangan Wabah diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 4Karantina
Pasal 1094 #Laporkan Penjelasan
(1) Karantina sebagaimana dimaksud dalam Pasal
(2) Selain mempertimbangkan aspek epidemiologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelaksanaan karantina harus didasarkan pada pertimbangan:
a. besarnya ancaman;
b. efektifitas;
c. dukungan sumber daya;
d. teknis operasional;
e. politik;
f. ekonomi, sosial, dan budaya; dan/atau
g. pertahanan dan keamanan.
(3) Pelaksanaan karantina sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 1 (satu) kali masa inkubasi terpanjang atau berdasarkan waktu yang ditetapkan oleh Menteri.
(4) Apabila selama masa karantina ditemukan kasus dengan gejala dan tanda yang sama, karantina dapat diperpanjang selama 1 (satu) kali masa inkubasi terpanjang atau berdasarkan waktu yang ditetapkan oleh Menteri.
hlm. 445 OCR(5) Karantina yang dilaksanakan di rumah, Rumah Sakit, tempat kerja, alat angkut, hotel, wisma, asrama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan kriteria:
a. teridentifikasinya individu atau kelompok yang kontak dengan orang yang terjangkit;
b. teridentifikasinya individu atau kelompok, barang, atau alat angkut yang kontak dengan barang, alat angkut, dan/atau area yang terpapar; dan/atau
c. teridentifikasinya sinyal epidemiologi dari dalam dan luar tempat karantina.
(6) Karantina yang dilaksanakan di tempat atau wilayah lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan kriteria:
a. telah terjadi peningkatan penyebaran kejadian penyakit menular antaranggota masyarakat dalam suatu wilayah berdasarkan pertimbangan epidemiologis; dan
b. telah terdapat konfirmasi hasil laboratorium dan/atau pemeriksaan/pengukuran lainnya yang menunjukkan penyebab timbulnya Wabah.
Pasal 1095 #Laporkan Penjelasan
(1) Penetapan dan pencabutan status karantina dilaksanakan oleh:
a. bupati/wali kota atau pejabat Pemerintah Daerah kabupaten/kota yang ditunjuk, untuk tempat karantina paling sedikit 1 (satu) kecamatan, 1 (satu) kelurahan/desa, atau 1 (satu) rukun warga/rukun tetangga;
b. gubernur atau pejabat Pemerintah Daerah provinsi yang ditunjuk, untuk tempat karantina paling sedikit 1 (satu) kabupaten/kota; dan
c. Menteri, untuk wilayah Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik serta daerah yang tidak ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.
(2) Penetapan dan pencabutan status karantina di wilayah Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan berdasarkan laporan dari Petugas Karantina Kesehatan sesuai dengan perkembangan penyebaran kejadian penyakit yang menimbulkan Wabah.
hlm. 446 OCR(3) Menteri melakukan verifikasi dan validasi atas laporan dari Petugas Karantina Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 1096 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam pelaksanaan karantina, ditetapkan akses masuk dan keluar bagi Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan untuk keperluan logistik, Pelayanan Kesehatan, dan surveilans.
(3) Akses masuk dan keluar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dijaga oleh petugas keamanan.
Pasal 1097 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam hal karantina dilaksanakan di wilayah yang hanya terdapat 1 (satu) akses masuk dan akses keluar, kendaraan yang diperbolehkan untuk melintas meliputi:
a. kendaraan yang membawa logistik;
b. ambulans;
c. kendaraan operasional Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan yang melakukan penanggulangan Wabah; dan
d. kendaraan yang ditetapkan oleh Petugas Karantina Kesehatan sesuai kebutuhan penanganan.
(2) Kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pemeriksaan oleh petugas keamanan untuk diberi izin melintas.
(3) Kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menjalani tindakan berupa disinfeksi, dekontaminasi, disinseksi, danf atau deratisasi.
Pasal 1098 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam pelaksanaan karantina di wilayah Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik, seluruh kegiatan lalu lintas alat angkut, orang, dan barang dihentikan, kecuali kegiatan penanggulangan Wabah. hlm. 447 OCR
(3) Dalam pelaksanaan karantina di wilayah Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan akses masuk dan keluar bagi Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan, serta kendaraan untuk keperluan logistik, Pelayanan Kesehatan, dan surveilans.
(4) Penetapan akses masuk dan keluar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus memperhatikan penyebaran kejadian penyakit dan faktor risiko penyakit yang menimbulkan Wabah.
(5) Akses masuk dan keluar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dijaga oleh petugas keamanan.
(6) Setiap alat angkut, orang, dan barang yang keluar dari wilayah karantina dilakukan tindakan
Pasal 1099 #Laporkan Penjelasan
(1) Orang yang meninggal selama pelaksanaan karantina dilakukan pemulasaraan
(2) Orang yang meninggal dalam kondisi terjangkit atau terpapar penyakit yang menimbulkan Wabah selama pelaksanaan karantina, pemakaman dilakukan di tempat/lokasi yang ditetapkan oleh gubernur atau bupati/wali kota.
Pasal 1100 #Laporkan Penjelasan
Dalam pelaksanaan karantina, masyarakat dapat berperan serta untuk:
a. membantu penyediaan sumber daya dan kebutuhan hidup dasar yang dibutuhkan;
b. membantu pengamana.n;
c.
d. memberikan dukungan fasilitasi dalam Pelayanan Kesehatan; dan/atau
e. dukungan lain yang diperlukan.
hlm. 448 OCRPasal 1101 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam melaksanakan karantina, Petugas Karantina Kesehatan melibatkan Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan, dan tenaga cadangan Kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan, Kepolisian Negara Republik lndonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan pihak terkait lainnya yang berwenang.
a. informasi penyakit menular yang menimbulkan Wabah beserta faktor risiko penyakit dan dampaknya;
b. informasi tindakan yang akan diberikan;
c. informasi upaya pencegahan penularan penyakit yang menimbulkan Wabah dan faktor risikonya;
d. informasi hak dan kewajiban orang yang dikarantina; dan
e. informasi lain yang diperlukan.
Pasal 1102 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam pelaksanaan karantina, Petugas Karantina Kesehatan, Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan harus memperhatikan keselamatan dan Kesehatan.
(2) Petugas Karantina Kesehatan, Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan yang bertugas melaksanakan karantina harus dilengkapi dengan alat pelindung diri atau alat proteksi lainnya.
(3) Selain dilengkapi dengan alat pelindung diri atau alat proteksi lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat
Paragraf 5Pembatasan Kegiatan Sosial Kemasyarakatan
Pasal 1103 #Laporkan Penjelasan
(1) Pembatasan kegiatan sosial kemasyarakatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. jumlah kasus dan/atau jumlah kematian akibat penyakit yang menimbulkan Wabah meningkat dan menyebar secara signifikan dan cepat ke beberapa wilayah; dan
b. telah terdapat kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa di wilayah atau negara lain.
Pasal 1104 #Laporkan Penjelasan
(1) Pembatasan kegiatan sosial kemasyarakatan meliputi:
a. peliburan sekolah dan tempat kerja;
b. pembatasan kegiatan keagamaan;
c. pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum; dan/atau
d. pembatasan kegiatan lainnya.
(3) Pembatasan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan dengan memperhatikan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Pasal 1105 #Laporkan Penjelasan
(1) Pembatasan kegiatan sosial kemasyarakatan ditetapkan dan dicabut oleh Menteri dengan mempertimbangkan rekomendasi dari Petugas Karantina Kesehatan.
hlm. 450 OCR(3) Gubernur atau bupati/wali kota dapat menetapkan dan mencabut pembatasan kegiatan sosial kemasyarakatan untuk 1 (satu) provinsi atau kabupaten/kota di wilayahnya setelah mendapatkan persetujuan Menteri.
Paragraf 6Petugas Karantina Kesehatan
Pasal 1106 #Laporkan Penjelasan
Petugas Karantina Kesehatan merupakan aparatur sipil negara yang berkedudukan di Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik serta di wilayah.
Pasal 1107 #Laporkan Penjelasan
Petugas Karantina Kesehatan di Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik diangkat dan diberhentikan oleh Menteri.
Pasal 1108 #Laporkan Penjelasan
(1) Petugas Karantina Kesehatan di wilayah diangkat dan diberhentikan oleh gubernur atau bupati/wali kota.
(3) Petugas Karantina Kesehatan di wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bertugas selama status Wabah masih ditetapkan.
Pasal 1109 #Laporkan
Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan yang diangkat sebagai Petugas Karantina Kesehatan harus telah mengikuti pelatihan karantina Kesehatan dan penanggulangan penyakit dan/atau faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah
Pasal 1 110 #Laporkan Penjelasan
(1) Petugas Karantina Kesehatan di Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik berwenang:
hlm. 451 OCRa. melakukan dan menetapkan tindakan penanggulangan Wabah;
b. menerbitkan surat rekomendasi penolakan kedatangan atau penundaan keberangkatan kepada instansi yang berwenang; dan
c. menerbitkan surat rekomendasi kepada pejabat yang berwenang untuk menetapkan karantina di wilayah Pintu Masuk dan pelabuhan atau bandar udara yang melayani lalu lintas domestik.
a. melakukan dan menetapkan tindakan penanggulangan Wabah;
b. menerbitkan surat rekomendasi deportasi kepada instansi yang berwenang; dan
c. menerbitkan surat rekomendasi kepada pejabat yang berwenang untuk menetapkan karantina yang dilaksanakan di mmah, Rumah Sakit, tempat
Paragraf 7Pelaksanaan Kegiatan Pasca-Wabah
Pasal 1111 #Laporkan Penjelasan
(1) Kegiatan pasca-Wabah dilaksanakan setelah Menteri mencabut penetapan Daerah Terjangkit Wabah.
a. penularan penyakit telah berhenti;
b. perkembangan penyakit dapat dikendalikan; dan/atau
c. kondisi Kesehatan telah kembali seperti keadaan sebelum terjadi Wabah.
(3) Selain kriteria epidomologis sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 1112 #Laporkan Penjelasan
(1) Kegiatan pasca-Wabah dilakukan untuk pemulihan Kesehatan masyarakat di Daerah Terjangkit Wabah, mencegah Wabah berulang, dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
hlm. 452 OCRa. Pelayanan Kesehatan; dan
b. kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.
(3) Selain pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetap dilakukan upaya pencegahan terulangnya Wabah melalui kegiatan:
a. penguatan surveilans Kesehatan; dan
b. pengendalian faktor risiko.
(4) Pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dapat dilakukan melalui penguatan pemberian kekebalan atau pemberian profilaksis.
(5) Kegiatan normalisasi Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Kegiatan pasca-Wabah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah kabupatenf kota, Pemerintah Daerah provinsi, dan Pemerintah Pusat secara terintegrasi, komprehensif, tepat sasaran, dan berkesinambungan sesuai dengan kewenangannya.
Bagian KeempatStandar Pengelolaan Bahan dan Agen Biologi
Penyebab Penyakit dan/atau Masalah Kesehatan yang Berpotensi Menimbulkan KLB dan/atau Wabah
Pasal 1113 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang mengelola bahan yang mengandung penyebab dan/atau agen biologi penyebab penyakit dan masalah Kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB dan Wabah wajib memenuhi standar pengelolaan.
a. batas aman penggunaan unsur bahan kimia;
b. batas aman penggunaan unsur fisika berupa zat radioaktif dari instalasi nuklir dan/atau kegiatan yang memanfaatkan zat radioaktif; dan
c. batas aman penggunaan agen biologi pada media lingkungan air, udara, dan tanah.
hlm. 453 OCR(3) Bahan yang mengandung penyebab dan/atau agen biologi penyebab penyakit dan masalah Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari manusia, hewan, tumbuhan, dan/atau
(4) Bahan yang mengandung penyebab dan/atau agen biologi penyebab penyakit dan masalah Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dikelola sesuai dengan jenis dan sifatnya.
Pasal 1114 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengelolaan bahan yang mengandung penyebab dan/atau agen biologi penyebab penyakit dan masalah Kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB dan Wabah meliputi kegiatan pemasukan, penyimpanan, pengangkutan, penggunaan, penelitian, dan pemusnahan.
Pasal 1 1 15 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengelolaan dan batas aman bahan yang mengandung penyebab dan/atau agen biologi penyebab penyakit dan masalah Kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB dan Wabah diatur dengan Peraturan Menteri dan peraturan menteri/peraturan kepala lembaga terkait sesuai dengan tugas dan kewenangannya.
Bagian KelimaPencatatan dan Pelaporan
Pasal 1 1 16 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap kegiatan pelaksanaan kewaspadaan KLB dan Wabah, kegiatan penanggulangan KLB dan Wabah dan/atau kegiatan pasca-KlB dan pasca-Wabah harus dilakukan pencatatan dan pelaporan melalui Sistem Informasi Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Kesehatan Nasional.
Bagian KeenamSanksi Administratif
Pasal 1117 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang mengetahui adanya orang sakit atau diduga sakit akibat penyakit atau masalah Kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB atau akibat penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah harus segera melaporkan kepada aparatur pemerintahan desa/kelurahan dan/atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan terdekat.
(3) Aparatur pemerintahan desa/kelurahan dan/atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis; dan/atau
c. usulan pemberhentian dari jabatannya.
(4) Sanksi administratif berupa teguran lisan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a disampaikan secara langung dan dituangkan dalam berita acara.
(5) Sanksi administratif berupa teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b diberikan dalam bentuk keputusan, dengan ketentuan:
a. telah mendapatkan sanksi administratif
b. dampak yang ditimbulkan dari pelanggaran menyebabkan meningkatnya jumlah kesakitan.
(6) Pengenaan sanksi administratif berupa usulan pemberhentian dari jabatannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c diberikan dalam bentuk keputusan, dengan ketentuan:
hlm. 455 OCRa. telah mendapatkan sanksi administratif berupa teguran tertulis dan masih melakukan pelanggaran yang sErma; atau
b. dampak yang ditimbulkan dari pelanggaran menyebabkan meningkatnya jumlah kedisabilitasan dan/atau kematian.
Pasal 1 1 18 #Laporkan Penjelasan
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib memberikan Pelayanan Kesehatan terhadap orang sakit atau diduga sakit akibat penyakit atau masalah Kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB atau akibat penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah.
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis; dan/atau
c. denda administratif.
(3) Sanksi administratif berupa teguran lisan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. telah mendapatkan sanksi administratif berupa teguran lisan dan masih melakukan pelanggaran yang sama; atau
b. dampak yang ditimbulkan dari pelanggaran menyebabkan meningkatnya jumlah kesakitan.
hlm. 456 OCR(5) Sanksi administratif berupa denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat
a. telah mendapatkan sanksi administratif berupa teguran tertulis dan masih melakukan pelanggaran yang sama; atau
b. dampak yang ditimbulkan dari pelanggaran menyebabkan meningkatnya jumlah kedisabilitasan dan/atau kematian.
(6) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikenakan sesuai dengan besaran yang telah ditetapkan sebagai penerimaan negara bukan pajak atau pendapatan daerah sesuai dengan ketentuan
Pasal 1 1 19 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap nakhoda, kapten penerbang, dan pengemudi kendaraan darat yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1055 ayat (1) dan nakhoda yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1056 dikenai sanksi administratif oleh Pemerintah Pusat sesuai dengan kewenangannya berupa:
a. teguran tertulis; dan/atau
b. denda administratif.
(3) Sanksi administratif berupa teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diberikan dalam bentuk keputusan.
(4) Pengenaan sanksi administratif berupa denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diberikan dengan ketentuan telah mendapatkan sanksi administratif berupa teguran tertulis dan masih melakukan pelanggaran yang sama.
hlm. 457 OCR(5) Pengenaan sanksi administratif berupa denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan ayat
(6) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat pada ayat (1) huruf b dan
(7) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan berdasarkan hasil verifikasi, klarifikasi, dan kajian terhadap pelanggaran yang ditemukan dan/atau dilaporkan.
Pasal 1120 #Laporkan Penjelasan
Setiap Orang, aparatur pemerintahan desa/kelurahan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, nakhoda, kapten penerbang, dan/atau pengemudi kendaraan darat yang mendapat sanksi administratif berhak mengajukan keberatan kepada pejabat yang memberikan sanksi administratif atau pengadilan tata usaha negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1121 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis pengenaan sanksi administratif dan pengajuan keberatan atas sanksi administratif diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB IXPENDANAAN KESEHATAN
Pasal 1122 #Laporkan Penjelasan
Pendanaan Kesehatan bertujuan untuk mendanai pembangunan Kesehatan secara berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk meningkatkan derajat Kesehatan masyarakat setinggi-tingginya.
Pasal 1123 #Laporkan Penjelasan
Pendanaan Kesehatan diselenggarakan berdasarkan prinsip:
a. kecukupan;
b. kemanfaatan;
c. keadilan;
d. efektif dan efisien;
e. berkesinambungan; dan
f. transparan dan akuntabel.
hlm. 458 OCRPasal 1124 #Laporkan Penjelasan
(1) Sumber pendanaan Kesehatan berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Sumber pendanaan Kesehatan yang berasal dari Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah.
Pasal 1125 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab menyediakan dana yang dimanfaatkan untuk seluruh kegiatan:
a. Upaya Kesehatan;
b. penanggulangan bencana, KLB, dan/atau Wabah;
c. penguatan Sumber Daya Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat;
d.
e. penelitian, pengembangan, dan inovasi bidang Kesehatan; dan
f. program Kesehatan strategis lainnya sesuai dengan prioritas pembangunan nasional di sektor Kesehatan.
Pasal 1126 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemanfaatan pendanaan untuk Upaya Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. kegiatan Upaya Kesehatan masyarakat; dan
b. kegiatan Upaya Kesehatan perseorangan.
(3) Pemanfaatan pendanaan untuk Upaya Kesehatan Perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 1127 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemanfaatan pendanaan untuk penanggulangan bencana, KLB, dan/atau Wabah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. penanganan kejadian ikutan pascapemberian Obat pencegahan massal dan imunisasi; dan
b. penyediaan kebutuhan hidup dasar bagi orang dan pakan hewan ternak selama dalam pelaksanaan karantina.
(3) Pendanaan penyediaan kebutuhan hidup dasar bagi orang dan pakan hewan ternak sebagaimana dimaksud pada ayat
Pasal 1128 #Laporkan Penjelasan
Pemanfaatan pendanaan untuk penguatan Sumber Daya Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1125 huruf c mencakup:
a. perencanaan, penyediaan, pendayagunaan atau pemanfaatan, serta pembinaan dan pengawasan Sumber Daya Kesehatan; dan
b. advokasi, peningkatan, serta pembinaan dan pengawasan pelaksanaan peran serta masyarakat termasuk swasta dalam kegiatan dan program Kesehatan.
Pasal 1129 #Laporkan Penjelasan
Pemanfaatan pendanaan untuk penguatan pengelolaan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. Upaya Kesehatan;
b. penelitian dan pengembangan Kesehatan;
c. pendanaan Kesehatan;
d. Sumber Daya Manusia Kesehatan;
e. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, serta pengamanan makanan dan minuman;
f. manajemen, informasi, dan regulasi Kesehatan; dan
g. pemberdayaan masyarakat.
hlm. 460 OCRPasal 1130 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemanfaatan pendanaan untuk penelitian, pengembangan, dan inovasi bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
(3) Industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan harus mengalokasikan anggaran pendanaan penelitian dan pengembangan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan sesuai kebutuhan dan kemampuan industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.
Pasal 1131 #Laporkan Penjelasan
Pemanfaatan pendanaan untuk program Kesehatan strategis lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Pasal 1132 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas pendanaan pemeriksaan dan Pelayanan Kesehatan terhadap korban tindak pidana dan/atau pemeriksaan mayat untuk kepentingan hukum.
(3) Pendanaan pemeriksaan mayat untuk kepentingan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup tindakan pemeriksaan dalam rangka visum untuk kepentingan hukum.
hlm. 461 OCRPasal 1 133 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah provinsi, dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota memprioritaskan anggaran Kesehatan untuk program dan kegiatan dalam
(2) Anggaran Kesehatan untuk program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan anggaran selain untuk gaji dalam lingkup peningkatan Pelayanan Kesehatan bagi masyarakat dengan tetap memperhatikan kesejahteraan bagi Sumber Daya Manusia Kesehatan.
(3) Pemerintah Pusat mengalokasikan anggaran Kesehatan dari anggaran pendapatan dan belanja negara sesuai dengan kebutuhan program nasional yang dituangkan dalam rencana induk bidang Kesehatan dengan memperhatikan penganggaran berbasis kinerja.
(4) Pemerintah Daerah mengalokasikan anggaran Kesehatan dari anggaran pendapatan dan belanja daerah sesuai dengan kebutuhan Kesehatan daerah yang mengacu pada program Kesehatan nasional yang dituangkan dalam rencana induk bidang Kesehatan dengan memperhatikan penganggaran berbasis kinerja.
(5) Pengalokasian anggaran Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat
(6) Rencana induk bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) merupakan dokumen perencanaan dan penganggaran bidang Kesehatan secara nasional yang disusun berdasarkan prioritas pembangunan Kesehatan sesuai dengan rencana pembangunan jangka panjang nasional dan rencana pembangunan jangka menengah nasional.
(7) Rencana induk bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dapat dilakukan evaluasi setiap tahun.
(8) Rencana induk bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) menjadi acuan bagi kementerian/lembaga dan Pemerintah Daerah serta masyarakat untuk
Pasal 1134 #Laporkan Penjelasan
(1) Alokasi anggaran Kesehatan oleh Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1133 pada ayat (1) harus memperhatikan kecukupan dana untuk pemenuhan standar pelayanan minimal dan program Kesehatan lainnya yang menjadi prioritas nasional.
Pasal 1135 #Laporkan Penjelasan
(1) Rencana induk bidang Kesehatan ditetapkan oleh Presiden.
(2)
(3) Sebelum ditetapkan oleh Presiden, rencana induk bidang Kesehatan harus dikonsultasikan dengan alat kelengkapan Dewan Perwakilan
a. penguatan tata kelola perencanaan dan penganggaran;
b. penganggaran berbasis kinerja;
c. penerapan penganggaran jangka pendek dan menengah;
d. sinkronisasi perencanaan dan penganggaran antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah; dan
e. mobilisasi sumber pendanaan lain.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai rencana induk bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden.
hlm. 463 OCRPasal 1136 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam melaksanakan penganggaran berbasis kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1133, Menteri menetapkan:
a. indikator kinerja
b. capaian kinerja pendanaan Kesehatan.
Pasal 1137 #Laporkan Penjelasan
(1) Menteri melakukan pemantauan dan evaluasi pendanaan Kesehatan secara nasional dan regional untuk memastikan tercapainya tujuan pendanaan Kesehatan.
(3) Untuk mendukung pemantauan dan evaluasi pendanaan Kesehatan, Menteri mengembangkan Sistem Informasi Kesehatan mengenai pendanaan Kesehatan yang terintegrasi dengan Sistem
(5) Sistem Informasi Kesehatan mengenai pendanaan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan seperangkat tatanan yang terintegrasi meliputi data, informasi, indikator, dan capaian kinerja pendanaan Kesehatan yang dikelola secara terpadu.
(6) Dalam melaksanakan pemantauan dan evaluasi pendanaan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri dapat melibatkan kementerian/lembaga dan/atau pihak lain.
a. pelaksanaan penganggaran berbasis kinerja; dan
b. peningkatan akses, pemerataan, dan kualitas Pelayanan Kesehatan.
hlm. 464 OCR(8) Pemantauan dan evaluasi pendanaan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling sedikit 1 (satu) dalam 1 (satu) tahun.
(9) Hasil pemantauan dan evaluasi pendanaan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipublikasikan melalui Sistem Informasi Kesehatan mengenai pendanaan Kesehatan dalam bentuk:
a. akun belanja Kesehatan nasional;
b. akun belanja Kesehatan provinsi; dan
c. akun belanja Kesehatan kabupaten/kota.
(10) Hasil pemantauan dan evaluasi pendanaan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk perencanaan serta
Pasal 1138 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam rangka upaya peningkatan kinerja pendanaan Kesehatan, Pemerintah Pusat dapat memberikan insentif atau disinsentif kepada Pemerintah Daerah sesuai dengan capaian kinerja program dan Pelayanan Kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
(2) Pemberian insentif atau disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada hasil penilaian dan/atau hasil pemantauan dan evaluasi pendanaan Kesehatan melalui akun belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal
(3) Pemberian insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan dalam bentuk fiskal dan nonfiskal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1139 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pemantauan dan evaluasi pendanaan Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1140 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan, instansi pusat dan instansi daerah, badan yang menyelenggarakan program jaminan sosial di bidang kesehatan, badan yang menyelenggarakan program jaminan sosial di bidang ketenagakerjaan, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, lembaga swasta, organisasi kemasyarakatan, dan mitra pembangunan yang menjalankan program Kesehatan wajib melaporkan realisasi belanja Kesehatan dan hasil capaian setiap tahun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan melalui Sistem
(3) Penyampaian laporan realisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan cara interoperabilitas sistem informasi.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyampaian laporan realisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1141 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pendanaan Kesehatan, kementerian/lembaga terkait dapat melakukan kajian pendanaan Kesehatan.
BAB XPARTI SIPASI MASYARAKAT
Pasal 1142 #Laporkan Penjelasan
(1) Masyarakat berpartisipasi, baik secara perseorangan maupun terorganisasi dalam segala bentuk dan tahapan pembangunan Kesehatan dalam rangka membantu mempercepat pencapaian derajat Kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
a.
b. fasilitasi Sumber Daya Kesehatan; dan
c. pengelolaan Kesehatan.
(3) Partisipasi masyarakat diutamakan pada terselenggaranya transformasi Kesehatan yang meliputi transformasi:
a. Pelayanan Kesehatan primer;
b. Pelayanan Kesehatan lanjutan;
c. ketahanan Kesehatan;
d. pendanaan Kesehatan;
e. Sumber Daya Manusia Kesehatan; dan
f. Teknologi Kesehatan.
Pasal 1 143
hlm. 466 OCRPasal 1143 #Laporkan Penjelasan
(1) Partisipasi masyarakat diselenggarakan dalam mekanisme keikutsertaan pada setiap tahapan pembangunan Kesehatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pembinaan, dan pengawasan.
(2) Keikutsertaan masyarakat dalam perencanaan pembangunan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan melalui komunikasi atau konsultasi kebijakan publik, penyampaian aspirasi, advokasi, rapat dengar pendapat, musyawarah perencanaan pembangunan di setiap level administrasi pemerintahan, serta mekanisme lainnya.
(3) Keikutsertaan masyarakat dalam perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) Keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan melalui:
a. penyediaan pendanaan;
b. pengadaan dan peningkatan Sumber Daya Manusia Kesehatan;
c. penyediaan Perbekalan Kesehatan, pengelolaan dan penyelenggaraan Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
d. pelaksanaan program Kesehatan;
e.
f. gerakan masyarakat;
g. penyediaan informasi, implementasi tanggung jawab sosial, dan lingkungan oleh swasta, dunia usaha, serta organisasi kemasyarakatan; dan/atau
h. mekanisme
(5) Keikutsertaan masyarakat dalam pembinaan pembangunan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan melalui kolaborasi dalam kampanye dan edukasi Kesehatant, peningkatan kapasitas, pendampingan, pemberian penghargaan, serta mekanisme lainnya.
(6) Keikutsertaan masyarakat dalam pengawasan pembangunan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan melalui pelaporan, pemantauan dan evaluasi, koordinasi, konsultasi, supervisi terhadap penyelenggaraan Kesehatan, serta mekanisme lainnya.
hlm. 467 OCRPasal 1144 #Laporkan Penjelasan
(1) Partisipasi masyarakat dapat dilakukan oleh akademisi, swasta atau badan usaha, organisasi masyarakat, individu atau komunitas, dan media.
a. penelitian, pengembangan dan pengkajian Kesehatan;
b. pengembangan kampus sehat;
c. peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia Kesehatan;
d. kegiatan pengabdian masyarakat;
e. publikasi ilmiah bidang Kesehatan;
f. kajian evaluasi pemberdayaan masyarakat;
g. inovasi model gerakan masyarakat; dan/atau
h. penanggulangan KLB, Wabah, dan bencana.
(3) Partisipasi masyarakat oleh swasta atau badan usaha dapat berupa:
a.
b. penyediaan Sumber Daya Kesehatan;
c. pelaksanaan tanggung jawab sosial korporasi;
d. filantropi;
e. penggalangan dana;
f. gerakan masyarakat;
g. inovasi model gerakan masyarakat;
h. penanggulangan KLB, Wabah, dan bencana; dan/atau
i. penguatan kapasitas kader, poS pelayanan terpadu, dan/atau Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan.
(4) Partisipasi masyarakat oleh organisasi kemasyarakatan dapat berupa:
a. pelibatan peran tokoh masyarakat
b. peningkatan kapasitas kelompok masyarakat dalam menggerakkan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat;
c. pengembangan tatanan atau lingkungan sehat;
d. pengembangan pesantren sehat;
e. penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di tempat ibadah'
f. p"rr"r"p"n perilaku hidup bersih dan sehat di tempat-tempat umum;
g. menggalang gerakan masyarakat;
h. inovasi model gerakan masyarakat; dan/atau
i. penanggulangan KLB, Wabah, dan bencana.
hlm. 468 OCR(5) Partisipasi masyarakat oleh individu atau komunitas dapat berupa:
a. kesediaan menjadi pelopor atau agen perubahan bidang Kesehatan di masyarakat;
b. gerakan masyarakat;
c. pembudayaan gaya hidup sehat;
d. pendampingan Pasien dan keluarga yang mengalami permasalahan Kesehatan;
e. inovasi model gerakan masyarakat; dan/atau
f. penanggulangan KLB, Wabah, dan bencana.
(6) Partisipasi masyarakat oleh media dapat berupa:
a.
b. penyebarluasan
c. temu wicara dan/atau konferensi pers mengenai isu Kesehatan; dan/atau
d. penanggulangan KLB, Wabah, dan bencana.
Pasal 1145 #Laporkan Penjelasan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab mengoordinasikan dan memfasilitasi terlaksananya partisipasi masyarakat dalam pembangunan Kesehatan.
Pasal 1146 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Daerah provinsi bertanggung jawab:
a. membuat kebijakan partisipasi masyarakat berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria partisipasi masyarakat di bidang Kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat; dan
b. menyosialisasikan dan melaksanakan kebijakan dan norma, standar, prosedur, dan kriteria partisipasi masyarakat di bidang Kesehatan.
(2) Pemerintah Daerah kabupaten/kota bertanggung jawab:
a. membuat kebijakan partisipasi masyarakat berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah provinsi dan norma, standar, prosedur, dan kriteria partisipasi masyarakat di bidang Kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat; dan
b. menyosialisasikan dan melaksanakan kebijakan dan norma, standar, prosedur, dan kriteria partisipasi masyarakat di bidang Kesehatan.
(3) Pemerintah Desa bertanggung jawab menyosialisasikan dan melaksanakan kebijakan partisipasi masyarakat sesuai kebijakan dan norma, standar, prosedur, dan kriteria partisipasi masyarakat di bidang Kesehatan.
hlm. 469 OCRBAB XIPEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 1147 #Laporkan Penjelasan
(1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Ke sehatan.
a. Upaya Kesehatan;
b. Sumber Daya Kesehatan; dan
c. pengelolaan Kesehatan.
(3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
(4) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Kesehatan dapat dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu dibutuhkan.
Pasal 1148 #Laporkan Penjelasan
(1) Pembinaan terhadap penyelenggaraan Kesehatan bertujuan untuk:
a. meningkatkan akses dan memenuhi kebutuhan Setiap Orang terhadap Sumber Daya Kesehatan dan Upaya Kesehatan;
b. menggerakkan dan melaksanakan penyelenggaraan Upaya Kesehatan;
c. meningkatkan mutu Pelayanan Kesehatan serta kemampuan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan; dan
d. melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya bagi Kesehatan.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui:
a. komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat;
b. sosialisasi dan advokasi;
c. penguatan kapasitas dan bimbingan teknis;
d. konsultasi; dan/atau
e. pendidikan dan pelatihan.
hlm. 470 OCR(3) Selain dilaksanakan melalui kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pembinaan juga dapat dilakukan melalui kegiatan:
a. fasilitasi;
b. pendampingan;dan/atau
c. pemberian penghargaan.
(4) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melibatkan Konsil, Kolegium, Majelis Disiplin Profesi, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan terkait, akademisi, danI atau pakar.
Pasal 1149 #Laporkan Penjelasan
(1) Pengawasan terhadap penyelenggaraan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. mengendalikan
b. memastikan penyelenggaraan Kesehatan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Kesehatan oleh setiap penyelenggara kegiatan dan masyarakat terkait penyelenggaraan Ke sehatan.
a. ketaatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk ketaatan pelaksanaan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat;
b. ketaatan terhadap standar profesi, standar pelayanan, standar prosedur operasional, serta etika dan disiplin profesi;
c. dampak Pelayanan Kesehatan oleh Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan;
d. evaluasi penilaian kepuasan masyarakat;
e. akuntabilitas dan kelayakan penyelenggaraan Upaya Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan; dan
f. objek pengawasan lain sesuai dengan kebutuhan.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat
a. pemantauan dan evaluasi;
b. pemeriksaan;
c. reviu atau audit; dan
d. bentuk pengawasan lainnya.
hlm. 471 OCR(4) Dalam rangka pengawasan penyelenggaraan Kesehatan, Menteri, gubernur, atau bupati/wali kota dapat dibantu tenaga pengawas bidang Kesehatan.
(5) Tenaga pengawas bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melibatkan Konsil, Kolegium, majelis disiplin profesi, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan terkait, akademisi, danI atau pakar.
(8) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengawasan dan tenaga pengawas bidang Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 1150 #Laporkan Penjelasan
(1) Selain tenaga pengawas bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal lL49 ayat (5), kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan dapat mengangkat tenaga pengawas tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tenaga pengawas tertentu diatur dengan peraturan kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
Pasal 1 151 #Laporkan Penjelasan
(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal
a. memeriksa setiap dokumen;
b. memeriksa setiap lokasi, fasilitas, atau tempat;
c. memeriksa perizinan;
d. mengambil data, informasi, dan/atau dokumen termasuk dan tidak terbatas pada gambar, foto, dan/atau video;
hlm. 472 OCRe. melakukan verifikasi atau klarifikasi dan kajian;
f. melakukan tindakan penga.manan setempat;
g. memberikan rekomendasi berdasarkan hasil pengawasan; dan
h. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
a. tindakan inventarisasi;
b. tindakan pengamanan terhadap sarana dan prasarana;
c. larangan melakukan kegiatan sementara waktu; dan/atau
d. tindakan pengamanan lainnya yang diperlukan.
(3) Tindakan pengamanan setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dituangkan dalam berita acara pengamanan setempat.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil pengawasan menunjukkan adanya tindak pidana di bidang Kesehatan, tenaga pengawas Kesehatan dan tenaga pengawas tertentu harus segera berkoordinasi dengan tenaga penyidik sesuai dengan ketentuan peraturan
Pasal 1152 #Laporkan Penjelasan
Selain kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1151 tenaga pengawas tertentu berwenang:
a. melakukan pengawasan terhadap peredaran Sediaan Farmasi dan pangan olahan melalui mekanisme dalam jaringan;
b. melakukan sampling di fasilitas produksi, distribusi, pengangkutan, pelayanan, dan/atau penyerahan untuk dilakukan pengujian;
c. melaksanakan pengawasan terhadap penandaan, promosi dan iklan Sediaan Farmasi dan pangan olahan;
d. melaksanakan pengawasan penerapan Farmakovigilans;
e. melaksanakan pengujian laboratorium di bidang Sediaan Farmasi dan pangan olahan; dan
f. melaksanakan pemantauan, komunikasi, informasi, dan edukasi di bidang Sediaan Farmasi dan pangan olahan.
hlm. 473 OCRPasal 1153 #Laporkan Penjelasan
Dalam rangka pengawasan, masyarakat dapat berperan serta melalui pemberian informasi dan/atau pelaporan dugaan pelanggaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB XIIKETENTUAN PERALIHAN
Pasal 1154 #Laporkan Penjelasan
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, pengaturan mengenai pelaksanaan tindakan aborsi yang diperbolehkan termasuk usia kehamilan untuk melakukan tindakan aborsi dilaksanakan berdasarkan Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun
Pasal 1155 #Laporkan Penjelasan
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, setiap unit transfusi darah yang telah ada harus menyesuaikan dengan ketentuan pelayanan darah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.
Pasal 1156 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak sebagaimana dimaksud dalam Pasal
Pasal 1 157 #Laporkan Penjelasan
(1) Setiap Orang yang memproduksi, mengimpor, dan/atau mengedarkan produk tembakau dan rokok elektronik harus menyesuaikan dengan ketentuan pasal
Pasal 1158 #Laporkan Penjelasan
Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang telah menyelenggarakan transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh sebelum Peraturan Pemerintah ini berlaku
Pasal 1159 #Laporkan Penjelasan
Jenis Pelayanan Kesehatan tradisional empiris, komplementer, dan integrasi yang telah dilaksanakan sebelum Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku harus disesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Peraturan Pemerintah ini diundangkan.
Pasal 1160 #Laporkan Penjelasan
Penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan yang telah beroperasi sebelum Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku harus disesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak Peraturan Pemerintah ini diundangkan.
Pasal 1161 #Laporkan Penjelasan
(1) Untuk pertama kali paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Peraturan Pemerintah ini diundangkan:
a. Menteri menetapkan 6 (enam) Rumah Sakit menjadi RSPPU; dan
b. menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan menugaskan 6 (enam) RSPPU sebagaimana dimaksud dalam huruf a untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi Tenaga Medis Spesialis dan/atau Subspesialis.
(3) 6 (enam) RSPPU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b harus memenuhi persyaratan pembukaan program studi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 579 ayat (3) dan persyaratan tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 579 ayat (6) dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun.
hlm. 475 OCR(4) Sebelum jangka waktu 2 (dua) tahun berakhir, menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan melaksanakan evaluasi terhadap pemenuhan persyaratan oleh RSPPU sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan menindaklanjuti hasil evaluasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1162 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang memiliki STR yang masih berlaku dapat mengajukan pembaharuan menjadi STR yang berlaku seumur hidup sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.
Pasal 1163 #Laporkan Penjelasan
(1) Tenaga Kesehatan lulusan pendidikan vokasi atau pendidikan profesi yang penyelenggara pendidikannya belum menyelenggarakan uji kompetensi baik sebelum atau setelah Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, tetap dapat mengajukan STR yang berlaku seumur hidup dengan melampirkan
Pasal 1164 #Laporkan Penjelasan
Tenaga Kesehatan lulusan pendidikan akademik dan telah memberikan Pelayanan Kesehatan serta memiliki STR sebelum Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, tetap dapat memberikan Pelayanan Kesehatan dan harus menyesuaikan dengan kualifikasi pendidikan profesi paling lama dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak Peraturan Pemerintah ini diundangkan.
hlm. 476 OCRPasal 1165 #Laporkan Penjelasan
Satuan kredit profesi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang diperoleh sebelum Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, tetap berlaku dan dapat dihitung untuk kebutuhan perpanjangan SIP.
Pasal 1166 #Laporkan Penjelasan
Dokter spesialis yang sedang melaksanakan tugas berdasarkan ketentuan Peraturan Presiden Nomor 31 Tahun
Pasal 1167 #Laporkan Penjelasan
Konsil Kedokteran Indonesia, Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia, Sekretariat Konsil
Pasal 1168 #Laporkan Penjelasan
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
a.
b. jenis dan klasifikasi Rumah Sakit yang ditetapkan untuk
c. Rumah Sakit yang telah ditetapkan sebagai Rumah Sakit pendidikan afiliasi tetap dapat menyelenggarakan fungsinya sampai dengan ditetapkannya peraturan pelaksanaan mengenai penyelenggaraan Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.
hlm. 477 OCRBAB XIIIKETENTUAN PENUTUP
Pasal 1169 #Laporkan Penjelasan
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960 tentang Lafal Sumpah Dokter (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 69);
b. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun
c. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun
d. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1963 tentang Lafal Sumpah/Janji Dokter Gigi (L,embaran Negara Republik Indonesia Tahun 1963 Nomor 54);
e. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun
f. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1988 tentang Masa Bakti dan Praktek Dokter dan Dokter Gigi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3366);
g. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun
1. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1998 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3781);
Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun
k. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun
1. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun
m. Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun
n. Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun
Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun
Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun
Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun
Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun
s. Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 2015 tentang Rumah Sakit Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 295,
t. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2016 tentang Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 229, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
u. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun
v. Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun
w. Peraturan Pemerintah Nomor 88 Tahun
x. Peraturan Pemerintah Nomor 2l Tahun
y. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun
z. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun
aa. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Keanggotaan Konsil Kedokteran lndonesia;
hlm. 480 OCRbb. Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2015 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 159);
cc. Peraturan Presiden Nomor
dd. Peraturan Presiden Nomor 31 Tahun
ee. Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun
Pasal 1170 #Laporkan Penjelasan
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960 tentang Lafal Sumpah Dokter (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 69);
b. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1961 tentang Penyakit Karantina (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1961 Nomor 29);
c. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1962 tentang Lafal Sumpah Janji Apoteker (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1962 Nomor 69);
d. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1963 tentang Lafal Sumpah/Janji Dokter Gigi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1963 Nomor 54);
e. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1966 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2803);
f. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1988 tentang Masa Bakti Dan Praktek Dokter Dan Dokter Gigi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3366);
hlm. 481 OCRg. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
h. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3609);
i. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3781);
j. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun
k. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun
1. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun
m. Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun
n. Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun
o. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun
p. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun
Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun
Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun
Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 2015 tentang Rumah Sakit Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 295, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 57771;
t. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2016 tentang Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 229, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
u. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun
Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun
Peraturan Pemerintah Nomor 88 Tahun
x. Peraturan Pemerintah Nomor 2l Tahun
y. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun
z. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun
aa. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun
bb. Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2015 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 159);
cc. Peraturan Presiden Nomor 90 Tahun
dd. Peraturan Presiden Nomor 31 Tahun
ee. Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 90 Tahun 2017 tentang Konsil Tenaga Kesehatan lndonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
Pasal 1171 #Laporkan Penjelasan
Ketentuan Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun
Pasal 1172 #Laporkan Penjelasan
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
hlm. 484 OCRAgar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 26 Juli 2024
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
JOKO WIDODO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 26 Juli 2024
MENTERI SEKRETARIS NEGARA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PRATIKNO
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2024 NOMOR 135
Salinan sesuai dengan aslinya
KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA
INDONESIA undangan dan Hukum, Djaman
Penjelasan
hlm. 485 OCRPENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 28 TAHUN 2024
TENTANG
PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2023
TENTANG KESEHATAN
UMUM Dalam rangka meningkatkan kapasitas dan ketahanan Kesehatan dalam kerangka transformasi Kesehatan untuk tercapainya peningkatan derajat Kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, diselenggarakan Upaya Kesehatan, Sumber Daya Kesehatan, dan pengelolaan Kesehatan yang didukung dengan penguatan regulasi dengan telah diundangkannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Pengaturan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan meliputi hak dan kewajiban, tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, penyelenggaraan Kesehatan, Upaya Kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Sumber Daya Manusia Kesehatan, Perbekalan Kesehatan, ketahanan kefarmasian dan Alat Kesehatan, Teknologi Kesehatan, Sistem Informasi Kesehatan, KLB dan Wabah, pendanaan Kesehatan, koordinasi dan sinkronisasi penguatan sistem Kesehatan, partisipasi masyarakat, pembinaan dan pengawasan, penyidikan, ketentuan pidana, ketentuan peralihan, dan ketentuan penutup.
Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor
Peraturan Pemerintah ini memberikan pengaturan, penegasan, dan penjelasan lebih lanjut atas pengaturan mengenai:
hlm. 486 OCRa. penyelenggaraan Upaya Kesehatan, meliputi Kesehatan ibu, bayi dan anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia, Kesehatan penyandang disabilitas, Kesehatan reproduksi, keluarga
b. pengelolaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, meliputi perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, peningkatan mutu, dan pengembangan karier Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan untuk menjamin keberlangsungan pembangunan Kesehatan;
c. Fasilitas Pelayanan Kesehatan, meliputi jenis, penentuan jumlah dan jenis, perizinan, penyelenggaraan, rekam medis, rahasia Kesehatan Pasien, Puskesmas, Rumah Sakit, pembinaan dan pengawasan, Rumah Sakit pendidikan, kompetensi manajemen Kesehatan pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan, peningkatan mutu Pelayanan Kesehatan, dan pengembangan Pelayanan Kesehatan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
d. kefarmasian, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan, meliputi ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan Perbekalan Kesehatan, penggolongan Obat, Obat dengan resep, dan Obat tanpa resep, penggolongan Obat Bahan Alam, percepatan pengembangan dan ketahanan industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan, serta standar, sistem, dan tata kelola Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lainnya pada kondisi darurat, bencana, KLB, atau Wabah;
e. Sistem Informasi Kesehatan, meliputi penyelenggara, pengelolaan data, informasi, dan indikator Kesehatan, pemrosesan data dan Informasi Kesehatan, sumber daya, keandalan, tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, dan pengendalian;
f. penyelenggaraan Teknologi Kesehatan, meliputi penelitian, pengembangan, dan pengkajian, pelaksanaan inovasi, penilaian, dan pemanfaatan;
g. penanggulangan hlm. 487 OCR penanggulangan KLB dan Wabah, meliputi kewaspadaan, pena.nggulangan, dan kegiatan pasca-KlB, rencana kontingensi penanggulangan Wabah, Kewaspadaan Wabah di Pintu Masuk, penanggulangan Wabah, karantina, pembatasan kegiatan sosial masyarakat, Petugas Karantina Kesehatan, dan pelaksanaan kegiatan pasca-Wabah, standar pengelolaan bahan dan agen biologi penyebab penyakit dan/atau masalah Kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB dan/atau Wabah, pencatatan dan pelaporan, dan sanksi administratif;
h. pendanaan Kesehatan, meliputi tujuan, prinsip, sumber, tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam penyediaan dana yang dimanfaatkan untuk Upaya Kesehatan, penanggulangan bencana, KLB, dan/atau Wabah, penguatan Sumber Daya Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, penguatan pengelolaan Kesehatan, penelitian, pengembangan, dan inovasi bidang Kesehatan, dan program Kesehatan strategis lainnya sesuai dengan prioritas pembangunan nasional di sektor Kesehatan;
1. partisipasi masyarakat, meliputi cakupan keikutsertaan masyarakat secara kreatif dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan, fasilitasi Sumber Daya Kesehatan, dan pengelolaan Kesehatan, mekanisme keikutsertaan pada setiap tahapan pembangunan Kesehatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pembinaan, dan pengawasan, serta tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan partisipasi masyarakat; dan pembinaan dan pengawasan, meliputi tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Kesehatan, tujuan dan pelaksanaan pembinaan, tujuan dan pelaksanaan pengawasan, serta tenaga pengawas bidang Kesehatan.
J
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 2 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 3 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 4 Ke pasal
Cukupjelas.
hlm. 488 OCRPasal 5 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 6 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Upaya Kesehatan yang dilaksanakan di satuan pendidikan antara lain Upaya Kesehatan anak, Upaya Kesehatan remaja, dan Upaya Kesehatan dewasa sesuai dengan jenjang pendidikan.
Yang dimaksud dengan "sasaran' meliputi ibu, bayi dan anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 7 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 8 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 9 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 10 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 1 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi dalam ketentuan ini dilakukan dengan memperhatikan budaya setempat.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
hlm. 489 OCRHuruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Ayat
Yang dimaksud dengan "pelayanan antenatal" adalah Pelayanan Kesehatan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Huruf b
Pelayanan konseling dalam ketentuan ini antara lain konseling terkait Kesehatan jiwa ibu.
Huruf c
Pelayanan skrining faktor risiko dalam ketentuan ini antara lain pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb), tekanan darah, status
Yang dimaksud dengan "komplikasi kehamilan" adalah kesakitan (morbiditas) pada ibu hamil yang dapat
Huruf d
Pendampingan ibu hamil dengan risiko tinggi dalam ketentuan ini dilakukan dengan melihat tanda bahaya pada ibu hamil.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Pelayanan konseling dalam ketentuan ini antara lain pelayanan konseling terkait Kesehatan jiwa ibu dan pelayanan konseling pemberian air susu ibu.
hlm. 490 OCRHuruf c
Yang dimaksud dengan "pelayanan skrining komplikasi" adalah pelayanan pascapersalinan yang dilakukan melalui pelayanan nifas termasuk terkait Kesehatan jiwa ibu.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 12 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 13 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 14 Ke pasal
Ayat (1)
Peran keluarga dalam ketentuan ini merupakan keluarga sebagai suatu kesatuan sistem yang mendukung penyelenggaraan Upaya Kesehatan ibu, terutama suami.
Huruf a
Mendukung ibu dalam merencanakan kehamilan dalam ketentuan ini antara lain dengan memastikan Kesehatan ibu sebelum hamil.
Huruf b
Memperhatikan Kesehatan ibu dalam ketentuan ini antara lain dengan memastikan ibu sehat secara fisik dan jiwa.
Huruf c
Memastikan ibu mendapatkan Pelayanan Kesehatan dalam ketentuan ini antara lain dengan memastikan ibu diberikan pelayanan yang sesuai dengan standar.
Huruf d
Mendukung ibu selama masa sebelum hamil, masa kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan dalam ketentuan ini antara lain dengan memberikan pemenuhan kebutuhan ibu dan menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 15 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 491 OCRPasal 16 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 17 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 18 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 19 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 20 Ke pasal
Ayat (1)
Pelindungan bayi dan anak dilakukan dalam ketentuan ini antara lain:
a. bayi dan anak dalam situasi darurat;
b. bayi dan anak dari kelompok minoritas dan terisolasi;
c. bayi dan anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual;
d.
e. bayi dan anak yang menjadi korban pornografi;
f.
g. bayi dan anak korban penculikan, penjualan, dan/atau perdagangan;
h.
i. bayi dan anak korban kejahatan seksual;
j. bayi dan anak korban jaringan terorisme;
k. bayi dan anak penyandang disabilitas;
1. bayi dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran;
m.
n. anak dengan perilaku sosial menyimpang; dan
o. anak yang berhadapan dengan hukum.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 2 1 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 492 OCRPasal 22 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 23 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 24 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "air susu ibu eksklusif" adalah air susu ibu yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 25 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 26 Ke pasal
Ayat (1)
Dukungan untuk memberikan air susu ibu eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya dalam ketentuan ini antara lain pendampingan suami untuk membantu ibu dalam memberikan air susu ibu eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 27 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 28 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 29 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 493 OCRPasal 30 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 31 Ke pasal
Ayat (1)
Produk pengganti air susu ibu lainnya dalam ketentuan ini termasuk susu formula lanjutan, susu formula pertumbuhan, dan produk susu lainnya yang menggantikan air susu ibu seperti susu kedelai berfortifikasi, baik dalam bentuk cair maupun bubuk yang dipasarkan untuk
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Distributor dalam ketentuan ini termasuk tenaga pemasaran.
Pasal 32 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 33 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 34 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 35 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 36 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 37 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 38 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 39 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 40 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 41 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 494 OCRPasal 42 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 43 Ke pasal
Ayat (1)
Tempat kerja dalam ketentuan ini antara lain perusahaan dan perkantoran milik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan swasta.
Tempat fasilitas umum dalam ketentuan ini antara lain Fasilitas Pelayanan Kesehatan, satuan pendidikan, hotel atau penginapan, tempat rekreasi, terminal angkutan darat, stasiun kereta api, bandar udara, pelabuhan, pusat perbelanjaan, gedung olahraga, lokasi penampungan pengungsi, dan tempat fasilitas umum lainnya.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 44 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 45 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 46 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 47 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 48 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 49 Ke pasal
Yang dimaksud dengan
Pasal 50 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Skrining Kesehatan untuk deteksi dini penyakit termasuk untuk penyakit menular, penyakit tidak menular, dan Kesehatan jiwa.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Pencegahan lainnya antara lain pencegahan kecelakaan, kekerasan, masalah
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Yang dimaksud dengan "orang tua atau pengasuh" adalah orang tua atau pengasuh bagi remaja.
Pasal 51 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 52 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 53 Ke pasal
Cukup
Pasal 54 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 55 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 56 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 496 OCRPasal 57 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 58 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "kehidupan sosial yang sehat" adalah kehidupan sosial yang bebas dari perundungan dan intoleransi.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Skrining Kesehatan untuk deteksi dini penyakit dalam ketentuan ini termasuk untuk penyakit menular, penyakit tidak menular, dan Kesehatan jiwa.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Pencegahan lainnya dalam ketentuan ini antara lain pencegahan kecelakaan, kekerasan, masalah gizi, masalah Kesehatan jiwa, pencegahan penyakit, dan masalah Kesehatan lainnya.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
hlm. 497 OCRAyat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 59 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 60 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 61 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 62 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 63 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 64 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 65 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Kebutuhan lainnya dalam ketentuan ini antara lain kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
Ayat
Aktivitas fisik secara rutin dalam ketentuan ini antara lain dengan pelaksanaan senam lanjut usia.
Ayat (5)
Kegiatan secara berkala dalam ketentuan ini antara lain stimulasi kemampuan kognitif dan mental, pengembangan minat dan bakat, kesenian, serta permainan interaktif menggunakan alat bantu dan
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
hlm. 498 OCRPasal 66 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Pencegahan penyakit dalam ketentuan ini antara lain imunisasi.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 67 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 68 Ke pasal
Upaya Kesehatan lanjut usia yang bersifat rehabilitatif dalam ketentuan ini antara lain pelayanan fisioterapi, psikoterapi, dan pemberian Obat.
Pasal 69 Ke pasal
Yang dimaksud dengan "penyakit terminal" adalah penyakit yang tidak lagi respon terhadap terapi kuratif dengan harapan hidup terbatas dan perburukan yang tidak dapat dikembalikan seperti adanya metastasis, penurunan fungsi organ, dan kualitas hidup.
Pasal 70 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 71 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 72 Ke pasal
Ayat (1)
huruf a
Cukup jelas. huruf b
Yang dimaksud dengan "pelayanan secara terpadu" adalah pelayanan yang diberikan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dari berbagai disiplin ilmu untuk mempermudah pemberian Pelayanan Kesehatan bagi lanjut usia.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
hlm. 499 OCRPasal 73 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 74 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "kunjungan rumah" adalah kegiatan yang
Yang dimaksud dengan "pelayanan perawatan di rumah" adalah Pelayanan Kesehatan yang dilakukan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan terlatih di rumah yang mencakup layanan keperawatan seperti fisioterapi atau kebutuhan Kesehatan lainnya.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 75 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 76 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 77 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 78 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 79 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 80 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 81 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 82 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 500 OCRPasal 83 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 84 Ke pasal
Huruf a
Akses dalam ketentuan ini termasuk tersedianya Pelayanan Kesehatan yang dapat digunakan oleh penyandang disabilitas secara mandiri tanpa bantuan orang lain dan Pelayanan Kesehatan yang diberikan secara proaktif kepada penyandang disabilitas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum bahwa setiap penyandang disabilitas tidak boleh digunakan untuk percobaan medis selain menjadi subjek penelitian dan pengembangan Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Pasal 85 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 86 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Humf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
faktor risiko dalam ketentuan ini termasuk faktor bahaya radiasi dan substansi yang membahayakan sel telur dan/atau janin dalam kandungan.
hlm. 501 OCRHuruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 87 Ke pasal
Ayat (1)
Penyediaan akses atas Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan yang inklusif dalam ketentuan ini antara lain penyediaan sumber daya manusia, sarana dan
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 88 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 89 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "Pelayanan Kesehatan diberikan secara terpadu" adalah Pelayanan Kesehatan yang melibatkan multi profesi secara terpadu sesuai dengan kebutuhan Kesehatan penyandang disabilitas.
Huruf d
Cukup jelas.
hlm. 502 OCRHuruf e
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 90 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 9 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 92 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 93 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 94 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 95 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 96 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 97 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 503 OCRPasal 98 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 99 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 100 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 101 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 102 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 103 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Perilaku seksual berisiko dan akibatnya dalam ketentuan ini termasuk risiko pada perkawinan anak atau dampak pada perkawinan dini.
Huruf d
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 104 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
hlm. 504 OCRAyat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Perilaku seksual yang bertanggung jawab dalam ketentuan ini termasuk bertanggung jawab terhadap kehamilan yang ditimbulkan akibat hubungan seksual.
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
. Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 105 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Pengenalan faktor risiko yang mempengaruhi kehamilan, bayi yang dilahirkan, dan keselamatan ibu dalam ketentuan ini termasuk pada edukasi menunda kehamilan
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Yang dimaksud dengan "kesetaraan peran suami atau istri" adalah edukasi mengenai
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 106 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Yang dimaksud dengan "menopause" adalah berakhirnya siklus menstruasi secara alami pada perempuan.
Menopause disebut juga klimaterik atau perubahan hidup yang merupakan pertanda berakhirnya bagian kehidupan reproduksi pada diri seorang perempuan.
Yang dimaksud dengan "andropause" adalah penurunan fungsi hormon androgen pada laki-laki.
Pasal 107 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 108 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 109 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 110 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
hlm. 506 OCRHuruf d
Pelayanan kontrasepsi di fasilitas pelayanan kefarmasian berupa penyerahan Obat dan/atau alat kontrasepsi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Yang dimaksud dengan "unit pelayanan kontrasepsi" merupakan unit yang dibentuk untuk menjangkau daerah yang sulit diakses guna mendapatkan pelayanan kontrasepsi.
Pasal 1 1 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 12 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 113 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 114 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 15 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 16 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 17 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 118 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 19 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 120 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 121 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 507 OCRPasal 122 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Orang yang dianggap tidak cakap dalam mengambil keputusan dalam ketentuan ini antara lain anak dan penyandang disabilitas mental dan intelektual.
Yang dimaksud dengan "keluarga lainnya" adalah keluarga yang sedarah maupun keluarga yang tidak sedarah selain suami.
Pasal 123 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 124 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "masa pascapersalinan" adalah masa nifas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 125 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 126 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 127 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 128 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 129 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 130 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 131 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 508 OCRPasal 132 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 133 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 134 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud "kelompok rawan gizi" adalah sasaran yang rentan mengalami masalah gizi, antara lain remaja perempuan, ibu hamil, ibu
Ayat (3)
Pelayanan gizi di institusi atau fasilitas lainnya dalam ketentuan ini meliputi pelayanan gizi dengan sasaran anak sekolah, pekerja, jemaah haji, atlet, warga binaan lembaga pemasyarakatan, dan ora.ng yang memerlukan pelayanan kesejahteraan sosial atau penghuni panti sosial.
Yang dimaksud dengan "pelayanan
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 135 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "sistem peringatan dini kerawanan pangan dan
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5) .
hlm. 509 OCRAyat (5)
Informasi tentang pemanfaatan pangan terkait dengan konsumsi merupakan informasi mengenai
Pasal 136 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 137 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 138 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Kelompok masyarakat yang terlatih dalam ketentuan ini antara lain meliputi guru, tokoh masyarakat, atau komponen masyarakat lainnya yang mendapatkan peningkatan kapasitas terkait gizi.
Pasal 139 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 140 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 141 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 142 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 143 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 144 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 145 Ke pasal
Ayat (1)
Komunitas dalam ketentuan ini termasuk masyarakat umum.
Ayat
Huruf a
Cukup jelas.
hlm. 510 OCRHuruf b
Yang dimaksud dengan "potensi psikologis lainnya" antara lain bakat, kecakapan dalam pekerjaan, kompetensi kepribadian, minat di bidang pendidikan, dan minat di bidang pekerjaan.
Pasal 146 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 147 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 148 Ke pasal
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "Obat psikofarmaka" adalah Obat yang termasuk golongan narkotika, psikotropika, atau Obat keras yang bekerja secara selektif pada sistem syaraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan perilaku, digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik yang berpengaruh pada taraf kualitas hidup Pasien.
Obat psikofarmaka dalam ketentuan ini antara lain berupa antipsikosis, antidepresi, antiansietas, antipanik, antiinsomnia, dan antiobsesi kompulsi.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Mendapatkan aktivitas yang bermakna dalam ketentuan ini antara lain mendapatkan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, atau kegiatan yang bermanfaat.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Pasal 149 Ke pasal
Hak yang sama sebagai warga negara dalam ketentuan ini antara lain berupa hak bekerja, berkeluarga, memilih dan dipilih, hak memperolah pendidikan, dan hak lainnya yang sama sebagai warga negara.
hlm. 511 OCRPasal 150 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 151 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
lembaga/institusi dalam ketentuan ini antara lain lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, dan lembaga pemasyarakatan.
Huruf f
Media komunikasi dalam ketentuan ini antara lain, media cetak, media elektronik, dan media sosial, termasuk penyiaran yang memuat program pemberitaan, artikel, dan/atau materi.
Pasal 152 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 153 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Situasi darurat atau khusus dalam ketentuan ini antara lain berupa bencana, konflik sosial, maupun kondisi dimana seseorang mengalami penderitaan dan hendaya (distress), memerlukan penanganan segera, tidak dapat merawat diri, dapat melukai diri sendiri maupun orang lain.
hlm. 512 OCRAyat (6)
Tenaga Pendukung atau Penunjang Kesehatan dalam ketentuan ini antara lain, berupa kader atau tenaga lain yang terlatih di bidang Kesehatan jiwa.
Tenaga profesional lain dalam ketentuan ini antara lain berupa guru bimbingan konseling, psikolog, konselor, dan pekerja sosial yang memiliki kompetensi di bidang Kesehatan jiwa.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Pasal 154 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pengembangan keterampilan hidup sosial emosional dalam ketentuan ini dimulai pada usia anak dan remaja.
Ayat
Huruf a
Membatasi akses terhadap alat, bahan, dan fasilitas yang dapat digunakan untuk melakukan bunuh diri dalam ketentuan ini antara lain pada rumah, sekolah, gedung bertingkat, rel kereta api, dan jembatan.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 155 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 156 Ke pasal
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Lembaga/institusi dalam ketentuan ini antara lain lembaga pendidikan, lembaga sosial, lembaga keagamaan, lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan, lingkungan tempat kerja, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
hlm. 513 OCRHuruf c
Cukup jelas.
Pasal 157 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan "tata laksana farmakologis" adalah pemberian Obat psikofarmaka sesuai dengan diagnosis.
Dalam tata laksana farmakologis, penggunaan Sediaan Farmasi untuk upaya kuratif Kesehatan jiwa harus sesuai standar dan persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu dari Sediaan Farmasi.
Dalam tata laksana farmakologis juga memperhatikan potensi penyalahgunaan Obat dalam penatalaksanaan ODGJ.
Tata laksana nonfarmakologis dalam ketentuan ini meliputi pemberian informasi, psikoedukasi, intervensi krisis, konseling, psikoterapi, asuhan keperawatan, dan kegiatan lain.
Yang dimaksud dengan "rujukan dan rujuk balik" adalah pelimpahan tugas dan tanggung jawab Pelayanan Kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal.
Pasal 158 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "cakap" adalah kemampuan seseorang dalam membuat keputusan secara mandiri dengan menyadari segala risikonya.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 159 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
hlm. 514 OCRAyat (5)
Yang dimaksud dengan "sistem dukungan sosial" adalah dukungan keluarga, lingkungan, dan masyarakat terhadap ODGJ, pecandu, penyalahguna, dan korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya setelah menyelesaikan perawatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Pasal 160 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Kemudahan akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam ketentuan ini antara lain berupa kunjungan rumah oleh Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan dan kemudahan dalam mengunjungi keluarganya yang sedang dalam perawatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 161 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 162 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 163 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 164 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 165 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 166 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 167 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 168 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 515 OCRPasal 169 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 170 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 171 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 172 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Pekerjaan atau jabatan lain dalam ketentuan ini antara lain pejabat publik yang membuat keputusan yang penting, pekerjaan yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain, atau pekerjaan yang berhubungan dengan kelompok rentan seperti bidang pendidikan dan Kesehatan.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 173 Ke pasal
Ayat (1)
Koordinasi lintas sektor dalam ketentuan ini mencakup kementerian/lembaga,
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
hlm. 516 OCRPasal 174 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 175 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 176 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 177 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 178 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit menular dalam ketentuan ini antara lain, virus, bakteri, jamur, dan parasit.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "vektor' adalah artropoda yang dapat menularkan, memindahkan, dan/atau menjadi sumber penular penyakit.
Yang dimaksud dengan "binatang pembawa penyakit" adalah binatang selain artropoda yang dapat menularkan, memindahkan, dan/atau menjadi sumber penular penyakit.
Pasal 179 Ke pasal
Melindungi masyarakat dari tertularnya penyakit dalam ketentuan ini termasuk dilakukan dengan mencegah penyebaran penyakit agar tidak meluas antar wilayah maupun antar negara.
Pasal 180 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
hlm. 517 OCRAyat (5)
Surveilans penyakit menular dalam ketentuan ini antara lain berupa surveilans berbasis indikator, surveilans berbasis kejadian, surveilans berbasis masyarakat, dan surveilans berbasis laboratorium.
Ayat (6)
Huruf a
Rekayasa lingkungan dalam ketentuan ini antara lain dilakukan melalui kegiatan rehabilitasi pada media lingkungan secara fisik, biologi, atau kimia.
Huruf b
Pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit dalam ketentuan ini antara lain dilakukan melalui kegiatan pengamatan dan penyelidikan, intervensi dengan metode fisik, biologi, dan/atau kimia, serta pemantauan kepadatan vektor dan binatang pembawa penyakit.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Ayat (10)
Cukup jelas.
Ayat (11)
Cukup jelas.
Ayat (12)
Yang dimaksud dengan "kelompok masyarakat tertentu" adalah masyarakat yang berisiko tinggi untuk tertular penyakit.
Ayat (13)
Cukup jelas.
Pasal 181 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 182 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 518 OCRPasal 183 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 184 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 185 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 186 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 187 Ke pasal
Huruf a
Pengetahuan terhadap penyakit menular dalam ketentuan ini antara lain pengetahuan dalam deteksi dini, 'pencegahan, dan penanggulangan penyakit menular termasuk surveilans berbasis masyarakat.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Pasal 188 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 189 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 190 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 191 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 192 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
hlm. 519 OCRAyat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf h
Yang dimaksud dengan "lingkungan obesogenik" adalah kondisi lingkungan yang menyebabkan terjadinya peningkatan berat badan, seperti pola hidup sedenter, makanan dan minuman berkalori tinggi, dan faktor pendorong lain seperti iklan yang mempromosikan makanan berkalori tinggi, atau kemudahan akses terhadap makanan dan minuman berkalori tinggi.
Huruf i
Yang dimaksud dengan "karsinogenik" adalah zat yang berpotensi menyebabkan kanker.
Zat ini tidak hanya ditemukan pada makanan pemicu kanker, tetapi juga terdapat dalam bahan kimia, Obat, virus, hingga sinar radiasi.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Faktor risiko yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular dalam ketentuan ini antara lain kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan kadar gula darah tinggi.
Ayat (9)
Cukup jelas.
hlm. 520 OCRPasal 193 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 194 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "pangan olahan" adalah makanan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan.
Yang dimaksud dengan "pangan olahan siap saji" adalah makanan dan/atau minuman yang sudah diolah dan siap untuk langsung disajikan di tempat usaha atau di luar tempat usaha seperti pangan yang disajikan di jasa boga, hotel, restoran, rumah makan, kafetaria, kantin, kaki lima, gerai makanan keliling, dan penjaja makanan keliling atau usaha sejenis.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "kajian risiko" adalah kegiatan analisis untuk memberikan gambaran mengenai besaran dan tingkat risiko munculnya penyakit tidak menular akibat mengonsumsi pangan yang mengandung gula, garam, dan lemak.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "standar internasional" adalah standar teknis yang dikembangkan oleh satu atau lebih negara dan/atau organisasi internasional bidang Kesehatan dan/atau pangan.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 195 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Media informasi dalam ketentuan ini antara lain daftar menu dan kemasan eceran.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Kawasan tertentu dalam ketentuan ini antara lain sarana pendidikan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan tempat bermain anak.
hlm. 521 OCRAyat (4)
Cukup jelas
Pasal 196 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 197 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Faktor risiko perilaku dalam ketentuan ini antara lain aktivitas fisik, diet tidak sehat, merokok, dan konsumsi alkohol.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Pasal 198 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 199 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 200 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 201 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 202 Ke pasal
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
hlm. 522 OCRHuruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Sarana mobilitas untuk transportasi aktif dalam ketentuan ini antara lain sarana untuk sepeda dan jalan kaki.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Pasal 203 Ke pasal
Huruf a
Pengendalian faktor risiko dalam ketentuan ini antara lain melalui penggunaan alat makan yang aman.
Huruf b
Cukup jelas.
Pasal 204 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 205 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 206 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
hlm. 523 OCRAyat
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Yang dimaksud dengan "habilitasi" adalah upaya memberikan kemampuan yang baru atau belum pernah dipelajari sebelumnya kepada penyandang disabilitas akibat gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran melalui bantuan medik, sosial, psikologi, dan keterampilan yang diselenggarakan secara terpadu agar dapat mencapai kemampuan fungsionalnya.
Yang dimaksud dengan "rehabilitasi" adalah upaya untuk menanggulangi dampak kondisi disabilitas akibat gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran untuk mencapai integrasi sosial yang optimal.
Rehabilitasi dalam ketentuan ini antara lain operasi dan penggunaan alat bantu.
Ayat (10)
Cukup jelas.
Pasal 207 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 208 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 209 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 524 OCRPasal 210 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 211 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "keluarga lain yang sedarah" adalah seseorang yang memiliki hubungan darah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga seperti kakek, nenek, paman, atau bibi.
Yang dimaksud dengan "keluarga yang tidak sedarah" adalah seseorang yang tidak memiliki hubungan darah yang menggantikan peran sebagai ayah atau ibu dan keluarga pengganti melalui proses pengangkatan anak, perkawinan, atau pengasuhan seperti ayah atau ibu angkat, ayah atau ibu tiri, atau ayah atau ibu asuh.
Pasal 212 Ke pasal
Ayat (1) -
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan "materi" adalah sumber daya yang menyangkut dana untuk jaminan kesehatan atau meningkatkan Kesehatan, rumah, dan fasilitas lain.
Yang dimaksud dengan "nonmateri" adalah sumber daya yang menyangkut waktu dan tenaga, kemampuan, pendidikan, dan keterampilan.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 213 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Huruf a
Yang dimaksud "pengasuhan positif" adalah pengasuhan dengan tujuan untuk memenuhi hak anak dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak yang sehat secara fisik, emosional, dan sosial.
hlm. 525 OCRHuruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 214 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 2 15 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Perilaku lainnya dalam ketentuan ini antara lain perilaku sesuai norma agama dan sosial.
Pasal 216 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 217 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 218 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 219 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 526 OCRPasal 220 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 221 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 222 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 223 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 224 Ke pasal
Ayat (1)
Satuan pendidikan dalam melaksanakan pelayanan promotif direpresentasikan oleh pendidik, tenaga kependidikan, dan/atau peserta didik.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Yang dimaksud dengan "kader Kesehatan sekolah" adalah setiap orang yang dilatih untuk menggerakkan orang lain agar aktif dan berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan bidang Kesehatan di sekolah.
Pasal 225 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Pihak lain dalam ketentuan ini antara lain swasta, mitra
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 226 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 527 OCRPasal 227 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 228 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "penyelenggaraan sekolah sehat dan kampus sehat" adalah upaya yang sistematis dan menyeluruh dalam mewujudkan sekolah dan perguruan tinggi sebagai suatu lembaga yang mengintegrasikan Kesehatan sebagai bagian dari budaya sekolah dan perguruan tinggi yang tercermin melalui kegiatan operasional sehari-hari, administrasi pengelolaan, dan program pembelajaran atau mandat akademis.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 229 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 230 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 231 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 232 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan npekerja" adalah pekerja/buruh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Yang dimaksud dengan "orang lain yang ada di tempat kerja" adalah orang selain pekerja yang memasuki area di tempat kerja dengan maksud dan tujuan tertentu.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
hlm. 528 OCRPasal 233 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Faktor risiko Kesehatan di tempat kerja dalam ketentuan ini antara lain lingkungan, fisik, kimia, psikososial, dan ergonomi.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Ayat (10)
Cukup jelas.
Pasal 234 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 529 OCRPasal 235 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 236 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 237 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 238 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 239 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 240 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 241 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 242 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 243 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 244 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 245 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 246 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Media air dalam ketentuan ini tidak termasuk badan air sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 530 OCRHuruf a
Yang dimaksud dengan "air minum" adalah air yang
Huruf b
Yang dimaksud dengan "kolam renang" adalah tempat umum berupa kolam berisi air yang telah diolah, baik yang terletak di dalam maupun di luar bangunan yang digunakan untuk berenang, rekreasi, atau olahraga air lainnya, termasuk kolam bermain dan kolam whirlpool.
Yang dimaksud dengan "solus per aqua" adalah perawatan secara tradisional yang menggunakan air sebagai medianya.
Yang dimaksud dengan "pemandian umum" adalah tempat umum dengan menggunakan air alam tanpa pengolahan terlebih dahulu yang digunakan untuk kegiatan mandi, relaksasi, rekreasi, atau olahraga, yang dilengkapi fasilitas lainnya.
Ayat (4)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "udara ambien" adalah udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan dan berpengaruh terhadap Kesehatan manusia, makhluk hidup, dan unsur lingkungan hidup lainnya.
Yang dimaksud dengan "udara ambien yang memajan langsung pada manusia dan memiliki risiko Kesehatan" adalah udara luar ruanga.n yang terhirup
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
hlm. 531 OCRPasal 247 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 248 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Upaya pengamanan untuk mencegah terjadinya kontaminasi dalam ketentuan ini dilakukan melalui pengelolaan limbah dan radiasi sesuai dengan ketentuan, seperti tidak membuang limbah langsung ke lingkungan tanpa pengolahan terlebih dahulu atau menggunakan alat pelindung diri dari paparan radiasi.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 249 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Kebijakan dan strategi nasional penyelenggaraan Kesehatan lingkungan dalam ketentuan ini termasuk berkaitan dengan kabupaten/kota sehat, sanitasi total berbasis masyarakat, kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial, serta kegiatan lain yang mendukung penyelenggaraan Kesehatan lingkungan.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
hlm. 532 OCRAyat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 250 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "kondisi matra" adalah keadaan dari seluruh aspek pada lingkungan, wahana, atau media yang serba berubah dan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan pelaksanaan kegiatan manusia yang hidup dalam lingkungan tersebut, antara lain keadaan darurat, bencana, perpindahan penduduk secara besar-besaran atau pengungsian, serta peristiwa yang bersifat massal.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan "sistem Kesehatan yang berketahanan iklim" adalah sistem Kesehatan yang mampu untuk mengantisipasi, merespon, menanggulangi, pulih dari, dan beradaptasi terhadap tekanan dan gangguan iklim, sehingga tetap mampu memberikan pelayanan dalam meningkatkan derajat Kesehatan masyarakat.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas
Pasal 251 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 252 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 253 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 533 OCRPasal 254 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 255 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "limbah medis" adalah limbah hasil buangan dari aktivitas medis Pelayanan Kesehatan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan "persyaratan teknis" adalah persyaratan pengelolaan limbah medis yang dilaksanakan di internal lingkungan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Ayat (6)
Kerja sama dengan pihak lain dalam ketentuan ini diutamakan pada tahapan pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir.
Pasal 256 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 257 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 258 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 259 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Pekerjaan atau kegiatan di darat yang bersifat temporer dalam ketentuan ini antara lain:
a. perpindahan penduduk termasuk transmigrasi dan pekerja migran;
b. penyelenggaraan haji dan umrah;
c. arus mudik dan arus balik;
d. kegiatan bawah tanah;
e. kejadian bencana atau kejadian gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat;
hlm. 534 OCRf. penugasan operasi dan latihan Tentara Nasional Indonesia di darat;
g. kegiatan, operasi, dan latihan kepolisian;
h. kegiatan di area tertentu seperti jambore, kegiatan olahraga; dan
i. Kesehatan matra darat lainnya.
Ayat (3)
Pekerjaan atau kegiatan di laut dalam ketentuan ini termasuk di bawah air yang bersifat temporer antara lain:
a. kegiatan penyelaman;
b. pelayaran;
c. kegiatan lepas pantai;
d. tugas operasi dan latihan Tentara Nasional Indonesia di laut;
e. kegiatan, operasi, dan latihan kepolisian; dan
f. Kesehatan matra laut lainnya.
Ayat (4)
Lingkungan yang bertekanan rendah (hipobarik) dalam ketentuan ini antara lain pada kondisi, pekerjaan, atau kegiatan:
a. penerbangan;
b. tugas operasi dan latihan Tentara Nasional Indonesia di udara;
c. kegiatan, operasi, dan latihan kepolisian; dan
d. Kesehatan matra udara lainnya.
Pasal 260 Ke pasal
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Penanganan kasus dalam ketentuan ini antara lain berupa penegakan diagnosis, tata laksana dini, pengobatan, dan perawatan, termasuk perawatan rehabilitatif dan/atau paliatif, serta rujukan.
Huruf f
Cukup jelas.
hlm. 535 OCRPasal 261 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Menteri atau menteri/pimpinan lembaga terkait sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing, antara lain:
a. Menteri untuk standar dan persyaratan penyelenggaraan Kesehatan matra kejadian bencana, haji dan umrah, pekerja migran, arus mudik dan arus balik, penyelaman, penerbangan, dan situasi khusus lainnya;
b. menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang transportasi untuk standar dan persyaratan penyelenggaraan penerbangan dan pelayaran;
c. menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertahanan untuk standar dan persyaratan penyelenggaraan tugas operasi dan latihan Tentara Nasional Indonesia; dan
d. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk standar dan persyaratan penyelenggaraan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, dan kegiatan, operasi, dan latihan kepolisian.
Pasal 262 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 263 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 264 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 265 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 266 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 267 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 536 OCRPasal 268 Ke pasal
Yang dimaksud dengan "sistem Kesehatan yang tangguh" adalah sistem Kesehatan yang mampu mempersiapkan diri menghadapi segala ancaman bahaya serta meminimalisir dampak Kesehatan yang terjadi, dapat pulih secepatnya, dan terus memperkuat upaya kesiapsiagaan berdasarkan pembelajaran dari pengalaman yang terjadi serta mampu mempersiapkan diri beradaptasi dengan perubahan lingkun gan (re silientl .
Pasal 269 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "Pelayanan Kesehatan esensial" adalah Pelayanan Kesehatan dasar yang
Pelayanan Kesehatan esensial dalam ketentuan ini antara lain Pelayanan Kesehatan primer, Pelayanan Kesehatan lanjutan,
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 270 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 271 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
hlm. 537 OCRAyat (2)
Yang dimaksud dengan "Fasilitas Pelayanan Kesehatan aman bencana" adalah fasilitas yang pelayanannya tetap dapat diakses dan berfungsi pada kapasitas maksimum, sebelum, selama, dan segera setelah situasi darurat dan bencana.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 272 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Yang dimaksud dengan "klaster Kesehatan" adalah kelompok pelaku penanggulangan Kesehatan bencana atau darurat Kesehatan lainnya, yang berkoordinasi, berkolaborasi, dan integrasi untuk memenuhi kebutuhan Pelayanan Kesehatan, yang berasal dari Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah, termasuk Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, masyarakat, dan pemangku kepentingan yang lain.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 273 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan "kajian risiko" adalah sebuah pendekatan untuk memperlihatkan potensi dampak negatif terhadap Kesehatan masyarakat yang mungkin timbul akibat suatu potensi bencana atau bahaya yang melanda.
Perencanaan dalam ketentuan ini meliputi perencanaan penanggulangan Kesehatan bencana untuk semua ancaman bahaya dan rencana kontingensi atau perencanaan berdasarkan skenario tertentu, termasuk perencanaan klaster Kesehatan.
hlm. 538 OCRPerencanaan klaster Kesehatan terintegrasi dengan perencanaan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam menghadapi kedaruratan bencana serta merupakan bagian dari perencanaan klaster bencana yang dikoordinasikan oleh lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penanggulangan bencana nasional dan penanggulangan bencana daerah.
Yang dimaksud dengan "mitigasi" adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko Kesehatan akibat bencana, baik melalui pemetaan risiko, penyadaran, dan peningkatan kemampuan Sumber Daya Kesehatan maupun pembangunan fisik dalam menghadapi ancaman krisis Kesehatan yang dilakukan antara lain melalui kegiatan pendidikan berkelanjutan, pelatihan berkala seperti
Yang dimaksud dengan "kesiapsiagaan" adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi permasalahan Kesehatan bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna yang dilakukan antara lain melalui kegiatan table top exercise, gladi, pemberdayaan masyarakat, penyiapan logistik Kesehatan, dan peningkatan kapasitas.
Yang dimaksud dengan "sistem peringatan dini" adalah sistem yang dipergunakan untuk mewujudkan serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana atau darurat Kesehatan lainnya pada suatu tempat oleh kementerian/lembaga yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. sistem penanggulangan Gawat Darurat terpadu dalam ketentuan ini antara lain menyiapkan sistem rujukan bila terjadi Kesehatan bencana atau darurat Kesehatan lainnya serta menyiapkan sistem koordinasi lintas program maupun lintas sektor bila terjadi situasi bencana atau darurat Kesehatan lainnya.
Ayat (6)
Cukup jelas.
hlm. 539 OCRPasal 274 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 275 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Pemantauan dan pengawasan dalam ketentuan ini antara lain terhadap upaya rehabilitasi dan rekonstruksi bidang Kesehatan.
Huruf d
Pasal 276 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 277 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "krisis Kesehatan" adalah peristiwa akibat faktor alam, nonalam, sosial, yang serius dan mendesak yang menimbulkan permasalahan Kesehatan pada masyarakat dan membutuhkan respons cepat di luar kebiasaan normal, sementara kapasitas Kesehatan setempat tidak memadai.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 278 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 279 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 280 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 540 OCRPasal 281 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 282 Ke pasal
Ayat (1)
Pengelolaan darah dalam secara berjejaring sesuai perundang-undangan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 283 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 284 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 285 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 286 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 287 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 288 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 289 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 290 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 291 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 292 Ke pasal
Cukup jelas. ketentuan dengan ini dapat ketentuan dilakukan peraturan
hlm. 541 OCRPasal 293 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 294 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 295 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 296 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 297 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 298 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 299 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 300 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 301 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 302 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 303 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 304 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Plasma yang dikumpulkan dari donor untuk kepentingan memproduksi produk Obat derivat plasma didapatkan secara langsung dari donor plasma dengan metode apheresis.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
hlm. 542 OCRAyat (5)
Cukup jelas
Pasal 305 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan "kompensasi" antara lain penggantian biaya transportasi dan/atau biaya pemeliharaan Kesehatan.
Pasal 306 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 307 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 308 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "sukarela" adalah tanpa adanya paksaan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 309 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 310 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 31 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 312 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 313 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 314 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 543 OCRPasal 315 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 316 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 317 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 318 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 319 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 320 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 32 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 322 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 323 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 324 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 325 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 326 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "transplantasi" adalah pemindahan organ dan/atau jaringan tubuh dari donor ke resipien guna penyembuhan penyakit dan pemulihan Kesehatan resipien.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "dikomersialkan" adalah komersialisasi dalam pelaksanaan transplantasi organ tubuh manusia atau jaringan tubuh manusia, tidak termasuk proses Pelayanan Kesehatan dalam penyelenggaraan transplantasi pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Yang dimaksud dengan "diperjualbelikan" adalah tindakan menjual atau memperdagangkan organ dan/atau jaringan tubuh untuk mendapatkan keuntungan finansial atau nilai tukar lainnya.
hlm. 544 OCRPasal 327 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Yang dimaksud dengan "menyatakan dirinya bersedia sebagai donor" adalah pernyataan Pasien bersedia menjadi donor yang didokumentasikan dalam bentuk tertulis atau rekaman audio visual.
Pasal 328 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 329 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "wasiat medik" adalah formulir isian khusus yang diberikan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan khususnya Rumah Sakit kepada Pasien rawat inap yang berisi pernyataan tentang tindakan yang boleh dilakukan terhadap dirinya apabila mengalami kegawatdaruratan, termasuk kesediaan untuk mendonasikan organ dan/atau jaringan tubuh.
Pembuatan wasiat medik difasilitasi oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan bagi calon
Pasal 330 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 331 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 332 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "suami atau istri" adalah pasangan yang masih berada dalam status pernikahan sebelum ada indikasi untuk dilakukan transplantasi organ.
Huruf b
Cukup jelas.
hlm. 545 OCRAyat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 333 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 334 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 335 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 336 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 337 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Sukarela dalam ketentuan ini dimaksudkan bahwa seseorang yang dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari orang lain memberikan persetujuan
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
hlm. 546 OCRAyat (3)
Cukup jelas.
Pasal 338 Ke pasal
Yang dimaksud dengan "keterangan hubungan darah atau suami atau istri dengan resipien" antara lain kutipan akta pencatatan sipil.
Pasal 339 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 340 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 341 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 342 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 343 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 344 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 345 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 346 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "dalam keadaan tertentu" antara lain orang yang dinyatakan mati dan belum terdaftar sebagai donor semasa hidupnya atau tidak diketahui identitasnya.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 347 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 348 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 547 OCRPasal 349 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Yang dimaksud dengan "terapi bantuan hidup" antara lain ventilator.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Pasal 350 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 351 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 352 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 353 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 354 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 355 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 356 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 548 OCRPasal 357 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 358 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 359 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 360 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "sisa jaringan hasil operasi, dan jaringan lain yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh donor" antara lain jaringan tulang, jaringan kulit, dan jaringan plasenta.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 361 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 362 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 363 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 364 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 365 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 366 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 367 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 368 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 369 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 549 OCRPasal 370 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 371 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 372 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 373 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 374 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 375 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 376 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 377 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 378 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 379 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 380 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 381 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 382 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "reproduksi" adalah untuk pembuatan individu baru atau kloning.
hlm. 550 OCRAyat (4)
Cukup jelas.
Pasal 383 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 384 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 385 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 386 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 387 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "tempat penyimpanan lainnya di Fasilitas Pelayanan Kesehatan" adalah tempat penyimpanan sementara yang diperuntukkan bagi sel dan/atau sel punca sebelum dimanfaatkan untuk terapi kepada Pasien.
Ayat
Cukup jelas.
Pasal 388 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 389 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 390 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 391 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "penelitian berbasis pelayanan terapi dapat ditetapkan sebagai pelayanan terapi terstandar' termasuk penelitian yang dilakukan di luar negeri.
Ayat (3)
Cukup jelas.
hlm. 551 OCRAyat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 392 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "pemilik produk" antara lain laboratorium, peneliti, Rumah Sakit, atau industri farmasi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 393 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 394 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 395 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 396 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "mengubah identitas" antara lain mengubah wajah, jenis kelamin, dan/atau sidik jari, sehingga mengakibatkan perubahan identitas dan menghilangkan jejak jati diri, serta digunakan untuk melawan hukum atau melakukan kejahatan.
Pasal 397 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 398 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 399 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 400 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 401 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 552 OCRPasal 402 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 403 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 404 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 405 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 406 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 407 Ke pasal
Ayat (1)
Pemastian mutu dan keamanan dalam ketentuan ini dilakukan untuk menjamin produk yang dibuat dan diedarkan memenuhi persyaratan keamanan, khasiat/kemanfaatan, dan mutu.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 408 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 409 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 410 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 553 OCRPasal 41 1 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "tidak sesuai dengan penandaan" adalah penandaan yang tidak sesuai dengan ketentuan, tidak objektif, tidak lengkap, menyesatkan, dan/atau merugikan masyarakat.
Ayat
Cukup jelas.
PasaL 412 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 413 Ke pasal
Ayat (1)
Fasilitas produksi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan/atau PKRT dalam ketentuan ini antara lain industri farmasi Bahan Obat, industri farmasi, industri dan usaha Obat Bahan Alam, industri ekstrak bahan alam, industri pangan yang memproduksi Suplemen Kesehatan, industri Kosmetik, industri Alat Kesehatan, dan industri PKRT.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 414 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 415 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 416 Ke pasal
Ayat (1)
Produsen Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan antara lain industri farmasi Bahan Obat, industri farmasi, industri dan usaha Obat Bahan Alam, industri ekstrak bahan alam, industri pangan yang memproduksi Suplemen Kesehatan, industri Kosmetik, dan industri Alat Kesehatan.
Distributor Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan antara lain pedagang besar farmasi, pedagang besar Obat Bahan Alam, pedagang besar Kosmetik, dan distributor Alat Kesehatan sesuai dengan jenis Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan yang akan didistribusikan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
hlm. 554 OCRAyat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 417 Ke pasal
Ayat (1)
Fasilitas pelayanan kefarmasian berupa instalasi farmasi Rumah Sakit, instalasi farmasi Puskesmas, instalasi farmasi klinik, dan apotek.
Yang dimaksud dengan "fasilitas lain yang telah memiliki perizinan berusaha" adalah fasilitas di luar fasilitas pelayanan kefarmasian, antara lain toko Obat, pedagang eceran Kosmetik, pedagang eceran Obat Bahan Alam, hypermarket, supermarket, minimarket, dan toko Alat Kesehatan, sesuai dengan jenis Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan yang akan diserahkan.
Ayat (2)
Obat Bahan Alam untuk keperluan khusus antara lain fitofarmaka dengan uji klinis yang langsung
Suplemen Kesehatan untuk keperluan khusus antara lain vitamin D dosis tinggi.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "standar pelayanan kefarmasian" adalah standar yang meliputi pengelolaan dan pelayanan farmasi klinis.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 418 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 419 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 420 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas. hlm. 555 OCR -7 t-
Ayat
Yang dimaksud dengan "organisasi riset kontrak" adalah suatu organisasi yang bergerak di bidang Kesehatan dan dikontrak oleh institusi pemerintah atau institusi swasta yang memiliki tugas dan fungsi penelitian dan pengembangan, atau perusahaan Sediaan Farmasi atau Alat Kesehatan untuk melaksanakan satu atau lebih tugas dan fungsi pemohon dalam uji klinik.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 42 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 422 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 423 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Bentuk lain antara lain logo penggolongan Obat atau Obat Bahan Alam.
Pasal 424 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 425 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 426 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 427 Ke pasal
Peran serta masyarakat diarahkan untuk meningkatkan dan memberdayakan kemampuan yang ada pada masyarakat dalam rangka pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. Peran serta masyarakat antara lain dalam bentuk:
a. pemberian informasi dan laporan dugaan penyalahgunaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan kepada Menteri atau kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan;
hlm. 556 OCRb. pemberian informasi dan laporan dugaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan yang tidak memenuhi standar danf atau persyaratan keamanan, khasiat/kemanfaatan dan mutu kepada Menteri atau kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan;
c. pelaporan terhadap efek samping/kejadian yang tidak diinginkan karena penggunaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan kepada Menteri atau kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang pengawasan obat dan makanan; dan
d. keikutsertaan dalam penyebaran informasi pada masyarakat terkait penggunaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan yang tepat serta memenuhi standar
Pasal 428 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 429 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "bentuk lain yang bersifat adiktif" antara lain rokok elektronik dan/atau nikotin dalam berbagai bentuk dan kemasan, termasuk
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 430 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 43 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 432 Ke pasal
Ayat (1)
Bahan tambahan antara lain perisa
Cengkeh, kelembak, atau kemenyan tidak termasuk bahan tambahan, melainkan sebagai bahan baku.
hlm. 557 OCRAyat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 433 Ke pasal
Ayat (1)
Dalam ketentuan ini, pelarangan membuat kemasan rokok kurang dari 20 (dua puluh) batang bertujuan agar harga rokok tidak mudah terjangkau oleh konsumen.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "produk tembakau selain rokok putih mesin" antara lain rokok kretek tangan, rokok kretek mesin, rokok klobot, rokok kelembak menya.n, cerutu, dan tembakau iris dikemas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 434 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
hlm. 558 OCRYang dimasud dengan "tempat yang sering dilalui" adalah tempat berlalu-lalangnya orang, antara lain area pembayaran, area penjualan makanan dan minuman anak, serta tempat penjualan mainan anak.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 435 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 436 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 437 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 438 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 439 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 440 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 44 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 442 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 443 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
hlm. 559 OCRAyat (3)
Tempat kerja dalam ketentuan ini antara lain tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber bahaya, seperti pabrik, perkantoran, ruang rapat, dan ruang sidang atau seminar.
Tempat umum antara lain semua tempat tertutup yang dapat diakses oleh masyarakat umum dan/atau tempat yang dapat dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan masyarakat yang dikelola oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah, swasta, dan masyarakat, seperti hotel, restoran, bioskop, bandar udara, stasiun, pusat perbelanjaan, dan pasar swalayan.
Tempat lainnya antara lain tempat terbuka tertentu yang dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan masyarakat.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 444 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 445 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 446 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 447 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 448 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 449 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 450 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 451 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 560 OCRPasal 452 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 453 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 454 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Citra merek antara lain semboyan yang digunakan oleh produk tembakau dan rokok elektronik serta warna yang dapat diasosiasikan sebagai ciri khas produk tembakau dan rokok elektronik yang bersangkutan.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "kegiatan lembaga dan/atau
Pasal 455 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 456 Ke pasal
Media teknologi informasi antara lain seluruh media online yang menggunakan fasilitas
Pasal 457 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 458 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 459 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 460 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 461 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
hlm. 561 OCRHuruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Diversifikasi dimaksudkan agar penggunaan produk tembakau tidak membahayakan bagi Kesehatan.
Diversifikasi produk tembakau dapat dilakukan antara lain dengan mengolah daun tembakau sehingga diperoleh bahan kimia dasar yang dapat digunakan sebagai pestisida, Obat bius, produk Kosmetik (pengencang kulit), industri farmasi, dan lain-lain. Dengan demikian daun tembakau tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan rokok tetapi dapat pula digunakan sebagai bahan baku berbagai macam produk hasil diversifikasi.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah" adalah penguatan pengamanan untuk mengendalikan dampak konsumsi produk tembakau dan rokok elektronik bagi Kesehatan.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Lihat penjelasan pada ayat (1) huruf e.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Pasal 462 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 562 OCRPasal 463 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 464 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 465 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 466 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 467 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 468 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a) Tempat lain yang memenuhi persyaratan antara lain di tempat kejadian peristiwa atau tempat pemakaman yang lingkungannya menunjang proses pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum.
Pasal 469 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 470 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 471 Ke pasal
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
hlm. 563 OCRHuruf e
Kasus lain antara lain korban bencana yang disebabkan oleh perbuatan manusia, pemeriksaan asam deoksiribonukleat untuk penentuan paternitas, penentuan kecakapan untuk ditahan atau kecakapan untuk diwawancara, atau kasus yang memiliki dimensi hukum yang membutuhkan pelayanan kedokteran.
Pasal 472 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 473 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 474 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 475 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 476 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "mayat yang tidak dikenal" adalah jasad atau tubuh manusia yang ditemukan tanpa identitas yang jelas atau tanpa ada informasi mengenai identitasnya.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 477 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 478 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 564 OCRPasal 479 Ke pasal
Yang dimaksud dengan "pengetahuan' adalah segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan Kesehatan tradisional yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
Yang dimaksud dengan "keahlian" adalah kemampuan seseorang dalam ilmu Kesehatan tradisional.
Yang dimaksud dengan "nilai" adalah sifat atau hal yang diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Yang dimaksud dengan "kearifan lokal" adalah kearifan baik dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, serta Pelayanan Kesehatan nonkonvensional.
Pasal 480 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 481 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Huruf a
Yang dimaksud dengan "teknik manual" adalah teknik pengobatan yang berdasarkan manipulasi dan gerakan dari satu atau beberapa .bagian tubuh dan/atau dengan menggunakan alat termasuk akupunktur.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "terapi olah pikir' adalah teknik pengobatan yang bertujuan untuk memanfaatkan kemampuan pikiran guna memperbaiki fungsi tubuh.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "terapi energi" adalah teknik pengobatan dengan menggunakan lapangan energi baik dari luar maupun dari dalam tubuh itu sendiri.
Ayat (3)
Produk Obat Bahan Alam berupa produk Obat Bahan Alam yang telah mendapatkan izin edar dari lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.
hlm. 565 OCRPasal 482 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 483 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 484 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 485 Ke pasal
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud "Fasilitas Pelayanan Kesehatan tradisional" antara lain berupa Griya Sehat.
Huruf e
Cukup jelas.
Pasal 486 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 487 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 488 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 489 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "kompetensi" adalah kemampuan yang dimiliki seseorang berdasarkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk dapat menjalankan praktik.
Yang dimaksud dengan "kewenangan" adalah hak menggunakan wewenang yang dimiliki seseorang berdasarkan kompetensinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
hlm. 566 OCRAyat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 490 Ke pasal
Cukup
Pasal 49 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 492 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 493 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 494 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 495 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 496 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 497 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "standar Pelayanan Kesehatan nasional" adalah tata kelola Pelayanan Kesehatan yang ditetapkan secara nasional, seperti standar pelayanan kefarmasian dan standar Pelayanan Kesehatan pada setiap siklus hidup.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "pedoman nasional pelayanan klinis" adalah standar pelayanan yang memuat tata laksana penyakit atau kondisi klinis yang spesifik yang dibuat secara sistematis yang didasarkan pada bukti ilmiah (scientific
Ayat (2)
Cukup jelas.
hlm. 567 OCRPasal 498 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Sistem yang membuat asuhan Pasien lebih aman antara lain dilakukan melalui kegiatan asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko Pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 499 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan "alur klinis" adalah konsep perencanaan pelayanan terpadu yang merangkum setiap langkah yang diberikan kepada Pasien berdasarkan standar pelayanan yang berbasis bukti dengan hasil yang dapat diukur dan dalam jangka waktu tertentu.
Yang dimaksud dengan "algoritma" adalah format tertulis berupa
Yang dimaksud dengan "prosedur' adalah uraian langkah dari tindakan yang dilakukan sebagai bagian dari tata laksana Pasien.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
hlm. 568 OCRPasal 500 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 501 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 502 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan "kemandirian hidup sehat" adalah kemampuan setiap individu, keluarga, dan masyarakat secara sadar dan tanpa bantuan orang lain untuk hidup sehat secara fisik dan jiwa tanpa ada permasalahan Kesehatan.
Ayat
Cukup jelas.
Pasal 503 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 504 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 505 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 506 Ke pasal
Ayat (1)
Upaya Kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dapat berupa pembatasan konsumsi rokok, konsumsi garam, konsumsi makanan dan minuman kadar gula berlebih, serta berupa vaksinasi massal, skrining penyakit, serta pengendalian Kesehatan lingkungan, termasuk pencegahan pencemaran lingkungan dan pengendalian vektor.
Ayat (2)
Cukup jelas.
hlm. 569 OCRPasal 507 Ke pasal
Upaya Kesehatan masyarakat yang bersifat kuratif dapat
Pasal 508 Ke pasal
Upaya Kesehatan masyarakat yang bersifat rehabilitatif dapat berupa pelatihan sosial untuk penderita spektrum autisme, disabilitas intelektual, atau skizofrenia.
Pasal 509 Ke pasal
Upaya Kesehatan masyarakat yang bersifat paliatif dapat berupa pembentukan komunitas yang saling mendukung.
Pasal 510 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 511 Ke pasal
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat termasuk pos pelayanan terpadu sebagai lembaga kemasyarakatan desa atau lembaga kemasyarakatan kelurahan.
Pasal 512 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 513 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 514 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 515 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 516 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 517 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 570 OCRPasal 518 Ke pasal
Ayat (1)
Satuan pendidikan antara lain pendidikan anak usia dini, sekolah/madrasah, pesantren, perguruan tinggi, atau nama lain yang sejenis dengan pendidikan formal.
Ayat
Cukup jelas.
Pasal 519 Ke pasal
Ayat (1)
Tempat kerja dalam ketentuan ini antara lain industri besar-menengah, industri kecil, perkantoran, sektor informal, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan pekerjaan di lingkungan matra.
Ayat
Cukup jelas.
Pasal 520 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 521 Ke pasal
Ayat (1)
Jejaring mitra Kesehatan antara lain lembaga swadaya masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, komunitas peduli Kesehatan, dan badan usaha.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 522 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 523 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 524 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 525 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 526 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "laboratorium lainnya yang ditetapkan oleh Menteri" adalah laboratorium Kesehatan yang disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan Kesehatan dan Teknologi Kesehatan.
Pasal 527 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "prognosis" adalah gambaran kemungkinan kesembuhan, perbaikan, atau perburukan kondisi Pasien dalam jangka waktu tertentu yang didasarkan pada kondisi Pasien, hasil tes, dan respon terhadap pengobatan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 528 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 529 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "spesimen klinik" adalah bahan yang berasal dan/atau diambil dari tubuh manusia untuk tujuan diagnostik, penelitian, pengembangan, pendidikan, dan/atau analisis lainnya, termasuk new emerging
Yang dimaksud dengan "sampel" adalah bahan yang berasal dari lingkungan, vektor, dan binatang pembawa penyakit untuk tujuan pengujian dalam rangka penetapan penyakit dan faktor risiko Kesehatan lain berbasis laboratorium.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 530 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 531 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
hlm. 572 OCRAyat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan "laboratorium Kesehatan masyarakat pada wilayah regional" adalah unit pelaksana teknis pada kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan, yang membina, mendampingi, dan mengoordinasikan laboratorium Kesehatan pada beberapa daerah provinsi di wilayah regional.
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan "laboratorium Kesehatan masyarakat nasional" adalah unit pelaksana teknis pada kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan, yang mempunyai ruang lingkup tugas yang bersifat strategis dan berskala nasional serta internasional.
Pasal 532 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 533 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 534 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 535 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 536 Ke pasal
Ayat (1)
Tenaga teknis antara lain Sumber Daya Manusia Kesehatan dan sumber daya manusia non-Kesehatan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 537 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 538 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 573 OCRPasal 539 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 540 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 541 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 542 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "Pelayanan Kesehatan bergerak" adalah Pelayanan Kesehatan yang diberikan pada lokasi dan waktu tertentu oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan bergerak dalam rangka meningkatkan akses dan ketersediaan Pelayanan Kesehatan di daerah terpencil dan sangat terpencil.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "Pelayanan Kesehatan gugus pulau" adalah Pelayanan Kesehatan di beberapa pulau yang membentuk suatu kelompok untuk memberikan satu kesatuan pelayanan tanpa memperhatikan batasan wilayah administrasi dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "modifikasi Pelayanan Kesehatan lain" adalah modifikasi Pelayanan Kesehatan yang menyesuaikan dengan perkembangan teknis Pelayanan Kesehatan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi, transportasi, dan komunikasi.
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 543 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 544 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 574 OCRPasal 545 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 546 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 547 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 548 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 549 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 550 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 551 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 552 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 553 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 554 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 555 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 556 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 557 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 558 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
hlm. 575 OCRAyat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "klinik" adalah Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan perseorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar dan/ atau spesialistik.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 559 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 560 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 561 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pelayanan kefarmasian melalui telefarmasi antara lain pengkajian resep, dispensing, pelayanan informasi Obat konseling, pemantauan terapi Obat dan monitoring efek samping Obat.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 562 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 576 OCRPasal 563 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 564 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 565 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 566 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 567 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Pihak terkait antara lain asosiasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan asosiasi institusi pendidikan Kesehatan serta pihak lainnya sesuai dengan kebutuhan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 568 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 569 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 570 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 571 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 572 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 573 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "peninjauan kembali" adalah upaya penyesuaian perencanaan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang disesuaikan dengan perubahan demografi dan epidemiologi serta politik, ekonomi, sosial, dan budaya di wilayah masing-masing.
hlm. 577 OCRPasal 574 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 575 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 576 Ke pasal
Ayat (1)
Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam ketentuan ini antara lain Rumah Sakit, Puskesmas, klinik, apotek, unit pengelola darah, laboratorium Kesehatan, dan/atau optik.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 577 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "sistem Kesehatan akademik" adalah kesatuan kerja sama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, perguruan tinggi, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam peningkatan Pelayanan Kesehatan dan pemenuhan kebutuhan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (a) Kerja sama bidang sumber daya manusia contohnya pembagian waktu dan peran sumber daya manusia antar instansi.
Kerja sama bidang sarana dan prasarana contohnya penggunaan sarana dan prasarana secara bersama dan/atau bergantian.
Kerja sama bidang pendanaan contohnya pendanaan pada kegiatan penelitian untuk menunjang pembangunan bidang Kesehatan.
Pasal 578 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 578 OCRPasal 579 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 580 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 581 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 582 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 583 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 584 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "pegawai pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan" adalah peserta didik yang mendapatkan penetapan sebagai pegawai oleh pejabat yang berwenang serta memiliki hak dan kewajiban sebagai pegawai sesuai penetapan yang diberikan.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Yang dimaksud dengan "Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain yang membutuhkan" adalah Fasilitas Pelayanan Kesehatan di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan RSPPU tempat peserta didik menyelenggarakan pendidikan yang telah memiliki izin dan terakreditasi sebagai penyelenggara Pelayanan Kesehatan.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 585 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 586 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 587 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 588 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 579 OCRPasal 589 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 590 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 591 Ke pasal
Ayat (1)
Uji kompetensi secara nasional dilaksanakan untuk melihat pencapaian standar kompetensi lulusan sebagai hasil belajar peserta didik.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "uji kompetensi berstandar nasional" adalah pengukuran pengetahuan, keterampilan, dan perilaku peserta didik pada penyelenggara pendidikan tinggi bidang Kesehatan yang menyelenggarakan ujian sesuai dengan standar nasional dan berlaku secara nasional.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 592 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 593 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 594 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 595 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 596 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 597 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 598 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 580 OCRPasal 599 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 600 Ke pasal
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Fasilitas tempat tinggal dapat berupa tempat tinggal atau bantuan biaya tempat tinggal.
Pasal 601 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 602 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 603 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 604 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 605 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "tenaga lain sesuai dengan kebutuhan" adalah tenaga yang dilibatkan dalam proses pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan antara lain tenaga di bidang administrasi, kearsipan, komputer, dan kehumasan.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
hlm. 581 OCRAyat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 606 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 607 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 608 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 609 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 610 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 611 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 612 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 613 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 614 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 615 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 616 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 617 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 618 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 582 OCRPasal 619 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 620 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 62 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 622 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "daerah tidak diminati" adalah daerah yang mengalami kesulitan pemenuhan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam waktu tertentu.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 623 Ke pasal
Ayat (1)
Fasilitas lainnya antara lain tempat tinggal dan alat transportasi.
Ayat
Cukup jelas.
Pasal 624 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 625 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 626 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Jangka waktu tertentu antara lain penempatan pada penugasan khusus untuk waktu yang ditentukan sesuai dengan kebutuhan Pelayanan Kesehatan.
hlm. 583 OCRAyat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 627 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 628 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 629 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Sebab lain antara lain pensiun, meninggalkan tugas, tidak mampu melaksanakan tugas karena berhalangan tetap, dan meninggal dunia.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 630 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 63 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 632 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 633 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
hlm. 584 OCRAyat
Tenaga cadangan Kesehatan berupa non-Tenaga Kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan terkait dengan penanggulangan KLB, Wabah, dan darurat bencana antara lain peserta didik, dosen, dan tenaga yang sudah tidak berpraktik sebagai Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan "kedaruratan Kesehatan lainnya" adalah kondisi di luar bencana yang memenuhi kriteria krisis Kesehatan.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 634 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 635 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 636 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 637 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 638 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 639 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 640 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 641 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 642 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 643 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 644 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 585 OCRPasal 645 Ke pasal
Huruf a
Penyiapan sebelum didayagunakan antara lain kemampuan bahasa dan pemahaman budaya negara tujuan penempatan serta penyiapan lisensi internasional.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Pasal 646 Ke pasal
Yang dimaksud dengan "pelindungan kepada Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang didayagunakan ke luar negeri" adalah pelindungan terhadap keselamatan, keamanan, dan bentuk pelindungan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 647 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 648 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 649 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 650 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 651 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 652 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 653 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 654 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 655 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 586 OCRPasal 656 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 657 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 658 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 659 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 660 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 661 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Kondisi tertentu antara lain pendayagunaan pada kawasan ekonomi khusus, pendayagunaan untuk kegiatan bakti sosial, dan pendayagunaan dalam kondisi bencana.
Pasal 662 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 663 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 664 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 665 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 666 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 667 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 668 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 587 OCRPasal 669 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 670 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 671 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 672 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 673 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 674 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 675 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 676 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 677 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 678 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 679 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 680 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 681 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 682 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 683 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 588 OCRPasal 684 Ke pasal
Ayat (1)
Kondisi tertentu antara lain berupa keadaan yang membutuhkan percepatan pemenuhan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan pada Pelayanan Kesehatan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 685 Ke pasal
Ayat (1)
Kondisi tertentu antara lain bakti sosial/kemanusiaan, tugas kenegaraan, penanggulangan KLB, Wabah, atau bencana lainnya, pemberian pertolongan darurat lainnya, dan/atau pemberian Pelayanan Kesehatan lainnya yang bersifat insidentil dan bersifat sementara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 686 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 687 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 688 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 689 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "surat tugas" adalah
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
hlm. 589 OCRAyat (6)
Cukup jelas.
Pasal 690 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 69 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 692 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Memiliki hak dan kewajiban yang sama termasuk hak atas jasa Pelayanan Kesehatan dan hak atas pelindungan hukum.
Pasal 693 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 694 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 695 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 696 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 697 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 698 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 699 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 700 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 701 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 702 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 590 OCRPasal 703 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 704 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 705 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 706 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 707 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 708 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 709 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 710 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 711 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 7 12 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 713 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 714 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 715 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 716 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 717 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 591 OCRPasal 718 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 719 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 720 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 721 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 722 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 723 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "dalam rangka mencegah" adalah untuk menjamin adanya kepastian hukum bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan serta memiliki kebebasan dalam menjalankan praktik keprofesiannya, menjamin pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam memberikan hak pelindungan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "yang menghadapi permasalahan hukum" adalah untuk menjamin Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan yang telah bekerja sesuai dengan standar mendapatkan proses penyelesaian permasalahan hukum yang adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 724 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 592 OCRPasal 725 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 726 Ke pasal
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Pertimbangan objektif dilaksanakan sesuai dengan kewenangan Pemerintah Daerah provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota serta pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Pasal 727 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 728 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 593 OCRPasal 729 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 730 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 731 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Pelindungan dalam ketentuan ini antara lain pelindungan hukum serta pelindungan keamanan dan keselamatan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 732 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 733 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 734 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Bunuh diri dengan bantuan antara lain euthanasia dan phg sician-assisted suicide.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "melakukan perbuatan curang" adalah melakukan tindakan yang disengaja oleh 1 (satu) individu atau lebih dalam manajemen atau pihak yang
Huruf f
Cukup jelas.
hlm. 594 OCRAyat (2)
Cukup jelas.
Pasal 735 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 736 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 737 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 738 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 739 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 740 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 741 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 742 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 743 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "kewenangan klinis" adalah hak khusus Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan tertentu untuk melakukan pelayanan medik dan/atau Pelayanan Kesehatan tertentu dalam lingkungan Fasilitas Pelayanan Kesehatan untuk suatu periode tertentu yang dilaksanakan berdasarkan penugasan klinis.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "kredensial" adalah proses evaluasi terhadap Tenaga Medis atau Tenaga Kesehatan tertentu untuk menentukan kelayakan diberikan kewenangan klinis (clinical
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
hlm. 595 OCRAyat (5)
Cukup jelas.
Pasal 744 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Pasal 745 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 746 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 747 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 748 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 749 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 750 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 596 OCRPasal 751 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 752 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 753 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 754 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 755 Ke pasal
Huruf a
Yang dimaksud dengan "tenaga pendukung atau penunjang Upaya Kesehatan atau Pelayanan Kesehatan" antara lain tenaga biologi, asisten Tenaga Kesehatan, kader, penyehat tradisional, pramusaji, petugas
Huruf b
Yang dimaksud dengan "tenaga pendukung atau penunjang administrasi, manajemen, dan teknologi Informasi Kesehatan" antara lain tenaga pendaftaran Pasien, tenaga hubungan masyarakat, tenaga administratif, dan tenaga keuangan.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "tenaga pendukung atau penunjang sarana dan prasarana Fasilitas Pelayanan Kesehatan" antara lain petugas instalasi listrik, pemeliharaan bangunan, dan petugas kebersihan.
Pasal 756 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 757 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 758 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 759 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 760 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 597 OCRPasal 761 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 762 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "praktik mandiri Tenaga Medis" adalah praktik mandiri dokter atau dokter gigi.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 763 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "praktik mandiri Tenaga Medis" berupa praktik mandiri dokter spesialis/subspesialis atau dokter gigi spesialis/ subspesialis.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 764 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
hlm. 598 OCRAyat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "bank materi biologi" adalah fasilitas pelayanan penunjang untuk menyimpan materi biologi tertentu antara lain bank sel, bank jaringan, bank plasma, dan bank gen.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Pasal 765 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan nFasilitas Pelayanan Kesehatan bergerak" antara lain berbentuk bus, pesawat, kapal, karavan, gerbong kereta api, tenda, atau kontainer.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 766 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 767 Ke pasal
Cukup
Pasal 768 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 599 OCRPasal 769 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 770 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 771 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 772 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 773 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 774 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 775 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 776 Ke pasal
Penyelenggaraan Fasilitas Pelayanan Kesehatan di kawasan ekonomi khusus termasuk mengatur pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan serta pemasukan dan penggunaan Perbekalan Kesehatan.
Pasal 777 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 778 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 779 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan" adalah ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai penggunaan sistem elektronik.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 780 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 600 OCRPasal 781 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 782 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 783 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Ayat (10)
Cukup jelas.
Ayat (11)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "untuk kepentingan pendidikan secara terbatas" adalah tanpa membuka identitas Pasien atau data yang dapat ditelusuri identitasnya, kecuali dalam penanganan klinis Pasien.
Yang dimaksud dengan "untuk kepentingan penelitian secara terbatas" adalah tanpa membuka identitas Pasien atau data yang dapat ditelusuri identitasnya.
Huruf d
Cukup jelas.
hlm. 601 OCRHuruf e
Cukup jelas.
Ayat (12)
Cukup jelas.
Pasal 784 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 785 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 786 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 787 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 788 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "rahasia Kesehatan pribadi Pasien" adalah riwayat, kondisi dan perawatan, pengobatan Kesehatan fisik, serta psikis seseorang, termasuk data pribadi Pasien.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "hal lain yang berkenaan dengan Pasien" antara lain meliputi data sistem pembayaran dan informasi dan data sosial Pasien.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 789 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 790 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 791 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 602 OCRPasal 792 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 793 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 794 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 795 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 796 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 797 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 798 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 799 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat"
Pasal 800 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 801 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 802 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 803 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
hlm. 603 OCRAyat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Yang dimaksud dengan "Tenaga Kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang Kesehatan komunitas" adalah Tenaga Kesehatan yang memiliki kompetensi yang didapatkan dari pendidikan pelatihan dan/atau rekognisi pembelajaran lampau di bidang Kesehatan komunitas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Pasal 804 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 805 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 806 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 807 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 808 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 809 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Pelayanan Kesehatan dasar antara lain dilakukan dalam kondisi kegawatdaruratan atau dukungan terhadap program pemerintah selain program jaminan kesehatan.
Pasal 810 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 604 OCRPasal 811 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 812 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 813 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 814 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 815 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 816 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "purnawaktu" adalah waktu kerja yang dilakukan secara penuh sesuai total jumlah jam kerja Pelayanan Kesehatan yang ditetapkan oleh pimpinan Rumah Sakit atau sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 817 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Yang dimaksud dengan "bidang Pelayanan Kesehatan" adalah bidang yang memberikan Pelayanan Kesehatan langsung kepada masyarakat, antara lain berupa klinik, apotek, dan laboratorium.
Ayat (5)
Cukup jelas.
hlm. 605 OCRPasal 818 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 819 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 820 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Yang dimaksud dengan "jenis pelayanan" adalah pelayanan medik spesialistik/ subspesialistik yang diberikan.
Pasal 82 1 Ke pasal
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
pelayanan kefarmasian dilaksanakan melalui sistem satu pintu.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf I
Cukup jelas.
Pasal 822 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "tata kelola Rumah Sakit yang baik" adalah penerapan fungsi manajemen Rumah Sakit yang berdasarkan prinsip tranparansi, akuntabilitas, independensi, responsibilitas, kesetaraan, dan kewajaran.
hlm. 606 OCRYang dimaksud dengan "tata kelola klinis yang baik" adalah penerapan fungsi manajemen klinis yang meliputi kepemimpinan klinis, audit klinis, data klinis, risiko klinis berbasis bukti, peningkatan kinerja, pengelolaan keluhan, mekanisme monitor hasil pelayanan, pengembangan profesional, dan akreditasi Rumah Sakit.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 823 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 824 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 825 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 826 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 827 Ke pasal
Ayat (1)
Kompetensi manajemen Rumah Sakit dapat diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan/ atau pengalaman.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pemilik Rumah Sakit antara lain pemegang saham mayoritas, komisaris
Pasal 828 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 829 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 830 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 831 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 832 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 607 OCRPasal 833 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 834 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Informasi umum Rumah Sakit antara lain identitas Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dan jadwal praktik.
Huruf b
Informasi terkait dengan pelaksanaan Pelayanan Kesehatan kepada Pasien antara lain berupa pemberian pelayanan, diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, prognosis terhadap tindakan yang dilakukan, dan perkiraan pembiayaan.
Huruf c
informasi terkait dengan kinerja pelayanan antara lain berupa hasil pencapaian indikator nasional mutu Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 835 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 836 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 837 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 838 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 839 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 840 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 841 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 608 OCRPasal 842 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 843 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 844 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 845 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 846 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 847 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "masalah ergonomis" adalah permasalahan mengenai keselamatan dan Kesehatan kerja di Rumah Sakit seperti postur kerja, durasi kerja, dan lingkungan kerja yang tidak sesuai dengan standar keselamatan dan Kesehatan kerja.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 848 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup
Huruf b
Gizi kurang antara lain berupa underuteight, wasting, dan
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
hlm. 609 OCRHuruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 849 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 850 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 851 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 852 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 853 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 854 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 855 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 856 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 857 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 858 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 859 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 610 OCRPasal 860 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 861 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 862 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 863 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 864 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 865 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 866 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 867 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 868 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 869 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 870 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 871 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Pihak lain dalam ketentuan ini antara lain pemerintah dan masyarakat.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
hlm. 611 OCRPasal 872 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 873 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 874 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 875 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 876 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 877 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 878 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 879 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 880 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 881 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 882 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 883 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 884 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 885 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
hlm. 612 OCRAyat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Tata kelola di Fasilitas Pelayanan Kesehatan antara lain audit, pencegahan dan pengendalian infeksi, serta program pengendalian resistensi antimikroba.
Pasal 886 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 887 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 888 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 889 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 890 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 891 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Risiko nonklinis antara lain risiko keuangan, risiko tuntutan hukum, risiko perbuatan curang
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 892 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 893 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 613 OCRPasal 894 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 895 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 896 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 897 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 898 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 899 Ke pasal
Ayat (1)
Kompetensi Fasilitas Pelayanan Kesehatan antara lain kompetensi manaje rial dan/ atau kompetensi klinis.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 900 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 901 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 902 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 903 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 904 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 905 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 906 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 614 OCRPasal 907 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 908 Ke pasal
Ayat (1)
Perbekalan Kesehatan lain dalam ketentuan ini antara lain pangan olahan untuk keperluan medis khusus dan alat ukur tinggi badan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Perkembangan kebutuhan dalam ketentuan ini dilakukan antara lain adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, memberikan ruang perbaikan terhadap formularium, dan meningkatkan kecepatan akses dalam penggunaan dan penyerahan Obat kepada Pasien yang disesuaikan dengan kompetensi Tenaga Kesehatan dan tingkat fasilitas Kesehatan yang ada.
Pasal 909 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 910 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 911 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 912 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 913 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 914 Ke pasal
Ayat (1)
Perbekalan Kesehatan tertentu antara lain obat program, Obat untuk penyakit langka, dan alat bantu pendengaran.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 915 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 615 OCRPasal 916 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 917 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Apoteker dalam ketentuan ini termasuk juga apoteker spesialis
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Pasal 918 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 9 19 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 920 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Profil keamanan antara lain kontra indikasi, efek samping, dan perin gatanI perhatian.
Ayat
Cukup jelas.
Pasal 921 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 922 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 616 OCRPasal 923 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Keluhan atau gejala penyakit antara lain demam, batuk pilek, nyeri, maag, diare, kecatingan, luka iris, kurap, panu/kadas, kudis, dan biang keringat, dengan gejala ringan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 924 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 925 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 926 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 927 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Produk Obat Bahan Alam inovasi baru antara lain Obat Bahan Alam yang keamanan dan khasiatnya telah dibuktikan minimal melalui uji praklinik namun tidak memiliki data empiris.
Pasal 928 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 929 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 930 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 93 1 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 617 OCRPasal 932 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "kebutuhan Kesehatan masyarakat" adalah kondisi yang menunjukkan komoditi tersebut diperlukan untuk menangani beban penyakit berdasarkan pola penyakit, prevalensi penyakit, dan pemenuhan standar Pelayanan Kesehatan masyarakat.
Yang dimaksud dengan "kesenjangan pasar' adalah kondisi yang menunjukkan ketimpangan dalam permintaan dan penawaran suatu produk yang disebabkan karena kebijakan yang memberikan harga yang berbeda untuk sebuah komoditi (diferensiasi harga), pemenuhan regulasi, preferensi konsumen, dan/atau perubahan dalam kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Yang dimaksud dengan "keberlanjutan" adalah kondisi yang menjelaskan kelayakan sebuah usaha berdasarkan ukuran pasar saat ini, epidemiologi masa depan, dan prediksi ukuran pasar di masa depan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 933 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 934 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 935 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Yang dimaksud den gan " penentuan kelayakan / ke se suaian Lrar ga" adalah penentuan kewajaran harga yang mempertimbangkan biaya pokok produksi bahan Obat Bahan Alam dari petani.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
hlm. 618 OCRPasal 936 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 937 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 938 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Data yang mendukung tata kelola rantai pasok Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan antara lain:
a. data identitas Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dalam standar metadata kamus farmasi dan Alat Kesehatan;
b. data rencana produksi dari sarana produksi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan;
c. data transaksi pengadaan dari kementerian/lembaga yang memiliki tugas dan fungsi kebijakan pengadaan barang/jasa pemerintah dan badan yang menyelenggarakan program jaminan sosial di bidang kesehatan;
d. data laporan distribusi dari sarana distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan;
e. data ketersediaan dan penggunaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
f. data hasil pengawasan dari kementerian/lembaga yang memiliki tugas dan fungsi pengawasan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan;
g. data riset Alat Kesehatan dari perguruan tinggi/lembaga riset; dan
h. data uji klinik Alat Kesehatan dari data persetujuan permohonan uji klinik.
Pasal 939 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
hlm. 619 OCRAyat
Huruf a
Kontribusi dalam ketentuan ini antara lain produksi dan pemanfaatan bahan baku dalam negeri.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 940 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 94 1 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 942 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 943 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 944 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 945 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 946 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 620 OCRPasal 947 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "standar nasional" adalah standar data yang dikembangkan oleh Pemerintah Pusat.
Huruf b
Standar internasional antara lain standar data yang ditetapkan oleh World Health Organization atau organisasi internasional lainnya.
Huruf c
Standar yang dipublikasikan oleh organisasi pengembang standar lainnya antara lain standar data yang dikembangkan organisasi pengembang yang diakui dan digunakan secara luas di berbagai negara.
Pasal 948 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 949 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 950 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 951 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 952 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 953 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 954 Ke pasal
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "akurat" adalah ukuran sejauh mana suatu data merepresentasikan objek sebenarnya.
hlm. 621 OCRYang dimaksud dengan "jelas" adalah kualitas suatu data untuk dibaca dan dipahami.
Yang dimaksud dengan "dapat dipertanggungjawabkan" adalah adanya kejelasan prosedur dan sumber data serta kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "mampu rekam" adalah kompatibilitas data untuk dapat direkam atau disimpan pada suatu media penyimpanan tertentu.
Pasal 955 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 956 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 957 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 958 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Badan/lembaga lain antara lain World Health Organization dan organisasi masyarakat.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
hlm. 622 OCRAyat (3)
Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang bersumber dari instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, badan/lembaga yang menyelenggarakan program jaminan sosial, badan/lembaga lain yang menyelenggarakan kegiatan di bidang Kesehatan termasuk setiap Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang dihasilkan dari kegiatan sensus dan survei, penelitian, pelaporan, dan/atau cara lain dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat (4)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Penye le n ggara siste m informasi lain yan g menyele nggarakan kegiatan bidang Kesehatan antara lain supermarket dan minimarket yang menjual Obat.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 959 Ke pasal
Ayat (1)
Data layanan publik antara lain data keuangan negara, data administrasi kependudukan, data lalu lintas penduduk, atau data terpadu kesejahteraan sosial.
hlm. 623 OCRAyat
Cukup jelas.
Pasal 960 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 961 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 962 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 963 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 964 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 965 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 966 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 967 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "menilai aspek keakuratan" adalah upaya pemeriksaan dengan melakukan pencocokan atau klarifikasi kesesuaian Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan dengan kondisi sebenarnya.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "menilai aspek kelengkapan" adalah upaya pemeriksaan untuk memastikan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan telah memenuhi persyaratan kuantitas minimum dari kebutuhan data.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "menilai aspek keunikan" adalah upaya pemeriksaan untuk memastikan tidak terdapat duplikasi Data Kesehatan dan
Huruf d
Yang dimaksud dengan "menilai aspek konsistensi" adalah upaya pemeriksaan untuk memastikan tidak terjadinya perbedaan pencatatan terhadap jenis data yang sama.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "menilai aspek aktualitas" adalah upaya pemeriksaan memastikan terpenuhinya ketersediaan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan sesuai dengan jadwal atau kebutuhan pemanfaatan.
Huruf f
Yang dimaksud dengan "menilai aspek keabsahan" adalah upaya pemeriksaan untuk memastikan Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan telah sesuai dengan format Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang ditentukan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 968 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "perseorangan yang memiliki kompetensi yang relevan terkait pemeriksaan data" adalah setiap orang yang memiliki latar belakang pendidikan dan/atau pengalaman terkait data dan informasi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 969 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 970 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "portal bagi pakai data bidang Kesehatan" adalah portal satu data bidang Kesehatan yang dikelola oleh Menteri yang terintegrasi dengan portal satu data Indonesia.
hlm. 625 OCRAyat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 971 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 972 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 973 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 974 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 975 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 976 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 977 Ke pasal
Ayat (1)
Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan dalam ketentuan ini termasuk Data Kesehatan dan Informasi Kesehatan yang dimusnahkan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 978 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 979 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 980 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 626 OCRPasal 98 1 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 982 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 983 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 984 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 985 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 986 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 987 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 988 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 989 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 990 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 991 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 992 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 993 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 994 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 627 OCRPasal 995 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 996 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 997 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 998 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 999 Ke pasal
Ayat (1)
Bahan biologi tersimpan antara lain material biologis beserta data dan muatan informasi terkait yang disimpan untuk dimanfaatkan lebih lanjut di masa depan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 1000 Ke pasal
Huruf a
Yang dimaksud dengan "menghormati harkat martabat manusia" adalah bentuk penghormatan terhadap harkat martabat manusia sebagai pribadi (personal) yang memiliki kebebasan berkehendak atau memilih dan sekaligus bertanggung jawab secara pribadi terhadap keputusannya sendiri.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "berbuat baik" adalah menyangkut kewajiban membantu orang lain dilakukan dengan mengupayakan manfaat maksimal dengan kerugian minimal.
Yang dimaksud dengan "tidak merugikan" adalah jika tidak dapat melakukan hal yang bermanfaat, sebaiknya jangan merugikan orang lain. Prinsip tidak merugikan bertujuan agar subjek penelitian tidak diperlakukan sebagai sarana dan memberikan pelindungan terhadap
Huruf c
Yang dimaksud dengan "berkeadilan" adalah mengacu pada kewajiban etik untuk memperlakukan setiap orang sebagai pribadi otonom sama dengan moral yang benar dan layak dalam memperoleh haknya.
hlm. 628 OCRPrinsip berkeadilan terutama menyangkut keadilan yang merata
Pasal 1001 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Penelitian yang mengikutsertakan keluarga sebagai subjek penelitian antara lain penelitian yang tidak menggunakan data individu.
Ayat
Yang dimaksud dengan "kepala daerah" adalah gubernur dan bupati/wali kota.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Pasal 1002 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1003 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1004 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1005 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1006 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 629 OCRPasal 1007 Ke pasal
Yang dimaksud dengan "prinsip persetujuan etik penelitian bagi sumber bahan biologi tersimpan" adalah pemberian persetujuan etik untuk bahan biologi tersimpan yang menjadi subjek penelitian misalnya mikroorganisme yang ada dalam bahan biologi tersimpan yang berasal dari manusia akan mengacu pada prinsip persetujuan etik penelitian bagi mikroorganisme.
Pasal 1008 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1009 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "fasilitas lainnya" adalah fasilitas selain Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang digunakan untuk melaksanakan salah satu atau lebih proses pelaksanaan uji klinik yang memadai sesuai cara uji klinik yang baik antara lain posyandu, sekolah, atau balai pertemuan masyarakat.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 1010 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1011 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "registrasi uji
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 1012 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1013 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 630 OCRPasal 1014 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1015 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1016 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1017 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1018 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "volume tinggi" adalah Teknologi Kesehatan dengan tingkat penggunaannya sangat tinggi.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "risiko tinggi" adalah Teknologi Kesehatan yang penggunaannya berisiko tinggi.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "biaya tinggi" adalah Teknologi Kesehatan yang penggunaannya berbiaya tinggi.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "variabilitas tinggi" adalah Teknologi Kesehatan yang penggunaannya memiliki variasi yang besar.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 1019 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1020 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 631 OCRPasal 1021 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1022 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "pelayanan kedokteran presisi" adalah pendekatan baru untuk pencegahan dan pengobatan penyakit dengan mempertimbangkan gen, lingkungan, dan pola hidup seorang Pasien.
Pelayanan kedokteran presisi antara lain precision diagnostic,
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "gen" adalah bagian dari genetik termasuk kromosom, Ribonucleic Acid, dan Deoxyribonucleic acid.
Pelayanan Kesehatan dalam ketentuan ini dapat berupa diagnosis yang lebih tepat serta tindakan medis dan pengobatan yang lebih efektif.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 1023 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Material yang telah diambil dalam ketentuan ini antara lain material dalam bentuk spesimen klinik dan materi biologi, muatan informasi, dan data yang merupakan bagian dan milik Pasien dan/atau donor yang masih tersimpan.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 1024 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1025 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 632 OCRPasal 1026 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1027 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1028 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Yang dimaksud dengan "prinsip pemeliharaan kekayaan sumber daya hayati dan genetika Indonesia" adalah melindungi kelestarian keanekaragaman pengetahuan tradisional, kearifan lokal, sumber daya alam hayati, dan nirhayati serta budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.
Yang dimaksud dengan "prinsip pembagian manfaat yang memenuhi keadilan, keselamatan, dan kemanfaatan" adalah suatu kesepakatan untuk memberikan manfaat atau keuntungan bagi setiap pihak yang terlibat dalam proses penerimaan dan pengolahan material, muatan informasi, dan/atau data.
Yang dimaksud dengan "keamanan negara" adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat serta pelaksana penelitian dan pengembangan dari bahaya penyalahgunaan perpindahan tangan material, muatan informasi, dan/atau data yang berkaitan dengan penyakit dan Kesehatan, termasuk penyalahgunaan sebagai senjata, bahan senjata biologi, dan/atau yang dapat menimbulkan kerugian lainnya, serta memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi potensi ditemukan dan digunakannya ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan penyakit dan peningkatan derajat Kesehatan dan alih teknologi dalam menunjang ketahanan nasional.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 1029 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 633 OCRPasal 1030 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1031 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1032 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1033 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1034 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1035 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1036 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1037 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1038 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1039 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Huruf a
Yang dimaksud dengan "surveilans" adalah kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau masalah Kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi
Pelaksanaan
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
hlm. 634 OCRHuruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Pasal 1040 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "karantina" adalah pembatasan kegiatan dan/atau pemisahan orang terjangkit meskipun belum menunjukkan gejala apa pun atau sedang berada dalam masa inkubasi dan pemisahan peti kemas, alat angkut, atau barang apa pun yang diduga terkontaminasi dari orang
Yang dimaksud dengan "isolasi" adalah pemisahan antara orang sakit dan orang sehat untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 1041 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1042 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas
hlm. 635 OCRAyat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "pangan yang mengandung cemaran .biologis, kimia, radioaktif, dan benda lain" adalah pangan mengandung cemaran yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan Kesehatan.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 1043 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1044 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1045 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
hlm. 636 OCRAyat (6)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (8)
Bibit penyakit antara lain pathogen, bakteri, basil, kuman, mikroba, mikroorganisme, dan virus yang dapat menyebabkan penyakit.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Ayat (10)
Cukup jelas.
Ayat (11)
Cukup jelas.
Ayat (12)
Cukup jelas.
Ayat (13)
Yang dimaksud dengan "tempat lain yang ditentukan" adalah fasilitas khusus yang memenuhi syarat minimal untuk dilakukan Pelayanan Kesehatan dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.
Ayat (1a)
Cukup jelas.
Pasal 1046 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1047 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1048 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1049 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1050 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1051 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1052 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 637 OCRPasal 1053 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "alat angkut" adalah kapal, pesawat udara, dan kendaraan darat yang digunakan dalam melakukan perjalanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Orang dalam ketentuan ini antara lain awak atau personel alat angkut, penumpang, pelaku perjalanan, dan masyarakat lainnya di sekitar pelabuhan, bandar udara, pos lintas batas negara.
Yang dimaksud dengan "barang! adalah produk nyata, hewan, tumbuhan, dan
Yang dimaksud dengan "lingkungan" adalah daerah atau kawasan di sekitar wilayah kerja pelabuhan, bandar udara, dan pos lintas batas negara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 1054 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pemeriksaan faktor risiko penyakit yang berpotensi menimbulkan Wabah antara lain pemeriksaan higiene sanitasi, air minum, makanan, udara, limbah, vektor, dan binatang pembawa penyakit pada kapal, pesawat udara, dan kendaraan darat.
Ayat (a)
Yang dimaksud dengan
Yang dimaksud dengan "lokasi lain yang ditetapkan" adalah area lain di
Pasal 1055 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1056 Ke pasal
Cukup jelas
hlm. 638 OCRPasal 1057 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Dokumen persetujuan bebas karantina dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan free pratiEte.
Huruf b
Dokumen persetujuan karantina terbatas dalam hukum internasional dikenal dengan
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 1058 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1059 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1060 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Surat persetujuan berlayar karantina Kesehatan dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan port
Huruf c
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 1061 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1062 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
hlm. 639 OCRAyat
Yang dimaksud dengan "terjangkit" adalah kondisi
Yang dimaksud dengan
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan "kartu kewaspadaan Kesehatan" adalah kartu dalam bentuk nonelektronik atau elektronik yang memuat keterangan yang diberikan kepada pelaku perjalanan dengan tujuan untuk
Kartu kewaspadaan Kesehatan dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan health alert card.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Pasal 1063 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "penolakan" adalah tidak diikutsertakannya orang tersebut sebagai penumpang dalam alat angkut yang akan diberangkatkan.
Pasal 1064 Ke pasal
Ayat (1)
Sertifikat vaksinasi internasional dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
hlm. 640 OCRAyat (a)
Cukup jelas.
Pasal 1065 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1066 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1067 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1068 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1069 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1070 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Tindakan penanggulangan dekontaminasi, disinseksi, alat angkut.
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 1071 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1072 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1073 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1074 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1075 Ke pasal
Cukup jelas. tertentu antara lain fumigasi, disinfeksi, dan deratisasi pada
hlm. 641 OCRPasal 1076 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "sertifikat Obat dan Alat Kesehatan" adalah Dokumen Karantina Kesehatan yang diberikan sebagai bukti telah dilakukannya pengawasan terhadap ketersediaan serta kelayakan Obat dan Alat Kesehatan di alat angkut.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 1077 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Deklarasi Kesehatan maritim dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan maritim declaration of health.
Huruf b
Deklarasi Kesehatan penerbangan dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan health part of
Huruf c
Deklarasi Kesehatan pelintasan darat dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan ground crossing declaration of health.
Ayat (2)
Huruf a
Surat persetujuan berlayar karantina Kesehatan dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan port
Huruf b
Surat persetujuan keberangkatan pesawat udara dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan airport
Huruf c
Surat persetujuan keberangkatan kendaraan darat dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan ground cro s sing
Ay:rt (3)
Huruf a
Sertifikat bebas tindakan sanitasi kapal dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan ship sanitation control exemption certificate.
Sertifikat tindakan sanitasi kapal dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan ship sanitation control certificate.
Huruf b
Sertifikat bebas tindakan sanitasi pesawat udara dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan
Sertifikat tindakan sanitasi pesawat udara dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan
Huruf c
Sertifikat bebas tindakan sanitasi kendaraan darat dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan
Sertifikat tindakan sanitasi kendaraan darat dalam hukum internasional dikenal dengan sebutan
Ayat (a)
Cukup jelas.
Pasal 1078 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1079 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1080 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1081 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 643 OCRPasal 1082 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1083 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1084 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1085 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Wilayah administratif antara lain provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan kelurahan/desa atau yang disebut dengan nama lainnya.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Wilayah tertentu antara lain kawasan industri dan kawasan ekonomi eksklusif.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 1086 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1087 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1088 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1089 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1090 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1091 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1092 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 644 OCRPasal 1093 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1094 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1095 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Daerah yang tidak ditetapkan oleh Pemerintah Daerah antara lain wilayah karantina yang lintas provinsi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 1096 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1097 Ke pasal
Ayat (1)
Huruf a
Kendaraan yang membawa logistik antara lain kendaraan operasional distributor dan industri Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan yang menyediakan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan lainnya untuk keperluan penanggulangan Wabah.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Kendaraan yang ditetapkan oleh Petugas Karantina Kesehatan antara lain mobil deteksi radiasi dan mobil khusus yang didesain untuk tindakan penanggulangan.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
hlm. 645 OCRPasal 1098 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1099 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1100 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1101 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1102 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1103 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "pembatasan kegiatan sosial kemasyarakatan" adalah membatasi atau mengawasi secara ketat setiap ada kegiatan berkumpulnya manusia yang diduga dapat menjadi sumber penyebaran penyakit, seperti kegiatan keagamaan, pesta
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 1104 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1105 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1106 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1107 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 108 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 1 1 10 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 646 OCRPasal 1111 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1112 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Kegiatan normalisasi kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat dapat berupa pelaksanaan aktivitas dan interaksi masyarakat seperti pada kondisi sebelum terjadinya Wabah.
Ayat (3)
Huruf a
Penguatan surveilans Kesehatan dilakukan untuk penemuan kasus dan identifikasi kemungkinan terjadinya penularan penyakit, serta mencegah terulangnya Wabah yang disebabkan oleh penyakit yang sama.
Huruf b
Pengendalian faktor risiko dilakukan untuk mencegah atau memutus rantai penularan penyakit dari faktor risiko, termasuk kemungkinan pemusnahan faktor risiko.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Pemberian Pelayanan Kesehatan yang dilaksanakan seperti pada kondisi sebelum terjadinya Wabah, antara lain melalui pemberlakuan jam kerja dan pengelolaan sumber daya.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 1 I 13 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 1 14 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
hlm. 647 OCRAyat (2)
Yang dimaksud dengan "tenaga lainnya" adalah tenaga non-Kesehatan yang memiliki kompetensi untuk pengelolaan bahan penyebab penyakit selain agen biologi, seperti tenaga pengawas radiasi.
Pasal 1 1 15 Ke pasal
Peraturan menteri/peraturan kepala lembaga terkait antara lain peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang lingkungan hidup untuk batas aman penggunaan bahan kimia yang dapat menyebabkan masalah Kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB dan Wabah dan peraturan kepala lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan ketenaganukliran untuk batas aman penggunaan bahan yang mengandung unsur fisika berupa zat radioaktif dari instalasi nuklir dan/atau kegiatan yang memanfaatkan zat radioaktif yang dapat menyebabkan masalah Kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB dan Wabah.
Pasal 1 1 16 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1117 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 1 18 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 1 19 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1120 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1121 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1122 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 648 OCRPasal 1123 Ke pasal
Huruf a
Yang dimaksud dengan "prinsip kecukupan" adalah pendanaan Kesehatan yang memenuhi kebutuhan pendanaan untuk terselenggaranya pembangunan Kesehatan terutama yang menjadi prioritas nasional.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "prinsip kemanfaatan" adalah pendanaan Kesehatan harus mampu memberikan manfaat bagi pembangunan Kesehatan.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "prinsip keadilan" adalah pendanaan Kesehatan diselenggarakan secara merata sesuai kebutuhan Kesehatan dan tidak diskriminatif.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "prinsip efektif dan efisien" adalah pendanaan Kesehatan harus mampu memberikan perubahan pada kinerja pembangunan Kesehatan dan dipergunakan sesuai dengan standar kebutuhan.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "prinsip berkesinambungan" adalah pendanaan Kesehatan diselenggarakan secara terus menerus untuk mendukung pembangunan Kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat Kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Huruf f
Yang dimaksud dengan "prinsip transparan dan akuntabel" adalah pendanaan Kesehatan diselenggarakan secara terbuka sesuai dengan ketentuan keterbukaan informasi publik dan dapat dipertanggungj awabkan.
Pasal 1124 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1125 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1126 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
hlm. 649 OCRAyat (3)
Jaminan kesehatan lainnya antara lain jaminan kesehatan yang diperuntukkan untuk pejabat negara baik di dalam maupun di luar negeri.
Pasal 1127 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1128 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1129 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1130 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1131 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1132 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1133 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Masyarakat antara lain badan usaha, filantropi, organisasi kemasyarakatan, penyelenggara pendidikan, dan individu masyarakat.
Pasal 1 134 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 650 OCRPasal 1135 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Huruf a
Yang dimaksud dengan "penguatan tata kelola perencanaan dan
Huruf b
Yang dimaksud dengan "penganggaran berbasis kinerja" adalah prinsip dan kaidah penganggaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "penerapan penganggaran jangka pendek dan menengah" adalah penerapan anggaran jangka pendek untuk 1 (satu) tahun dan penerapan anggaran jangka menengah untuk 5 (lima) tahun.
Huruf d
Yang dimaksud dengan nsinkronisasi perencanaan dan penganggaran antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah" adalah keselarasan antara perencanaan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk tujuan pembangunan Kesehatan.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "mobilisasi sumber pendanaan lain" adalah penggalian potensi pendanaan lain di luar pendanaan Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 1136 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1137 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
hlm. 651 OCRAyat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Kementerian/lembaga dalam ketentuan ini antara lain kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan, kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri, dan kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perencanaan pembangunan nasional.
Pihak lain dalam ketentuan ini antara lain Pemerintah Daerah dan akademisi.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "akun belanja Kesehatan nasional" adalah pencatatan belanja Kesehatan secara sistematis dan komprehensif dalam sistem Kesehatan pada tingkat nasional dalam satu tahun tertentu yang dikenal dengan istilah national health account.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "akun belanja Kesehatan provinsi" adalah pencatatan belanja Kesehatan secara sistematis dan komprehensif dalam sistem Kesehatan pada tingkat provinsi dalam satu tahun tertentu yang dikenal dengan istilah prouincial h.e alth account.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "akun belanja Kesehatan kabupatenf kota" adalah pencatatan belanja Kesehatan secara sistematis dan komprehensif dalam sistem Kesehatan pada tingkat kabupaten/kota dalam satu tahun tertentu yang dikenal dengan istilah
Ayat (10)
Cukup jelas.
Pasal 1138 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 652 OCRPasal 1139 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1140 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1141 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1142 Ke pasal
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "masyarakat" adalah pihak selain pemerintah secara perorangan ataupun institusi/ organisasi/lembaga, baik dari dunia usaha, akademik, organisasi kemasyarakatan, komunitas, dan media.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "fasilitasi" adalah segala sesuatu yang diberikan oleh masyarakat baik berupa ketenagaan, sarana dan
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 1143 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "kebijakan pembangunan yang berwawasan Kesehatan" adalah perencanaan kebijakan pembangunan yang sejak awal telah mempertimbangkan risiko Kesehatan masyarakat dan dampak peningkatan derajat Kesehatan masyarakat yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
hlm. 653 OCRPasal 1144 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Penanggulangan KLB, wabah, dan bencana antara lain dilakukan melalui kegiatan promosi Kesehatan, penemuan kasus, dan keikutsertaan sebagai kader.
Ayat (5)
Huruf a
Pelopor atau agen perubahan antara lain individu, kelompok, atau masyarakat yang menggerakkan, menyebarluaskan, dan menjadi contoh untuk merakukan perubahan hidup sehat di keluarga, kelompok, atau masyarakat ai lingkungannya.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
hlm. 654 OCRAyat (6)
Cukup jelas
Pasal 1 145 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1146 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1147 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1148 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1149 Ke pasal
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan "tenaga pengawas" adalah aparatur sipil negara dan memiliki kompetensi pengawasan di bidang Kesehatan yang diperoleh melalui pelatihan serta diangkat dan ditugaskan untuk melakukan pengawasan di bidang Kesehatan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Pasal 1150 Ke pasal
Cukup jelas
Pasal 1 151 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 655 OCRPasal 1152 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1153 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1154 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1155 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1156 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1157 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1158 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1159 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1160 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1161 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1162 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1163 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1164 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal I 165 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 166 Ke pasal
Cukup jelas.
hlm. 656 OCRPasal 1167 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1168 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1 169 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1170 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1171 Ke pasal
Cukup jelas.
Pasal 1172 Ke pasal
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6952